Raka berhenti di trotoar.
Seharusnya ia terus berjalan. Ini bukan urusannya — Nara bukan pacarnya, bukan temannya dalam definisi yang resmi, bukan siapa-siapanya selain perempuan yang ia kenal dari tiga percakapan di taman dan satu jam pengamatan diam-diam di kafe.
Tapi pria itu tidak beranjak.
Dan Nara sudah dua kali menggeser tasnya ke bahu yang lain — gerakan kecil yang Raka sudah cukup perhatikan untuk tahu artinya: ia tidak nyaman, ia ingin mengakhiri percakapan ini, tapi tidak tahu bagaimana caranya tanpa terasa tidak sopan.
Raka menghela napas.
Ia menyeberang.
"Nara!" Suaranya keluar lebih keras dari yang ia rencanakan — cukup untuk membuat dua orang di depan gerbang sekolah itu menoleh. "Sorry, aku telat — kita jadi jalan kan?"
Nara menatapnya. Satu detik — Raka bisa melihat otaknya bekerja, mencerna situasi, lalu sesuatu di matanya berubah. "Oh iya, iya — bentar ya." Ia menoleh ke pria berdasi itu. "Maaf, Pak, saya ada janji."
Pria itu menatap Raka dengan ekspresi yang tidak sepenuhnya ramah. Raka balas menatapnya dengan ekspresi yang tidak berusaha terlihat ramah sama sekali.
Pria itu pergi.
Hening beberapa detik setelah langkah kakinya menghilang di tikungan.
"Kita jadi jalan?" kata Nara akhirnya.
"Tidak." Raka menatap ke arah tikungan itu. "Siapa dia?"
"Orang tua murid." Nara menghela napas. "Sudah ketiga kalinya. Setiap jumat." Ia menggeser tasnya lagi ke bahu yang lain — kebiasaan yang sama, tapi kali ini karena lega bukan karena tidak nyaman. "Makasih."
"Kamu seharusnya bilang langsung."
"Aku tidak mau bikin masalah. Anaknya muridku."
Raka memandangnya. Ada hal-hal yang ingin ia katakan — bahwa ada cara untuk bersikap tegas tanpa membuat masalah, bahwa tidak mau merepotkan tidak selalu menjadi kebajikan — tapi ia tahu bukan kapasitasnya untuk mengatakan itu kepada seseorang yang baru ia kenal beberapa minggu.
Jadi ia tidak mengatakan apa-apa.
"Kamu sudah makan?" tanyanya.
Nara menatapnya. "Itu ajakan makan?"
"Iya."
"Kamu tidak nanya dulu aku mau atau tidak."
"Kamu mau?"
Nara berpikir sebentar — atau pura-pura berpikir, Raka tidak bisa memastikan. "Mie ayam di depan itu enak. Tapi porsinya banyak."
"Aku bisa bantu habisin."
"Berarti kamu yang bayar."
"Oke."
Nara mulai berjalan ke arah warung mie ayam di ujung jalan. Raka berjalan di sebelahnya, dengan jarak yang cukup — tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
"Kamu tahu," kata Nara tanpa menoleh, "cara kamu ngomong tadi itu sangat tidak alami."
"Aku tahu."
"'Kita jadi jalan kan' — jalan ke mana? Kita belum pernah janjian apapun."
"Aku tahu."
"Tapi berhasil sih." Ada nada sesuatu di suaranya — bukan mengejek, lebih ke... menganggap. Mencatat. "Kamu cepat berpikir kalau perlu."
Raka tidak menjawab. Tapi di ujung bibirnya ada sesuatu yang berusaha keras untuk tidak terlihat seperti senyuman.
Makan mie ayam pertama mereka berlangsung satu setengah jam — dua kali lebih lama dari yang diperlukan untuk menghabiskan semangkuk mie ayam, bahkan dengan porsi besar.
Raka belajar beberapa hal baru.
Bahwa Nara berasal dari Bandung, anak pertama dari dua bersaudara, pindah ke Jakarta tiga tahun lalu untuk mengajar. Bahwa ia memilih jadi guru SD bukan karena tidak ada pilihan lain tapi karena "anak-anak itu jujur, mereka gak pura-pura suka kamu kalau mereka tidak suka kamu, itu menyegarkan." Bahwa ia tidak suka film horor tapi selalu nonton sampai selesai karena tidak mau merasa kalah.
Bahwa saat berbicara tentang sesuatu yang ia sukai, tangannya bergerak-gerak di udara tanpa ia sadari.
Bahwa saat tertawa sungguh-sungguh, ia menutup matanya sebentar.
Bahwa es teh yang ia pesan — lagi — hampir tumpah lagi karena ia bicara sambil gestur, dan kali ini Raka yang cepat memegang gelasnya sebelum terjadi.
Nara menatap tangan Raka di atas gelasnya. Lalu menatap Raka.
"Refleks," kata Raka.
"Iya tapi kamu refleksnya ke gelas aku, bukan gelas kamu."
Raka menarik tangannya. "Trauma."
Nara tertawa — menutup mata sebentar, seperti yang Raka sudah perhatikan.
Di ujung makan malam itu, saat Raka membayar dan mereka berdiri di luar warung, Nara mengeluarkan ponselnya.
"Nomormu."
Raka menatapnya.
"Buat kalau ada orang tua murid yang tidak mau pergi lagi," kata Nara dengan nada datar. "Biar bisa telepon kamu suruh pura-pura jadi pacar."
"Itu alasan yang sangat tidak efisien."
"Nomornya."
Raka memberikan nomornya.
Nara menyimpannya dengan nama "Raka Arsitek Aneh" dan memperlihatkan layarnya sebentar sebelum memasukkan ponsel kembali ke tasnya.
"Makasih udah traktir," katanya. Lalu berjalan ke arah halte bus, dengan tas di bahu dan langkah yang tidak terburu-buru meski bus terlihat sudah mendekat dari jauh.
Raka berdiri di depan warung mie ayam itu, menonton sampai ia naik bus dan bus itu pergi.
Ponselnya bergetar. Pesan masuk.
Dari nomor yang baru saja ia simpan dengan nama "Nara Guru SD":
"Kamu lucu kalau gugup. Jangan berubah."
Raka membaca pesan itu tiga kali.
Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak ia rencanakan — sesuatu yang mengejutkan dirinya sendiri:
Ia tersenyum. Benar-benar tersenyum — bukan senyum tipis, bukan gerakan bibir kecil yang menjadi satu-satunya ekspresi wajahnya selama beberapa tahun terakhir ini.
Tersenyum lebar, di trotoar, sendirian, seperti orang bodoh.
-* Tiga hari kemudian, malam hari, Nara mengirim pesan singkat: "Ka, besok kamu ada waktu pagi?" — dan Raka, yang jadwal pagianya penuh, langsung membalas: "Ada." Tanpa pikir panjang.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar