Ada momen-momen dalam hidup di mana otak manusia memutuskan untuk log out sementara dari realita, dan Kayla sedang mengalaminya sekarang—di parkiran SD Tunas Bangsa, jam setengah dua siang, dengan rok kerja sobek yang sudah dia tutupi pakai cardigan, di hadapan pria yang dulu menghilang dari hidupnya tanpa kabar selama enam tahun, satu bulan, dan dua belas hari.
(Bukan, dia nggak hitung. Itu cuma fakta numerik yang kebetulan dia ingat.)
"Kayla, kita perlu bicara."
"Saya nggak punya waktu, Pak Arsen."
"Pak Arsen?"
"Bapak wali murid. Saya guru. Begitu protokolnya."
Arsen mengusap wajahnya. Wajah yang dulu Kayla suka sentuh waktu pria itu tidur—sekarang kelihatan lebih tua, ada garis halus di sudut mata, dan jenggot tipis yang tidak pernah ada zaman kuliah dulu.
Lumayan tua. Bagus. Pantas.
"Aku tahu ini canggung—"
"Canggung?" Kayla tertawa, suara yang bahkan dia sendiri tidak kenal. "Pak, canggung itu kalau saya ketemu mantan saya di kondangan. Ini bencana alam."
"Lima menit. Aku cuma minta lima menit."
"Saya kasih lima detik. Satu—"
"Langit traumanya berat, Kay."
"—dua—"
"Dia hampir nggak pernah ngomong sama orang asing. Tadi dia panggil kamu Mama. Kamu nggak ngerti, itu—"
"—tiga—"
"—itu kemajuan luar biasa buat dia, dan kalau aku pindahin dia ke kelas lain sekarang, dia bisa shutdown lagi."
"—empat—"
"Tolong. Sekali ini aja."
Kayla berhenti di angka empat.
Bukan karena permintaannya—tapi karena cara Arsen mengucapkannya. Pria itu, yang dulu paling alergi minta tolong, sekarang sedang berdiri di parkiran sekolah dasar dengan tatapan yang Kayla kenal. Tatapan yang sama saat dia begadang ngerjain skripsi dan kopi terakhirnya numpah di laptop. Tatapan kalah.
"Aku minta pindah kelas," Kayla berkata pelan. "Bukan kamu yang pindah Langit. Aku."
"Kay—"
"Saya. Pak."
"Kayla, dengar—"
"Pak Arsen," Kayla menarik napas, mengeluarkan suara guru terbaiknya, "anak Bapak butuh stabilitas. Saya bisa berikan itu di kelas. Tapi di luar jam sekolah, tidak ada yang perlu kita bicarakan. Selamat sore."
Dia berbalik.
"Aku mau jelasin kenapa aku pergi."
Kayla berhenti tepat di engsel pintu mobilnya.
Tangannya bergetar di pegangan pintu. Dia berharap, dengan seluruh kekuatan emosional yang masih tersisa di dalam dirinya, supaya dia bisa berbalik dan bilang "saya nggak peduli" dengan tegas—
—ketika dari arah gerbang sekolah terdengar suara teriakan.
"BU KAYLAAA! LANGIT PINGSAN DI UKS!"
Ruang UKS SD Tunas Bangsa sebenarnya cuma ruangan tiga kali tiga meter dengan satu ranjang lipat, tirai polkadot yang sudah pudar, dan bau minyak kayu putih yang menempel di dinding sejak tahun 2008.
Sekarang ruangan itu terasa sempit oleh kepanikan tiga orang dewasa.
"Berapa lama dia pingsan?" Arsen sudah di samping ranjang, tangan memegang tangan kecil Langit yang lemas.
"Baru lima menit, Pak," Bu Marlin, perawat sekolah, menjawab. "Tadi dia main di kelas, terus tiba-tiba bilang pusing, terus—"
"Dia sarapan tadi pagi?" Kayla bertanya, tangan otomatis memeriksa dahi Langit. Hangat. Tidak panas. Tapi hangat.
"Saya... saya nggak tahu," Arsen bingung. "Mbak Yati yang siapin sarapan—"
"Pak, kalau Bapak nggak tahu anak Bapak sarapan apa pagi ini, izinkan saya bilang Bapak orangtua yang—"
"Aku tahu," Arsen memotong, suara berat. "Aku tahu aku gagal. Bisa nggak kita simpan ceramahnya buat nanti?"
Kayla menelan kata-katanya.
Langit bergerak pelan. Mata kecil itu setengah terbuka.
"Ma..." gumamnya.
Arsen mendekat. "Papa di sini, sayang."
"...ma... ma..."
"Iya, Papa—"
"Mama Kayla."
Arsen membeku.
Kayla membeku.
Bahkan Bu Marlin, yang sudah dua puluh tahun jadi perawat sekolah dan sudah lihat segala drama dari murid kebelet pipis sampai guru tiba-tiba pingsan saat upacara, ikut membeku.
"Mama Kayla... aku haus..."
Kayla, dengan kaki yang rasanya sudah bukan miliknya, mengambil gelas air di meja dan mendekat. "Sini, sayang. Pelan-pelan."
Saat Langit minum, mata kecil itu sempat melirik ke arah Arsen—dan dengan suara pelan seperti bisikan, anak itu berkata:
"Papa, nanti Mama Kayla boleh ikut pulang?"
Yang Kayla ingat setelah itu cuma serpihan-serpihan.
Dia ingat menolak ikut.
Dia ingat Langit menangis.
Dia ingat menangis itu bukan menangis biasa—itu tangisan diam, air mata mengalir tanpa suara, seperti anak yang sudah belajar bahwa kalau menangis keras pun, tidak ada yang akan datang.
Dia ingat Arsen menatapnya dengan wajah yang berkata tolong.
Dia ingat Bu Marlin membisikkan, "Bu Kayla, anak ini perlu ditemani sampai kondisinya stabil. Ini saran medis."
Dia ingat dirinya, dengan harga diri yang sudah terkubur entah di mana, naik ke mobil Arsen.
Yang dia tidak ingat, tapi terjadi, adalah bagaimana mobil itu sampai ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan, lalu lanjut ke sebuah rumah dua lantai di kompleks elite di pinggiran kota—rumah yang pintunya dibukakan oleh seorang perempuan paruh baya dengan kerudung biru muda dan senyum yang langsung melebar saat melihat Kayla.
"Astagfirullah!" perempuan itu berseru, memeluk Kayla sebelum Kayla sempat menjelaskan apa-apa. "Akhirnya! Akhirnya kamu bawa pacarmu pulang, Sen! Mama udah nungguin enam tahun ini!"
Kayla menatap Arsen.
Arsen menatap langit-langit.
Langit—anak itu—untuk pertama kalinya sepanjang hari, tertawa. Pelan, tapi tertawa.
"Bu," Kayla berusaha tersenyum sopan, "saya bukan—"
"Mama, ini Mama Kayla," Langit memotong, suara kecilnya jelas sekarang. "Yang aku ceritain kemarin. Yang dari foto Papa di laci."
Kayla berhenti bernapas.
Foto.
Di laci.
Arsen buru-buru menutup wajah dengan tangan.
Dan ibu Arsen, dengan ekspresi yang berubah dari bahagia ke sangat bahagia ke konspirasi tingkat tinggi, menggenggam tangan Kayla erat-erat.
"Kayla, sayang," beliau berkata, "kamu makan malam di sini ya. Ada ayam goreng kesukaan Arsen. Dan kita perlu bicara banyak."
Di belakang ibu Arsen, tepat di ambang pintu ruang tamu, Kayla melihat seorang perempuan asing—rambut panjang, lipstik merah, gaun yang terlalu rapi untuk acara santai di rumah—berdiri sambil memegangi gelas wine.
Perempuan itu menatap Kayla.
Tersenyum.
Dan berkata, dengan suara yang manis seperti permen yang sudah kadaluwarsa:
"Oh, jadi ini yang namanya Kayla. Akhirnya ketemu. Aku Selvi—calon ibu baru Langit."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar