Tiga hari Kayla berhasil menghindari Arsen.

Cara dia menghindari Arsen adalah dengan mengubah rute pulang, masuk lewat pintu samping sekolah, pulang lewat pintu belakang, dan minta tolong Bu Marlin jaga Langit lima menit setelah bel pulang biar dia bisa kabur sebelum Arsen datang menjemput.

Strateginya berhasil.

Sampai hari keempat.

Hari keempat, di supermarket Borma jam delapan malam, di lorong sereal—tepat saat Kayla sedang membandingkan harga Koko Krunch besar dengan Koko Krunch sedang dengan ekspresi seseorang yang sedang menentukan nasib finansial bulanan—dia mendengar suara kecil:

"Mama Kayla?"

Kayla membatu.

Pelan-pelan, dia menoleh.

Langit, mengenakan piyama unicorn, memegang keranjang belanja kecil yang isinya: satu pak biskuit, satu botol susu cokelat, dan—entah kenapa—satu kaleng cat air.

Di belakang Langit, dengan ekspresi yang sangat lelah dan sangat berantakan, berdiri Arsen. Memegang dua tas plastik. Rambut basah seperti baru keluar dari kamar mandi tanpa sempat dikeringkan.

"Kay—Bu Kayla, halo," Arsen berusaha terdengar profesional. "Kami juga belanja."

"Iya, saya lihat."

Sunyi.

Kayla ingin pergi. Kayla butuh pergi. Tapi Langit sudah meletakkan keranjangnya, berlari memeluk lutut Kayla, dan menempel di sana seperti anak koala yang habis dibilang panda.

"Mama Kayla, aku kangen!"

"Sayang—"

"Mama nggak jemput aku!"

Kayla menelan ludah. "Mama Kayla nggak bisa jemput tiap hari, sayang. Mama Kayla harus—"

"Tante Selvi yang jemput. Dua kali."

Kayla mendongak ke Arsen.

Arsen menggeleng cepat. "Sebenarnya bukan jemput. Dia... numpang lewat. Kebetulan."

"Tiga hari berturut-turut?"

"Kay—"

"Bu Guru."

Arsen menutup matanya sebentar. "Bu Guru."

"Pak, kalau Anda mau pasangin Tante Selvi jadi ibu sambung Langit, silakan. Itu hak Anda. Tapi tolong jangan libatkan saya. Sekarang permisi—"

"Bu Kayla!"

Suara baru. Cempreng. Familiar dengan cara yang menakutkan.

Dari ujung lorong sereal, muncul Bu Yanti—wali murid kelas 1B, ibu dari Bintang yang minggu lalu makan stiker bintang Pak Bondan dan harus dibawa ke UGD. Bu Yanti adalah ratu grup WhatsApp wali murid, gosip terjauh yang dia bisa sebarkan adalah tiga RT ke utara, dan sekarang dia mendekat dengan senyum yang Kayla kenal sebagai senyum "oh my god ini akan jadi bahan obrolan satu minggu."

"Bu Kayla! Saya kira itu Ibu! Lho, ini—" matanya beralih ke Arsen, lalu ke Langit yang masih memeluk Kayla, lalu kembali ke Arsen. "Ini suami Ibu?"

"BUKAN—"

"Bukan, Bu—"

"Ini bukan—"

Kayla, Arsen, dan bahkan Pak Satpam Borma yang kebetulan lewat menjawab serempak.

Bu Yanti tertawa. "Ya ampun, malu-malu! Lucu banget. Anaknya juga lucu. Mirip Bu Kayla mukanya, ya. Mata cokelatnya itu, sama persis. Wah berkah banget kerja jadi guru dan udah punya keluarga. Bu Kayla nikahnya kapan? Saya nggak pernah denger lho!"

"Bu Yanti, ini bukan—"

"Foto bareng yuk!"

"Bu—"

"Sebentaaar, biar saya pamerin ke grup wali!"

Sebelum Kayla sempat menghindar, Bu Yanti sudah merangkulnya, merangkul Langit dan Arsen di sisi lain, dan mengangkat ponselnya tinggi-tinggi untuk selfie.

Klik.

"Bu Yan—"

"Yaaa, cantik banget fotonya! Saya kirim ke grup ya!"

"BU YANTI JANGAN—"

Tapi Bu Yanti sudah berjalan menjauh sambil mengetik di ponselnya. Kayla berdiri di tengah lorong sereal, di tengah harum stroberi instan dan susu cokelat, dengan tangan yang gemetar.

"Habis aku," Kayla bergumam. "Habis aku besok di grup wali murid."

Arsen, di sebelahnya, mendadak terkikik.

Kayla menoleh dengan tatapan membunuh. "Kamu ketawa?"

"Maaf—maaf—Kay, mukamu—"

"Arsen, gue lagi mau resign sekarang juga."

"Kay—"

"Nanti besok ada wali murid yang kirim ke kepala sekolah, terus gue dipanggil ke kantor, terus—"

"Mama Kayla," Langit menarik ujung baju Kayla, "kita beli es krim yuk."

"Sayang—"

"Sebagai permintaan maaf Papa."

Arsen mengangkat alis. "Permintaan maaf Papa kenapa?"

"Karena Papa bikin Mama Kayla bingung terus."

Kayla, dengan seluruh kekuatan emosional yang masih tersisa di tubuhnya, menatap anak berumur enam tahun yang baru saja mendiagnosis seluruh hubungan dewasa di depannya dengan tiga belas kata.

"Es krim apa yang kamu mau, sayang?"

Tiga puluh menit kemudian, mereka duduk di kafe Borma. Es krim cokelat untuk Langit. Kopi pahit untuk Kayla. Es teh untuk Arsen yang kelihatan tidak berani pesan apa-apa yang berpotensi tumpah.

"Kay—Bu Kayla," Arsen mulai, "aku mau jelasin soal Selvi."

"Saya nggak perlu penjelasan, Pak."

"Tapi—"

"Pak, kalau Tante Selvi muncul di sekolah lagi mengaku-aku sebagai ibunya Langit, saya akan minta sekolah keluarkan surat resmi. Itu aja yang perlu Anda tahu."

"Foto yang dia tunjukin—"

"Bukan urusan saya."

"Itu fotonya sebelum aku tau dia—"

"Pak."

Arsen diam.

Kayla menarik napas. "Saya bukan marah karena fotonya. Saya marah karena enam tahun lalu kamu pergi tanpa kabar. Itu yang belum selesai. Foto Tante Selvi itu bonus aja."

"Kay."

"Saya pulang."

"Tunggu—"

Kayla berdiri. Mengambil tasnya. Berjalan ke pintu kafe.

Tepat saat dia melewati pintu otomatis, dia berpapasan dengan seseorang yang masuk.

Perempuan. Sekitar tiga puluhan. Rambut pendek. Mantel kasmir. Membawa koper kecil—jelas baru turun dari pesawat. Wajahnya... ada sesuatu yang familiar tentang wajahnya. Mata cokelat tua. Hidung kecil. Pipi tembam.

Mata cokelat tua.

Kayla berhenti.

Perempuan itu lewat begitu saja.

Berjalan menuju lorong belanja.

Berhenti di pintu masuk kafe.

Dan dari kafe, terdengar suara kecil Langit—suara yang biasanya pelan—mendadak berseru dengan volume yang Kayla tidak pernah dengar dari anak itu sebelumnya:

"MAMA?!"