Kalau Raka boleh jujur — dan ia akan jujur, setidaknya dalam kepalanya sendiri — ia tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama.
Dulu.
Waktu itu ia dua puluh delapan tahun, arsitek junior di firma kecil di Jakarta Selatan, dan hidupnya cukup teratur untuk tidak memberi ruang pada hal-hal yang tidak bisa diukur atau direncanakan. Ia percaya pada denah yang presisi, pada kalkulasi struktur yang tepat, pada jadwal yang realistis. Cinta pada pandangan pertama terdengar seperti konsep yang dibuat-buat untuk judul film romantis yang tidak pernah ia tonton sampai selesai.
Sampai pagi itu.
Selasa, awal Maret, cuaca Jakarta yang tidak bisa diramal — panas tapi ada angin, langit putih pucat dengan awan yang tidak jelas mau jadi hujan atau tidak. Raka keluar dari kantornya untuk membeli kopi — kopi dari kafe kecil di sudut jalan yang tidak punya nama besar tapi tehnya selalu enak dan kursinya cukup nyaman untuk duduk sendirian tanpa merasa aneh.
Ia memesan americano, duduk di dekat jendela, membuka laptop untuk mereview gambar denah yang harus ia presentasikan sore itu.
Dan kemudian ia mendengar suara itu.
Tawa.
Bukan tawa biasa — bukan tawa sopan yang ditahan karena berada di tempat umum, bukan tawa pelan yang dijaga volumenya. Ini tawa yang penuh, yang lepas, yang seperti tidak peduli bahwa separuh penghuni kafe menoleh ke arahnya. Tawa yang terdengar seperti orang yang benar-benar, sungguh-sungguh, merasa sesuatu itu lucu — bukan pura-pura.
Raka menoleh.
Di meja dua baris dari tempat duduknya, seorang perempuan berdiri dengan wajah yang sudah memerah menahan tawa — sementara di depannya, gelas es teh yang tampaknya baru saja ia pegang kini tumpah sebagian besar isinya ke atas bajunya sendiri. Kaos putih polos. Sekarang dengan noda teh coklat keemasan yang cukup besar di bagian dada.
Perempuan itu tertawa.
Bukan menangis, bukan panik, bukan marah kepada dirinya sendiri atau kepada gelas itu — ia tertawa. Tertawa pada dirinya sendiri dengan cara yang membuat Raka, tanpa sadar, ikut ingin tersenyum hanya karena melihatnya.
"Aduh," katanya di sela tawa, mengambil tisu dari dispenser di meja dan menepuk-nepuk bajunya dengan gerakan yang sama sekali tidak efektif. "Ini baju baru loh sebenernya."
Temannya di seberang meja — perempuan lain dengan kacamata bulat — menutupi mulutnya tapi jelas juga menahan tawa. "Na, kamu teh apa teh?"
"Aku teh yang tumpah." Perempuan itu — Na, rupanya — mengangkat sisa es tehnya yang tinggal setengah dan meneguknya tanpa ekspresi, seperti orang yang sudah menyerah dengan elegan.
Temannya meledak tertawa.
Dan Raka — Raka yang tidak percaya cinta pada pandangan pertama, Raka yang hidup dalam dunia denah dan kalkulasi dan jadwal presentasi — menatap perempuan itu tanpa berkedip selama kurang lebih tiga detik.
Tiga detik.
Setelah itu, sesuatu di dalam dadanya bergeser. Pelan, tanpa suara, tapi nyata — seperti potongan puzzle yang selama ini tidak ia tahu hilang, tiba-tiba jatuh ke posisinya dengan bunyi yang hanya bisa didengar dari dalam.
Ia paksa dirinya kembali menatap layar laptop.
Tapi sudut matanya tidak bisa berhenti melirik ke arah meja itu.
Perempuan itu duduk selama hampir satu jam lagi. Raka tahu karena ia — dengan malu yang tidak akan pernah ia akui kepada siapapun — tidak beranjak dari kursinya meski pekerjaannya sudah selesai dua puluh menit sebelumnya.
Ia belajar beberapa hal dalam satu jam itu.
Bahwa perempuan itu namanya Na — atau mungkin itu panggilan, bukan nama lengkap. Bahwa ia berbicara dengan cepat dan sering melompat dari satu topik ke topik lain sampai temannya harus mengingatkan "eh tadi kamu lagi cerita apa?" Bahwa ia memesan satu porsi kue lapis dan memakan lapisannya satu per satu — dari bawah ke atas — dengan ekspresi serius seperti sedang mengerjakan sesuatu yang penting.
Bahwa saat temannya bilang sesuatu yang lucu, perempuan itu tertawa dengan cara yang persis sama seperti pertama kali Raka mendengarnya — lepas, penuh, tidak ditahan.
Raka menutup laptopnya.
Ia seharusnya kembali ke kantor.
Ia tidak kembali ke kantor.
Ia memesan kopi kedua — sesuatu yang tidak pernah ia lakukan, karena dua cangkir kopi di pagi hari selalu membuat jantungnya tidak nyaman — dan duduk, berpura-pura membaca sesuatu di ponselnya.
Ketika akhirnya perempuan itu berdiri untuk pergi, Raka melihat ke arahnya satu kali terakhir.
Dan perempuan itu, entah karena insting atau kebetulan yang terlalu sempurna, menoleh.
Mata mereka bertemu.
Dua detik — tiga detik — dan kemudian perempuan itu tersenyum kecil, canggung, dengan ekspresi "oh, kamu memang sedang lihat aku ya" yang membuat Raka langsung mengalihkan pandangan ke ponselnya dengan cara yang jelas sekali tidak natural.
Ia mendengar langkah kaki menjauh.
Pintu kafe terbuka dan tertutup.
Raka duduk sendirian, menatap kopi keduanya yang mulai dingin, dengan satu kalimat yang berputar di kepalanya dan tidak mau berhenti:
Siapa dia?
Jawabannya ia dapat dua hari kemudian — karena ternyata kafe itu ada di jalan yang sama dengan rute yang ia lewati setiap pagi menuju kantor, dan ternyata dua puluh meter dari kafe itu ada sebuah sekolah dasar negeri dengan gerbang biru, dan ternyata perempuan yang tertawa menumpahkan es teh itu berdiri di depan gerbang sekolah itu setiap pagi dengan seragam guru dan senyum yang sama persis seperti yang pertama kali ia lihat.
Raka mulai sengaja berangkat lima menit lebih pagi.
Ivan — yang satu kos dengannya waktu itu — memperhatikan perubahan itu dengan curiga di hari ketiga.
"Kamu kenapa rajin tiba-tiba?"
"Proyek lagi banyak."
"Bohong. Kemarin kamu nonton bola sampai jam dua pagi."
Raka tidak menjawab. Ivan memperhatikan arah pandang Raka saat mereka berjalan — ke depan gerbang sekolah itu, ke sosok perempuan yang sedang menyambut murid-muridnya dengan tangan melambai-lambai terlalu semangat.
Ivan mengikuti pandangan itu. Lalu kembali menatap Raka.
"Oh," kata Ivan.
"Apa."
"Ohhh."
"Diam, Van."
Ivan tidak diam. Ivan tertawa cukup keras sampai beberapa orang yang lewat menoleh.
Dan di depan gerbang sekolah itu, perempuan bernama Nara Senja — yang belum tahu namanya, yang belum tahu apapun tentangnya — menoleh sebentar ke arah suara tawa itu, melihat dua pria yang salah satunya sedang menyikut yang lain dengan panik, dan mengeryitkan dahi sebelum kembali fokus pada murid-muridnya.
Raka ingin menghilang ke dalam aspal.
-* Tiga hari kemudian, saat Raka lewat seperti biasa, ia mendapati Nara tidak ada di depan gerbang sekolah. Ia ada di taman kecil di samping sekolah — sendirian, duduk di bangku, menunduk. Bahunya bergerak naik turun. Ia menangis.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar