Malam itu, angin laut berhembus menembus celah-celah dinding kayu rumah, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Dhipa tidak bisa memejamkan mata. Dari kamar sebelah, isak tangis Rani yang tertahan sesekali masih terdengar, disusul oleh bisikan-bisikan bergetar dari Paman Karta dan Bibi Lastri.
Dhipa beringsut dari dipannya dan menempelkan telinga ke dinding papan pembatas.
"Kita tidak bisa menyerahkan Rani, Pak. Dia anak kandung kita satu-satunya. Dia masih terlalu muda, masa depannya masih panjang," isak Bibi Lastri pelan, suaranya sarat dengan permohonan.
"Lalu apa pilihan kita? Membiarkan Tuan Mahesa menenggelamkan perahu-perahu kita dan membuat kita mati kelaparan? Atau menantang kutukan Banaspati itu langsung?" balas Paman Karta dengan nada frustrasi. Hening sejenak sebelum Paman Karta melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan, nyaris seperti embusan angin. "Gadis di utusan itu tidak secara spesifik menyebut nama Rani. Mereka hanya meminta 'anak gadismu yang paling cantik'."
"Maksud Bapak... Dhipa?" napas Bibi Lastri tertahan. "Tapi dia keponakan kita, Pak. Darah daging kakakmu."
"Dhipa sudah dua puluh empat tahun, Lastri. Dia lebih dewasa, lebih tangguh dari Rani. Lagipula, kita sudah merawatnya sejak dia masih merah. Bukankah ini saatnya ia membalas budi? Kita bisa mengatakan pada utusan itu bahwa Dhipa adalah anak sulung kita. Mereka tidak akan peduli, selama yang kita serahkan adalah gadis pesisir yang rupawan."
Dhipa mundur selangkah dari dinding kayu itu, merasakan dadanya seakan ditikam oleh belati es. Rasa perih menguasai ulu hatinya, namun anehnya, tidak ada setetes pun air mata yang jatuh. Ia sudah lama tahu posisinya di rumah ini. Kasih sayang Paman Karta dan Bibi Lastri tidak pernah tak terbatas; cinta itu selalu memiliki syarat dan ketentuan. Dan kini, syarat untuk melunasi kehidupannya adalah nyawanya sendiri.
Ia melangkah menuju jendela kecil di kamarnya dan membukanya. Mansion di ujung tebing itu tampak seperti siluet monster raksasa berlatar langit malam yang kelam. Hanya ada satu jendela di lantai paling atas yang memancarkan cahaya redup berwarna kemerahanβseperti mata iblis yang sedang menanti mangsa.
"Hutang budi memang harus dibayar lunas," gumam Dhipa pada dirinya sendiri, suaranya tenang namun sarat akan tekad yang baru saja lahir. Jika menolak berarti kehancuran bagi keluarga pamannya, dan jika ia pergi berarti Rani bisa tetap hidup, maka ia akan berjalan ke mulut monster itu dengan kepala tegak.
Keesokan paginya, ketika utusan Tuan Mahesaβpria jangkung berpakaian kolonial rapi bernama Sodikβkembali mengetuk pintu, Dhipa adalah orang pertama yang membukakannya. Paman Karta dan Bibi Lastri berdiri di belakangnya dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.
"Tuan Sodik," ucap Dhipa dengan suara jernih dan berwibawa, membuat sang utusan sedikit menaikkan alisnya. "Keluarga kami menerima lamaran Tuan Mahesa. Namun, putri yang akan diserahkan bukanlah adikku yang masih kecil, melainkan diriku. Akulah anak sulung di rumah ini, Naladhipa."
Sodik menatap Dhipa dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ia mencatat sorot mata Dhipa yang tidak memancarkan ketakutan, melainkan ketangguhan yang jarang ia lihat pada gadis-gadis pesisir lainnya. Gadis-gadis sebelumnya selalu menangis, memohon, atau gemetar setengah mati. Tapi gadis ini berdiri tegak laksana karang.
"Berapa usiamu, Nyai?" tanya Sodik, menyelidik.
"Dua puluh empat tahun."
Sodik menyeringai tipis. "Lebih tua dari biasanya. Namun Tuan Mahesa menghargai keberanian. Jika kau yang bersedia, maka bersiaplah. Pernikahan akan dilaksanakan tiga hari lagi, tepat saat bulan purnama merah naik ke puncaknya."
Setelah utusan itu pergi meninggalkan tambahan kotak perhiasan dan gaun pengantin sutra tebal berwarna merah darah, Paman Karta jatuh terduduk sambil memegangi kepalanya, sementara Bibi Lastri menangis di sudut ruangan. Rani keluar dari kamarnya dan langsung memeluk Dhipa dengan erat, menangis meraung-raung mengucapkan terima kasih yang tak putus-putusnya.
Namun, Dhipa tidak punya waktu untuk drama kesedihan. Jika ia harus masuk ke dalam mansion berhantu itu, ia menolak mati dalam keadaan buta. Tiga hari sebelum pernikahannya, Dhipa secara diam-diam menemui Mbah Karyo, tetua desa tertua yang tinggal di gubuk dekat pelelangan ikan. Mbah Karyo adalah satu-satunya orang yang masih hidup yang mengingat sejarah awal Tuan Mahesa datang ke tebing itu.
"Tuan Mahesa... dia dulunya adalah manusia biasa, Dhipa. Seorang pelaut ulung yang kehilangan segalanya dalam badai," Mbah Karyo memulai ceritanya dengan suara gemetar, mengisap pipa tembakaunya dalam-dalam. "Untuk mengembalikan kejayaannya, ia menemukan sebuah Keris Pusaka berukir naga di dasar palung laut hitam. Di dalam keris itu bersemayam entitas gelap penguasa dendam, Banaspati."
Mbah Karyo menatap Dhipa dengan iba. "Gadis-gadis sebelummu tidak dibunuh oleh pisau atau racun manusia. Mereka ditelan oleh kutukan. Banaspati menginginkan keperawanan dan jiwa mereka untuk memperpanjang kutukan awet muda Tuan Mahesa, dan untuk tujuannya sendiri yang lebih gelap. Jika kau masuk ke sana, Nak... jangan pernah biarkan rasa takutmu menguasaimu. Banaspati memakan ketakutan. Hanya keyakinan dan jiwa yang tak tertundukkan yang bisa melawannya."
Dhipa meresapi setiap kata-kata Mbah Karyo. Ia pulang dengan hati yang jauh lebih siap. Ia tidak akan menjadi sekadar domba yang diantar ke altar penyembelihan. Jika ia harus menjadi istri ketujuh, ia akan memastikan bahwa dirinya menjadi misteri yang tidak bisa dipecahkan oleh iblis tebing tersebut.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar