Kayla tidak jadi membuka suratnya.

Bukan karena dia tidak ingin tahu—dia ingin tahu, dengan setiap sel tubuhnya, dengan kekuatan yang sama saat dulu dia stalking Instagram Arsen jam tiga pagi di tahun pertama setelah ditinggal. Tapi karena saat ujung kertas itu sobek satu sentimeter, suara kecil terdengar dari ambang pintu teras.

"Papa, aku takut tidur sendiri."

Langit. Memegang boneka kelinci pink yang sudah dekil, dengan satu telinga yang nyaris copot dan dijahit asal-asalan.

Arsen, yang tadi nyaris menangis, langsung mengusap mata dengan punggung tangan dan tersenyum. "Iya, Papa nemenin."

"Bareng Mama Kayla."

"Sayang, Mama Kayla harus pulang—"

"Bareng. Mama. Kayla."

Suara anak itu masih kecil. Tapi dalam tiga jam terakhir, Kayla sudah belajar satu hal tentang Langit: kalau dia mengulang sesuatu, itu bukan permintaan. Itu pernyataan.

Kayla melipat amplop itu, memasukkannya ke dalam tas. "Saya temenin lima belas menit ya, Bu—Mama. Habis itu saya pulang."

Ibu Arsen mengangguk pelan. Senyum beliau tipis—senyum perempuan yang tahu kapan harus menyerang dan kapan harus mundur. "Lima belas menit. Mama panggilkan taksi nanti."

Kamar Langit di lantai dua. Catnya kuning muda, dindingnya penuh stiker bintang, dan di sudut ada rak penuh boneka—tapi semua boneka itu menghadap tembok. Kayla berhenti di pintu.

"Langit, kenapa boneka-bonekanya menghadap tembok?"

"Mereka lagi hukuman."

"Hukuman karena apa?"

"Karena mereka ninggalin aku."

Kayla menelan ludah. Di belakangnya, dia bisa merasakan Arsen berhenti bernapas sejenak.

"Cuma Kelinci Pinky yang nggak dihukum," Langit menambahkan, naik ke ranjang sambil memeluk kelinci pinknya. "Karena Kelinci Pinky setia."

Kayla duduk di pinggir ranjang. "Kelinci Pinky bagus banget. Namanya siapa yang kasih?"

"Mama."

"Mama..."

"Mama yang dulu. Sebelum pergi."

Kayla menarik napas dalam-dalam.

Arsen, di pintu, bersandar di dinding dengan tangan menutup mulut.

"Langit," Kayla berkata pelan, mengambil Kelinci Pinky pelan-pelan—bukan untuk merebut, hanya untuk memegang. "Mama Kayla boleh nanya?"

"Boleh."

"Kamu sayang Mama yang dulu?"

Langit diam lama.

Lalu, dengan suara yang lebih pelan dari napasnya sendiri: "Kadang sayang. Kadang marah. Kadang... aku lupa wajahnya."

"Itu nggak apa-apa, sayang."

"Tapi aku merasa jahat kalau lupa."

"Kamu nggak jahat."

"Papa bilang juga gitu."

"Papa benar."

Langit menoleh ke Arsen di pintu. Arsen tersenyum—senyum yang Kayla belum pernah lihat dari pria itu, bahkan di masa pacaran dulu. Senyum yang seperti dipakai sehari-hari untuk menutupi lelah yang sudah bertahun-tahun.

"Mama Kayla," Langit menatap Kayla lagi, "aku boleh kasih lihat sesuatu?"

"Tentu."

Langit turun dari ranjang, lari ke meja belajarnya, dan kembali dengan sebuah buku gambar. Buku itu tipis, sampulnya bergambar princess yang sudah pudar. Dia menyerahkannya ke Kayla.

"Aku gambar rumah."

Kayla membuka halaman pertama.

Ada rumah—bentuk segitiga di atas kotak, standar gambar anak TK. Tapi yang membuat Kayla mengerutkan dahi adalah: di depan rumah itu, ada dua perempuan dewasa. Satu memakai gaun pink, satu memakai gaun kuning. Di tengah keduanya, ada anak kecil. Dan di pojok—sangat jauh dari ketiganya—ada satu lagi figur perempuan dewasa, digambar dengan tangan menyilang di dada.

"Yang ini siapa, Langit?" Kayla menunjuk perempuan gaun pink.

"Itu Mama Kayla."

Kayla berhenti.

"Kamu... gambar Ibu kapan, sayang?"

"Tadi malam. Sebelum sekolah."

"Tapi kita baru ketemu tadi pagi."

Langit menatap Kayla dengan mata cokelat yang serius. "Aku lihat foto Mama Kayla di laci Papa. Aku tahu Mama Kayla bakal jadi guru aku."

"...Kamu tahu dari mana?"

"Papa yang bilang. Pas Papa nelpon Pak Kepsek minggu lalu."

Kayla menoleh perlahan ke arah pintu.

Arsen sudah tidak bersandar di dinding lagi. Wajahnya pucat, dan dia membuka mulut untuk menjelaskan, tapi tidak ada suara yang keluar.

"Pak Arsen," Kayla berkata, suaranya datar, "bisa keluar sebentar?"

Mereka berdiri di koridor. Lampu kuning. Suara jangkrik dari taman belakang. Kayla memeluk dirinya sendiri.

"Kamu memindahkan Langit ke sekolahku," dia berkata pelan. "Dengan sengaja."

"Kay—"

"Jawab."

"Iya."

"Kenapa?"

Arsen mengusap wajahnya. "Aku... aku denger kamu kerja di Tunas Bangsa dari Reza. Dia ketemu kamu di acara reunian dua bulan lalu. Dan aku—Langit kan butuh sekolah baru, sekolahnya yang lama nggak cocok—"

"Ada sekolah lain di Bandung, Arsen. Banyak."

"Aku tahu."

"Tapi kamu pilih sekolahku."

"Iya."

"Kenapa."

Arsen menatap ke lantai. "Karena aku—aku tahu kamu bakal sayang sama Langit. Karena kamu satu-satunya orang yang aku tahu... yang nggak akan ninggalin dia."

Kayla tertawa. Pelan. Pahit. Tawa yang dia simpan enam tahun.

"Arsen, kamu meninggalkan aku."

"Aku tahu."

"Kamu nggak ada hak."

"Aku tahu, Kay."

"Kamu pakai anakmu untuk—untuk apa? Untuk balik ke hidupku? Untuk apa?"

"Bukan begitu—"

"Lalu apa?"

Arsen mengangkat kepala. Mata mereka bertemu. Dan ada sesuatu di mata pria itu yang Kayla kenal—dan ada juga sesuatu yang asing. Sesuatu yang lebih tua, lebih lelah, lebih hancur dari Arsen yang Kayla tinggalkan di bandara dulu.

"Aku cuma butuh anakku punya satu orang yang nggak pergi, Kay. Satu aja."

Kayla membuka mulut.

Menutup.

Lalu, dari arah tangga, terdengar suara hak tinggi yang tajam.

Klik. Klik. Klik.

Selvi muncul di puncak tangga, masih dengan gaun yang sama, tasnya berbeda. Senyumnya lebar.

"Permisi ya, Sen, aku ketinggalan ponsel—" matanya bertemu Kayla. Senyumnya melebar lagi. "Ah, Kayla. Masih di sini?"

"Saya mau pulang, Mbak."

"Sayang sekali. Padahal aku mau ajak ngobrol."

"Lain kali."

"Sekarang aja."

Kayla menatap perempuan itu. "Ada apa ya, Mbak?"

Selvi mengeluarkan ponselnya. Membuka galeri. Menggeser beberapa foto. Lalu memutar layar ponsel itu ke arah Kayla.

Di layar, ada foto Arsen.

Tertidur di sofa.

Tanpa baju.

Dengan Selvi di sebelahnya, juga dengan baju yang tidak lengkap, tersenyum ke kamera.

"Aku cuma mau pastikan," Selvi berkata, manis, "kamu tahu di mana posisimu di sini. Sebagai guru. Bukan yang lain. Sepakat?"

Kayla mendongak.

Menatap Arsen.

Arsen menatap layar ponsel. Lalu menatap Kayla. Dan untuk pertama kalinya sejak Kayla bertemu kembali dengannya hari ini, wajah pria itu tidak menunjukkan apa-apa.

Kosong.

"Ya," Kayla berkata pelan, mengangguk ke Selvi. "Sepakat."

Dia berjalan turun tangga. Mengambil tasnya di ruang tamu. Memamit ibu Arsen yang masih duduk di teras dengan alasan ada urusan mendadak. Dan keluar dari rumah itu—dengan amplop tua di dalam tas, dan tatapan Langit dari jendela lantai dua yang menatapnya pergi tanpa berkata-kata.

Di taksi, Kayla mengeluarkan amplop tua itu.

Ragu sebentar.

Lalu, dengan sekali gerakan, memasukkannya kembali ke dalam tas.

Belum waktunya.