Ada satu teori yang pernah Nara baca di suatu artikel psikologi — entah kapan, entah di mana, mungkin jam dua pagi saat ia seharusnya tidur — bahwa manusia cenderung lebih jujur kepada orang asing daripada kepada orang yang mereka kenal.

Katanya, ini karena tidak ada konsekuensi sosial. Tidak ada reputasi yang perlu dijaga. Tidak ada sejarah bersama yang bisa rusak. Orang asing adalah kanvas kosong — dan kepada kanvas kosong, kita bisa melukis apa saja tanpa takut merusaknya.

Nara tidak terlalu percaya teori itu waktu pertama kali membacanya.

Sampai malam Senin itu.

Jam 22.31. Kamarnya gelap kecuali cahaya dari layar ponsel.

Ponselnya bergetar dengan notifikasi yang tidak ia antisipasi — bukan dari Radit yang nomornya sudah tersimpan, bukan dari Sinta, bukan dari siapapun yang ia kenal.

Nomor asing. Sama sekali tidak tersimpan di kontaknya.

+62812-XXXX-XX37: "Selamat malam. Maaf ganggu. Sepertinya ada pesan masuk ke nomor ini tadi siang — pesan yang sepertinya tidak ditujukan untuk saya."

Nara duduk tegak seketika.

Ia membaca pesan itu dua kali. Lalu membuka riwayat chat-nya, menggulir ke belakang — dan di sanalah ia menemukannya. Chat baru yang terbuka dengan nomor asing ini, berisi pesan panjangnya yang tadi siang ia kirim dalam kepanikan.

Pesan yang ia kira sudah terkirim ke Sinta.

Oh tidak.

Nara menutup matanya selama tiga detik. Menghitung napas. Lalu membuka matanya dan mulai mengetik dengan jari yang sudah jauh lebih stabil dari tadi siang meski hatinya tidak.

Nara: "Ya Allah. Maaf banget. Itu saya yang panik tadi siang dan salah ketik nomor. Harusnya ke teman saya."
+62812-XXXX-XX37: "Tidak apa-apa. Saya cuma mau pastikan — ini memang salah kirim, bukan pesan yang disengaja?"
Nara: "Benar-benar salah kirim. Nomor teman saya hampir sama dengan nomor ini, beda satu digit di belakang. Tujuh tiga sama tiga tujuh."
+62812-XXXX-XX37: "Satu digit yang cukup mengubah hari kamu."

Nara menatap kalimat itu. Singkat, tapi tepat sekali menggambarkan situasinya.

Nara: "Dan mungkin karir saya juga. Soalnya tadi pagi saya juga tidak sengaja kirim pesan yang sama ke... orang lain yang salah. Orang yang lebih salah."

Tiga titik muncul di seberang. Menghilang. Muncul lagi.

+62812-XXXX-XX37: "Dua kali salah kirim dalam satu hari?"
Nara: "Yang pertama karena layar penuh notifikasi dan salah tap. Yang kedua karena panik dari yang pertama dan salah ketik nomor manual."
+62812-XXXX-XX37: "Panik yang berlapis."
Nara: "Itu cara yang sangat sopan untuk menyebutnya."
+62812-XXXX-XX37: "Bosnya marah?"

Nara menatap pertanyaan itu. Seharusnya ia tidak menjawab. Seharusnya ia bilang salah nomor, maaf ya, selamat malam dan meletakkan ponselnya.

Tapi entah kenapa — mungkin karena sudah lewat jam sepuluh malam, mungkin karena ia sudah terlanjur menanggung rasa malu sepanjang hari, mungkin karena orang asing ini tidak tahu siapa dia dan karena itu terasa aman — jarinya bergerak sendiri.

Nara: "Tidak marah. Yang lebih buruk: dia tenang. Kayak membaca laporan cuaca. 'Oh, kamu bilang aku menyebalkan? Noted. Sekarang kerjain proyek ini bareng aku.'"
+62812-XXXX-XX37: "Ha. Itu memang lebih menakutkan dari marah."
Nara: "Exactly! Aku lebih siap kalau dia marah. Aku sudah latihan mental untuk itu. Tapi tenang? Aku tidak punya script untuk tenang."
+62812-XXXX-XX37: "Kamu sudah latihan mental untuk dimarahi bos kamu?"
Nara: "Siapa yang tidak?"

Tiga titik muncul. Lama. Nara hampir berpikir percakapan ini sudah selesai.

+62812-XXXX-XX37: "Valid."

Nara tertawa kecil sendirian di kamarnya. Satu kata, tapi entah kenapa terasa seperti seseorang yang benar-benar mengerti.

Nara: "Eh tapi aku belum tanya — kamu siapa? Kenapa kamu balas? Kebanyakan orang kalau terima pesan salah masuk biasanya langsung ignore."

Tiga titik lagi.

+62812-XXXX-XX37: "Penasaran. Pesannya terlalu menarik untuk diabaikan."
Nara: "Menarik gimana. Memalukan itu."
+62812-XXXX-XX37: "Dua hal itu tidak selalu berbeda."

Nara mengerutkan dahi — tapi bibirnya tetap senyum tanpa minta izin dulu.

Nara: "Kamu menghindari pertanyaan soal nama."
+62812-XXXX-XX37: "Iya."
Nara: "Kenapa?"
+62812-XXXX-XX37: "Karena kalau aku bilang nama aku, percakapan ini akan berubah. Kamu akan mulai cari tahu siapa aku, cek media sosial, bentuk opini. Dan sekarang kamu sedang bicara dengan jujur justru karena kamu tidak tahu siapa aku."

Nara membaca itu dua kali. Tiga kali.

Ia tidak suka mengakuinya, tapi orang asing ini benar.

Nara: "Kamu psikolog?"
+62812-XXXX-XX37: "Bukan."
Nara: "Tapi kamu mikir kayak psikolog."
+62812-XXXX-XX37: "Atau aku cuma terlalu sering mengamati orang."
Nara: "Itu definisi psikolog."
+62812-XXXX-XX37: "Atau pengamat biasa yang banyak waktu luang."

Nara menyandarkan punggungnya ke bantal. Folder brief Radit masih tergeletak di sebelahnya, tapi entah kapan ia sudah tidak lagi memikirkannya.

Nara: "Oke. Kalau kamu tidak mau kasih nama, aku panggil kamu apa?"

Jeda lebih lama dari sebelumnya.

+62812-XXXX-XX37: "Terserah kamu."

Nara berpikir sejenak. Matanya berkeliling kamarnya — lampu mati, hanya cahaya dari luar jendela yang menyelinap masuk melalui celah gorden. Di sudut meja, ada tanaman kaktus kecil yang ia beli impulsif tiga bulan lalu dari marketplace karena deskripsinya bilang "cocok untuk orang yang sering lupa nyiram tanaman."

Nara: "Aku panggil kamu Mas K."
+62812-XXXX-XX37: "K untuk apa?"
Nara: "Kaktus."

Jeda panjang.

+62812-XXXX-XX37: "...Kenapa kaktus."
Nara: "Karena kaktus itu tidak banyak bicara, tapi tetap ada. Dan susah ditebak mana durinya sebelum kena."
Mas K: "Itu pujian atau hinaan?"

Nara tersenyum. Nama itu langsung melekat — dan entah kenapa, begitu ia menyebutnya Mas K di kepala, nomor asing itu terasa sedikit kurang asing.

Nara: "Belum tahu. Tergantung percakapan berikutnya."
Mas K: "Fair enough. Kalau begitu aku panggil kamu apa?"
Nara: "Nama aku Nara."
Mas K: "Kamu langsung kasih nama asli?"
Nara: "Aku tidak punya energi untuk jadi misterius malam ini. Hari ini sudah cukup dramatis."
Mas K: "Nara. Singkatan dari?"
Nara: "Narantika. Artinya cahaya fajar katanya. Tapi aku lahirnya jam 11 malam jadi ada yang bilang nama aku kurang tepat secara astronomis."
Mas K: "Siapa yang bilang?"
Nara: "Nenek aku sendiri."
Mas K: "..."
Mas K: "Nenek kamu jujur sekali."
Nara: "Iya. Mungkin itu turun-temurun."

Nara tertawa lagi — kali ini lebih keras, sampai ia harus menutup mulut dengan bantal karena takut membangunkan tetangga kos sebelah.

Jam 23.05. Ia baru sadar sudah hampir satu jam.

Nara: "Eh, aku minta maaf ya udah ganggu malam kamu. Harusnya aku tidak balas tadi."
Mas K: "Aku yang mulai duluan."
Nara: "Iya tapi tetap saja."
Mas K: "Tidak mengganggu."

Tiga kata. Singkat. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat Nara tidak langsung meletakkan ponselnya.

Nara: "Kamu tidak bosan? Ngobrol sama orang yang baru kamu kenal karena kesalahan ketik dua kali?"
Mas K: "Beberapa percakapan terbaik dimulai dari kesalahan."

Nara menatap kalimat itu lama.

Ia ingin membalas dengan sesuatu yang witty, sesuatu yang cerdas. Tapi yang keluar hanya:

Nara: "Itu kalimat yang bagus sekali untuk jam 11 malam."
Mas K: "Aku menyimpannya untuk situasi yang tepat."
Nara: "Dan situasi yang tepat itu adalah ngobrol sama orang yang salah kirim pesan dua kali dalam satu hari?"
Mas K: "Ternyata iya."

Percakapan itu berlanjut sampai jam 01.17 pagi.

Tidak ada yang terlalu dalam — tidak ada pengakuan besar, tidak ada rahasia kelam yang dibuka. Mereka bicara soal hal-hal kecil: film yang sedang ditonton, makanan yang tidak pernah bosan dimakan tengah malam, satu pertanyaan iseng tentang apakah tanaman kaktus bisa merasakan diabaikan.

Yang tidak Nara sadari adalah satu hal sederhana yang tersembunyi di balik semua keringanan itu:

Nomor +62812-XXXX-XX37 — yang kini tersimpan di ponselnya sebagai Mas K — berbeda satu digit dari nomor Radit yang sudah tersimpan sejak lama sebagai Aditya Raka S. (Kantor).

37 dan 73.

Dua angka yang sama, urutan yang terbalik. Seperti dua sisi yang tidak pernah seharusnya bertemu — tapi hari ini, karena satu jari yang panik dan satu layar yang penuh notifikasi, keduanya akhirnya terhubung.

Ketika ia akhirnya meletakkan ponsel dan menutup mata, satu hal terakhir yang ia ingat adalah kalimat:

Beberapa percakapan terbaik dimulai dari kesalahan.

Dan jauh di sisi lain kota, di lantai tiga kantor yang sudah lama sepi, seseorang yang memegang dua ponsel di atas mejanya menatap layar yang satu — lalu layar yang lain — lalu kembali ke yang pertama.

Dengan ekspresi yang tidak akan pernah ia tunjukkan kepada siapapun di siang hari.