Malam sebelum hari H, kabut turun lebih tebal dari biasanya, membawa hawa lengket yang mencekik napas. Dhipa berdiri di tepi pantai yang sepi, membiarkan angin asin menerpa wajahnya. Ia memejamkan mata, memanjatkan doa-doa perlindungan yang ia pelajari dari mendiang ibunya. Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat memecah deburan ombak.
"Dhipa!"
Dhipa menoleh dan menemukan Fathan berdiri beberapa langkah darinya. Fathan adalah pemuda pengurus surau desa, teman masa kecilnya yang selalu bersikap lembut padanya. Napas pemuda itu terengah, matanya memancarkan kepanikan yang luar biasa.
"Kau gila, Dhipa! Kubilang kau gila!" Fathan melangkah maju, wajahnya dipenuhi frustrasi. "Aku sudah mendengar dari orang-orang pasar bahwa kau menggantikan Rani. Jangan lakukan ini! Kemasi barang-barangmu malam ini juga. Gibran dan aku sudah menyiapkan perahu di teluk seberang. Kita bisa kabur ke pulau seberang, ke tempat di mana kekuasaan Mahesa tidak akan bisa menyentuhmu!"
Dhipa tersenyum getir, menggeleng pelan. "Jika aku lari bersamamu, Fathan, Paman dan Bibi akan menanggung akibatnya. Seluruh desa ini bisa jadi amukan Tuan Mahesa. Aku tidak bisa menukar nyawaku dengan nyawa orang-orang yang membesarkanku."
"Tapi ini bunuh diri! Enam gadis, Dhipa! Enam gadis telah masuk ke sana dan tidak pernah kembali. Kutukan itu nyata!" Fathan setengah berteriak, mengusap wajahnya kasar. "Aku... aku tidak bisa membiarkanmu mati begitu saja."
"Aku tidak berniat untuk mati, Fathan," jawab Dhipa dengan tenang, sorot matanya tajam menembus kabut malam. "Mungkin saja kutukan itu belum pernah bertemu dengan lawan yang sepadan. Aku memohon padamu, jangan lakukan apa pun yang ceroboh. Jika kau benar-benar peduli, doakan aku dari jauh."
Fathan menelan ludah, matanya memerah menahan amarah dan kesedihan yang bercampur aduk. Ia tahu Dhipa keras kepala, dan tak ada satu argumen pun yang bisa meruntuhkan tekad gadis itu. "Aku dan Gibran tidak akan diam saja. Kami akan mengawasi mansion itu. Jika terjadi sesuatu, kami akan mencari cara untuk menembus masuk."
Dhipa tidak menjawab. Ia berbalik dan melangkah pergi, membiarkan kegelapan menelan siluetnya, meninggalkan Fathan yang berdiri terpaku dihantam keputusasaan.
Sore hari berikutnya adalah awal dari ritual yang menyeramkan. Dhipa dimandikan oleh para tetua desa dengan air yang dicampur bunga tujuh rupa dan air laut pesisir Karang Hitamβsebuah tradisi kuno yang konon dilakukan untuk 'membersihkan' pengantin sebelum diserahkan pada penguasa tebing. Kulitnya terasa perih, dan aroma kemenyan yang dibakar di setiap sudut ruangan membuat perutnya mual.
Selesai dimandikan, Dhipa dipakaikan gaun pengantin tradisional berbahan beludru merah darah yang berat, lengkap dengan suntiang perak kuno yang menusuk kulit kepalanya. Ia tampak luar biasa cantik, sekaligus tragis. Wajahnya dipoles tanpa ekspresi, bak boneka porselen yang siap diantar ke etalase pajangan.
Saat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, sebuah mobil antik berwarna hitam legam buatan Eropa turun dari tebing, membelah kabut pesisir. Tidak ada arak-arakan yang meriah, tidak ada musik rebana yang riang. Hanya keheningan yang mencekam saat Dhipa melangkah keluar dari rumah pamannya. Paman Karta tertunduk tak berani menatap matanya, sementara Bibi Lastri menangis di balik pintu.
Dhipa masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan selamat tinggal. Pintu ditutup, dan mobil itu mulai mendaki jalan menanjak yang berliku dan berbatu menuju tebing. Semakin tinggi mereka naik, udara terasa semakin menipis. Melalui kaca jendela, Dhipa menatap ke bawah; desanya terlihat sekecil kotak korek api, berselimut kabut tebal. Di depannya, gerbang besi berkarat Mansion Karang Hitam terbuka perlahan dengan suara derit yang melengking panjang, menyambut mangsa barunya.
Mobil berhenti di pelataran batu yang luas. Mansion itu dari dekat jauh lebih mengintimidasi. Pilar-pilar kayunya yang diukir dengan motif tanaman merambat tampak seperti tentakel yang melilit bangunan tersebut. Suasana sangat sunyi, hanya ada suara ombak yang menghantam karang ratusan meter di bawah tebing.
Dhipa turun dari mobil, disambut oleh deretan pelayan wanita berpakaian serba hitam yang menunduk dalam, wajah mereka pucat dan kosong seolah tak bernyawa. Di ujung tangga teras, berdirilah dua sosok pria. Salah satunya adalah pemuda berwajah sinis yang bersandar santai di pilar kayuβBaskara, putra sulung sang tuan rumah. Dan di sebelahnya, duduk di atas sebuah kursi roda dengan tatapan kosong yang menusuk, Candra, sang putra bungsu.
Namun, pandangan Dhipa langsung tertuju pada sosok yang baru saja melangkah keluar dari pintu utama berlapis ganda.
Itulah Tuan Mahesa.
Lelaki itu mengenakan setelan jas era kolonial yang dipadukan dengan kain songket di bagian pinggang. Posturnya tinggi besar, dengan bahu tegap dan garis rahang yang sekeras batu karang. Kulitnya pucat namun tidak menua, sementara matanya... matanya setajam pedang, berwarna hitam pekat yang seakan mampu menyedot seluruh cahaya di sekitarnya. Auranya sangat dingin, memancarkan dominasi mutlak yang membuat udara di sekitar Dhipa mendadak membeku.
Tuan Mahesa menatap Dhipa lekat-lekat. Tidak ada senyum, tidak ada kelembutan dalam tatapan itu. Yang ada hanyalah sebuah misteri gelap yang menanti untuk menelannya bulat-bulat.
Prosesi Ijab Kabul dilakukan di sebuah aula besar di dalam mansion yang diterangi oleh ratusan lilin temaram. Penghulu dari desa dan Paman Karta yang dijemput terpisah tampak gemetar saat berhadapan dengan Mahesa. Ketika kalimat qabul itu diucapkan dengan suara bariton Mahesa yang berat dan menggema ke seluruh penjuru ruangan yang dingin, Dhipa menyadari bahwa ikatan gaib itu kini telah sah.
Kata "Sah!" bergema, disusul keheningan yang lebih pekat dari sebelumnya.
Dhipa kini bukan lagi penjahit dari pesisir pasar. Ia adalah istri ketujuh dari Tuan Mahesa. Ia resmi menjadi Nyonya Mansion Tebing Karang Hitam, terjebak dalam sangkar emas berdarah di mana enam nyawa telah melayang sebelumnya, siap memulai malam pertama yang akan menguji batas kewarasannya. Kehidupannya kini bergantung pada seutas benang tipis di antara takdir, rahasia sang keris pusaka, dan lelaki misterius yang kini menjadi suaminya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar