Tidak ada satu momen pasti di mana Raka dan Nara resmi menjadi mereka.
Tidak ada pengakuan yang dramatis, tidak ada momen di bawah hujan dengan musik latar, tidak ada kalimat "aku suka kamu" yang diucapkan dengan gemetar dan mata berkaca-kaca. Yang ada hanya hari-hari yang pelan-pelan menumpuk — pertemuan yang tidak lagi kebetulan, pesan yang tidak lagi memerlukan alasan, kehadiran satu sama lain yang pelan-pelan dari pilihan menjadi kebutuhan.
Raka mengingat beberapa momen yang mungkin bisa disebut sebagai titik-titik penting.
Tiga bulan setelah mie ayam pertama.
Nara menelepon pukul sebelas malam. Raka masih di kantor mengerjakan revisi yang harus selesai besok pagi.
"Ka, kamu tahu tidak cara masak nasi goreng yang tidak gosong?"
Raka menatap layar komputernya. "Sekarang?"
"Api-nya terlalu besar apa kecil?"
"Sedang. Kenapa tidak pesan saja?"
"Sudah jam sebelas, yang buka cuma yang tidak enak." Suara penggorengan dari seberang telepon. "Aku lapar tapi tidak mau keluar."
"Telurnya masukkan belakangan."
"Oh." Suara wajan. "Oke."
"Dan garam sebelum angkat, bukan sebelum masak."
"Kenapa?"
"Supaya tidak asin."
"Logis juga ya." Suara mengaduk. "Kamu sudah makan?"
"Belum."
"Kasihan." Hening sebentar. "Kalau kamu di sini bisa aku kasih nasi goreng percobaan ini."
Raka menatap pekerjaan di depannya. Lalu menatap jam. Lalu menatap alamat di kontak Nara yang sudah ia hafal meski belum pernah ke sana.
"Kirim foto dulu hasil nasinya."
Foto datang dua menit kemudian. Nasi goreng yang bentuknya tidak karuan tapi tampak... tidak gosong.
"Berhasil," tulis Nara. "Kamu berhasil mengajariku sesuatu via telepon. Ini skill langka."
Raka membalas: "Selamat makan."
Tapi ia tidak bisa berhenti tersenyum selama hampir sepuluh menit setelah itu.
Enam bulan setelah mie ayam pertama.
Raka mengajak Nara ke pameran arsitektur — bukan karena ia pikir Nara akan tertarik, tapi karena itu acara yang ada dan ia ingin alasan untuk menghabiskan Sabtu sore bersamanya.
Nara tidak tertarik pada arsitektur. Tapi ia mengajukan pertanyaan tentang setiap desain yang mereka lewati — bukan pertanyaan yang basa-basi, tapi pertanyaan yang aneh dan spesifik seperti "kalau gentingnya terbalik gini, hujannya ke mana?" dan "kenapa pintunya tidak di tengah, tidak lebih simetris?"
Raka menjelaskan semuanya. Nara mendengarkan dengan serius.
Di akhir pameran, Nara berdiri di depan maket sebuah gedung kecil dan berkata: "Aku rasa aku suka bangunan yang jujur."
"Jujur?"
"Yang tidak pura-pura lebih besar atau lebih mewah dari aslinya. Yang terlihat seperti apa yang memang dia adalah." Ia memiringkan kepala. "Seperti orang."
Raka menatap maket itu. Lalu menatap Nara.
Seperti kamu, pikirnya — tapi tidak mengatakannya.
Di jalan pulang, tangan mereka bersentuhan dua kali karena jalan yang ramai, dan dua kali keduanya tidak menggeser menjauh.
Satu tahun setelah mie ayam pertama.
Ivan bertanya: "Kalian pacaran belum?"
Raka: "Belum."
Ivan: "Kenapa?"
Raka tidak menjawab.
Ivan: "Ka. Dia suka kamu. Kamu suka dia. Ini bukan persamaan yang rumit."
"Aku tidak mau—" Raka berhenti. "Aku tidak mau salah."
"Salah gimana?"
"Salah baca situasi. Salah waktu. Salah..." Ia tidak tahu bagaimana menyelesaikan kalimat itu.
Ivan menatapnya dengan ekspresi seseorang yang menyayangi temannya tapi juga ingin mengguncang bahunya dengan cukup keras. "Raka. Kamu itu arsitek. Kamu tidak akan mulai bikin bangunan tanpa fondasi yang kuat — aku paham. Tapi kamu sudah satu tahun ngecek fondasi yang sama. Pada titik tertentu kamu harus mulai bangun."
Raka tidak menjawab.
Tapi malam itu ia mengirim pesan ke Nara: "Besok pagi kamu bebas tidak?"
"Untuk apa?"
"Mau ngomong sesuatu."
Jeda tiga menit yang terasa seperti satu jam.
"Oke."
Mereka bertemu di taman yang sama — bangku yang sama, pohon mangga yang sama, tapi daunnya sudah hijau lagi karena musim sudah berganti beberapa kali sejak pertama kali mereka duduk di sini.
Raka berbicara dulu soal hal-hal lain. Proyek yang sedang ia kerjakan. Film yang baru saja Nara tonton. Cuaca. Hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan apapun yang sebenarnya ingin ia katakan.
Nara mendengarkan, mengangguk, merespons — dan tidak berkata apa-apa soal fakta bahwa ia jelas tahu ini bukan yang ingin Raka bicarakan.
Akhirnya Raka berhenti bicara di tengah kalimat.
Hening.
"Nara."
"Hm."
"Aku..." Ia memandang ke depan. Ke pohon-pohon. Ke anak-anak yang berlarian di ujung taman. Ke mana saja selain ke arah Nara karena kalau ia melihat ke arah Nara sekarang ia tidak yakin bisa menyelesaikan kalimatnya. "Aku suka kamu."
Hening lagi.
Raka akhirnya menoleh.
Nara menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ia baca — serius, tapi ada sesuatu di sudut matanya yang terlihat seperti orang yang berusaha keras untuk tidak tersenyum.
"Aku tahu," kata Nara.
Raka menatapnya.
"Sudah dari lama tahu," tambahnya, dengan nada yang sangat tenang untuk seseorang yang baru saja diakui suka. "Aku tunggu kamu ngomong sendiri karena kayaknya penting buat kamu."
"...Dan?"
Nara akhirnya tersenyum — bukan menahan lagi, tersenyum penuh, dengan mata yang sedikit mengkilap. "Dan aku juga suka kamu, Raka. Dari lama juga."
Raka menghela napas — napas panjang yang tidak ia sadari sudah ia tahan.
Di sebelahnya, Nara menyandarkan bahunya ke bahu Raka. Pelan, ringan, seperti sudah sering dilakukan padahal ini pertama kalinya.
"Took you long enough," katanya dalam bahasa Indonesia dengan aksen yang dibuat-buat.
Raka tertawa. Pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia tertawa benar-benar.
Dua tahun pacaran.
Bukan dua tahun yang sempurna — ada pertengkaran soal hal-hal kecil, ada malam-malam di mana salah satu dari mereka tidak dalam kondisi terbaik dan yang lain harus sabar, ada perbedaan-perbedaan kecil yang harus dibicarakan dan dikompromikan.
Tapi ada juga liburan ke Yogyakarta di mana mereka tersesat tiga kali dan Nara menganggapnya sebagai bagian terbaik dari perjalanan. Ada malam-malam masak bersama yang selalu berakhir berantakan tapi entah kenapa selalu lebih enak dari masakan restoran manapun. Ada pertengkaran-pertengkaran yang selalu berakhir dengan salah satu dari mereka mengirim foto makanan aneh disertai pesan "maafin aku" yang dibalas dengan stiker yang tidak ada hubungannya tapi artinya jelas.
Ada perasaan bahwa ini — orang ini, hari-hari ini — adalah rumah.
Dan di akhir tahun kedua, di sebuah malam biasa setelah makan malam di rumah Nara, Raka menatap Nara yang sedang mencuci piring sambil menyanyikan lagu yang salah liriknya dan berpikir: aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa ini.
-* Dua minggu setelah malam itu, saat mereka jalan-jalan sore di mal, Nara tiba-tiba berhenti berjalan. Raka menoleh — wajah Nara pucat, tangannya menggapai lengan Raka untuk keseimbangan, dan kemudian ia jatuh
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar