Ada tiga hal yang tidak pernah Nara percaya dalam hidupnya.

Pertama, horoscope. Kedua, testimoni skincare di TikTok. Dan ketiga — yang paling ia yakini sampai ke sumsum tulang — bahwa ia adalah orang yang tidak mungkin melakukan kesalahan bodoh di tempat kerja.

Sampai hari Senin itu.

Jam 08.47 pagi, kantor Kala Creative sudah berdenyut seperti biasa.

Musik lo-fi mengalir pelan dari speaker di sudut ruangan. Seseorang di meja sebelah sedang debat sengit soal pilihan font dengan rekannya. Bau kopi arabika dari pantri menyebar ke seluruh lantai tiga — aroma yang biasanya Nara anggap sebagai pelukan hangat di pagi hari.

Tapi pagi ini, tidak ada yang terasa hangat.

Narantika Sari — 26 tahun, content strategist, pemilik koleksi tote bag dengan quotes motivasi yang tidak satu pun pernah ia ikuti — duduk di mejanya dengan ekspresi seseorang yang baru saja menelan baterai AA.

Penyebabnya? Rapat.

Lebih tepatnya: rapat tadi pagi. Lebih tepatnya lagi: Radit.

Atau dalam versi lengkap yang ia simpan rapat-rapat di kepalanya: Aditya Raka Santoso, Creative Director sekaligus bos Nara, sekaligus manusia paling menyebalkan yang pernah diciptakan Tuhan dalam mood kurang baik.

"Konsepnya kurang tajam, Nara. Kita bukan bikin konten untuk nenek-nenek arisan."

Kalimat itu masih berputar di kepalanya seperti iklan yang tidak bisa di-skip.

Kurang tajam. Kurang tajam. Nara sudah begadang dua hari untuk proposal itu. Ia bahkan rela mengorbankan episode terakhir drakor yang sudah ia tunda seminggu demi menyempurnakan setiap slide-nya. Dan hasilnya? Tiga kata.

Kurang. Tajam. Nara.

Jemarinya mengetuk meja dengan ritme frustrasi yang tidak berirama. Di sebelahnya, Sinta — teman satu tim, pemilik empati seluas samudra dan mulut yang sama lebarnya — mendorong segelas kopi ke arahnya tanpa diminta.

"Masih ngedumel?" tanya Sinta, duduk di pinggir meja dengan santainya.

"Aku tidak ngedumel."

"Kamu udah ngetuk meja dua belas kali dalam tiga menit."

Nara menghentikan jarinya. "Aku sedang berpikir."

"Dengan wajah kayak orang mau ngajak berantem."

Nara menarik napas panjang. Sinta benar — ia perlu mengeluarkan semua ini sebelum meledak di tempat yang salah. Ia meraih ponselnya, membuka WhatsApp, dan mulai mengetik.

Layarnya penuh — notifikasi grup kantor, pesan klien, reminder meeting yang belum ia tutup dari pagi. Recent chat-nya berjejer rapi di bagian atas: nama-nama yang baru saja aktif, termasuk Sinta yang tadi pagi sempat teks soal mau beli kopi.

Nara mulai mengetik pesan panjang. Sangat panjang. Sangat jujur.

Sin, aku mau curhat sebentar boleh nggak. Tadi rapat itu ya Allah, aku hampir nangis tapi nggak jadi karena takut maskara luntur. Radit tuh sebenernya kenapa sih? Tiap kali aku presentasi mukanya selalu kayak orang nyium bau gas. Padahal proposal aku udah bagus banget loh, aku yakin itu. Dia itu perfeksionis akut yang hobinya bikin orang insecure. Kalau dia bukan bossku, udah dari lama aku speech soal "konstruktif kritik itu bukan berarti biadab". Tapi yasudahlah. Aku sabar. Aku profesional. Aku tidak akan membiarkan satu orang dengan rahang terlalu tegas dan komentar terlalu pedas itu menghancurkan hari Seninku. Walaupun—dan ini off the record ya—dia emang enak dilihatin sih. Tapi itu tidak relevan. Sekian.

Panjang. Dramatis. Sangat Nara.

Ia membacanya sekali lagi, puas dengan tingkat kejujurannya.

Di sinilah masalahnya dimulai.

Layar Nara masih penuh notifikasi yang belum ia tutup. Tepat di bagian recent chat, nama Sinta 🌻 seharusnya ada di urutan atas — tapi tiga menit lalu, sebuah pesan masuk dari grup project yang membuat urutan recent chat bergeser. Nama Sinta turun satu posisi.

Dan nama yang naik ke posisi pertama — yang fontnya sama, yang ukurannya sama, yang dalam kepanikan mengetik panjang tidak Nara perhatikan dengan saksama — adalah:

Aditya Raka Santoso.

Nara menekan Kirim tanpa melihat.

Ponselnya bergetar.

Centang dua. Biru. Dibaca.

Nara mengernyit — Sinta biasanya tidak langsung baca secepat ini. Ia melirik layarnya.

Dan jantungnya turun dua lantai.

Bukan foto profil Sinta yang muncul di header chat. Bukan nama Sinta. Yang ada di sana adalah foto seorang pria berambut rapi, kemeja hitam, ekspresi yang bahkan di foto profil 5x5 pixel pun terlihat seperti orang yang tidak pernah salah dalam hidupnya.

Aditya Raka Santoso ✓✓

Pesan terkirim.

Dibaca.

Nara tidak bergerak selama empat detik penuh.

Tidak. Tidak tidak tidak tidak—

Tangannya bergerak otomatis — panik, gemetar, tidak terkoordinasi. Ia keluar dari chat Radit, membuka chat Sinta, dan dengan jari yang sudah tidak bisa berpikir jernih mulai mengetik ulang pesan yang sama ke Sinta — harus memberitahu Sinta, harus cerita, harus— tapi kepalanya sudah tidak di sini, tangannya sudah gemetar, dan angka-angka di layar mulai terlihat seperti hieroglif.

Sinta sedang tidak online. Chat-nya belum terbuka.

Nara, dalam kepanikan yang sudah mencapai level kritis, memutuskan untuk mengirim pesan WhatsApp langsung dengan ketik nomor manual — karena otaknya yang sedang korsleting menyimpulkan bahwa ini lebih cepat, ini lebih aman, ini—

Tangannya mengetik: 0812 — lalu delapan digit berikutnya dari memori, nomor yang sudah ia hafal karena tiga tahun berteman.

Atau yang ia kira ia hafal.

Satu digit terakhir meleset. Bukan 73 — tapi 37.

Ia menekan kirim sebelum menyadarinya.

Dan di suatu tempat di Jakarta, sebuah ponsel bergetar untuk kedua kalinya hari itu.

Di nomor yang berbeda.

Milik orang yang sama.

Sinta, yang dari tadi mengamatinya, mengernyit. "Nara? Muka kamu kenapa jadi—"

"Sin."

"Hm?"

"Aku mau nanya sesuatu." Suara Nara sangat tenang. Terlalu tenang. Tenang seperti laut sebelum tsunami. "Kalau seseorang... secara hipotetis... mengirim pesan yang sangat panjang dan sangat jujur ke orang yang sangat salah... apakah ada cara untuk membatalkan keberadaan diri sendiri dari muka bumi?"

Sinta mengedipkan mata. "Kamu kirim ke siapa?"

Nara membalikkan layar ponselnya. Chat Radit yang masih terbuka dengan centang biru di pesan terakhir.

Sinta membaca. Sinta membaca lagi. Lalu — bukannya bersimpati seperti sahabat yang baik — Sinta menutup mulutnya dengan kedua tangan, bahunya berguncang.

"Jangan ketawa."

Sinta ketawa.

"Sinta."

"S-sorry— rahang terlalu tegas—" Sinta tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

Nara meletakkan ponsel menghadap bawah di atas meja. Lalu menaruh wajahnya di atas lengan. Lalu berdoa dengan sungguh-sungguh agar atap kantor roboh sekarang juga — hanya menimpa mejanya, tidak perlu dramatis.

Ponselnya bergetar lagi.

Satu kali. Notifikasi masuk.

Dari: Aditya Raka Santoso

Nara mengintip dengan satu mata.

"Bisa ke ruangan saya sekarang?"

Titik. Tidak ada emoji. Tidak ada konteks. Hanya lima kata yang terasa seperti surat panggilan sidang.

Nara menutup matanya.

Di luar jendela, Jakarta berjalan seperti biasa — bising, padat, tidak peduli dengan kehancuran karir seorang content strategist di lantai tiga gedung Sudirman.

Ia berdiri. Merapikan blazer-nya. Menarik napas seperti orang yang akan terjun payung untuk pertama kali.

Profesional, ia mengingatkan dirinya. Kamu profesional.

Dan dengan langkah seorang terpidana yang berjalan menuju ruang hakim, Narantika Sari melangkah menuju ruangan Aditya Raka Santoso — membawa serta sisa-sisa harga dirinya yang masih bisa dikumpulkan dalam waktu dua menit.

Ia tidak tahu bahwa di balik pintu kaca itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Aditya Raka Santoso sedang tersenyum.

Ia juga tidak tahu bahwa di nomor lain miliknya, pesan yang sama baru saja masuk — dan di sana, seseorang yang belum punya nama sedang membaca setiap katanya dengan sangat saksama.