Meja itu tidak pernah istimewa.

Letaknya berada di baris ketiga dari pintu kaca buram divisi kami, sebuah posisi nanggung yang sering kali luput dari perhatian. Meja itu tidak cukup dekat dengan deretan jendela besar di sisi barat untuk mendapatkan bias keemasan matahari sore yang biasanya membuat orang sejenak melamun, dan tidak cukup tersembunyi di sudut ruangan untuk menjadi tempat persembunyian yang aman dari tatapan menyapu sang manajer operasional. Meja itu berada tepat di urat nadi lalu lalang karyawan—jalur utama menuju pantri dan mesin fotokopi. Tempat di mana aroma kopi instan murah, wangi pewangi pakaian dari kemeja yang lewat, dan suara seretan sepatu pantofel menjadi latar belakang permanennya.

Aku sudah bekerja di kantor ini lebih dari tujuh tahun. Cukup lama untuk melihat karpet abu-abu di bawah kaki kami menipis dan kehilangan bulu-bulunya. Cukup lama pula untuk menyadari bahwa sebuah perusahaan pada dasarnya adalah sebuah stasiun transit raksasa. Orang-orang datang membawa koper berisi idealisme, lalu pergi bertahun-tahun kemudian dengan koper yang sama, hanya saja isinya telah berganti menjadi kompromi dan kelelahan.

Dari tempat dudukku—yang hanya berjarak dua partisi abu-abu kusam dari meja tersebut—aku telah melihat siklus itu berulang. Meja itu kosong, lalu terisi oleh wajah baru, penuh dengan barang-barang personal, lalu perlahan kembali sepi, hingga akhirnya benar-benar kosong lagi. Sudah enam kali, kalau ingatanku tidak meleset. Enam nama yang berbeda. Enam jenis tawa. Enam cara mengetik di atas keyboard.

Banyak orang mengira benda mati tidak bisa merekam kehidupan. Mereka pikir kayu, besi, dan plastik adalah entitas bisu yang hanya ada untuk difungsikan. Tapi aku tidak setuju. Meja Nomor 17 itu—begitu bunyi label inventaris pudar bernomor seri aset perusahaan yang menempel setengah terkelupas di kaki besinya—selalu terasa seperti benda yang bernapas pelan di tengah ruangan ini.

Lapisan kayu imitasinya yang mulai mengelupas di ujung kiri seakan mengingat seseorang dari masa lalu yang punya kebiasaan mengetuk-ngetukkan kuku ibu jarinya setiap kali tenggat waktu memburunya. Roda kursinya yang sedikit seret dan berbunyi derit pelan saat digeser, menyisakan jejak berat dari seseorang yang mungkin sudah terlalu lelah untuk sekadar beranjak pulang meski jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Bahkan, ada noda samar berbentuk lingkaran di sudut kanan atas, bekas alas cangkir kopi panas yang lupa dilap berminggu-minggu oleh penghuninya yang entah ke mana.

Orang sering kali lupa, bahwa ketika mereka melangkah pergi dari sebuah tempat untuk terakhir kalinya, mereka tidak pernah benar-benar membawa seluruh diri mereka. Selalu ada sebagian kecil, serpihan emosi tak kasat mata, yang tertinggal di tempat mereka menghabiskan ratusan jam hidup mereka. Jejak itu meresap ke dalam serat karpet, menempel di gagang laci, menunggu dalam diam.

Pagi ini, di hari Senin minggu kedua bulan Agustus yang udaranya terasa lebih lengket dari biasanya, meja itu kembali menemukan tuannya.

Mbak Rini, staf HRD senior dengan suara hak sepatu beradunya yang khas, berjalan masuk melewati pintu kaca. Di belakangnya, mengekor seorang anak muda. Dari jarak lima meter, aku bisa mencium aroma ambisi yang bercampur dengan parfum citrus yang disemprotkan terlalu banyak. Kemeja biru mudanya disetrika terlalu licin, lengannya digulung presisi sebatas siku, memperlihatkan jam tangan stainless steel yang tampak masih baru. Rambutnya tersisir rapi dengan pomade. Matanya bergerak cepat menyapu ruangan—memindai, menilai, menyerap segala hal di sekitarnya.

Dia bukan tipe orang yang datang untuk sekadar mencari gaji bulanan. Dia tipe orang yang datang untuk menaklukkan.

"Nah, ini tempat kamu ya, Arga," ucap Mbak Rini, suaranya memecah dengung AC sentral. Ia menepuk pelan sandaran kursi ergonomis di balik Meja 17. Warna jaring-jaring sandaran kursi itu sudah memudar, abu-abu kusam yang kontras dengan energi cerah si anak muda. "Sebelah sana Mas Tian, Data Analyst kita. Di depan situ ada Mbak Nisa dari tim kreatif. Kalau ada apa-apa, butuh alat tulis atau bingung login sistem, tanya aja sama mereka. Jangan sungkan."

"Siap. Makasih banyak, Mbak Rini," jawab anak muda itu, Arga. Suaranya lantang, jernih, dan bertenaga. Terlalu berenergi untuk ukuran hari Senin pukul delapan pagi yang biasanya diisi dengan sisa-sisa kantuk dan wajah-wajah datar karyawan lain yang menatap layar dengan mata setengah terbuka.

Mbak Rini tersenyum sekilas, lalu berbalik dan berlalu pergi, meninggalkan Arga sendirian di teritorial barunya.

Aku tidak langsung kembali mengetik laporan bulananku. Dari balik tepian layarku, aku memperhatikan gerak-geriknya. Arga tidak langsung menarik kursi itu dan duduk. Ia meletakkan tas ransel tebalnya di lantai beralas karpet, menyandarkannya pada kaki meja. Lalu, tangannya yang bebas terangkat perlahan, menyentuh permukaan meja kosong di hadapannya.

Ia mengusapnya pelan. Jemarinya menyusuri permukaan kayu imitasi itu dari tengah bergerak ke arah pinggir, seolah sedang membaca sebuah pesan panjang berhuruf braille yang tidak kasat mata.

Tiba-tiba, gerakannya terhenti. Keningnya berkerut tipis, membentuk lipatan samar di antara alisnya. Senyum antusias yang sejak tadi terpasang rapi di wajahnya memudar selama beberapa detik. Ia menunduk menatap permukaan meja itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Pandangannya kemudian bergeser ke arah susunan laci di sebelah kanan yang tertutup rapat, lalu beralih menatap kursi kosong di hadapannya.

Ada jeda yang sangat aneh di sana. Jeda yang membuat udara di sekitarnya seakan menebal.

Bahunya yang tegak tiba-tiba sedikit menurun. Napasnya tertahan satu ketukan. Seolah-olah, di tengah ruangan yang mulai bising oleh suara ketikan dan percakapan kecil, meja itu baru saja menyapanya dengan bahasa yang hanya bisa didengar olehnya. Sesuatu di tempat itu membuatnya terdiam. Raut wajahnya menyiratkan rasa familier yang salah tempat—seolah ia mengenali sebuah beban absolut, sebuah gaung dari kelelahan orang-orang yang pernah merebahkan kepala mereka di atas meja yang sama sebelum dirinya.

Selama empat detik penuh, Arga hanya berdiri mematung. Matanya menatap laci paling atas.

Hidup orang lain ternyata nyambung sama hidup kita, bahkan sebelum kita sempat mengucap nama mereka.

Tapi sedetik kemudian, pesona aneh itu putus. Arga mengerjap cepat, menggelengkan kepalanya pelan seakan mengusir halusinasi ringan, lalu menarik napas panjang. Ia meraih sandaran kursi, menariknya mundur, dan menjatuhkan beban tubuhnya ke atas bantalan kursi.

Arga duduk. Dan untuk ketujuh kalinya, waktu kembali berdetak di Meja Nomor 17.