Minggu pertama bekerja bersama Radit mengajarkan Nara satu hal yang tidak ada di buku panduan karyawan manapun:
Bahwa ada dua versi dari orang yang sama, dan keduanya bisa hidup berdampingan tanpa saling mengganggu — selama kamu cukup disiplin untuk tidak mencampurnya.
Versi pertama adalah Radit di kantor.
Radit di kantor adalah Radit yang sudah Nara kenal dua tahun lebih. Tegas. Ekonomis dengan kata-kata. Standarnya tinggi dan ia tidak akan menurunkannya hanya karena seseorang memintanya dengan sopan. Di rapat tim, ia berbicara dengan kalimat-kalimat pendek yang padat — tidak ada basa-basi, tidak ada pembukaan yang hangat, langsung ke inti. Di depan klien, ia bertransformasi menjadi versi yang sedikit lebih lentur, tapi tetap dengan aura seseorang yang memegang kendali dan tahu itu.
Versi kedua adalah Radit yang tidak Nara tahu namanya.
Mas K — yang menjawab pesan malam hari dengan kalimat-kalimat yang terasa seperti seseorang yang punya banyak waktu untuk berpikir sebelum berbicara. Yang tidak pernah memaksa. Yang mendengarkan dengan cara yang terasa berbeda dari kebanyakan orang mendengarkan — bukan untuk membalas, tapi untuk benar-benar mengerti.
Masalahnya: Nara tidak tahu bahwa kedua versi itu adalah orang yang sama.
Dan ketidaktahuannya itu, hari demi hari, mulai membuatnya berada di posisi yang sangat, sangat rumit.
Kamis pagi. Hari keempat proyek bersama.
Nara tiba di kantor enam menit lebih awal dari biasanya — sesuatu yang belum pernah terjadi sejak ia bergabung di Kala Creative, dan yang langsung membuat Sinta hampir menumpahkan kopinya.
"Kamu kenapa datang pagi?"
"Memangnya tidak boleh?"
"Boleh. Tapi kamu. Kamu yang pernah bilang bahwa tanda tangan kontrak kerjamu adalah bukti bahwa delapan pagi adalah jam yang tidak manusiawi."
"Aku berubah."
Sinta menatapnya dengan seksama. "Karena Mas K?"
Nara membuka laptopnya dengan gerakan yang ia harap terlihat santai. "Karena profesionalisme."
"Nara."
"Sinta."
"Kamu ngobrol lagi tadi malam?"
Jeda sepersekian detik. Cukup untuk Sinta menangkapnya.
"...Sampai jam berapa?"
"Satu-an."
"Itu sudah empat malam berturut-turut."
"Aku tahu."
"Dan kamu masih tidak tahu siapa dia?"
"Tidak."
"Dan kamu oke dengan itu?"
Nara berhenti mengetik. Menatap layarnya yang belum menampilkan apa-apa selain wallpaper default. Pertanyaan yang sama yang sudah ia tanyakan ke dirinya sendiri setiap malam sebelum tidur — dan setiap pagi setelah bangun.
Apakah aku oke dengan itu?
"Untuk sekarang," jawabnya akhirnya, "iya."
Sinta menghela napas panjang. Napas seseorang yang melihat teman baiknya berjalan pelan-pelan ke arah jurang tapi tidak bisa memaksa mereka berhenti karena jalannya terlihat sangat indah.
"Oke," kata Sinta akhirnya. "Tapi aku minta satu hal."
"Apa?"
"Hati-hati. Bukan karena aku pikir dia jahat. Tapi karena kamu sudah mulai senyum-senyum sendiri dan itu berbahaya."
Nara membuka mulutnya untuk menyangkal — lalu menutupnya lagi.
Karena ia tidak bisa menyangkal sesuatu yang jelas-jelas benar.
Di ruang meeting kecil, jam sepuluh pagi, Nara dan Radit membahas konsep visual pertama yang sudah Radit kerjakan semalam.
Layar laptopnya menampilkan moodboard — kumpulan referensi warna, tipografi, dan foto yang membentuk arah visual baru untuk Nara Semesta Group. Nara memandanginya dari kursinya, kepala sedikit miring, menilai.
"Ini..." ia mencari kata yang tepat.
"Jujur," kata Radit datar. "Kamu boleh jujur."
Nara meliriknya sebentar. Dua kata itu terasa seperti izin yang tidak biasa dari mulut seseorang yang sebelumnya membuatnya merasa setiap pendapat harus disaring tiga kali sebelum diucapkan.
"Warnanya sudah bagus," kata Nara. "Tapi layoutnya terlalu... rapi."
"Rapi itu masalah?"
"Untuk brand yang mau bicara ke Gen Z, iya. Ini kelihatan seperti brosur bank."
Hening sejenak.
"Brosur bank," ulang Radit.
"Yang elegan. Tapi tetap brosur bank."
Radit menatap layarnya. Nara sudah bersiap untuk respons datar yang biasa — noted, revisi, lanjut — tapi yang terjadi berbeda.
"Kamu punya referensi yang lebih tepat?"
Nara berkedip. Ia bertanya. Bukan perintah, bukan koreksi — tapi pertanyaan genuine. "Aku kirim nanti lewat email?"
"Sekarang kalau ada."
Nara membuka tab baru di laptopnya, menggeser layar sedikit agar Radit bisa melihat, dan mulai menampilkan beberapa referensi yang ia kumpulkan semalam — sebenarnya untuk keperluannya sendiri, karena ia memang tidak bisa berhenti bekerja bahkan di luar jam kantor.
Mereka duduk berdampingan untuk pertama kalinya — bukan berhadapan seperti biasa — karena Radit menggeser kursinya ke sisi Nara untuk melihat layar lebih jelas.
Jaraknya tidak terlalu dekat. Cukup profesional. Tapi tetap cukup dekat untuk Nara menyadari bahwa Radit memakai parfum yang berbeda dari biasanya — bukan wangi yang mencolok, hanya sesuatu yang kalem dan hangat yang tidak semestinya Nara perhatikan tapi terlanjur terperhatikan.
Tidak relevan. Kali kesembilan.
"Yang ini," kata Radit, menunjuk satu referensi di layar. "Kenapa ini berhasil?"
Nara fokus kembali. "Karena tidak simetris. Ada ketidaksempurnaan yang disengaja — elemen yang tidak rata, whitespace yang tidak equal. Otak kita terlatih menganggap kesempurnaan sebagai korporat dan ketidaksempurnaan sebagai manusiawi."
Radit diam sebentar. Mengangguk. Satu ketukan di meja. "Pakai ini sebagai titik berangkat."
"Revisi moodboard-nya?"
"Kita revisi bersama. Besok pagi."
Nara mengangguk. Radit menggeser kursinya kembali ke posisi semula. Jarak yang tadi terasa singkat kini kembali ke proporsi semestinya.
Dan segalanya kembali normal.
Atau setidaknya terlihat begitu.
Yang tidak terlihat adalah bahwa dua jam setelah rapat itu, saat Nara sudah kembali ke mejanya dan tenggelam dalam pekerjaan, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Mas K: "Hari ini bagaimana?"
Pertanyaan yang sama setiap hari. Tapi Nara tidak pernah bosan menjawabnya — karena setiap hari jawabannya selalu berbeda, dan Mas K selalu merespons seolah jawaban itu penting.
Nara: "Ada kemajuan. Aku bilang moodboard bos aku kelihatan seperti brosur bank dan dia tidak marah."
Mas K: "Itu kemajuan besar."
Nara: "Aku tahu kan. Dua minggu lalu aku bahkan tidak berani bilang kalau font pilihannya kurang pas."
Mas K: "Apa yang berubah?"
Nara berpikir. Jarinya mengetuk sisi ponsel — kebiasaan yang ternyata ia warisi dari kecemasan, bukan dari ritme.
Nara: "Aku mulai berhenti mengasumsikan dia selalu kritis untuk menjatuhkan. Mungkin dia kritis karena itu satu-satunya bahasa yang dia tahu untuk bilang 'aku percaya kamu bisa lebih baik'."
Tiga titik. Lama.
Mas K: "Kamu tiba-tiba sangat bijak."
Nara: "Seorang teman pernah bilang sesuatu yang membuatku lihat dia dari sudut yang berbeda."
Mas K: "Teman yang mana?"
Nara: "Orang asing di kontak yang salah."
Tidak ada balasan selama hampir dua menit. Nara sudah hendak meletakkan ponselnya ketika:
Mas K: "Aku senang kalau itu membantu."
Delapan kata. Tapi ada sesuatu di dalamnya — kehangatan yang terasa tidak berjarak, kedekatan yang tidak seharusnya ada dari seseorang yang bahkan namanya saja Nara tidak tahu — yang membuat Nara meletakkan ponselnya menghadap bawah dan menarik napas panjang.
Di sebelahnya, Sinta mengetuk bahunya. "Mas K lagi?"
"Tidak ada apa-apa."
"Kamu senyum lagi."
"Sinta, aku mohon."
"Oke, oke." Sinta mengangkat tangan. "Tapi serius, Nar — kamu tidak penasaran siapa dia?"
Nara menatap ponselnya yang menghadap bawah di atas meja.
Jujurnya? Penasaran. Sangat penasaran. Setiap malam ada bagian dari dirinya yang ingin bertanya langsung — nama, wajah, di mana, siapa. Tapi setiap kali pertanyaan itu hampir keluar, ada sesuatu yang menahannya. Bukan ketakutan akan jawaban yang mengecewakan. Lebih ke... rasa sayang untuk merusak sesuatu yang terasa baik persis seperti adanya sekarang.
"Penasaran," jawabnya jujur. "Tapi belum mau tahu."
Sinta menatapnya lama. "Itu kalimat yang paling romantis sekaligus paling mengkhawatirkan yang pernah kamu ucapkan."
Malam itu, seperti malam-malam sebelumnya, percakapan mereka berlangsung jauh melewati jam yang seharusnya.
Tapi malam ini berbeda.
Bukan karena topiknya lebih berat atau lebih serius — justru sebaliknya. Mereka bicara tentang hal-hal yang ringan sekali: film animasi dari masa kecil yang ternyata punya lore lebih dalam dari yang diingat, jenis makanan yang tidak bisa dimakan kalau sedang stres, dan satu debat panjang tentang apakah nasi goreng tengah malam termasuk kategori comfort food atau tanda seseorang perlu evaluasi gaya hidup.
Nara: "Nasi goreng jam 11 malam adalah hak asasi manusia."
Mas K: "Aku tidak akan mendebat itu."
Nara: "Bijak sekali."
Mas K: "Aku pernah debat soal makanan dengan orang yang salah. Tidak worth it."
Nara: "Pengalaman buruk?"
Mas K: "Rapat yang harusnya soal brief malah jadi soal apakah mie instan itu makanan atau pengalaman spiritual."
Nara tertawa. Keras. Sampai harus menutup mulut dengan bantal lagi.
Nara: "Di kantor kamu?"
Mas K: "Sayangnya iya."
Nara: "Kamu kerja di kantor yang seru kelihatannya."
Mas K: "Tergantung definisi seru."
Nara: "Kalau ada debat mie instan di rapat, itu seru. Di kantor aku, rapat biasanya cuma ada satu orang yang bicara dan sisanya mengangguk."
Mas K: "Satu orang itu bosmu?"
Nara: "Biasanya iya. Tapi belakangan ini lebih dua arah."
Mas K: "Karena kamu mulai bicara?"
Nara berpikir sebentar.
Nara: "Mungkin karena dia mulai mendengarkan."
Jeda.
Mas K: "Atau dua-duanya terjadi bersamaan."
Nara: "Filosofis sekali untuk jam 11 malam."
Mas K: "Kamu yang mulai."
Nara: "Fair."
Hening sebentar — tapi bukan hening yang tidak nyaman. Hening yang terasa seperti dua orang yang sudah cukup nyaman untuk tidak mengisi setiap jeda dengan kata-kata.
Lalu Nara mengetik sesuatu yang tidak ia rencanakan:
Nara: "Mas K, kamu pernah tidak merasa lebih kenal seseorang yang belum pernah kamu lihat daripada orang yang setiap hari kamu lihat?"
Tiga titik. Muncul. Lama sekali.
Mas K: "Sekarang, iya."
Dua kata. Nara membacanya tiga kali. Empat kali.
Jantungnya melakukan sesuatu yang tidak ia minta.
Nara: "Aku juga."
Dan setelah itu, tidak ada lagi yang perlu dikatakan malam itu.
Jumat pagi tiba dengan cuaca yang tidak bisa memutuskan mau mendung atau cerah — berubah-ubah setiap sepuluh menit, seperti seseorang yang tidak bisa membuat keputusan.
Nara tiba di kantor dengan mata yang lelah tapi kepala yang anehnya jernih. Ada dua hal yang ia tahu pasti pagi ini: pertama, ia harus fokus pada revisi moodboard bersama Radit. Kedua, ia harus berhenti memikirkan delapan kata dari semalam.
Sekarang, iya.
Berhenti.
Sekarang, iya.
Nara menepuk pipinya sendiri di lift.
Seorang bapak-bapak yang berdiri di sampingnya melirik dengan wajah khawatir.
"Nyamuk," kata Nara dengan senyum profesional.
Bapak itu mengangguk. Pindah ke sudut lift yang lain.
Ruang meeting. Jam 09.00 tepat.
Radit sudah ada — tentu saja — dengan laptop terbuka dan tiga referensi tambahan yang sudah ia cetak dan letakkan di tengah meja. Nara menaruh tasnya, duduk, dan membuka laptopnya.
"Tidurnya bagaimana?" tanya Radit.
Nara mendongak. Pertanyaan itu sangat tidak biasa keluar dari mulutnya. "Maaf?"
"Kamu terlihat kurang tidur."
"Oh." Nara menyentuh wajahnya secara refleks. "Concealer-ku tidak cukup ya."
"Bukan soal itu." Radit membuka laptopnya. "Kalau kamu kurang tidur, kemampuan analisis menurun tiga puluh persen. Untuk hari ini itu masalah karena kita harus finalisasi direction."
Nara menatapnya dua detik. Lalu memutuskan bahwa ini, dengan segala cara yang aneh, adalah versi Radit dari mengatakan aku khawatir.
"Aku baik-baik saja," katanya. "Cuma susah tidur."
"Kenapa?"
"Banyak pikiran."
Radit tidak bertanya lebih lanjut. Hanya mengangguk dan kembali ke layarnya — dan entah kenapa itu terasa seperti jawaban yang tepat. Tidak mendesak, tidak mengabaikan.
Mereka bekerja selama dua jam. Merevisi moodboard, mendebat pilihan font, memilih antara dua palet warna yang sebenarnya sama-sama bagus tapi dengan filosofi berbeda. Nara menyuarakan pendapatnya lebih dari yang biasa ia lakukan. Radit mendengarkan lebih dari yang biasa ia tunjukkan.
Dan di satu titik, ketika mereka berdua menatap layar yang sama dan Radit berkata, "Ini sudah benar. Kamu setuju?" — Nara menjawab, "Setuju," dan mereka berdua melanjutkan tanpa drama, dan Nara menyadari dengan diam-diam bahwa dua kata itu — kamu setuju — adalah hal kecil yang besar.
Karena sebelumnya, tidak pernah ada pertanyaan itu.
Sore hari, ketika Nara sudah kembali ke mejanya dan Sinta sedang ke pantri, ponselnya bergetar.
Mas K: "Revisi moodboard-nya bagaimana?"
Nara berhenti mengetik. Menatap pesan itu.
Lalu mengetik balik:
Nara: "Bagus. Tapi Mas K... aku mau tanya sesuatu."
Mas K: "Boleh."
Nara: "Kamu tahu soal revisi moodboard dari mana?"
Jeda panjang.
Panjang sekali.
Nara menghitung. Satu. Dua. Sepuluh. Lima belas.
Mas K: "Kamu cerita semalam."
Nara membaca itu. Lalu membuka log percakapan mereka dari semalam, menggulir ke atas — dan benar, di antara debat nasi goreng dan kalimat sekarang, iya, ia memang sempat menyebut soal revisi moodboard besok.
Nara: "Oh iya. Aku lupa."
Mas K: "Bagaimana hasilnya?"
Nara: "Lebih baik dari yang aku ekspektasikan. Dari keduanya."
Mas K: "Keduanya?"
Nara: "Hasil kerjanya. Dan... bosnya."
Tiga titik. Lebih cepat dari biasanya.
Mas K: "Aku senang mendengar itu."
Nara meletakkan ponselnya. Menatap layar laptopnya yang penuh dengan dokumen dan spreadsheet dan brief yang belum selesai.
Di luar jendela, Jakarta mulai memasuki sore — langit yang tadinya tidak bisa memutuskan akhirnya memilih oranye, dan cahayanya masuk melalui kaca jendela dengan sudut yang membuat seluruh ruangan terlihat lebih hangat dari biasanya.
Sinta kembali dari pantri, meletakkan teh di meja Nara tanpa diminta.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Sinta pelan.
Nara menatap tehnya. Mengangkat cangkirnya. Menyeruput.
"Entah," jawabnya jujur.
Dan Sinta, yang sudah cukup lama mengenal Nara untuk tahu bahwa entah dari mulut Nara selalu berarti sesuatu sedang tumbuh, hanya duduk di sampingnya dalam diam.
Tidak mendesak. Tidak bertanya.
Hanya ada.
Persis seperti kaktus di sudut kamar Nara yang tidak pernah minta apa-apa tapi selalu ada di sana.
Persis seperti seseorang yang menamakan dirinya Mas K.
Malam itu, sebelum tidur, Nara membuka buku catatan kecil yang sudah lama tidak ia sentuh — buku yang biasa ia gunakan untuk menulis hal-hal yang tidak muat di kepala tapi terlalu personal untuk diketik di mana-mana.
Ia menulis satu kalimat:
Ada dua orang yang sedang mengubah cara aku bekerja, cara aku berpikir, dan mungkin lebih dari itu — dan aku tidak tahu apakah itu menakutkan atau sesuatu yang sudah lama aku butuhkan.
Ia menutup bukunya. Meletakkannya di laci.
Mematikan lampu.
Dan dalam gelap, sebelum matanya menutup, satu pertanyaan mengapung di permukaan pikirannya:
Apakah mungkin dua orang yang mengubahku itu... sebenarnya hanya satu?
Ia mengusirnya.
Belum. Belum waktunya.
Tapi pertanyaan itu tidak pergi jauh — hanya berpindah ke sudut yang lebih gelap, menunggu dengan sabar, seperti sesuatu yang tahu bahwa waktunya akan tiba juga.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar