Gema kata "Sah!" dari sang penghulu seolah masih memantul di dinding-dinding pualam Mansion Tebing Karang Hitam, berbaur dengan deru ombak ganas yang menghantam karang ratusan meter di bawah sana. Naladhipa, gadis pesisir yang kini resmi menyandang gelar istri ketujuh Tuan Mahesa, digiring oleh dua pelayan wanita berpakaian serba hitam menaiki tangga pualam yang melingkar bak ular raksasa. Gaun pengantin beludru merah darah yang membalut tubuhnya terasa seberat jangkar kapal, menyeret langkahnya seiring dengan suntiang perak kuno yang mencengkeram kulit kepalanya.
Setibanya di lantai tiga, pelayan itu membuka sebuah pintu kayu jati ganda yang tebal berukirkan sulur-sulur bunga dan sosok naga laut. Aroma tajam dari melati yang dicampur dengan wewangian kemenyan dan kapur barus langsung menyergap indra penciuman Dhipa. Ruangan itu sangat luas, didominasi warna merah marun dan emas pudar sisa kejayaan era kolonial Belanda. Sebuah ranjang berkelambu sutra berdiri di tengah ruangan, tampak lebih menyerupai altar persembahan daripada tempat peraduan sepasang pengantin.
Kedua pelayan itu menunduk dalam, lalu mundur dan menutup pintu dari luar. Terdengar bunyi klik yang berat. Dhipa kini sendirian.
Ia tidak segera duduk di tepi ranjang. Alih-alih meratapi nasib atau gemetar ketakutan seperti yang mungkin dilakukan enam perempuan pendahulunya, Dhipa melangkah menuju jendela raksasa yang menghadap langsung ke laut lepas. Kaca tebal itu buram oleh embun dan kabut malam, namun ia masih bisa melihat gulungan ombak hitam yang memecah buih putih di bawah tebing. Udara di dalam kamar ini terasa sangat dingin, dingin yang tidak wajar, seolah membekukan uap napasnya di udara.
Dhipa mulai melepaskan suntiang peraknya dengan tangan yang sedikit gemetar, meski ia berusaha keras mengendalikannya. Hiasan itu berdenting pelan saat diletakkan di atas meja rias berukir antik. Ia menatap pantulan dirinya di cermin buram bercak hitam. Gadis penjahit dari pasar pesisir itu telah menjelma menjadi seorang ratu dalam sangkar maut.
Suara engsel pintu yang terbuka perlahan membuat sekujur tubuh Dhipa menegang. Ia membalikkan badan, punggungnya bersandar pada meja rias.
Tuan Mahesa melangkah masuk. Ia telah menanggalkan jas kolonialnya, menyisakan kemeja putih berlengan panjang yang digulung sebatas siku, menampilkan urat-urat kokoh di lengan bawahnya. Lelaki itu memancarkan karisma predator kelas atas. Ia menutup pintu tanpa suara, lalu menatap Dhipa dengan pandangan yang tak terbaca. Sepasang mata sehitam malam tanpa bintang itu mengunci pergerakan Dhipa, menguliti setiap lapisan keberanian yang berusaha dibangun sang gadis.
"Kau tidak menangis," suara bariton Mahesa memecah keheningan yang mencekik. Suara itu begitu berat, bergetar rendah di rongga dadanya.
"Air mata tidak akan membuka pintu mansion ini dan mengembalikanku ke pesisir, Tuan," jawab Dhipa, mengangkat dagunya meski lututnya terasa goyah. "Lalu untuk apa aku membuang-buang tenaga menangisi takdir yang sudah kusepakati?"
Mahesa melangkah maju perlahan, setiap pijakan sepatunya di atas lantai kayu ulin memancarkan otoritas mutlak. Ia berhenti hanya dua jengkal dari Dhipa. Jarak yang begitu dekat ini membuat Dhipa bisa mencium aroma tubuh Mahesaβcampuran antara tembakau mahal, kayu cendana, dan aroma petrikor lautan.
"Gadis-gadis sebelummu... mereka memohon. Mereka menjerit hingga pita suara mereka putus, berlutut di kakiku meminta dikembalikan kepada keluarga mereka," bisik Mahesa, wajahnya menunduk mendekati wajah Dhipa. "Namun kau berdiri di sini, menatapku seolah kau memegang kendali. Kau bodoh, Naladhipa, atau kau memang tidak menyayangi nyawamu?"
"Jika Tuan ingin mencabut nyawaku malam ini, lakukanlah dengan cepat. Jangan menyiksaku dengan teka-teki dan ancaman," tantang Dhipa. Jantungnya berdetak liar layaknya genderang perang, namun pantang baginya untuk menunjukkan setitik pun kelemahan.
Tiba-tiba, suhu ruangan merosot tajam. Napas Dhipa mengembun menjadi uap putih di udara. Ia melihat sebuah bayangan mengerikan berkelebat di dalam manik mata Mahesa. Kilatan merah sekejap menyala di kedalaman pupil lelaki itu. Wajah Mahesa yang tadinya tenang, mendadak menegang keras. Rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya bertonjolan.
Sebuah suara berbisik di telinga Dhipa, namun bibir Mahesa tidak bergerak. Suara itu serak, mendesis, dan seolah datang dari balik dinding-dinding kayu kamar ini. Darah segar... jiwa yang berani... sungguh santapan yang lezat...
Mahesa mengerang pelan, mencengkeram tepi meja rias di samping Dhipa hingga buku-buku jarinya memutih. "Menjauh," desis Mahesa, suaranya terdengar berbeda, lebih serak dan dipenuhi penderitaan yang tertahan.
Dhipa terkesiap, mundur selangkah hingga menabrak kursi rias. "Tuan?"
"Kubilang menjauh dariku, Naladhipa!" bentak Mahesa, berbalik memunggungi Dhipa. Ia mencengkeram rambutnya sendiri, seolah sedang bertarung melawan sesuatu yang tak kasat mata di dalam kepalanya. Bayangan di balik punggung Mahesa tampak memanjang secara tidak wajar di bawah cahaya lilin, meliuk-liuk membentuk siluet bertanduk dan bersayap yang mengerikan.
Dhipa teringat ucapan Mbah Karyo di pesisir. Dia bersekutu dengan Banaspati... entitas gelap itu hidup di dalam pusakanya. Namun melihat Mahesa saat ini, Dhipa menyadari satu hal yang tak pernah diceritakan orang: Mahesa tidak sepenuhnya mengendalikan iblis itu. Iblis itulah yang mencoba mengambil alih raganya.
"Batas ranjang ini adalah batas wilayahmu malam ini," Mahesa berbalik, menunjuk ke arah setengah ruangan yang berisi ranjang dengan napas terengah. Matanya yang sebelah kiri tampak memerah, sementara mata kanannya masih hitam pekat, menampilkan pertarungan dua jiwa dalam satu raga. "Jangan melewati garis batas karpet ini. Jika kau mendengar suara... jika kau melihat sesuatu di sudut ruangan... tutup matamu dan tutup telingamu. Jangan pernah mencoba memanggilku sebelum fajar menyingsing."
Tanpa menunggu jawaban Dhipa, Mahesa melangkah menuju sebuah kursi berlengan di sudut ruangan yang gelap. Ia menjatuhkan dirinya di sana, memejamkan mata rapat-rapat, dan menggumamkan kalimat-kalimat kuno dalam bahasa yang tidak Dhipa mengerti. Ia sedang mengunci dirinya sendiri.
Dhipa berdiri terpaku, memandangi sosok suaminya yang perlahan ditelan bayang-bayang sudut kamar. Malam pertama yang diyakini warga pesisir sebagai ritual pencabutan nyawa, ternyata adalah malam di mana suaminya sendiri berjuang mati-matian menahan siluman yang haus darah agar tak menyentuhnya.
Dengan tangan yang masih gemetar, Dhipa melangkah perlahan menuju ranjang. Ia tak melepaskan gaun pengantin merahnya, tak berniat melonggarkan kewaspadaannya. Ia duduk di atas kasur berlapis sutra, menarik lutut ke dada, dan menatap ke arah Mahesa yang kini diam mematung laksana mayat. Di luar, suara ombak terus menggeram, seolah alam semesta pun tahu bahwa di dalam Mansion Tebing Karang Hitam ini, sebuah peperangan gaib sedang berlangsung dalam sunyi. Malam ini, Dhipa bertahan hidup bukan karena belas kasih, melainkan karena perlawanan diam-diam suaminya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar