Ada kebohongan kecil yang sering manusia katakan pada dirinya sendiri.
Bukan kebohongan besar — bukan yang dramatis, bukan yang mengubah hidup. Hanya kebohongan kecil yang nyaman, yang diulang cukup sering sampai terasa seperti kebenaran. Kebohongan seperti: aku tidak lapar padahal sudah jam dua siang dan belum makan. Atau: aku hanya buka media sosial sebentar — padahal sudah empat puluh menit. Atau yang paling klasik dari semuanya:
Ini tidak berarti apa-apa.
Nara sudah mengucapkan kalimat terakhir itu sebanyak tujuh kali sejak Selasa pagi. Ia tahu jumlah pastinya karena setiap kali mengucapkannya — dalam hati, tentu saja, ia belum cukup gila untuk bicara sendiri di kantor — ia membuat semacam catatan mental.
Tujuh kali.
Dan sekarang sudah Selasa malam, jam 21.43, dan ia berbaring di kasur dengan posisi yang sama seperti kemarin: gorden setengah terbuka, kaktus di sudut meja, ponsel di atas dada.
Menunggu.
Bukan. Ia tidak menunggu. Ia hanya... rebahan. Dengan ponsel di atas dada. Menghadap langit-langit. Sesekali melirik layar.
Bukan menunggu.
Ponselnya bergetar.
Mas K: "Bagaimana proyeknya?"
Nara duduk tegak lebih cepat dari yang seharusnya.
Ini tidak berarti apa-apa. Kali kedelapan.
Nara: "Bertahan. Clientnya datang terlambat dua puluh menit tapi minta kita yang minta maaf karena 'ruangannya kurang nyaman'."
Mas K: "Klasik."
Nara: "Dan bos aku — yang biasanya mukanya datar kayak papan setrika — ternyata bisa senyum kalau di depan klien. Aku hampir tidak percaya itu wajah yang sama."
Mas K: "Orang memang berbeda tergantung konteksnya."
Nara: "Iya tapi ini seperti menemukan bahwa kamus bisa tertawa. Mengejutkan secara fundamental."
Tiga titik. Muncul. Menghilang. Muncul lagi. Lebih lama dari biasanya.
Mas K: "Mungkin dia tidak punya banyak alasan untuk senyum di situasi lain."
Nara mengerutkan dahi.
Nara: "Itu... interpretasi yang tidak aku antisipasi."
Mas K: "Kenapa?"
Nara: "Karena biasanya aku yang bela dia dan orang lain yang nyerang. Ini kebalik."
Mas K: "Kamu bela dia?"
Nara menatap pertanyaan itu. Jarinya berhenti di atas layar.
Waduh.
Nara: "Maksud aku bukan bela. Aku cuma... aku tahu dia tidak semenyebalkan yang kelihatan. Kadang. Dalam situasi tertentu. Yang sangat spesifik."
Mas K: "Kamu bela dia."
Nara: "Aku tidak—"
Mas K: "Nara."
Satu kata. Nama sendiri. Tapi entah kenapa terasa seperti seseorang yang memegang bahunya pelan dan memintanya berhenti berputar.
Nara menghela napas.
Nara: "...Mungkin iya. Sedikit. Tapi itu tidak berarti apa-apa."
Mas K: "Tentu saja."
Nara tidak bisa memutuskan apakah dua kata itu terasa seperti persetujuan atau justru kebalikannya.
Malam itu, percakapan mereka mengalir ke tempat-tempat yang tidak Nara rencanakan.
Bukan karena ia tidak hati-hati. Ia sudah berniat dari awal untuk menjaga semuanya tetap ringan — topik-topik permukaan, pertanyaan-pertanyaan yang aman, percakapan yang bisa ia tutup kapan saja tanpa meninggalkan bekas. Tapi ada sesuatu tentang cara Mas K bertanya yang membuat Nara menjawab lebih dari yang ia rencanakan. Bukan karena ia memaksa. Justru sebaliknya — ia tidak pernah memaksa. Ia hanya... membuka ruang. Dan Nara, tanpa sadar, masuk ke dalamnya.
Mas K: "Kamu suka pekerjaanmu?"
Nara: "Pertanyaan yang dalam untuk jam 10 malam."
Mas K: "Tidak harus dijawab kalau tidak mau."
Nara: "Tidak, aku mau jawab. Cuma butuh mikir dulu."
Nara menatap langit-langit kamarnya. Di luar, suara motor sesekali lewat. Angin menggerakkan gorden setengah terbuka.
Nara: "Suka. Tapi suka yang kadang capek. Suka yang pagi-pagi semangat dan sore-sore bertanya kenapa aku memilih ini."
Mas K: "Itu bukan berarti tidak suka. Itu berarti kamu peduli."
Nara: "Bedanya?"
Mas K: "Yang tidak suka tidak akan capek. Mereka hanya... ada. Kamu capek karena kamu masih mau sesuatu dari pekerjaanmu. Masih berharap lebih."
Nara membaca itu dua kali.
Nara: "Kamu kerja di bidang apa?"
Mas K: "Kenapa tanya?"
Nara: "Karena kamu bicara soal pekerjaan seperti orang yang pernah memikirkannya terlalu dalam."
Jeda panjang. Cukup lama sampai Nara mulai berpikir ia sudah terlalu jauh.
Mas K: "Bidang kreatif."
Nara: "Oh. Luas sekali."
Mas K: "Sengaja."
Nara: "Kamu juga menghindari pertanyaan soal pekerjaan kayak menghindari pertanyaan soal nama."
Mas K: "Konsisten."
Nara: "Misterius."
Mas K: "Kamu tidak penasaran?"
Nara hampir mengetik iya, sangat — tapi jarinya berhenti.
Nara: "Penasaran. Tapi aku rasa aku mengerti kenapa kamu tidak mau bilang."
Mas K: "Kenapa?"
Nara: "Karena kamu bilang kemarin — kalau kita sudah tahu identitas masing-masing, percakapannya berubah."
Mas K: "Dan kamu setuju?"
Nara berpikir sebentar. Jujur.
Nara: "Aku setuju. Dan aku... tidak mau ini berubah. Belum."
Tiga titik. Lama sekali.
Mas K: "Aku juga tidak."
Rabu pagi tiba seperti ujian dadakan — tidak diinginkan, tidak bisa dihindari.
Nara sampai di kantor dengan kantung mata yang kali ini bahkan sudah tidak bisa ia tutupi dengan concealer. Sinta melihatnya dari kejauhan, menilai kondisinya seperti dokter yang mendiagnosis dari pintu, lalu menyiapkan kopi tanpa ditanya.
"Jam berapa tidurnya?" tanya Sinta.
"Jam dua-an."
"Kenapa?"
"Tidak bisa tidur."
"Bohong. Ada yang bikin tidak bisa tidur."
Nara menerima kopinya dan duduk. "Kamu terlalu observatif untuk jam delapan pagi."
"Itu pujian atau keluhan?"
"Tergantung harinya."
Sinta menarik kursinya, menyilangkan kaki, dan menatap Nara dengan ekspresi seorang detektif yang sudah tahu jawabannya tapi masih ingin melihat tersangka mengaku sendiri. "Oke, aku mau tanya sesuatu dan aku minta kamu tidak refleks bilang 'tidak ada apa-apa'."
Nara membuka laptopnya. "Silakan."
"Kemarin kamu masuk senyum-senyum. Tadi malam kamu begadang. Sekarang kamu kelihatan capek tapi masih ada sisa senyumnya." Sinta menunjuk sudut bibir Nara. "Itu. Itu sisa senyumnya."
"Itu bukan senyum. Ini bentuk mulut aku."
"Nara Narantika Sari, aku sudah kenal kamu tiga tahun. Aku tahu bentuk mulut kamu saat netral dan itu bukan netral."
Nara menyeruput kopinya. Panas. Menyelamatkan.
"Ada seseorang," kata Sinta. Bukan pertanyaan.
"Tidak ada."
"Ada."
"Sin—"
"Siapa?"
"Tidak ada siapa-siapa."
"Radit?"
Nara hampir tersedak kopinya. "Apa? Tidak. Bukan. Untuk apa. Kenapa kamu langsung ke sana."
Sinta mengangkat alis. "Aku tanya siapa, kamu langsung defensif. Menarik."
"Aku tidak defensif. Aku koreksi. Ada bedanya."
"Terus siapa kalau bukan Radit?"
Nara diam sejenak. Terlalu lama untuk bisa dianggap tidak ada apa-apa.
"Orang asing," katanya akhirnya.
Sinta berkedip. "...Orang asing."
"Salah nomor. Kemarin aku kirim pesan ke nomor yang salah — nomor kamu tapi beda satu digit — dan orangnya balas. Dan kita ngobrol." Nara mengucapkannya cepat, seperti merobek plester. "Dua kali. Dua malam. Sampai jam dua."
Sinta tidak bergerak selama tiga detik penuh.
Lalu: "Kamu ngobrol sama orang asing sampai jam dua pagi. Dua malam berturut-turut."
"Jangan dibuat dramatis."
"Aku tidak membuat dramatis. Ini sudah dramatis dari sananya." Sinta mendekat. "Siapa? Namanya apa? Orangnya kayak gimana?"
"Tidak tahu namanya."
"Tidak tahu?!"
"Dia tidak mau kasih nama. Aku panggil dia Mas K."
Sinta menutup matanya sebentar dengan ekspresi seseorang yang sedang memohon kesabaran ekstra dari alam semesta. "Nara. Kamu ngobrol sampai jam dua pagi dengan seseorang yang tidak kamu tahu namanya, tidak tahu wajahnya, tidak tahu kerjanya—"
"Dia bilang bidang kreatif."
"—dan kamu merasa ini normal?"
"Aku tidak bilang normal. Aku bilang tidak ada apa-apa."
"Yang mana jelas bohong karena kamu sisa-sisa senyum dari tadi!"
Nara menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Sinta, tolong."
"Aku tolong kamu dengan mengingatkan bahwa ini bisa jadi catfishing, penipuan, atau—"
"Dia tidak minta apa-apa. Tidak minta foto, tidak minta data, tidak minta transfer. Kita hanya... ngobrol."
Sinta berhenti. "Ngobrol soal apa?"
Nara menurunkan tangannya. Berpikir. "Soal... banyak hal. Pekerjaan. Nama aku yang tidak sesuai jam lahir. Kaktus. Kenapa orang lebih jujur ke orang asing."
Hening sebentar.
"Itu," kata Sinta pelan, "sebenarnya terdengar sangat menyenangkan."
"Aku tahu."
"Dan itu yang lebih berbahaya."
Nara tidak menjawab. Karena ia sudah tahu. Sudah tahu sejak jam dua pagi kemarin ketika ia akhirnya meletakkan ponsel dan berbaring dalam gelap, menyadari dengan sangat tidak nyaman bahwa percakapan dengan orang yang tidak ia kenal itu terasa lebih nyata dari percakapan dengan banyak orang yang ia kenal.
Jam sepuluh pagi, Nara dan Radit kembali di ruang meeting.
Hari kedua kerja bersama. Agenda: menyusun strategi awal rebranding berdasarkan hasil pertemuan kemarin.
Radit sudah ada lebih dulu — seperti biasa. Nara yakin laki-laki ini tidak pernah terlambat dalam hidupnya, bahkan mungkin lahirnya tepat waktu ke detik.
"Kamu bawa catatanmu?" tanya Radit saat Nara masuk.
"Bawa."
"Insight dari klien kemarin?"
"Ada tiga poin utama yang perlu kita address." Nara membuka laptopnya. "Pertama, mereka tidak konsisten di semua platform — website, Instagram, dan brosur fisik mereka bicara ke audiens yang berbeda. Kedua, logonya perlu refresh tapi mereka takut kehilangan pelanggan lama. Ketiga — dan ini yang paling krusial — mereka tidak tahu siapa sebenarnya kompetitor utama mereka."
Radit mendengarkan tanpa memotong. Itu sudah terasa berbeda dari biasanya.
Biasanya — dalam rapat tim besar — ia akan memotong di poin kedua, melanjutkan sendiri, dan Nara akan duduk dengan senyum profesional sambil dalam hati mengirim sinyal SOS ke Sinta dengan bahasa mata. Tapi hari ini, di ruangan kecil ini, hanya mereka berdua, ia mendengarkan sampai Nara selesai.
"Kompetitor," ulang Radit. "Kamu sudah riset?"
"Semalam. Ada empat pemain besar di segmen yang sama. Dua di antaranya sudah rebranding dalam dua tahun terakhir — keduanya ke arah yang lebih digital-first."
"Artinya?"
"Artinya kalau Nara Semesta Group tidak bergerak sekarang, mereka tidak hanya ketinggalan. Mereka akan terlihat seperti yang tertinggal."
Radit mengetuk meja dua kali — kebiasaan yang Nara pelajari artinya ia setuju tapi tidak mau terlalu ekspresif mengatakannya. "Presentasikan ke saya. Anggap saya kliennya."
Nara menatapnya. "Sekarang?"
"Kamu riset semalam. Presentasikan."
Ini bukan yang ada di agenda hari ini. Tapi Nara sudah terlalu lama bekerja dengan Radit untuk terkejut dengan perubahan rencana mendadak. Ia menarik napas, menutup catatannya, dan — karena presentasi terbaik tidak butuh kertas — mulai bicara hanya dengan kata-katanya sendiri.
Empat belas menit. Ia bicara selama empat belas menit tanpa henti, tanpa catatan, tentang lanskap kompetitor, tentang celah yang bisa dimasuki klien mereka, tentang satu pendekatan yang belum diambil siapapun di industri itu.
Radit tidak bergerak selama empat belas menit itu.
Ketika Nara selesai, ada hening singkat yang terasa seperti setelah seseorang selesai memainkan lagu — jeda sebelum tepuk tangan atau sebelum senyap yang canggung.
"Tajam," kata Radit akhirnya.
Nara berkedip. "Apa?"
"Tajam." Ia mengulang kata itu dengan datar, seolah itu bukan kata yang sama yang kemarin membuat Nara hampir membenturkan kepala ke meja. "Ini yang saya maksud kemarin. Bukan proposalnya yang bermasalah. Cara kamu menyampaikannya."
"Jadi..." Nara memilih kata-katanya hati-hati. "Maksud kamu kemarin... kamu mau bilang aku bisa lebih baik dari yang aku tunjukkan?"
"Ya."
"Bukan bahwa proposalnya buruk."
"Tidak pernah saya bilang buruk."
Nara menatapnya. "Kamu bilang kurang tajam."
"Di eksekusi presentasinya. Bukan di isinya."
Hening sejenak.
"Itu," kata Nara pelan, "adalah informasi yang sangat berbeda yang seharusnya kamu sampaikan dengan lebih jelas."
Sesuatu bergerak di sudut bibir Radit. Lagi. Sama seperti kemarin. Gerakan yang sangat kecil tapi sudah dua kali Nara tangkap sekarang. "Kamu benar."
Nara tidak siap untuk itu.
"...Kamu baru saja bilang aku benar."
"Kamu mencatat frekuensinya?"
"Karena ini yang pertama dalam dua tahun tiga bulan."
Kali ini, untuk sepersekian detik yang singkat — Nara hampir bersumpah ia tidak salah lihat — Radit tersenyum. Bukan senyum klien. Bukan senyum profesional. Tapi senyum seseorang yang tertangkap basah dan memilih untuk tidak menyangkalnya.
Lalu ekspresinya kembali normal. Layar laptopnya dibuka. Pena diambil.
"Kita mulai," katanya.
Dan mereka bekerja — selama tiga jam berikutnya, tanpa jeda yang tidak perlu, tanpa ketegangan yang kemarin masih terasa menggantung di udara. Hanya dua orang yang ternyata, ketika tidak ada yang menghalangi, bekerja dengan ritme yang sangat cocok satu sama lain.
Nara baru menyadari itu ketika jam menunjukkan pukul satu siang dan ia menyadari ia lupa makan, lupa mengecek ponsel, dan — yang paling mengejutkan — lupa untuk merasa canggung.
Malam itu, jam 22.02.
Nara: "Mas K, boleh tanya sesuatu yang agak aneh?"
Mas K: "Pertanyaanmu dari awal sudah aneh. Lanjutkan."
Nara: "Pernah tidak, kamu salah paham sama seseorang selama lama banget — dan tiba-tiba kamu dapat satu informasi kecil yang mengubah semua cara kamu lihat mereka?"
Jeda.
Mas K: "Pernah. Kenapa?"
Nara: "Aku rasa itu terjadi sama aku hari ini. Dengan bos aku."
Mas K: "Cerita."
Nara menarik napas. Lalu mengetik — lebih panjang dari biasanya, lebih jujur dari yang ia rencanakan — tentang presentasi tadi pagi, tentang kata tajam yang ternyata bukan serangan tapi sesuatu yang lain, tentang tiga jam bekerja yang terasa seperti tiga puluh menit.
Mas K membacanya. Nara tahu ia membacanya karena tanda baca berubah tapi tidak ada balasan segera.
Lalu:
Mas K: "Kadang orang tidak pandai mengungkapkan bahwa mereka percaya padamu. Mereka justru mendorongmu lebih keras karena mereka tahu kamu bisa."
Nara membaca kalimat itu lama sekali.
Nara: "Kamu bicara soal bos aku atau soal seseorang yang kamu kenal?"
Jeda yang lebih panjang dari sebelumnya.
Mas K: "Dua-duanya, mungkin."
Nara ingin bertanya lebih. Jarinya sudah setengah mengetik. Tapi sesuatu — naluri, atau mungkin kehati-hatian yang terlambat datang — membuatnya berhenti.
Beberapa jawaban lebih berharga ketika tidak terburu-buru.
Nara: "Mas K."
Mas K: "Hm?"
Nara: "Terima kasih. Untuk dua malam ini."
Tiga titik. Muncul. Lama. Sangat lama.
Mas K: "Untuk aku juga."
Di lantai tiga Kala Creative, lampu sudah lama mati.
Semua orang sudah pulang — kecuali satu.
Aditya Raka Santoso masih duduk di mejanya, layar komputer menyala di wajahnya, satu tangan di keyboard dan satu tangan di ponsel.
Ia membaca balasan terakhir Nara satu kali lagi.
Terima kasih. Untuk dua malam ini.
Ia meletakkan ponselnya menghadap bawah di atas meja. Menarik napas. Menatap layar yang sudah tidak lagi ia baca sejak sepuluh menit lalu.
Ini, ia sadari dengan sangat tidak nyaman, adalah situasi yang tidak pernah ia antisipasi.
Dan Aditya Raka Santoso adalah orang yang selalu mengantisipasi segalanya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar