Jam empat lewat dua puluh sore, dan gue baru menyadari bahwa lampu neon kotak di plafon tepat di atas kepala gue ternyata berkedip sepersekian detik setiap lima belas menit sekali.
Mata gue mulai terasa kering dan perih setelah berjam-jam tanpa jeda memelototi company profile dan membaca puluhan dokumen deck presentasi dari campaign tahun lalu. Energi meluap-luap yang seperti air bah tadi pagi, perlahan-lahan menyusut menjadi aliran sungai kecil yang tersendat, tergantikan oleh rasa kantuk pasca-makan siang yang mulai merusak ritme ketikan gue. Punggung bagian bawah gue mulai protes keras, mengingatkan bahwa kursi ergonomis ini ternyata busanya sudah sangat tipis di bagian tengah.
Gue meregangkan leher ke kiri dan ke kanan hingga terdengar bunyi krek pelan. Gue butuh penjepit kertas. HRD memintaku mengumpulkan beberapa salinan fisik dokumen pribadi yang tercecer untuk diserahkan besok pagi, dan gue benci melihat kertas yang berantakan tidak disatukan.
Gue memindai sekeliling atas meja—bersih, kosong, tidak ada satu pun organizer alat tulis yang tersisa dari penghuni lama.
Gue menunduk, menggunakan ujung kaki untuk mendorong kursi sedikit ke belakang agar ada ruang, dan membungkuk untuk menarik pegangan laci atas di sebelah kanan meja.
Sreek... KRAKK.
Rel laci itu ternyata berkarat atau mungkin roda plastiknya keluar dari jalur. Gue harus mengerahkan tenaga ekstra dan menariknya sedikit lebih kasar. Hentakan itu menghasilkan suara decitan dan gesekan besi tua yang cukup nyaring, memecah kesunyian relatif area kubikel kami. Mas Tian di sebelah gue refleks beringsut dari posisinya, kepalanya menoleh sedikit dengan pandangan terganggu.
"Sorry, Mas. Agak macet lacinya," gumam gue pelan sambil mengangkat satu tangan meminta maaf. Tian kembali ke layarnya tanpa merespons.
Gue menunduk melihat isi laci tersebut. Nyaris kosong melompong. Hanya ada lapisan debu tipis berwarna abu-abu yang melapisi dasar laci berbahan logam, sebuah karet gelang cokelat yang sudah mengeras, melengkung kaku dan putus, serta satu buah jepitan kertas yang mulai berkarat kemerahan di ujungnya.
Bagus, batin gue. Setidaknya jepitan berkarat ini masih bisa dipakai.
Gue mengambil jepitan kertas itu. Namun, tepat saat gue menempatkan tangan di gagang untuk mendorong laci itu kembali tertutup, ekor mata gue menangkap secercah warna asing yang tidak seharusnya ada di sana.
Di sudut paling ujung, di bagian terdalam laci yang hampir tidak terkena cahaya lampu ruangan karena terhalang bibir meja, ada sesuatu yang menempel di dinding laci.
Gue mengerutkan kening. Sedikit memiringkan kepala agar cahaya bisa masuk. Tangan gue menjulur masuk melewati sisa ruang yang sempit, mengorek sudut laci itu dengan jari telunjuk dan tengah, berusaha menjepit benda tersebut. Ujung jariku menyentuh sesuatu yang bertekstur kertas. Setelah sedikit usapan, lemnya yang sudah melemah menyerah, dan benda itu terlepas ke tanganku.
Gue menariknya keluar dan meletakkannya di atas paha.
Sebuah sticky note.
Warnanya kuning terang, tapi sekarang sudah meredup dimakan waktu, bagian ujung-ujungnya melengkung ke atas seolah kertas itu mencoba menggulung dirinya sendiri karena kehilangan daya rekat. Di bagian tengah kertas kecil berukuran empat sentimeter persegi itu, terdapat sebuah tulisan tangan menggunakan pena tinta hitam tebal.
Tulisannya sedikit miring ke kanan, proporsi hurufnya tidak rata, dan tarikan garis akhirnya tajam. Itu adalah jenis tulisan yang dibuat terburu-buru, atau mungkin... ditulis di sela-sela helaan napas yang berat saat kepala sedang penuh.
"Besok gue harus mulai berubah."
Gue menatap lima kata itu. Mata gue terpaku di sana cukup lama, mengulang-ulang kalimat itu di dalam kepala. Besok. Gue. Harus. Mulai. Berubah.
Alis gue bertaut rapat. Ini pasti milik orang yang duduk di kursi ini, menghadap layar yang sama, sebelum gue. Siapa pun dia. Apakah dia orang kelima yang diceritakan HRD saat orientasi sekilas tadi? Ataukah orang pertama?
Awalnya, ada dorongan sinis di dada gue untuk tertawa kecil. Tipikal penyakit kronis pekerja kantoran. Berapa banyak janji manis, omong kosong, dan resolusi hidup yang diukir di atas meja kerja saat jam menunjukkan pukul lima sore saat pikiran sedang jenuh-jenuhnya, hanya untuk dilupakan keesokan paginya saat dihadapkan pada rutinitas tumpukan email yang sama?
Gue mengangkat kertas itu, bersiap meremasnya menjadi bola kecil dan membuangnya ke tempat sampah plastik hitam di bawah kaki. Ini cuma sampah. Sisa-sisa dari letupan ambisi orang lain yang kandas di tengah jalan, menguap menjadi penyesalan. Gue gak butuh energi, memori, atau afirmasi negatif semacam ini di hari pertama kerja gue. Jalur gue beda dengan penulis kertas ini.
Tapi, saat tangan gue sudah berada tepat beberapa sentimeter di atas lubang tempat sampah, pergelangan tangan gue membeku di udara. Gerakan gue terhenti total.
Secara tidak sadar, mata gue melirik ke arah atas meja. Menatap layar laptop yang menyala terang. Lalu turun ke buku catatan hardcover hitam gue yang masih terbuka lebar di sebelah keyboard, terlihat begitu angkuh, bersih, dan percaya diri dengan tiga target besar yang gue tulis tadi pagi.
Rasa dingin tiba-tiba menjalari punggung gue.
Berapa kali gue melakukan hal yang sama di masa lalu? Berapa kali gue menulis target besar, merasa menjadi manusia paling bersemangat dan tidak terkalahkan di hari pertama, lalu pelan-pelan, hari demi hari, minggu demi minggu, tergerus oleh rasa lelah, kompromi, dan realita, sampai akhirnya gue mulai berkompromi dengan standar gue sendiri?
Bukankah kata 'besok' adalah tempat persembunyian paling aman sekaligus paling mematikan bagi mereka yang terlalu takut untuk bertindak hari ini?
Gue menelan ludah. Tenggorokan gue mendadak terasa kering.
Tulisan di kertas kuning yang agak lecek itu seolah hidup. Kalimat itu menatap balik ke arah gue, menembus pertahanan ambisi gue. Menantang. Atau mungkin... memperingatkan. Ia seolah berbisik, aku juga pernah duduk di posisimu, merasa bisa menaklukkan dunia, sebelum akhirnya meja ini menelanku mentah-mentah.
Karena pada akhirnya, mungkin kita semua hanya lewat. Tapi entah kenapa… selalu ada sesuatu yang tertinggal. Dan benda kuning kecil ini adalah jejak ketakutan seseorang yang secara tidak sengaja menemukan resonansinya di dalam dadaku.
Alih-alih membuangnya, perlahan gue mengendurkan kepalan tangan. Gue meletakkan kertas kuning itu di atas meja kosong, mengusap permukaannya, meratakannya kembali dengan ibu jari, membiarkan garis-garis lipatan tipis tertinggal di sana sebagai bekas yang tidak bisa hilang.
Dengan sangat hati-hati, gue mengambil sticky note itu lagi. Gue menarik laci sebelah kanan, meletakkannya kembali ke dalam laci, merekatkannya tepat di sudut yang sama persis saat gue menemukannya. Menyimpannya kembali dalam kegelapan laci.
Gue menutup laci dengan dorongan yang jauh lebih pelan dan penuh hormat. Bunyi klik halus terdengar saat kayunya merapat sempurna.
Gue kembali menatap layar laptop, menekan touchpad untuk membangunkan layar screensaver. Namun sisa hari itu, jari-jari gue terasa jauh lebih berat di atas tuts keyboard. Dan bayangan lima kata berhuruf miring itu terus berputar lambat di sudut kepala gue, menolak untuk dihapus, menolak untuk dilupakan.
"Besok gue harus mulai berubah."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar