Hujan di bulan November selalu terasa berbeda.
Bukan lebih deras, bukan lebih dingin — tapi entah kenapa selalu terasa lebih berat. Seolah langit pun tahu bahwa ada hal-hal di bulan ini yang tidak seharusnya dilupakan.
Raka berdiri di depan batu nisan itu dengan jaket hitam yang sudah mulai basah di bagian bahu. Ia tidak membawa payung. Tidak pernah membawa payung ke sini — entah sejak kapan itu menjadi semacam ritual yang tidak ia rencanakan. Mungkin karena Nara selalu bilang hujan itu romantis. Mungkin karena membiarkan diri basah adalah satu-satunya cara Raka merasa masih bisa merasakan sesuatu.
Di tangannya, selipan bunga krisan putih yang sudah sedikit layu di ujung-ujungnya. Ia beli dari pedagang di pintu gerbang pemakaman — pedagang yang sama, wajah yang sama, senyum yang sama seperti sepuluh tahun terakhir. Pak Darmo namanya. Ia tidak pernah bertanya kenapa Raka selalu datang sendirian, tidak pernah berkomentar soal mata yang selalu sedikit merah. Ia hanya membungkus bunga, menyebutkan harga, dan mengangguk pelan.
Raka menyukainya karena itu.
NARA SENJA ADITYA Lahir: 14 Maret 1992 Wafat: 7 November 2021 "Cahaya yang terlalu indah untuk lama tinggal."
Kalimat di batu nisan itu ia pilih sendiri. Tiga hari setelah Nara pergi, saat ia duduk di depan komputer dengan mata bengkak dan pikiran kosong, ia mengetik dan menghapus puluhan kalimat sebelum akhirnya berhenti di situ. Ivan yang membantunya mengurus administrasi pemakaman. Ivan yang menelepon keluarga Nara. Ivan yang memastikan Raka makan setidaknya sekali sehari di minggu pertama.
Raka tidak ingat banyak dari minggu-minggu itu.
Yang ia ingat hanya bau tanah basah di hari pemakaman, dan bagaimana tangannya tidak bisa berhenti gemetar saat menaruh bunga pertama di atas gundukan tanah merah itu.
Sepuluh tahun kemudian, tangannya masih gemetar.
Ia jongkok, meletakkan bunga krisan di depan batu nisan dengan hati-hati — seperti selalu, seperti Nara masih bisa melihat dan akan marah kalau bunganya ditaruh sembarangan. Jari-jarinya menyentuh permukaan batu yang dingin dan basah, menelusuri huruf-huruf nama itu.
Nara.
Tiga puluh delapan tahun. Begitu usianya sekarang. Sepuluh tahun lebih tua dari Nara yang terakhir kali ia lihat masih bernapas. Ada ironi pahit di situ yang tidak pernah bisa ia telan dengan mudah — bahwa suatu hari nanti ia akan jauh lebih tua dari istrinya sendiri. Bahwa di foto-foto pernikahan mereka, Raka akan terus menua sementara Nara tetap dua puluh delapan, tersenyum dalam gaun putih sederhana yang ia pilih sendiri karena katanya "yang mahal-mahal itu mubazir, Ka, mending uangnya buat beli kasur bagus."
Raka menunduk. Hujan semakin deras.
Ia tidak tahu sudah berapa lama ia berdiri di sini. Sejam mungkin. Atau dua jam. Waktu bekerja aneh di tempat ini — kadang terasa berhenti, kadang terasa berlari terlalu cepat ke arah yang tidak ia inginkan.
"Hari ini sepuluh tahun," katanya akhirnya. Suaranya serak — jarang dipakai hari ini, jarang dipakai banyak hari-hari belakangan ini. "Kamu pasti sudah bosan aku bilang itu setiap tahun."
Angin bertiup. Bunga krisan bergoyang pelan.
Raka menghela napas panjang.
"Proyek kemarin selesai. Gedung kantor di Sudirman — yang aku ceritain bulan lalu. Kliennya puas." Ia berhenti sebentar. "Kamu pasti bilang 'syukurlah, berarti bisa traktir aku makan sushi'. Padahal kamu tidak suka sushi. Kamu cuma suka edamame-nya."
Sudut bibirnya bergerak — bukan tersenyum penuh, hanya gerakan kecil yang sudah menjadi satu-satunya bentuk senyum yang tersisa di wajahnya.
Selama sepuluh tahun ini, Raka sudah belajar cara berfungsi. Cara bangun pagi, mandi, pergi kerja, mengerjakan desain, menjawab email, makan siang, pulang, tidur. Ia melakukan semua itu dengan tertib, dengan presisi, seperti robot yang diprogram untuk meniru kehidupan normal. Rekan kerjanya mungkin mengira ia baik-baik saja. Kliennya pasti mengira ia profesional dan tenang.
Tidak ada yang tahu bahwa setiap malam, sebelum tidur, Raka masih tidur di sisi kanannya sendiri — karena sisi kiri masih terasa milik seseorang yang tidak ada.
Tidak ada yang tahu bahwa ia masih menyimpan satu cangkir milik Nara di lemari, tidak pernah dipakai, tidak pernah dipindah.
Tidak ada yang tahu bahwa di hari-hari tertentu — hari ulang tahun Nara, hari jadi mereka, hari seperti hari ini — Raka tidak sepenuhnya hadir di dunia ini. Ia ada secara fisik, tapi sebagian dirinya selalu terasa berdiri di ambang pintu antara sini dan suatu tempat yang tidak bisa ia jangkau.
"Aku capek, Nara," bisiknya. Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa direncanakan. "Bukan capek kerja. Capek yang..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Tidak ada kata yang tepat untuk jenis kelelahan itu — kelelahan yang bukan karena kurang tidur atau terlalu banyak bekerja, tapi karena terlalu lama membawa sesuatu yang terlalu berat sendirian.
Hujan mengalir di pipinya. Atau mungkin bukan hujan.
Ia tidak peduli membedakan keduanya.
"Andai aku bisa kembali," ucapnya pelan, hampir tenggelam dalam suara hujan. Kalimat yang sudah ribuan kali ia pikirkan tapi baru kali ini benar-benar ia ucapkan keras. "Andai aku bisa kembali ke hari pertama aku melihatmu — aku tidak akan membiarkanmu pergi."
Batu nisan itu diam.
Hujan terus turun.
Dan Raka berdiri di sana sampai langit mulai menggelap, tidak bergerak, seperti orang yang sudah lupa cara pulang — atau mungkin memang tidak punya tempat yang benar-benar terasa seperti rumah lagi.
Malam itu, dalam perjalanan pulang, Raka menyeberang jalan tanpa melihat kiri kanan.
Bukan pertama kalinya. Sudah sering — sudah terlalu sering — ia melakukan itu tanpa benar-benar sadar. Berjalan di trotoar dengan earphone di telinga tanpa musik yang menyala, menyeberang di tengah jalan bukan di zebra cross, berkendara di malam hari tanpa benar-benar fokus pada jalan.
Ivan pernah menegurnya. "Ka, kamu perlu ngomong sama psikolog."
Raka bilang ia baik-baik saja.
Ivan tidak percaya. Tapi Ivan juga sudah terlalu lelah berdebat.
Malam ini, Raka berjalan di tepi jalan raya yang basah. Lampu-lampu kota memantul di genangan air di aspal. Suara klakson, suara mesin, suara hujan yang mulai mereda — semua itu terdengar jauh, seperti dari balik kaca tebal.
Ia memikirkan kalimat yang baru saja ia ucapkan di makam.
Andai aku bisa kembali.
Bodoh. Mustahil. Tidak ada gunanya.
Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, kalimat itu tidak terasa seperti angan-angan kosong. Entah kenapa — mungkin karena lelah, mungkin karena sepuluh tahun adalah angka yang terlalu bulat dan terlalu berat — kalimat itu terasa seperti doa.
Dan Raka, yang sudah lama tidak percaya pada apapun, berbisik sekali lagi ke udara malam yang dingin:
"Beri aku satu kesempatan lagi."
Lampu truk dari arah kanan menyorot wajahnya.
Raka tidak menghindar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar