Ada momen dalam hidup seseorang di mana waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.

Bagi sebagian orang, momen itu terjadi saat pertama kali jatuh cinta. Bagi yang lain, saat menerima kabar bahagia yang tak terduga. Dan bagi Narantika Sari, momen itu terjadi di koridor lantai tiga kantor Kala Creative, ketika ia berjalan menuju ruangan berdinding kaca milik Aditya Raka Santoso dengan detak jantung yang sudah tidak mengikuti irama normal manusia.

Dug. Dug. Dug-dug-dug. Dug.

Tidak konsisten. Persis seperti hidupnya sekarang.

Nara menghitung langkahnya. Dua belas langkah dari mejanya ke pintu ruangan Radit. Dua belas langkah yang biasanya ia tempuh dengan santai — kadang sambil bawa draft konten, kadang sambil pura-pura tidak melihat ke arah ruangan itu sama sekali. Tapi hari ini, dua belas langkah itu terasa seperti dua belas kilometer di atas bara api.

Di belakangnya, ia bisa merasakan tatapan Sinta yang masih menahan tawa.

Pengkhianat.

Nara berhenti sejenak di depan pintu. Kaca bening itu memantulkan bayangannya sendiri — seorang perempuan dengan blazer abu-abu, rambut dikuncir setengah, dan ekspresi yang kalau difoto dan diposting di media sosial pasti captionnya: "When Monday hits different."

Di dalam, Radit duduk membelakangi pintu. Layar komputer besar di hadapannya menyala. Bahunya lurus, postur sempurna seperti biasa — seperti seseorang yang tumbuh besar dengan buku di atas kepalanya demi melatih tegak duduk.

Nara mengetuk pintu.

Tiga ketukan. Tidak terlalu keras, tidak terlalu pelan. Ketukan profesional.

"Masuk."

Dua suku kata. Bahkan belum melihat ke belakang.

Nara mendorong pintu, masuk, dan berdiri di titik yang menurutnya paling strategis: tidak terlalu dekat dengan mejanya, tidak terlalu jauh dari pintu kalau nanti ia perlu kabur.

"Kamu panggil saya, Pak?"

Radit memutar kursinya.

Dan di sinilah masalahnya.

Setiap kali Nara berurusan langsung dengan Radit, selalu ada dua versi dirinya yang bertarung di dalam kepala. Versi pertama adalah Nara yang profesional — yang melihat Radit sebagai atasan, sebagai Creative Director yang memang kompeten meskipun berkomentar seperti juri kompetisi memasak bintang tiga. Versi kedua adalah Nara yang jujur — yang, seperti yang sudah ia akui di dalam pesan terkutuk tadi, terpaksa mengakui bahwa Aditya Raka Santoso memiliki wajah yang sangat tidak adil untuk seorang manusia yang menyebalkan.

Rahangnya. Matanya yang selalu terlihat sedang menghitung sesuatu. Caranya melepas kacamata dan meletakkannya di meja saat akan bicara serius — persis seperti yang ia lakukan sekarang.

Nara menelan ludah.

Tidak relevan. Ia mengingatkan dirinya dengan keras. Sama sekali tidak relevan.

"Duduk," kata Radit.

Nara duduk di kursi seberang mejanya. Tegak. Tangan di atas lutut. Seperti seseorang yang sedang wawancara kerja dan tahu bahwa ia sudah menjawab tiga pertanyaan pertama dengan buruk.

Hening.

Radit tidak langsung bicara. Ia menatap Nara dengan ekspresi yang — seperti biasa — sangat sulit dibaca. Bukan marah. Bukan juga senang. Suatu tempat di antaranya yang tidak ada namanya di kamus manapun.

"Kamu tahu kenapa kamu dipanggil?" tanyanya akhirnya.

Karena aku adalah manusia dengan koordinasi motorik terburuk di semesta raya dan secara tidak sengaja mengirimkan esai kejujuran tentang kamu ke nomormu sendiri.

"Soal... pesan tadi?" jawab Nara. Suaranya keluar lebih stabil dari yang ia harapkan. Poin plus.

Radit mengangguk pelan.

"Saya mau klarifikasi—"

"Kamu bilang," Radit memotong, suaranya datar, "bahwa saya punya rahang terlalu tegas."

Nara membuka mulutnya. Lalu menutupnya lagi.

"Dan komentar terlalu pedas."

"Saya—"

"Dan bahwa saya hobi membuat orang insecure."

Setiap kalimat diucapkan dengan jeda yang tepat. Seperti jaksa yang membacakan dakwaan satu per satu.

Nara memilih untuk menatap sudut meja. Sudut meja yang sangat menarik. Sangat, sangat menarik.

"Pak Radit, saya mohon maaf. Itu benar-benar tidak sengaja terkirim dan isi pesannya mencerminkan kondisi emosi saya yang sedang tidak stabil akibat kurang tidur dan kelebihan kafein, dan sama sekali bukan representasi dari—"

"Nara."

Ia berhenti.

"Kamu sudah kerja di sini berapa lama?"

Pertanyaan yang tidak ia antisipasi. "Dua tahun tiga bulan."

"Dan selama dua tahun tiga bulan itu," Radit menyilangkan tangannya di atas meja, "kamu tidak pernah bilang langsung kalau kamu tidak setuju dengan feedback saya."

Nara mengerutkan dahi, tidak yakin ini jebakan atau bukan. "Karena... kamu adalah atasan saya?"

"Itu bukan jawaban yang bagus."

"Itu jawaban yang jujur."

Kata-kata itu keluar sebelum Nara sempat menyaringnya. Ia nyaris menutup mulutnya dengan tangan sendiri.

Tapi Radit tidak marah.

Yang terjadi justru sesuatu yang jauh lebih membingungkan: ia mengangguk.

"Bagus," katanya singkat.

Nara berkedip. "...Bagus?"

"Saya lebih suka kamu jujur daripada diam dan menyimpannya dalam pesan WhatsApp."

Nara tidak tahu harus mengekspresikan apa. Otaknya sedang dalam proses memuat ulang. "Jadi... saya tidak dipecat?"

Untuk pertama kalinya sejak Nara masuk ke ruangan ini, sesuatu bergerak di sudut bibir Radit. Bukan senyum penuh — lebih ke arah ekspresi seseorang yang menemukan sesuatu sedikit lucu tapi tidak mau ketahuan tertawa.

"Tidak."

"Saya tidak dapat surat peringatan?"

"Tidak."

"Tapi saya bilang kamu—" Nara menghentikan dirinya. "Maksud saya, Anda—"

"Radit saja, kita sudah dua tahun."

"—saya bilang hal-hal yang cukup... ekspresif tentang Anda."

Radit mengambil pulpennya, memutar-mutarnya di antara jari. Kebiasaan yang Nara tahu artinya ia sedang berpikir. "Ekspresif," ulangnya seperti sedang mencicipi kata itu. "Itu cara yang menarik untuk menyebutnya."

"Saya benar-benar minta maaf—"

"Saya sudah bilang tidak apa-apa."

"Tapi—"

"Nara." Ada nada peringatan tipis di suaranya sekarang. Bukan marah. Lebih ke arah: tolong berhenti sebelum kamu membuat ini lebih canggung dari yang seharusnya.

Nara menutup mulutnya untuk ketiga kalinya.

Radit membuka sebuah folder di mejanya dan mendorongnya ke arah Nara. "Saya panggil kamu bukan hanya soal pesan itu. Besok ada briefing klien baru. Nara Semesta Group — agensi pariwisata, mau rebranding total. Mereka minta tim kecil yang handle langsung: satu strategist, satu creative lead."

Nara menatap folder itu. "Dan...?"

"Kamu handle sebagai strategist. Saya sebagai creative lead."

Hening panjang.

Oh tidak.

"Berdua?" suara Nara keluar satu oktaf lebih tinggi dari biasanya.

"Ada masalah?"

Ada sekitar empat belas masalah, tapi aku tidak akan mengirimkan daftarnya ke WhatsApp kamu lagi. "Tidak ada."

"Bagus." Radit mengenakan kacamatanya kembali — sinyal bahwa pembicaraan sudah selesai. "Folder itu brief awalnya. Baca sebelum besok jam sembilan."

Nara mengambil folder itu, berdiri, dan mengangguk dengan kekakuan seseorang yang sedang mencoba terlihat wajar padahal seluruh sistem sarafnya baru saja mengalami pembaruan paksa.

Ia berjalan ke pintu.

"Nara."

Ia berhenti, tidak berbalik. "Ya?"

"Untuk apa nilainya—" ada jeda singkat, seperti ia sedang mempertimbangkan apakah akan melanjutkan, "—proposal kamu tadi pagi sebenarnya tidak seburuk yang kamu pikir."

Nara akhirnya berbalik. Radit sudah menghadap layarnya kembali, punggungnya lurus, seolah kalimat barusan tidak pernah diucapkan.

"Hanya perlu lebih tajam di eksekusinya," tambahnya tanpa menoleh.

Dan sebelum Nara bisa memproses apakah itu sebuah pujian atau kritik berbungkus rapi, ia sudah keluar dari ruangan itu, folder di tangan, kepala sedikit pusing.

Di mejanya, Sinta langsung menyergap. "Gimana? Dipecat? Hidup kamu tamat?"

"Tidak."

"SP?"

"Tidak."

"Terus?"

Nara meletakkan folder di mejanya dan duduk perlahan. "Aku... ditugaskan proyek bareng dia. Berdua. Mulai besok."

Sinta terdiam selama tiga detik. Lalu, dengan ekspresi seorang ibu yang tahu anaknya baru saja membuat keputusan hidup yang mengubah segalanya: "Ya Allah, Nar."

"Tolong jangan."

"Ini karma."

"Sinta—"

"Ini karma alam semesta karena kamu sering skip meeting mingguan dengan alasan mati lampu padahal kamu nonton drakor—"

"Sinta."

Sinta mengangkat kedua tangannya. "Oke, oke. Santai. Ini bagus. Ini peluang. Ini—" ia melirik folder itu, lalu ke wajah Nara, "—ini bakal jadi bencana ya?"

Nara tidak menjawab.

Karena jauh di dalam dadanya, di tempat yang tidak mau ia akui terlalu keras, ada sesuatu yang kecil, hangat, dan sangat merepotkan yang mulai menyala.

Bukan karena proyeknya.

Tapi karena kalimat terakhir Radit tadi.

Tidak seburuk yang kamu pikir.

Empat kata. Dari mulut seorang pria yang pelit kata seperti cicak pelit air liur.

Empat kata yang — dengan sangat tidak adil — terasa lebih hangat dari kopi arabika di pagi Senin manapun.

Malam itu, jam 22.14, Nara sedang memeluk folder brief sambil rebahan di kasur ketika ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Nara mengernyit dan membuka pesannya.

"Selamat malam. Maaf ganggu. Ini nomor yang tadi kirim pesan ke saya salah sasaran?"

Nara duduk tegak seketika.

Jantungnya turun dua lantai lagi — tapi kali ini bukan karena panik.

Karena pesan itu bukan dari nomor Radit yang tersimpan di kontaknya.

Nomor asing. Sama sekali berbeda.

Nara menatap layarnya lama. Lalu, dengan campuran bingung dan penasaran yang tidak bisa ia jelaskan, ia mengetik balasan.

"Maaf, ini siapa ya?"

Tiga titik muncul. Menghilang. Muncul lagi.

"Seseorang yang secara tidak sengaja menerima pesan yang sangat... jujur. Tentang bosnya."

Nara mengedipkan mata.

Lalu membaca lagi.

Lalu mengedipkan mata sekali lagi.

Tunggu.

"Kamu bukan Radit?"
"Radit siapa?"

Dan malam itu, tanpa Narantika Sari sadari, percakapan pertama dengan orang asing itu berlangsung sampai jam satu pagi.