Aldi tidak mau mengantarku.
"Saya antar sampai gerbang panti, tidak lebih," katanya, saat mobil mendekati Bogor. "Suster Maria... dia tidak akan bicara kalau ada saya."
"Kenapa?"
Aldi tidak menjawab. Dia hanya menambah kecepatan mobil.
Aku menatap Aldi dari samping. Dalam dua puluh empat jam terakhir, laki-laki ini sudah berubah dari penyelamat misteriusku menjadi saudara tiriku menjadi orang yang menyembunyikan rahasia sendiri. Aku tidak tahu lagi siapa dia—dan aku mulai mengerti bahwa mungkin aku tidak akan pernah benar-benar tahu.
"Aldi," kataku pelan. "Kamu sudah merencanakan ini berapa lama?"
"Apa?"
"Membongkar pernikahanku. Datang ke acara itu dengan amplop. Kamu tidak datang dadakan, kan?"
Aldi diam. Lalu dia menjawab pelan.
"Delapan bulan, Ra. Sejak Reyhan dan Karina menikah siri, saya mulai menyusun ini."
"Kamu menyusunnya untukku, atau untuk dirimu sendiri?"
Pertanyaan itu keluar tanpa aku rencanakan. Tapi begitu keluar, aku tahu itu pertanyaan yang benar.
Aldi menggenggam stir lebih erat.
"Untuk dua-duanya, Ra," jawabnya akhirnya. "Saya tidak akan pura-pura kalau saya hanya pahlawan. Saya juga punya alasan sendiri. Tapi alasan saya—itu cerita untuk lain kali."
Aku tidak memaksa. Karena di kursi penumpang ini, dengan rambut pendek dan kemeja kebesaran, aku sudah cukup lelah untuk satu hari.
Panti Asuhan St. Maria terletak di pinggiran Bogor, di jalan kecil yang dikelilingi pohon-pohon tua. Bangunannya bercat putih—dulu putih, sekarang lebih ke abu-abu kekuningan. Atap gentengnya berlumut. Pagar besinya berkarat. Tapi di pintu masuk, ada papan kayu yang baru dicat: "Selamat datang di rumah."
Aldi memarkir mobil di luar gerbang.
"Saya akan menunggu di sini."
"Aldi, kalau aku tidak keluar dalam satu jam—"
"Saya akan masuk mencari kamu. Saya tahu, Ra. Pergilah."
Aku turun. Membenahi kemeja Aldi yang kebesaran di tubuhku. Aku berjalan ke gerbang. Mendorongnya pelan. Suara engselnya berderit, seperti pintu yang sudah lama tidak dibuka untuk orang asing.
Halaman panti itu kosong saat aku masuk. Tapi aku mendengar suara anak-anak dari kejauhan—mungkin di belakang gedung, sedang bermain. Aku tidak tahu apakah aku pernah bermain di sini. Aku tidak ingat tempat ini sama sekali.
Tapi kakiku melangkah seolah tahu jalannya.
Di pintu utama, seorang biarawati muda menyapaku.
"Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya..." aku menelan ludah. "Saya mencari Suster Maria."
Biarawati muda itu menatap aku. Matanya menyipit sebentar—dia memperhatikan wajahku lama, seolah mencoba mencocokkan dengan sesuatu di ingatannya. Lalu matanya berubah.
"Sebentar, Mbak. Tunggu di ruang tamu."
Dia bergegas masuk. Aku duduk di ruang tamu kecil yang berisi sofa tua dan satu meja kayu. Di dinding, ada salib besar. Di sebelahnya, foto-foto anak-anak panti dari berbagai era—wisuda, pernikahan, foto keluarga yang dikirim balik ke panti sebagai ucapan terima kasih.
Aku berdiri. Berjalan ke dinding foto itu.
Dan di pojok bawah, di sebuah foto hitam putih yang sudah pudar, aku melihat diriku sendiri.
Aku berumur lima tahun. Berdiri di antara dua perempuan dewasa. Yang satu adalah seorang biarawati tua—Suster Maria, mungkin. Yang satu lagi adalah—
Aku tidak bisa bernapas.
Yang satu lagi adalah Hayati.
Bukan Mama Hartini.
Hayati.
Hayati Wijaya yang menggenggam tanganku dalam foto itu, tersenyum, seperti seorang bibi yang sayang pada keponakannya. Atau seorang ibu yang sayang pada anaknya.
"Foto itu diambil dua minggu sebelum kamu dijemput pulang."
Suara dari belakang. Aku berbalik.
Suster Maria.
Dia jauh lebih tua dari yang ada di foto—mungkin sudah delapan puluh tahunan. Punggungnya membungkuk. Rambutnya putih sempurna di balik kerudung biru. Tapi matanya—matanya tetap tajam, dan matanya menatap aku seperti melihat hantu.
"Rara," bisiknya. "Kamu... kamu pulang."
Aku mengangguk pelan.
Suster Maria berjalan mendekat. Pelan. Tongkatnya berbunyi tuk, tuk, tuk di lantai keramik. Dia berhenti tepat di depan aku, mendongakkan kepala karena dia lebih pendek dariku, dan memegang pipiku dengan kedua tangannya yang keriput.
"Kamu mirip Sari," bisiknya. Air mata menetes di pipinya. "Astaga, kamu mirip sekali dengan ibumu."
"Suster..." Suaraku pecah. "Saya... saya tidak ingat tempat ini."
"Tidak. Tentu saja tidak ingat." Suster Maria mengusap pipiku. "Mereka memberimu obat sebelum dijemput. Obat untuk anak yang akan dipindahkan—agar mereka melupakan tahun-tahun di panti. Hartini bilang itu untuk kebaikanmu."
Aku menutup mata.
"Sini, Nak. Duduk. Suster akan ceritakan semuanya."
Suster Maria menarik aku duduk di sofa. Dia duduk di sebelahku, masih memegang tanganku, seperti takut aku akan menghilang lagi.
"Suster," kataku pelan. "Saya harus tahu. Siapa ibu saya yang sebenarnya?"
Suster Maria menarik napas dalam. Dia menatap salib di dinding seolah meminta izin. Lalu dia mulai bercerita.
"Ibumu adalah Sari Pradhani. Perempuan paling cantik yang pernah Suster lihat seumur hidup. Dia datang ke panti ini dua puluh delapan tahun lalu, dalam keadaan hamil tujuh bulan, sendirian, dengan pakaian yang lusuh dan wajah yang ketakutan."
"Hamil... saya?"
"Ya, Nak."
"Ke panti? Tapi panti ini untuk anak-anak—"
"Sari tidak datang untuk dititipkan. Sari datang untuk bersembunyi." Suster Maria menggenggam tanganku lebih erat. "Suster ingat malam itu. Dia mengetuk pintu panti pukul tiga pagi. Hujan deras. Dia bilang, 'Suster, tolong sembunyikan saya. Mereka akan membunuh saya kalau menemukan.'"
"Siapa yang mau membunuhnya?"
Suster Maria menatap aku lama.
"Keluarga Wijaya, Nak."
Aku merasa darahku mengalir lebih lambat.
"Hayati Wijaya," lanjut Suster Maria, "dan Bambang Wijaya. Saudara kandung. Sari adalah... Sari adalah orang yang mereka cari, karena Sari mengandung anak Bambang Wijaya."
Aku menggeleng pelan. "Bukan. Ayah saya bukan Pak Bambang. Aldi—Aldi bilang ayah saya adalah laki-laki yang dikubur di Magelang."
Suster Maria tersenyum tipis. Sedih.
"Nak, ada banyak versi kebenaran tentang siapa ayahmu. Suster akan ceritakan versi yang Suster sendiri saksikan."
Suster Maria menarik napas.
"Sari mencintai dua laki-laki. Yang pertama adalah Pradipta—suaminya yang sah. Yang kedua adalah Bambang Wijaya, yang dia kenal jauh lebih lama. Tapi Bambang sudah menikah dengan istri pertamanya—saat itu Hayati masih bersama saudara mereka mengurus bisnis keluarga. Sari memilih Pradipta karena dia tidak mau merusak rumah tangga Bambang."
"Pradipta..."
"Ya, Nak. Reyhan Pradipta yang baru kau nikahi adalah—"
Aku memutus. "Tidak. Tidak mungkin. Tolong jangan—"
"Reyhan adalah anak kakak Pradipta. Keponakan suami sah ibumu."
Aku menutup wajahku dengan tangan.
"Astaga..."
"Tapi yang ingin Suster jelaskan, Nak, adalah ini." Suster Maria memegang tanganku dan menariknya turun dari wajahku. "Sari hamil. Dan Sari sendiri tidak yakin siapa ayah kandungmu. Apakah Pradipta, suaminya yang sah—atau Bambang Wijaya, mantan kekasihnya, yang dia tiduri satu kali sebelum pernikahannya, dalam pertemuan terakhir untuk pamitan."
Aku menatap Suster Maria. Otakku mati.
"Sari bersembunyi di sini selama dua bulan. Lalu dia melahirkanmu di kamar belakang panti, dibantu oleh Suster sendiri. Dia menamai kamu Rara, karena dia bilang, 'Aku ingin anakku dikenang dengan nama yang ringan, agar dia tidak membawa beban Sari.'"
Air mataku jatuh. Tapi aku tidak menangis dalam isakan. Hanya air mata yang turun, lambat, tanpa suara.
"Tiga hari setelah kamu lahir, suami Sari—Pradipta—datang menjemput. Dia bilang dia tidak peduli siapa ayah kandungmu. Dia akan membesarkanmu sebagai anaknya. Sari menangis karena bahagia. Mereka pulang ke Magelang."
"Lalu apa yang terjadi?"
"Tiga bulan kemudian, mereka berdua mati. Pradipta dan Sari. Dalam kebakaran rumah."
Aku menutup mata.
"Hayati Wijaya yang membakar rumah itu, Nak. Suster tidak punya bukti yang bisa dibawa ke pengadilan. Tapi Suster tahu. Karena dua minggu sebelum kebakaran, Hayati datang ke panti ini, mencari Sari. Suster pura-pura tidak tahu Sari di mana. Hayati mengancam Suster di altar. Dia bilang, 'Kalau Suster melindungi pelacur itu, Tuhan tidak akan melindungi Suster.'"
Suster Maria mengusap matanya.
"Tapi Hayati menemukan Sari sendirian. Lewat surat yang Sari kirim ke teman lamanya. Hayati datang ke Magelang. Dan Hayati membakar rumah itu, dengan kamu di dalamnya."
"Dengan saya..."
"Ya, Nak. Tapi Hartini—Hartini yang kau panggil Mama—Hartini-lah yang menyelamatkanmu."
Aku menatap Suster Maria.
"Hartini adalah teman Sari sejak SMP. Sari menulis surat terakhir ke Hartini sebelum kebakaran—Hartini-lah teman terdekat Sari di dunia ini. Sari menulis: 'Kalau aku mati, jaga Rara. Tolong, Tin. Hanya kamu yang bisa kuminta.'"
"Hartini menerima surat itu pagi hari setelah kebakaran. Dia naik kereta langsung ke Magelang. Dia menemukan rumah yang hangus, dua mayat dewasa di kamar utama—Pradipta dan Sari—dan satu kamar bayi yang ajaibnya tidak terbakar habis. Kamu tidur di ranjang kecil itu. Hidup. Menangis kecil. Karena Sari, dengan napas terakhirnya, sempat mengeluarkan kamu dari kamar utama dan menutup pintu bayi sebelum api menjalar."
Aku tidak bisa bicara.
"Hartini membawamu pulang. Tapi Hartini tidak bisa langsung mengakui kamu sebagai anak angkat—karena Hayati masih mencari kamu. Hayati ingin memastikan tidak ada saksi yang tersisa. Jadi Hartini menyembunyikanmu di panti ini selama lima tahun."
"Hartini menyembunyikan saya... di panti?"
"Ya, Nak. Selama lima tahun, kamu di sini. Hartini datang setiap minggu, membawa baju dan susu. Hartini menabung. Hartini pindah kota tiga kali untuk membuat Hayati kehilangan jejak. Saat kamu lima tahun, Hartini akhirnya berani menjemputmu. Dia membuat dokumen palsu—akta lahir baru, dengan nama Rara Anindita, anak Hartini sendiri."
Suster Maria mengusap pipiku.
"Hartini bukan ibu kandungmu, Nak. Tapi Hartini juga bukan musuhmu. Hartini adalah perempuan yang mengorbankan dua puluh tujuh tahun hidupnya untuk menjagamu hidup."
"Tapi..." suaraku bergetar. "Tapi Hayati semalam bilang Mama yang menyuruh dia membunuh Sari—"
Suster Maria mengerutkan kening.
"Hayati bilang itu kepadamu?"
"Tidak, dia tidak bilang langsung. Tapi—"
Suster Maria mencengkeram tanganku tiba-tiba. Dengan kekuatan yang tidak aku kira ada di tubuh setua itu.
"Nak. Dengarkan Suster baik-baik. Apa pun yang Hayati Wijaya katakan kepadamu, jangan percaya. Hayati adalah ular. Dia akan membalik cerita. Dia akan membuat Hartini terlihat sebagai pelaku, dan dirinya sebagai korban. Itu cara dia bertahan hidup selama empat puluh tahun di keluarga itu—dengan memutar kebenaran sampai tidak ada yang tahu lagi mana yang benar."
"Tapi Suster, kalau Mama benar-benar menyelamatkan saya—kenapa Mama menjual saya untuk poligami? Kenapa saya menandatangani surat itu di umur sembilan belas?"
Suster Maria menatap aku lama.
Lalu dia berkata pelan, dengan suara yang lebih dingin dari sebelumnya:
"Karena Hartini... Hartini juga membuat satu kesalahan, Nak. Dan kesalahan itu yang sekarang sedang kamu bayar."
"Apa kesalahannya?"
Suster Maria menatap salib di dinding.
"Sepuluh tahun lalu, Hayati menemukan Hartini. Hayati datang ke butik Hartini dengan ancaman. Hayati bilang: 'Aku tahu Rara hidup. Aku tahu kamu yang menyembunyikan dia. Kalau kamu tidak ingin aku membunuh dia, lakukan satu hal.'"
Aku menahan napas.
"Hayati menyuruh Hartini menjodohkan kamu dengan Reyhan."
"Apa..."
"Hayati ingin memastikan kamu masuk kembali ke keluarga Wijaya—di bawah pengawasannya. Karena hanya dengan begitu, dia bisa mengontrol warisan ayah ibumu yang ditinggalkan untukmu. Warisan yang Hayati tidak pernah bisa dapatkan, karena dokumen-dokumen Sari menulis kamu sebagai ahli waris tunggal."
"Berapa..." aku menelan ludah, "berapa nilainya, Suster?"
Suster Maria menatap mataku.
"Hampir tiga ratus milyar, Nak. Itu yang sudah jatuh tempo dengan bunga selama dua puluh tujuh tahun. Aset orang tuamu dulu—perkebunan, pabrik, properti di tiga kota."
Tiga ratus milyar.
Aku tertawa. Pelan. Tidak waras.
"Jadi Mama menjodohkan saya dengan Reyhan, agar Hayati bisa mengakses warisan saya?"
"Bukan menjodohkan, Nak. Hartini menolak menjodohkan. Tapi Hartini terpaksa membiarkan kamu bertemu Reyhan. Hartini berharap kamu tidak akan jatuh cinta. Tapi kamu jatuh cinta. Dan kemudian Reyhan—dengan perintah Hayati—mulai merencanakan pernikahan."
"Dan surat poligami yang saya tandatangani di umur sembilan belas?"
Suster Maria menelan ludah.
"Itu... itu adalah satu-satunya kesalahan Hartini yang Suster tidak bisa maafkan. Hayati mengancam akan membunuhmu kalau Hartini tidak membuat kamu menandatangani surat itu. Hartini melakukannya. Hartini memberi obat tidur kepadamu, memanggil notaris ke rumah, dan menggerakkan tanganmu untuk tanda tangan."
"Itu... itu pemerkosaan kontraktual, Suster."
"Suster tahu, Nak."
"Mama melakukan itu padaku."
"Suster tahu."
Aku menutup wajah dengan tangan. Aku menangis, akhirnya, dalam isakan keras yang aku tahan dua hari ini. Suster Maria memelukku. Dia mengusap punggungku, seperti suster yang dulu mungkin menggendongku sebagai bayi di kamar belakang panti ini.
"Nak," bisiknya. "Hartini melakukan hal-hal buruk untuk menjagamu hidup. Itu tidak membenarkan dia. Tapi itu menjelaskan dia. Apa yang akan kamu lakukan dengan informasi ini, Suster tidak bisa memutuskan untukmu."
Aku menangis lebih lama. Sepuluh menit. Mungkin dua puluh.
Saat aku akhirnya bisa bicara lagi, aku bertanya satu hal lagi.
"Suster... apakah Pak Bambang tahu?"
"Tahu apa, Nak?"
"Bahwa saya mungkin anaknya."
Suster Maria diam. Lama.
"Bambang tahu tidak ada cara untuk memastikan, Nak. Tapi Bambang... Bambang selalu yakin bahwa kamu adalah anaknya. Dia datang ke panti ini juga, sepuluh tahun setelah Sari meninggal. Dia datang sendirian, menangis, meminta Suster menunjukkan foto bayi yang Sari titipkan. Suster menunjukkan foto kamu umur lima tahun. Bambang menatap foto itu satu jam, lalu pergi tanpa bicara."
"Dan dia tidak mencari saya?"
"Dia mencarimu, Nak. Tapi dia tahu kalau dia mendekatimu, Hayati akan tahu kamu masih hidup. Jadi Bambang menjaga jarak. Sampai..."
"Sampai apa?"
Suster Maria menatap aku.
"Sampai dia membiarkan adiknya, Hayati, menggunakan kamu sebagai pion dalam permainan warisan. Karena Bambang juga tahu—warisan Sari adalah satu-satunya cara Bambang bisa lepas dari hutang keluarga Wijaya yang sudah menumpuk dari bisnisnya yang gagal."
Aku menatap Suster Maria.
"Jadi Pak Bambang juga..."
"Bambang mencintaimu sebagai ayah, Nak. Tapi cinta tidak selalu lebih kuat dari hutang. Itu pelajaran terberat yang Suster pelajari dalam delapan puluh tahun hidup."
Aku keluar dari panti pukul empat sore.
Aldi masih menunggu di mobilnya. Saat dia melihat aku, dia turun cepat, berlari mendekat.
"Ra, kamu—"
Aku memeluknya.
Bukan pelukan saudara. Bukan pelukan perempuan ke laki-laki. Pelukan orang yang sedang tenggelam ke pelampung yang kebetulan lewat.
Aldi terkejut. Tapi dia memeluk balik. Erat. Tanpa bicara.
Lima menit kemudian, aku melepaskan diri.
"Aldi," kataku pelan. "Bawa aku ke butik Mama."
"Ra, kamu yakin? Kamu butuh istirahat dulu—"
"Tidak ada waktu istirahat. Aku perlu bicara dengan Mama hari ini. Sekarang."
"Apa yang akan kamu katakan?"
Aku menatap Aldi.
"Aku akan minta maaf padanya, Aldi. Karena aku marah padanya dua puluh empat jam terakhir untuk hal-hal yang aku tidak mengerti."
Aldi mengangguk pelan. Dia membukakan pintu mobil untukku.
Saat aku akan masuk, HP-ku bergetar.
Pesan dari nomor tidak dikenal.
Aku membuka.
Hanya satu baris:
Hartini sedang dibawa ambulans ke rumah sakit. Serangan jantung. Datanglah cepat sebelum dia tidak bisa bicara lagi.
— H.
H.
Hayati.
Aku menatap Aldi.
"Aldi. Mama... Mama serangan jantung."
Aldi membeku selama satu detik. Lalu dia masuk ke mobil. Membanting pintu.
"Pegangan."
Mobil itu melaju, melewati lampu merah, melewati polisi yang meniup peluit di belakang kami, melewati segala hal yang seharusnya kami patuhi. Aku memegang dashboard dengan tangan yang membatu, dan satu kalimat berputar di kepalaku:
Hayati yang mengirim pesan itu.
Hayati yang tahu Mama serangan jantung sebelum aku.
Hayati yang ingin aku datang ke rumah sakit—mungkin untuk menyaksikan Mama mati di depan mataku, sebelum Mama sempat bicara.
Bersambung ke Bab 6...
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar