Gue selalu mencintai hari pertama.

Ada sensasi magis, sebuah bau khas dari awal yang baru—campuran antara udara pendingin ruangan yang disetel pada suhu 18 derajat, aroma karpet sintetis yang baru divakum oleh cleaning service, dan wangi kertas dari dokumen-dokumen yang belum sempat dibaca apalagi dikerjakan. Hari pertama adalah sebuah kanvas yang membentang putih bersih. Dan gue tahu persis bagaimana cara melukisnya dengan warna-warna paling berani.

"Pagi, Mas. Gue Arga. Divisi Marketing yang baru," gue mencondongkan tubuh melewati pinggiran meja, mengulurkan tangan kanan ke arah pria berkacamata tebal di meja sebelah kiri gue.

Pria itu terkejut kecil. Bahunya respontif berjengit. Ia menoleh perlahan dari layar monitor ganda yang menampilkan ribuan baris angka kecil-kecil yang bikin mata gue sakit hanya dengan melihatnya sedetik. Ia menatap tangan gue sejenak, seakan benda itu adalah spesimen langka, sebelum akhirnya menerima uluran tangan gue dengan canggung.

"Oh, eh... Tian. Data Analyst," jawabnya pelan. Jabat tangannya lemah, nyaris tanpa tenaga. Tangannya terasa dingin dan berkeringat. Seolah seluruh energi kehidupannya sudah habis tersedot oleh rumus VLOOKUP dan Pivot Table di depannya sejak sebelum jam masuk kerja resmi dimulai.

"Mohon bimbingannya ya, Mas Tian," ucap gue, memberikan senyum paling profesional yang sudah gue latih beberapa kali di depan cermin kamar mandi apartemen tadi pagi. Senyum yang proporsinya pas—tidak terlalu arogan, tapi cukup untuk menunjukkan kepercayaan diri.

Tian hanya mengangguk pelan, memaksakan seulas senyum tipis yang tidak mencapai matanya, dan langsung kembali tenggelam ke dunianya, membelakangi gue.

Gue kembali memutar tubuh menghadap meja kerja gue sendiri. Meja Nomor 17. Tangan gue kembali meraba ujung meja. Jujur saja, waktu pertama kali gue menyentuh pinggiran meja ini sekitar sepuluh menit yang lalu, ada perasaan ganjil yang tiba-tiba merayap di tengkuk gue. Rasanya seperti dejavu, tapi lebih berat, lebih kelam. Seolah meja ini memancarkan residu, sebuah kelelahan panjang yang anehnya terasa sangat familiar. Rasanya seolah meja ini sudah terlalu lelah menampung ekspektasi dan keputusasaan orang-orang.

Ah, persetan dengan perasaan, batin gue menepis. Itu pasti cuma karena gue kurang tidur semalam mikirin hari ini. Gue terlalu excited.

Gue mulai membuka resleting tas dan mengeluarkan "senjata" gue satu per satu, meletakkannya dengan perhitungan geometris. Laptop kantor berwarna abu-abu gelap, mouse wireless ergonomis yang sengaja gue beli dengan uang sendiri, botol minum berinsulasi warna hitam matte, dan yang paling penting di antara semuanya: buku catatan hardcover kesayangan gue.

Gue meletakkan buku bersampul kulit sintetis itu tepat di tengah meja, menyejajarkan sudut-sudutnya dengan pinggiran meja. Ini bukan sekadar buku kosong biasa. Ini adalah peta jalan gue. Kompas yang akan membawa gue keluar dari kehidupan yang medioker.

Gue membuka halamannya. Terdengar bunyi retakan kecil dari lem punggung buku yang masih baru. Gue meraih pulpen tinta gel andalan gue, membuka tutupnya, dan mulai menulis di halaman pertama yang putih bersih. Huruf-huruf kapital gue terbentuk tegas, ditekan kuat-kuat hingga meninggalkan jejak timbul di halaman baliknya.

TARGET TAHUN PERTAMA:

  1. Pegang minimal 2 project campaign besar skala nasional sebelum kuartal tiga.
  2. Networking agresif dengan head of division lain. Jangan cuma di circle Marketing.
  3. Naik jabatan jadi Senior Executive dalam 18 bulan. Tidak ada negosiasi.

Gue meletakkan pulpen, menatap lurus deretan kalimat itu. Jantung gue berdetak sedikit lebih cepat, memompa adrenalin hangat yang sangat menyenangkan mengalir ke seluruh pembuluh darah. Gue sangat butuh pekerjaan ini. Bukan cuma untuk membayar sewa apartemen studio di Jakarta Selatan yang harganya makin gila setiap tahun, tapi untuk membuktikan sesuatu yang jauh lebih fundamental. Harga diri.

Di kantor gue yang sebelumnya, sebuah agensi menengah yang dipenuhi birokrasi beracun, ide-ide segar gue terlalu sering dibajak oleh para senior yang hanya pandai menjilat bos. Gue bekerja lembur hingga muntah, tapi nama mereka yang selalu tercetak di lembar credit proyek. Di tempat ini, di perusahaan multinasional ini, gue gak akan biarkan sejarah kelam itu terulang. Gue akan berlari jauh lebih cepat dari siapa pun di lantai ini, hingga mereka tidak punya pilihan selain melihat punggung gue.

Ambisi sering kali membuat kita buta. Ia membuat kita lupa pada kenyataan pahit bahwa kursi yang kita duduki dengan penuh kebanggaan hari ini, mungkin pernah menjadi saksi bisu dari hancurnya impian orang lain kemarin. Tapi gue tidak peduli. Gue datang bukan untuk singgah. Gue datang untuk menang.

Gue membuka layar laptop, mengetikkan kata sandi standar yang diberikan tim IT di secarik kertas, dan menunggu dengan tidak sabar hingga layar desktop menyala. Suara dengung halus dari CPU di bawah meja terdengar konstan, menyatu dengan detak jarum jam dinding di ujung ruangan. Gue merapikan kerah kemeja gue yang sudah rapi, menarik napas dalam-dalam, dan menatap layar yang kini menampilkan latar belakang pemandangan gunung default milik Windows.

"Ayo, Ga. Waktunya kita mulai," bisik gue tajam pada diri sendiri.

Gue menyentuh meja itu sekali lagi, kali ini dengan kepalan tangan yang mantap. Meja ini, dengan segala sudut lecetnya dan warna pudar di permukaannya, akan jadi tempat di mana semuanya berubah.