Aku terbangun di sofa Aldi pukul lima pagi karena suara HP yang tidak berhenti bergetar.
Tujuh ratus dua belas notifikasi.
Aku menatap layar HP itu lama. Otakku belum sepenuhnya bangun, gaun pengantin masih melekat di tubuhku—kotor, sobek, baunya seperti keringat dan air mata kemarin malam. Aku tertidur di sofa Aldi dalam keadaan ini, karena setelah Mama mengusirku semalam, aku tidak punya tempat lain.
"Pergi, Ra," kata Mama saat aku menatapnya minta penjelasan. "Pergi sekarang. Mama tidak bisa menjawab apa pun lagi malam ini. Pergi."
Aldi membawa aku ke apartemennya—sebuah unit kecil di Sudirman yang dia sewa untuk pulang sekali-kali ke Indonesia. Dia memberiku kamar tidurnya, lalu tidur di sofa. Tapi aku yang akhirnya tertidur di sofa, karena aku tidak sanggup masuk kamar yang berbau parfum Aldi—bau yang sekarang aku tahu adalah bau saudara tiri yang sudah aku panggil "Aldi" saja seumur hidup ini.
Saudara tiri.
Aku memejamkan mata. Empat jam tidur tidak cukup untuk membuat kalimat itu masuk akal. Aku belum sempat mencerna kalimat Aldi semalam. Aku belum sempat tanya siapa "Pak" yang aku panggil tujuh tahun ini—aku punya tiga kandidat di kepalaku, dan ketiga-tiganya sama mengerikan.
Tapi sekarang HP-ku bergetar tujuh ratus dua belas kali, dan aku tahu—aku tahu sebelum aku membuka—bahwa hari ini akan jauh lebih buruk dari semalam.
Aku menggeser layar.
TikTok: Video kamu trending. 2.4 juta views. Twitter: Kamu di-mention di 8.700 cuitan. Instagram: 14.000 follower baru dalam 6 jam.
Aku membuka TikTok dengan tangan yang gemetar.
Video pertama yang muncul: aku, di pelaminan, menampar Reyhan. Audionya jelas. Wajahku jelas. Suaraku saat berteriak "BERAPA LAMA KAMU TAHU AKU SAHABATAN SAMA DIA?!" sudah dijadikan sound dengan judul: #TheRaraSlap.
Tiga juta lima ratus ribu pengguna sudah menggunakan sound itu.
Aku scroll ke bawah. Video kedua: Karina menjatuhkan bom kehamilannya. Video ketiga: Mama menampar Karina. Video keempat: aku jatuh ke lantai memegang amplop, dengan caption "Bro siapa yang ngirim amplop ini? PLOT THICKENS".
Aku scroll lebih jauh. Sebuah akun gosip dengan dua juta follower sudah membuat thread:
THREAD: Pernikahan Sosialita Hancur di Depan 300 Tamu — Ini Faktanya
- Pengantin perempuan: Rara Anindita (27), PR Manager di [perusahaan media besar].
- Pengantin laki-laki: Reyhan Pradipta (31), CEO Reyhan Property Group.
- Pelakor: Karina Wijaya (27), anak Bambang Wijaya — pengusaha kayu top 50 Indonesia.
- Pelakor mengaku ISTRI SIRI dan HAMIL 4 BULAN.
- Saksi mengatakan ada AMPLOP MISTERIUS dari pria asing.
- Pengantin perempuan dan pria misterius itu MENINGGALKAN GEDUNG BERSAMA.
- Sampai detik ini, pengantin perempuan TIDAK BISA DIHUBUNGI.
Siapa pria misterius itu? Apa isi amplop? Kemana Rara sekarang? Stay tuned.
Aku menjatuhkan HP ke pangkuan.
Bukan karena malu. Bukan karena marah.
Karena aku baru sadar—aku sekarang adalah produk hiburan. Aku adalah Senin pagi orang-orang yang sedang antri Transjakarta. Aku adalah bahan obrolan di pantry kantor. Aku adalah meme. Aku adalah sound. Aku adalah hashtag yang akan trending tiga hari, lalu dilupakan, lalu trending lagi saat ada update baru.
Aldi muncul dari dapur dengan dua cangkir kopi.
"Sudah lihat?" tanyanya pelan.
Aku mengangguk.
Dia meletakkan kopi di meja. Duduk di kursi seberang. Tidak menatapku langsung—mungkin karena kemarin malam, dia juga belum sepenuhnya bisa mencerna fakta bahwa kami bersaudara tiri.
"Ra, ada satu hal lain yang harus kamu tahu sebelum kamu buka HP lebih jauh."
"Apa lagi?"
Aldi mengeluarkan tabletnya. Membuka satu artikel. Menyodorkannya padaku.
Judul artikel itu adalah:
EKSKLUSIF: Wawancara dengan Karina Wijaya — "Saya Bukan Pelakor, Saya Korban Manipulasi Rara Anindita"
Aku menatap layar tablet itu sampai mataku perih.
"Apa..." Suaraku pecah. "Apa maksudnya ini?"
Aldi membuka artikel itu. Wawancara setebal lima ribu kata. Dipublikasikan jam tiga pagi. Foto Karina menangis di sampul. Foto-foto Karina yang terlihat lemah, ringkih, korban.
"Saya kenal Reyhan duluan. Sebelum Rara. Tujuh tahun lalu, kami sudah pacaran. Tapi Rara—dia adalah teman kuliah saya yang sangat ambisius. Dia tahu saya pacaran dengan Reyhan. Dia mendekati Reyhan secara diam-diam. Dia mengambil Reyhan dari saya dengan cara yang... saya tidak ingin bicarakan di sini."
"Saya bilang ke Reyhan: jangan menikahi Rara. Tapi Rara sudah hamil. Ya, itu fakta yang tidak pernah dia umumkan—Rara hamil sebelum bertunangan. Dia keguguran tiga bulan kemudian. Tapi pertunangan sudah berjalan."
"Saya menikahi Reyhan secara siri dua tahun lalu karena saya tidak bisa terus diam. Saya tahu ini salah. Tapi saya juga manusia. Dan Reyhan... Reyhan tidak pernah benar-benar mencintai Rara."
"Anak yang saya kandung sekarang adalah anak Reyhan. Saya bersumpah. Test DNA bisa dilakukan kapan saja."
"Saya bukan pelakor. Saya korban. Korban dari perempuan yang sudah merencanakan ini selama tujuh tahun."
Aku tidak bisa bernapas.
"Ini..." aku tidak menemukan kata-kata. "Ini bohong. Ini semua bohong. Aldi, kamu tahu kan ini bohong?"
Aldi mengangguk. "Saya tahu."
"Aku tidak pernah hamil. Aku tidak pernah keguguran. Reyhan-lah yang mengejarku duluan. Dia yang memperkenalkan aku ke Karina enam bulan setelah kami pacaran. Aku—aku tidak pernah—"
"Saya tahu, Ra." Aldi memegang tanganku. "Saya tahu semuanya. Tapi pembaca di luar sana tidak."
Aku menatap layar tablet. Komentar di artikel itu sudah dua belas ribu.
Kasian banget Karina. Cantik tapi diinjak. Rara ternyata pelakor sebenernya. PLOT TWIST. Anjir, gue dukung Karina. Ibu hamil tunggal. Si Rara ini emang dari awal mukanya udah kayak licik.
Aku menutup tabletnya. Menyerahkan ke Aldi.
Lalu aku berjalan ke kamar mandi.
Aku memandang diriku di cermin. Mascara luntur, bibir kering, gaun pengantin kotor. Rambut panjangku yang Reyhan suka itu—rambut yang aku rawat sejak SMP, yang dipuji sebagai "mahkota perempuan Indonesia" di akun infotainment yang membahas pernikahanku—rambut itu tergerai berantakan di pundakku.
Aku membuka laci kamar mandi Aldi.
Aku menemukan pisau cukur.
Aku mengambilnya.
Aku menatap diriku di cermin lebih lama. Tidak menangis. Aku sudah selesai menangis untuk sementara.
Lalu aku mengangkat pisau cukur itu, memegang seikat rambutku, dan memotong.
Bunyinya seperti kertas yang disobek pelan. Rambut panjang itu jatuh ke wastafel, hitam, panjang, indah. Aku mengambil seikat lagi. Memotong. Lagi. Lagi.
Aldi mengetuk pintu setelah dua puluh menit.
"Ra? Kamu baik-baik saja?"
"Aku akan keluar sebentar lagi."
Tiga puluh menit kemudian, aku keluar.
Rambutku sekarang sepanjang pundak. Rapi. Aku mencucinya. Aku membersihkan wastafel. Aku tidak membuang rambut yang aku potong—aku menaruhnya di kantong plastik, untuk aku bawa.
Aldi menatap aku saat aku keluar. Dia tidak berkomentar tentang rambutku.
"Aku butuh pinjam pakaianmu," kataku. "Dan aku butuh kamu antar ke satu tempat."
"Ke mana?"
"Ke kantor lamaku."
"Ra, hari ini Sabtu—"
"Aku tahu. Tapi Sekar pasti masuk untuk laporan akhir bulan. Aku perlu bertemu dia."
Aldi mengangguk. Dia masuk ke kamar untuk mengambil kemeja dan celana panjangnya yang paling kecil.
Sambil menunggu, aku mengambil HP-ku.
Aku membuka aplikasi Twitter.
Aku menulis satu cuitan. Pendek.
Karina berbohong. Saya akan membuktikan satu per satu. Diam adalah hadiah yang tidak akan saya berikan kepada siapa pun lagi.
— Rara Anindita
Aku menekan post.
Dalam empat detik, cuitan itu di-retweet seratus kali.
Dalam tiga puluh detik, dua ribu kali.
Dalam lima menit, cuitan itu mencapai sepuluh ribu retweet, dan akun-akun gosip mulai membahasnya secara live.
Aldi keluar dari kamar membawa pakaian.
"Ra, kamu yakin mau lawan ini secara publik?"
Aku menerima pakaiannya.
"Aldi," kataku pelan, "selama dua puluh tujuh tahun aku diam karena disuruh diam. Sekarang aku akan bicara. Dan aku akan bicara sampai semua orang yang terlibat dalam hidupku—termasuk kamu, termasuk Mama, termasuk Hayati—berhenti menggunakan aku sebagai pion."
Aldi menatap aku lama.
Lalu dia mengangguk pelan.
"Saya antar kamu."
Kantor lamaku terletak di lantai dua puluh tiga gedung perkantoran di SCBD. Aku menggunakan kartu akses lamaku—belum dinonaktifkan—untuk masuk. Sabtu pagi, kantor kosong. Hanya cleaning service di lobi.
Aku berjalan ke meja Sekar.
Sekar memang ada di sana. Memakai kacamata baca, mengetik laporan dengan kecepatan tiga ratus kata per menit. Dia mendongak saat aku mendekat—dan matanya membulat.
"Ra... astaga, Ra."
"Sekar, aku butuh bantuanmu."
"Tentu saja, Ra. Apa pun. Kamu mau—"
"Aku butuh kamu tetap kerja di sini."
Sekar mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
Aku duduk di kursi seberang mejanya. Aku melepas kacamata hitam yang aku pakai untuk menutupi mataku yang bengkak.
"Aku akan resign hari ini, Sekar. Tapi aku butuh kamu tetap di sini. Sebagai mata aku."
"Ra, aku tidak ngerti—"
"Sekar." Aku memegang tangannya. "Reyhan adalah klien perusahaan kita. Bos kita. Kamu tahu bos kita beberapa kali rapat dengan Reyhan dan Pak Bambang. Aku perlu kamu mengamati. Apa pun yang kamu lihat. Apa pun yang kamu dengar. Catat saja. Simpan."
Sekar menatap aku lama. Dia adalah satu-satunya orang di kantor ini yang aku percaya. Dia juga satu-satunya yang tidak hadir di pernikahanku kemarin—dia sakit, demam tinggi, dan menangis di telepon karena tidak bisa datang.
Sekarang, di Sabtu pagi yang hening ini, Sekar memegang tanganku balik. Erat.
"Ra, ini bahaya."
"Aku tahu."
"Kalau aku ketahuan—"
"Aku akan menanggung semuanya. Aku akan bayar gaji kamu sendiri kalau kamu dipecat."
Sekar tertawa pelan, sedih. "Ra, aku tidak butuh uang kamu. Aku—" dia menelan ludah, "—aku akan bantu kamu. Bukan karena uang. Karena kamu satu-satunya orang di kantor ini yang pernah membela aku saat bos hampir memecat aku tahun lalu. Kamu ingat?"
Aku mengangguk pelan. Aku ingat. Sekar dituduh mencuri data klien—padahal dia tidak melakukan apa-apa. Aku yang menyelidiki, menemukan bukti bahwa salah satu manajer-lah yang menjebak Sekar untuk menutupi kesalahannya sendiri. Aku kehilangan promosi karena membela Sekar saat itu. Tapi aku tidak pernah menyesal.
"Aku ingat, Sekar."
"Maka," Sekar tersenyum lemah, "aku akan jadi mata kamu di sini. Telinga kamu juga. Apa pun yang aku dengar tentang Reyhan, Pak Bambang, atau Hayati Wijaya—aku akan kasih tahu kamu."
Aku terhenti.
"Hayati Wijaya?"
Sekar mengerutkan kening. "Iya. Hayati Wijaya. Bos sering rapat dengan dia juga. Kamu kenal?"
Aku menelan ludah.
"Sekar," kataku pelan. "Sejak kapan bos rapat dengan Hayati?"
Sekar membuka kalendernya. Mengetik. Lalu wajahnya pucat saat dia menemukan jawabannya.
"Sejak..." dia memperhatikan layar lebih lama, "sejak tujuh tahun lalu, Ra. Tepat saat kamu mulai bekerja di sini."
Aku tidak ingat bagaimana aku keluar dari gedung itu.
Aku ingat naik lift turun. Ingat melewati lobi. Ingat Aldi yang berdiri di parkiran, menungguku sambil minum kopi sachet. Tapi semua itu seperti video yang dimainkan dengan kecepatan dua kali lipat.
Yang aku ingat dengan jelas hanyalah satu kalimat di kepalaku, yang berputar-putar seperti kaset rusak:
Aku diterima kerja di kantor ini tujuh tahun lalu.
Tujuh tahun lalu, Hayati mulai menjadi klien kantor ini.
Tujuh tahun lalu, aku bertemu Reyhan untuk pertama kalinya—di acara networking yang diatur oleh kantor ini.
Tujuh tahun lalu.
Bukan kebetulan.
Aldi membuka pintu mobil saat aku mendekat.
"Ra, kamu pucat. Apa yang—"
"Aldi," potongku. "Bawa aku ke Bogor."
"Bogor? Untuk apa?"
Aku menatap dia. Saudara tiriku. Laki-laki yang baru kenal kemarin, tapi yang—untuk alasan yang aku belum mengerti—telah merencanakan untuk menyelamatkan aku dari pernikahan ini selama berbulan-bulan.
"Aldi," kataku pelan. "Kamu pernah dengar nama panti asuhan St. Maria di Bogor?"
Aldi membeku.
"Ra... kenapa kamu tahu nama itu?"
Aku tersenyum pahit.
"Karena Karina mengirim aku alamatnya dua jam lalu. Dia bilang kalau aku ingin tahu siapa aku, datang ke sana. Sendirian."
Aldi menggenggam stir mobil sampai buku-buku jarinya memutih.
"Ra, jangan ke sana."
"Kenapa?"
"Karena..." Aldi menelan ludah, "karena di panti itu, ada seorang suster tua bernama Suster Maria. Dan kalau dia melihatmu—kalau dia mengenalmu—"
"Apa, Aldi?"
Aldi menoleh menatap aku.
Wajahnya keras. Tapi matanya basah.
"Kamu akan tahu sesuatu yang bahkan saya tidak berani memberitahumu, Ra. Sesuatu yang membuat surat poligami kemarin terasa seperti permainan anak-anak."
Bersambung ke Bab 5...
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar