Raka berhenti.
Ia tidak tahu kenapa. Kakinya berhenti sebelum otaknya sempat berdebat — sebelum bagian rasionalnya sempat berargumen bahwa ia tidak kenal perempuan itu, bahwa terlambat ke kantor bukan pilihan yang baik, bahwa orang yang menangis di tempat umum kadang justru tidak mau diganggu.
Semua argumen itu hadir, tapi terlambat.
Ia sudah berdiri di pintu masuk taman kecil itu, memandang ke arah bangku di bawah pohon mangga yang daunnya mulai kuning, di mana seorang perempuan berseragam guru duduk dengan punggung sedikit membungkuk dan tisu di tangannya.
Pergi, Raka. Ini bukan urusanmu.
Kakinya tidak bergerak ke mana-mana.
Perempuan itu — Nara, ia memanggil dirinya dalam kepala — belum menyadari kehadirannya. Ia sibuk dengan tisunya, sibuk dengan apapun yang ada di kepalanya yang cukup berat untuk membuat bahu sekuat itu tampak seperti menanggung terlalu banyak.
Raka berdiri di sana cukup lama sampai ia mulai merasa lebih aneh untuk terus berdiri daripada untuk melangkah.
Ia melangkah.
Ia duduk di bangku yang sama — tapi di ujung yang lain, dengan jarak yang cukup untuk tidak terasa memaksa — dan membuka ponselnya berpura-pura melihat sesuatu yang penting.
Hening selama hampir satu menit.
Lalu dari ujung bangku yang lain: "Kamu yang minggu lalu ketawa-ketawa di depan sekolah ya?"
Raka hampir menjatuhkan ponselnya.
Ia menoleh. Perempuan itu sudah tidak menangis — atau lebih tepatnya, sedang aktif berpura-pura tidak baru saja menangis dengan cara yang sangat tidak meyakinkan, karena matanya masih merah dan ujung hidungnya masih merah muda.
"Bukan aku yang ketawa," kata Raka. Refleks.
"Temanmu yang ketawa. Kamu yang panik." Perempuan itu mengangkat alis. "Sama aja."
Raka tidak punya balasan untuk itu karena itu akurat.
"Maaf," katanya akhirnya.
Perempuan itu menatapnya sebentar — dengan ekspresi yang sedang mengevaluasi sesuatu — lalu mengangkat bahu. "Gak papa. Lucu kok."
Hening lagi. Tapi kali ini berbeda — bukan hening canggung, lebih ke hening dua orang yang belum tahu mau bicara apa tapi juga tidak merasa perlu terburu-buru.
"Kamu kerja di sini?" tanya Raka akhirnya. Pertanyaan paling bodoh yang bisa ia tanyakan kepada seseorang yang baru saja ia lihat berdiri di depan gerbang sekolah dengan seragam guru selama tiga hari berturut-turut.
Perempuan itu menoleh ke arahnya dengan ekspresi datar.
"Gedung SD itu," katanya, menunjuk dengan ibu jari, "ada di belakang kita."
"Iya, aku tahu."
"Dan aku pakai seragam guru."
"Iya."
"Jadi pertanyaanmu itu—"
"Bodoh, iya, aku tahu." Raka menunduk. "Maaf."
Perempuan itu tertawa kecil — bukan tawa besar seperti yang pertama kali ia dengar di kafe, tapi cukup untuk membuat Raka sedikit lega. "Nara," katanya, mengulurkan tangan. "Guru kelas tiga."
"Raka. Arsitek. Kantor dua blok dari sini."
"Berarti kamu emang lewat sini tiap hari?"
"...Iya."
Nara mengangguk pelan. Matanya kembali menatap ke depan — ke arah pohon-pohon di seberang taman, ke arah anak-anak yang mulai terlihat di balik pagar sekolah, riuh dengan tas besar dan seragam putih merah.
"Murid-muridku mau masuk," katanya. Ia berdiri, merapikan roknya, mengambil tas selempangnya. "Makasih ya udah nemenin. Meski gak ngomong apa-apa."
Raka menatapnya. "Kamu baik-baik aja?"
Nara berhenti sebentar. Ia melirik ke arahnya dengan ekspresi yang sulit dibaca — bukan tidak suka, bukan juga terbuka sepenuhnya. Sesuatu di antaranya.
"Belum," katanya jujur. "Tapi nanti juga baik-baik aja."
Dan ia berjalan pergi, kembali ke gerbang sekolahnya, kembali menjadi guru yang melambai-lambai terlalu semangat kepada murid-murid kecil yang datang dengan tas hampir sebesar badan mereka.
Raka duduk di bangku itu beberapa saat lagi.
Ia terlambat ke kantor dua puluh menit.
Atasannya memandangnya dengan alis terangkat. "Macet?"
"Iya," kata Raka.
Atasannya tidak bertanya lebih lanjut. Raka duduk di mejanya, membuka file denah yang harus ia kerjakan, dan menatap layar komputer selama lima belas menit tanpa benar-benar melihat apapun.
Nara.
Guru kelas tiga.
Belum. Tapi nanti juga baik-baik aja.
Ada sesuatu dalam cara ia mengatakannya — bukan pasrah, bukan juga terlalu optimis. Lebih ke pernyataan fakta, seperti orang yang sudah sering melewati hari-hari berat dan sudah cukup tahu bahwa hari berat tidak pernah benar-benar bertahan selamanya.
Raka menyukai itu. Tanpa tahu kenapa, tanpa bisa menjelaskan — ia menyukai cara Nara mengatakan hal itu.
Ivan mengirim pesan siang itu: "gimana? udah kenalan?"
Raka membalas: "iya."
Ivan: "TERUS???"
Raka mematikan layar ponselnya.
Dua minggu berikutnya, Raka dan Nara bertemu di taman itu tiga kali lagi — semuanya tidak direncanakan, semuanya dimulai dengan Raka yang pura-pura kebetulan lewat dan Nara yang jelas tahu tapi memilih untuk tidak mengatakannya.
Mereka bicara tentang hal-hal kecil. Tentang murid Nara yang minggu ini membawa kucing ke kelas dalam tasnya. Tentang proyek Raka yang kliennya berubah pikiran soal desain di menit-menit terakhir. Tentang kafe di sudut jalan itu — ternyata Nara sudah jadi pelanggan tetap sejak dua tahun lalu.
"Kamu yang di kafe itu," kata Nara suatu hari, dengan nada yang lebih pernyataan daripada pertanyaan. "Yang liatin aku waktu aku tumpah es teh."
Raka mempertimbangkan berbohong selama kurang lebih setengah detik. "Iya."
"Berapa lama?"
"...Satu jam."
Nara menatapnya. "Satu jam."
"Kamu lucu waktu makan kue lapisnya satu-satu."
Nara membuka mulutnya. Menutupnya lagi. Lalu tertawa — tawa itu, tawa yang pertama kali Raka dengar — dan menggeleng pelan. "Kamu aneh tau gak."
"Aku tahu."
"Tapi lumayan," tambahnya, dengan nada yang begitu datar sehingga butuh dua detik sebelum Raka menyadari itu bisa saja sebuah pujian.
Ia tidak sempat merespons karena bel sekolah berbunyi dan Nara sudah berdiri.
Tapi malam itu, sebelum tidur, Raka menatap langit-langit kamarnya dan memikirkan satu kata itu.
Lumayan.
Dari Nara, dengan cara Nara mengatakannya, itu terasa seperti lebih dari cukup.
-* Jumat sore itu, saat Raka lewat di depan sekolah, ia melihat Nara sedang berbicara dengan seorang pria — berdasi, terlihat lebih tua, membawa bunga. Nara tampak tidak nyaman. Pria itu tidak beranjak.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar