Mobil Aldi melaju kencang meninggalkan gedung pernikahan, dan aku baru menyadari satu hal—aku belum melepas gaun pengantinku.
Kain putih lima puluh juta itu tersangkut di pintu mobil saat Aldi menutupnya tergesa. Sobek di bagian bawah. Aldi tidak meminta maaf. Dia hanya melirik sekali ke kaca spion, lalu menambah kecepatan.
"Mereka akan mengejar," katanya pelan.
"Siapa?"
"Semuanya."
Aku menunduk. Di pangkuanku, amplop cokelat itu masih utuh. Tebal. Berat. Seperti memegang bom yang belum aku tahu cara meledakkannya.
Di luar jendela, lampu-lampu kota Jakarta mengabur. Aku bahkan tidak tahu Aldi membawa aku ke mana. Aku tidak peduli. Yang aku tahu hanya satu—aku tidak boleh kembali ke rumah Mama. Tidak malam ini. Mungkin tidak pernah lagi.
HP-ku bergetar di tas kecil yang masih aku gengam. Aku tidak perlu melihat untuk tahu siapa yang menelepon. Reyhan. Mama. Mama Reyhan. Tante Yuli. Sekar dari kantor. Bahkan mungkin wartawan. Aku menggenggam HP itu erat, lalu melempar ke kursi belakang tanpa menjawab.
"Buka amplopnya, Ra."
Suara Aldi rendah. Tidak memerintah. Tapi juga tidak memberi pilihan.
Tanganku bergetar saat aku mencoba merobek lemnya. Tiga kali aku gagal. Aldi menghentikan mobil di pinggir jalan, mengambil amplop itu dari tanganku, lalu membukanya dengan satu sobekan tegas.
Dia mengembalikan amplop itu padaku.
"Saya tidak akan membaca," katanya. "Itu hidupmu, bukan hidup saya."
Aku menelan ludah.
Lembar pertama yang aku tarik keluar adalah dokumen resmi. Kertas tebal, ada cap notaris, tanda tangan basah.
AKTA NIKAH SIRI
Reyhan Pradipta — Karina Wijaya Tanggal: 14 Februari, dua tahun lalu.
Aku membaca tanggal itu dua kali. Tiga kali.
Dua tahun lalu.
Bukan delapan bulan, seperti yang Karina umumkan di pelaminan tadi.
Dua tahun.
Aku tertawa. Pelan. Lalu lebih keras. Lalu sampai aku tidak bisa berhenti, sampai napasku tersengal, sampai Aldi memegang bahuku dan berkata, "Ra. Ra, tarik napas."
Tapi aku tidak mau menarik napas. Aku ingin tertawa. Karena dua tahun lalu, dua tahun lalu, Reyhan baru saja memasangkan cincin tunangan di jariku. Dua tahun lalu, Karina yang menjadi photographer pertunanganku. Karina yang memilih lokasi. Karina yang berdiri di belakangku saat aku menangis bahagia memegang cincin itu.
Karina menikahi suamiku tepat tiga minggu setelah pertunanganku.
"Astaga," bisikku. "Astaga, astaga, astaga."
Aldi tidak bicara. Dia hanya menyalakan mesin lagi, dan mobil bergerak pelan ke jalan tol.
Aku menarik lembar kedua.
Foto.
Bukan foto Reyhan dan Karina. Foto aku.
Aku berumur dua belas tahun. Pesta ulang tahun. Aku ingat pesta ini—Mama menyewa gedung kecil di daerah Bogor, mengundang teman-teman SD. Mama bilang dia menabung lama untuk pesta itu.
Tapi di foto ini, ada orang yang aku tidak ingat hadir.
Pak Bambang Wijaya. Ayah Karina. Memelukku dari samping. Tangannya di bahuku. Senyumnya lebar—senyum bangga, seperti seorang ayah yang melihat anaknya tumbuh.
Aku tidak ingat dia ada di pesta itu. Aku bahkan baru kenal Pak Bambang umur tujuh belas, saat aku mulai sahabatan dengan Karina di SMA.
"Kenapa..." Suaraku pecah. "Kenapa Pak Bambang ada di foto ini?"
Aldi tidak menjawab.
"Aldi. Aku tanya kenapa Pak Bambang—"
"Saya tidak tahu," potongnya. "Saya hanya menemukan foto-foto itu di brankas Karina dua bulan lalu. Saya tidak tahu konteksnya, Ra. Saya hanya tahu satu hal—keluarga saya menyimpan foto kamu sejak kamu kecil. Dan saya tidak tahu kenapa."
Aku menatap wajah dua belas tahunku di foto. Aku tersenyum di foto itu. Tapi senyum itu kosong, seperti aku sudah dipaksa berpose terlalu lama.
Aku menarik lembar ketiga.
Surat tulisan tangan. Tinta hitam. Kertas sudah kuning.
Hartini,
Aku terima syarat-syaratmu. Anak itu bisa kau besarkan sebagai milikmu. Tapi ingat janjimu—saat dia berumur sembilan belas, dia harus menandatangani surat itu. Jika tidak, kau tahu konsekuensinya.
Jangan pernah hubungi aku lagi. Anggap saja aku sudah mati bagi kalian.
B.
Aku menatap surat itu dengan tangan yang mulai dingin.
Hartini. Mama-ku.
B. Bambang. Ayah Karina.
Sembilan belas. Aku menandatangani sesuatu di umur sembilan belas—surat poligami yang baru saja muncul di layar pernikahanku.
Dan aku tidak ingat. Aku sama sekali tidak ingat.
Tapi aku ingat sesuatu yang lain. Umur sembilan belas, aku pernah pingsan di rumah selama hampir dua hari. Mama bilang aku kena tipes. Aku tidak ke rumah sakit. Mama merawatku sendirian. Saat aku bangun, kepalaku berat selama seminggu.
Aku selalu mengira itu efek tipes.
Aku memejamkan mata. Air mata akhirnya jatuh, tapi bukan karena Reyhan. Bukan karena Karina. Bukan karena pernikahan yang hancur.
Aku menangis karena baru menyadari—Mama-ku sudah menjualku sebelum aku bisa membaca.
"Aldi." Suaraku bergetar. "Bawa aku pulang."
"Ke mana?"
"Ke rumah Mama."
Aldi menoleh ke arahku. Untuk pertama kalinya malam itu, dia terlihat khawatir. "Ra, kamu tidak dalam kondisi—"
"BAWA AKU PULANG."
Aldi diam. Lalu dia mengangguk pelan, dan mengarahkan mobil ke exit tol berikutnya.
Lampu rumah Mama menyala saat kami tiba.
Padahal seharusnya Mama masih di gedung pernikahan. Atau di rumah sakit—Mama Reyhan pingsan tadi, dan biasanya Mama akan menemani.
Tapi lampu menyala. Pintu setengah terbuka. Mobil sedan hitam yang aku tidak kenal terparkir di halaman.
Aldi memegang lenganku saat aku akan turun. "Ra, tunggu. Ada orang lain di dalam."
Aku menariknya lepas. "Aku tahu."
Aku turun dari mobil dengan gaun yang sobek dan kaki yang masih memakai high heels rusak. Aku berjalan ke pintu rumah. Aku tidak mengetuk. Aku mendorong pintunya hingga terbuka penuh.
Di ruang tamu, Mama duduk di sofa.
Bukan menangis.
Bukan panik.
Mama sedang menuangkan teh ke dua cangkir. Tenang. Seperti malam biasa.
Di hadapannya, di sofa seberang, duduk seorang perempuan tua yang aku tidak kenal. Rambut pendek beruban. Pakaian elegan, hitam. Wajahnya datar seperti patung. Tapi matanya—matanya menatap aku begitu aku masuk, dan mata itu bukan mata orang asing.
Mata itu mengenal aku.
"Mama..." Suaraku keluar lemah. "Siapa..."
Mama tidak menoleh. Dia melanjutkan menuangkan teh dengan tangan yang sangat tenang.
"Rara," kata Mama pelan. "Kamu pulang lebih cepat dari yang Mama duga."
Perempuan tua di sofa itu berdiri. Pelan. Lalu dia tersenyum tipis.
"Jadi," katanya, "ini Rara. Akhirnya kita bertemu."
Aldi tiba-tiba muncul di belakangku. Aku mendengar napasnya tertahan.
"Tante Hayati," bisik Aldi.
Hayati.
Nama itu, aku belum pernah dengar.
Tapi entah kenapa, mendengar namanya disebut Aldi, sesuatu di dadaku mati. Seperti lampu yang tiba-tiba dimatikan dari jarak jauh.
Hayati menatap aku lebih lama. Lalu dia berkata, dengan suara yang seperti membelai—dan justru karena itulah, suara itu lebih menakutkan dari teriakan apa pun:
"Selamat atas pernikahanmu, Nak. Aku sudah menunggu hari ini selama dua puluh tujuh tahun."
Mama akhirnya mendongak.
Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, aku melihat Mama-ku ketakutan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar