Hayati menyodorkan cangkir teh ke arahku.
Aku tidak mengambilnya.
"Duduk, Nak," katanya, dengan senyum yang sama sekali tidak sampai ke matanya. "Kita punya banyak hal untuk dibicarakan."
"Saya bukan anak Anda."
Hayati tersenyum lebih lebar. "Itu, kita lihat saja."
Aku menoleh ke Mama. Mama menunduk, kedua tangannya menggenggam erat di pangkuan, seperti anak kecil yang baru ketahuan mencuri. Perempuan ini—perempuan yang membesarkan aku, yang setiap pagi bangun jam empat untuk membuatkan sarapan, yang mengantar aku ke sekolah dengan motor butut sampai aku SMA—perempuan ini sekarang tidak berani menatap mataku.
"Mama," kataku pelan. "Siapa perempuan ini?"
Mama tidak menjawab.
"MAMA. AKU TANYA SIAPA DIA."
Suaraku memantul di dinding ruang tamu yang sempit. Aldi di belakangku memegang bingkai pintu, seperti ragu apakah dia harus tetap di situ atau pergi.
Hayati lah yang akhirnya menjawab.
"Hartini," katanya pelan, masih dengan senyumnya, "anakmu tidak tahu siapa aku?"
Mama mengangkat kepala. Untuk pertama kalinya malam itu, suara Mama keluar.
"Pergi, Hayati. Kau sudah dapat yang kau mau. Pernikahan itu sudah terjadi. Surat itu sudah ditandatangani. Pergi."
Hayati menatap Mama dengan tatapan yang lebih dingin dari pisau. Lalu dia tertawa pelan.
"Sudah dapat yang aku mau? Hartini, kamu memang tidak pernah pintar. Pernikahan itu hancur tadi sore. Tiga ratus tamu menyaksikan. Video sudah viral. Reyhan akan dipenjara dalam dua minggu kalau aku tidak turun tangan. Dan kamu pikir aku sudah dapat yang aku mau?"
Mama membeku.
"Tapi tidak apa-apa." Hayati mengaduk tehnya pelan. "Karena rencana B selalu lebih menarik dari rencana A."
Aku tidak mengerti satu kata pun yang mereka bicarakan. Tapi aku tahu satu hal—aku adalah objek dari kalimat-kalimat itu. Bukan subjek. Bukan orang yang ikut memutuskan. Aku adalah barang dagangan yang dibicarakan dua perempuan tua di ruang tamu, sementara aku berdiri di sini dengan gaun pengantin yang sobek.
"Cukup," kataku.
Dua perempuan itu menoleh.
"Aku tidak peduli rencana A, B, atau Z kalian." Aku berjalan mendekati Hayati, lebih dekat dari yang dia duga. Cukup dekat untuk melihat keriput di sudut matanya, dan satu tahi lalat kecil di lehernya. "Aku hanya ingin tahu satu hal. Apa hubunganmu dengan ayah ibu kandungku?"
Hayati menatap aku. Senyumnya hilang sebentar—sebentar sekali, satu detik mungkin—lalu kembali.
"Ah," katanya. "Jadi kamu sudah tahu kalau Hartini bukan ibu kandungmu."
Aku menahan napas.
Aku tidak pernah benar-benar mengatakannya keras-keras sebelum ini. Bahkan di mobil tadi, bahkan saat membaca surat itu, aku tidak pernah mengakui di kepalaku bahwa Mama bukan Mama. Tapi sekarang, mendengar kalimat itu keluar dari mulut Hayati, semuanya menjadi nyata. Kayu lantai di bawah kakiku menjadi nyata. Bahwa aku, selama dua puluh tujuh tahun, adalah anak titipan. Anak yang dijemput dari panti seperti barang.
Mama menangis di sofa. Akhirnya. Tanpa suara.
"Jawab," kataku ke Hayati. Lebih tegas. "Apa hubunganmu dengan orang tua kandungku?"
Hayati menaruh cangkir tehnya. Dia berdiri pelan, dan dia lebih tinggi dari yang aku kira. Dia menatap aku—dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di matanya yang aku tidak bisa namai. Bukan kebencian. Bukan dendam. Sesuatu yang lebih lama dari itu. Sesuatu yang sudah mengeras menjadi bagian dari dirinya.
"Suatu hari," kata Hayati pelan, "ibumu mengambil sesuatu dari aku, Rara. Sesuatu yang seharusnya menjadi milikku. Aku menunggu dua puluh tujuh tahun untuk mengambilnya kembali."
"Apa?"
Hayati menatap aku lebih lama. Lalu dia menoleh ke Mama.
"Kamu tidak pernah cerita ke anakmu, ya, Hartini? Bahwa aku adalah—"
"HAYATI, JANGAN—"
Mama melompat dari sofa. Cepat sekali, untuk perempuan lima puluh empat tahun. Dia berlari, memegang lengan Hayati, dan menatap Hayati dengan tatapan memohon yang aku tidak pernah lihat seumur hidupku.
"Jangan kau katakan. Jangan malam ini. Aku mohon, Hayati."
Hayati menatap Mama. Lalu menatap aku. Lalu kembali ke Mama.
Dia tersenyum.
"Baiklah, Hartini. Karena kamu memohon dengan sopan." Dia melepaskan tangan Mama. "Aku akan biarkan kamu yang menceritakannya. Kamu punya waktu sampai pemakaman."
"Pemakaman apa?"
Hayati menoleh ke arahku. Dia mengelus pipiku—aku menarik kepala, tapi dia sempat menyentuh.
"Pemakaman kakekmu, Rara," katanya. "Ayahku. Yang meninggal tadi pagi. Sebelum sempat bertemu denganmu."
Hayati mengambil tas tangannya. Dia berjalan ke arah pintu, melewati Aldi yang menatapnya dengan kebencian terbuka. Sebelum keluar, Hayati berhenti di ambang pintu.
"Ra," panggilnya tanpa berbalik. "Pemakamannya hari Selasa. Di Magelang. Aku akan menunggumu di sana. Bawalah baju hitam. Dan pertanyaan."
Pintu tertutup.
Suara mobilnya menjauh.
Tinggal aku, Mama, dan Aldi di ruang tamu.
Mama jatuh ke sofa. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia menangis tanpa suara, bahunya berguncang.
Aku tidak bergerak mendekat.
"Mama," kataku pelan. "Apa yang Hayati ambil dariku?"
Mama tidak menjawab.
"Mama. Dia bilang dia menunggu dua puluh tujuh tahun untuk mengambilnya kembali. Apa itu, Mama? Aku?"
Mama mengangkat wajahnya. Mascara-nya luntur. Dia menatapku dengan mata yang basah, dan untuk satu detik, dia terlihat seperti orang asing.
"Bukan kamu, Ra," bisik Mama. "Yang Hayati mau ambil bukan kamu."
"Lalu apa?"
Mama menelan ludah. Lalu dia berkata, dengan suara yang lebih kecil dari bisikan:
"Yang dia mau ambil adalah... ayahmu."
"Ayahku sudah meninggal, Mama. Dua puluh tujuh tahun lalu. Aku baru tahu dari Aldi malam ini."
Mama menggeleng pelan. Lambat. Seperti perempuan yang sudah lelah menyimpan rahasia terlalu lama.
"Bukan ayahmu yang kamu kira."
Aku menatap Mama. Aldi di belakangku menarik napas tertahan.
"Mama..."
"Ayah kandungmu masih hidup, Ra," kata Mama. Air matanya jatuh ke lantai. "Dan dia... dia ada di pemakaman itu hari Selasa."
Aku merasa lutut aku menyerah. Aldi memegang sikuku tepat sebelum aku jatuh.
"Siapa, Mama?" tanyaku. Suaraku keluar lebih lirih dari yang aku mau. "Siapa ayahku?"
Mama menatap aku.
Lalu Mama menatap Aldi.
Lalu kembali ke aku.
Dan Mama berkata satu kalimat yang membuat seluruh ruangan ini berhenti bernapas:
"Kamu sudah pernah bertemu dia, Ra. Bahkan, kamu sudah memanggilnya 'Pak' selama tujuh tahun ini."
Aldi melepaskan sikuku.
Aku menoleh padanya. Wajahnya pucat. Dia mundur selangkah dariku, seperti aku tiba-tiba berubah menjadi orang lain. Sesuatu di matanya berubah—dan itu menakutkan, karena Aldi adalah satu-satunya orang di malam ini yang aku merasa bisa percaya.
"Aldi?" panggilku.
Aldi tidak menjawab. Dia menatap Mama.
"Bu Hartini," katanya pelan. "Tolong katakan saya salah dengar."
Mama tidak menjawab.
Aldi memejamkan mata. Tangannya yang memegang bingkai pintu mengeras, buku-buku jarinya memutih.
"Aldi." Aku memegang lengannya. "Apa yang kau tahu? Apa yang aku tidak tahu?"
Aldi membuka matanya. Menatap aku. Dan untuk pertama kalinya sejak dia muncul di pernikahanku tadi sore, Aldi terlihat seperti orang yang baru saja kalah dalam pertarungan yang sudah dia rencanakan selama bertahun-tahun.
"Ra," bisiknya. "Kalau yang Bu Hartini katakan benar... kalau ayah kandungmu adalah orang yang kau panggil 'Pak'..."
Dia menelan ludah.
"Maka kamu adalah saudara tiriku."
Bersambung ke Bab 4...
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar