Sinar matahari pagi nyaris gagal menembus kabut abadi yang membungkus Karang Hitam. Hanya cahaya kelabu pucat yang berhasil menyelinap masuk dari balik tirai tebal kamar pengantin. Dhipa mengerjap, matanya terasa perih dan berat karena hanya tidur ayam sepanjang malam. Ia terbangun dalam posisi duduk memeluk lutut di atas ranjang.

Hal pertama yang ia lakukan adalah membuang pandangan ke sudut ruangan. Kursi berlengan itu kosong. Tuan Mahesa telah pergi entah kapan, menyisakan keheningan pagi yang membekukan. Dhipa mengembuskan napas panjang yang sedari semalam tertahan di dadanya. Ia selamat. Ia berhasil melewati malam pertama yang merenggut nyawa enam wanita sebelum dirinya.

Setelah menenangkan diri, Dhipa bergegas ke kamar mandi ganda yang tersembunyi di balik pintu kayu. Ia membersihkan diri dan mengganti gaun pengantin beratnya dengan pakaian yang telah tersedia di lemari ukir; sebuah blus linen berkerah tinggi ala Eropa dipadu dengan rok panjang berwarna biru kelam. Ia membiarkan rambut hitamnya yang panjang dan ikal tergerai, hanya menjepit bagian sisinya dengan rapi. Pantulan dirinya di cermin kini tak lagi menyerupai boneka pengantin yang siap dikorbankan, melainkan seorang wanita tangguh yang siap membongkar rahasia.

Dhipa melangkah keluar dari kamar dan menuruni tangga utama yang melingkar elegan. Suara langkah kakinya bergema di dinding lorong yang dihiasi lukisan-lukisan tua bergaya klasik Belanda dan beberapa potret perkapalan. Mansion ini luar biasa besar, namun terasa sangat sepi dan mati. Pelayan berlalu lalang menyeka perabotan dan mengepel lantai, tetapi tak satu pun dari mereka mengangkat wajah apalagi bersuara. Semuanya bergerak seperti mesin tak bernyawa.

Sesampainya di ruang makan, sebuah meja mahoni panjang telah disiapkan. Aroma kopi tubruk, roti panggang, dan selai nanas menguar di udara. Namun, bukan hidangan itu yang menarik perhatian Dhipa, melainkan tiga orang yang telah duduk menempati kursi-kursi di sana.

"Masih bernapas rupanya."

Suara sarkastis itu meluncur tajam menyambut kedatangan Dhipa. Di ujung meja sebelah kanan, duduk Baskara, putra sulung Tuan Mahesa. Pemuda itu mewarisi garis wajah tegas ayahnya, namun tak memiliki karisma yang sama. Mata Baskara memancarkan kebencian murni dan arogansi yang tak ditutup-tutupi. Ia sedang mengiris daging asap di piringnya dengan kasar, pisau peraknya berdenting keras menabrak porselen.

Dhipa menghentikan langkahnya sejenak, lalu mengangkat dagu dan menarik kursi kosong di seberang Baskara. "Selamat pagi juga untukmu, Tuan Muda," balas Dhipa dengan nada datar, sengaja tidak terprovokasi.

Di sebelah Baskara, seorang wanita berwajah khas Melayu dengan kulit langsat dan mata sayu menatap Dhipa dengan senyum kaku yang dipaksakan. Rambutnya disanggul rapi dan ia mengenakan kebaya berbahan sutra tipis. "Selamat... selamat pagi, Nyonya Dhipa. Saya Aline, istri Baskara," sapanya dengan logat semenanjung yang kental. Tangannya yang menyentuh cangkir teh tampak sedikit gemetar, mengisyaratkan ketakutan yang mendalam terhadap lingkungan sekitarnya.

"Panggil aku Dhipa saja, Aline," balas Dhipa sedikit melembutkan suaranya. Setidaknya ia menemukan satu orang yang masih bisa menunjukkan sopan santun di rumah maut ini.

Lalu, mata Dhipa beralih pada sosok ketiga yang duduk di ujung meja lainnya, agak terpisah dari mereka. Duduk di atas sebuah kursi roda berbahan rotan dan kayu tebal, Candra, putra bungsu Mahesa. Pemuda itu tampak seumuran dengan Dhipa. Wajahnya sangat pucat, dengan tulang pipi yang menonjol dan lingkaran hitam di bawah matanya, seolah ia tak pernah tidur berminggu-minggu. Candra tidak menyentuh makanannya sama sekali. Ia hanya menatap kosong ke arah lilin yang leleh di tengah meja, jari-jarinya yang panjang bergerak-gerak aneh seolah sedang melukis sesuatu di udara.

Baskara mendengus keras, melempar serbetnya ke atas meja. "Jangan pedulikan orang cacat itu. Dia tidak bisa bicara, dan otaknya sudah lama mati bersama ibunya. Dia cuma perabotan tambahan di rumah ini."

Dhipa menautkan alisnya, merasa muak dengan sikap arogan Baskara. Baru saja ia hendak membuka mulut untuk menegur ketidaksopanan itu, udara di ruang makan mendadak membeku. Suhu turun drastis, membuat para pelayan yang sedang menuang air mendadak membatu.

Langkah kaki yang mantap dan berat terdengar memasuki ruangan. Tuan Mahesa muncul dari balik lengkungan pintu utama ruang makan. Ia mengenakan kemeja linen hitam yang pas di tubuh tegapnya. Wajahnya yang memahat kesempurnaan dan kekejaman itu tampak segar, tanpa ada sisa-sisa pertarungan mengerikan yang Dhipa saksikan semalam. Tak ada mata merah, tak ada erangan setan. Hanya Tuan Mahesa yang dingin, tenang, dan berkuasa mutlak.

Baskara yang tadinya angkuh, seketika bungkam dan menundukkan pandangannya. Aline bahkan menahan napasnya. Kehadiran Mahesa seolah menyedot seluruh sisa oksigen di ruangan itu.

Mahesa berjalan menuju kursi utama di ujung meja, menariknya, dan duduk. Matanya menyapu satu per satu penghuni meja, sebelum akhirnya berhenti pada Dhipa. Ia menatap Dhipa cukup lama, mengamati blus dan rok biru kelam yang dikenakan gadis itu. Entah Dhipa salah lihat atau tidak, ada sekelumit perasaan lega di dasar mata kelam pria itu saat melihat Dhipa masih utuh dan bernapas di meja makannya.

"Makanlah," perintah Mahesa singkat, suaranya berat dan bergema.

Ruang makan itu dikuasai keheningan mutlak. Hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring yang terdengar. Dhipa mengunyah roti panggangnya tanpa selera. Sambil makan, Dhipa mencuri pandang ke arah Candra. Anak bungsu itu kini menatap lurus ke arah Dhipa. Tatapannya tidak kosong lagi. Ada sebuah intensitas yang tajam di sana, sebuah kepanikan bisu.

Tiba-tiba, Candra menjatuhkan garpunya ke lantai dengan sengaja. Trang! Bunyi itu mengejutkan semua orang. Baskara mendelik tajam ke arah adiknya, sementara pelayan bergegas mengambil garpu tersebut. Namun, dalam kekacauan kecil yang hanya berlangsung sekian detik itu, Candra menatap mata Dhipa, lalu perlahan ia memutar lehernya, mengarahkan tatapannya ke arah lorong sayap barat mansion yang gelap dan tak pernah dilewati siapa pun.

Sebuah pesan bisu. Candra memberitahunya sesuatu.

Dhipa menelan makanannya dengan susah payah. Instingnya yang terasah keras oleh kehidupan keras pesisir menyala. Ada sesuatu di lorong sayap barat itu. Sesuatu yang menjadi kunci atas semua teka-teki berdarah di Mansion Tebing Karang Hitam. Dan Dhipa bersumpah pada dirinya sendiri, ia akan mencari tahu apa yang disembunyikan keluarga terkutuk ini.