Suara debuk tanah merah yang menghantam papan kayu di dasar liang lahad itu terdengar seperti palu godam yang meremukkan dada Laras. Setiap sekop tanah yang dilemparkan oleh tukang gali kubur seolah ikut mengubur separuh jiwanya hidup-hidup. Langit sore itu seakan tahu bahwa ada sebuah dunia yang baru saja runtuh; awan kelabu menggantung rendah, tebal, dan menyimpan tangis yang siap tumpah kapan saja. Angin berhembus membawa aroma basah kamboja dan duka yang pekat.

Di bibir liang yang kini perlahan tertutup gundukan tanah basah itu, Laras bersimpuh. Kaki-kakinya yang terbalut rok katun hitam pudar sudah tak lagi mampu menopang berat tubuhnya. Kerudung instan berwarna senada yang ia kenakan tampak lusuh, ujungnya berkibar lemah ditiup angin pemakaman. Namun, kesederhanaan, bahkan keusangan pakaian itu, tak mampu mengaburkan apa yang ada di baliknya. Gurat kebangsawanan dan kecantikan alami Laras tetap terpancar, meski kini wajah aristokratnya sepucat kapas, dihiasi mata yang membengkak merah dan pipi yang basah oleh air mata yang tak kunjung kering.

"Mas..." bisik Laras, suaranya parau, nyaris hilang ditelan embusan angin. Tangannya yang gemetar terulur, menyentuh nisan kayu sementara yang baru saja ditancapkan. Kayu itu masih kasar, namun Laras mengusapnya seolah ia sedang mengusap pipi suaminya yang tertidur lelap.

Arya. Nama yang tertulis di nisan itu adalah seluruh alasan Laras bertahan hidup selama belasan tahun terakhir. Pria itu bukan siapa-siapa di mata dunia. Hanya seorang pegawai administrasi tingkat bawah di sebuah perusahaan BUMN, yang berangkat pagi buta dan pulang saat matahari sudah lama tenggelam, dengan peluh yang selalu membasahi kemeja seragamnya. Namun bagi Laras, Arya adalah pelabuhan paling teduh. Pria itu adalah satu-satunya manusia yang memberinya cinta tanpa syarat, alasan yang membuatnya rela membuang segala kemewahan, nama besar keluarga, hingga menukar keyakinannya.

Laras ingat malam badai itu, lima belas tahun yang lalu, ketika ayahnya melempar koper pakaiannya ke teras marmer rumah gedongan mereka. “Pergi kamu! Sekali kamu melangkah keluar dari gerbang ini untuk ikut laki-laki miskin itu dan Tuhan barunya, anggap kami semua sudah mati!” murka sang ayah menggema.

Laras muda tidak meneteskan air mata gentar saat itu. Ia melangkah pergi dengan kepala tegak, karena di ujung jalan yang gelap, Arya berdiri menunggunya dengan payung dan senyum yang menjanjikan surga.

Dan Arya menepati janjinya. Meski hidup mereka jauh dari kata mewah, meski Laras harus belajar memegang sapu dan wajan alih-alih dilayani puluhan asisten rumah tangga, rumah kecil mereka selalu penuh dengan tawa. Arya memperlakukannya layaknya ratu, menghargai setiap pengorbanannya dengan bakti dan kasih sayang yang luar biasa.

Lalu, mengapa sekarang surga itu dirampas darinya begitu cepat?

"Ibu..."

Sebuah tarikan kecil di ujung lengan bajunya menarik Laras kembali ke alam nyata. Ia menoleh perlahan dan mendapati Sita, putri kecilnya yang baru berusia delapan tahun, berdiri dengan mata bulat yang digenangi air. Hidung mungilnya merah.

"Ayah kenapa dikubur pakai tanah, Bu? Nanti Ayah kedinginan... Ayah nggak bisa napas. Kita bawa Ayah pulang, ya?" kepolosan dalam suara bergetar Sita adalah belati tak kasatmata yang menghujam jantung Laras bertubi-tubi.

Pertahanan Laras kembali jebol. Ia menarik tubuh mungil Sita ke dalam pelukannya, mendekapnya erat-erat seolah takut maut akan merampas putrinya juga. Laras terisak hebat, menyembunyikan wajahnya di bahu kecil Sita. "Ayah sudah tidur, Nduk... Ayah tidur panjang. Tempat Ayah sekarang sudah terang, sudah hangat..."

Di sisi lain Laras, berdiri Bima. Anak laki-laki berusia dua belas tahun itu berdiri kaku bak patung pualam. Rahangnya mengeras, menahan mati-matian agar air matanya tidak jatuh. Bima menatap nisan ayahnya dengan pandangan kosong yang menyayat hati. Sehari sebelum Arya anfal karena serangan jantung mendadak, Arya sempat mengusap kepala Bima dan berkata, “Kalau Ayah dinas ke luar kota, Bima yang jaga Ibu dan adik, ya. Bima kan laki-laki.”

Bima tidak tahu bahwa 'dinas' kali ini adalah perjalanan yang tak ada tiket pulangnya. Dan Bima menelan tangisnya karena ia merasa, mulai detik ini, dinding pertahanan keluarga ini ada di pundaknya yang masih ringkih. Tangannya yang kecil terulur, mengusap punggung ibunya yang bergetar hebat.

"Ibu jangan nangis terus. Nanti Ayah sedih lihat Ibu nangis," ucap Bima dengan suara yang dipaksa stabil, meski ujungnya bergetar hebat.

Laras menengadah, menatap wajah Bima. Ia melihat ketegaran Arya di sepasang mata putranya. Oh, betapa Laras ingin menjerit, memaki takdir yang begitu kejam mencabut pilar utamanya. Bagaimana ia bisa hidup? Di mana ia harus berpijak? Uang di tabungan mereka tak seberapa. Rumah yang mereka tempati adalah rumah kontrakan yang bulan depan sudah jatuh tempo. Keluarga lamanya telah menutup pintu rapat-rapat, menganggapnya tak pernah ada.

Ia benar-benar sebatang kara sekarang, dengan dua nyawa yang menggantungkan hidup padanya.

Perlahan, para pelayat mulai menyurut. Rekan-rekan kerja Arya dari kantor—kebanyakan adalah sesama pegawai staf dan satpam—mendekat satu per satu, mengucapkan belasungkawa dengan suara tertahan. Beberapa menyelipkan amplop putih ke tangan Bima, yang diterima anak itu dengan canggung. Laras hanya bisa mengangguk pelan, bibirnya terlalu kelu untuk mengucapkan terima kasih.

Hingga akhirnya, gundukan tanah itu benar-benar sepi. Hanya tersisa mereka bertiga, ditemani dua orang tukang gali kubur yang berdiri agak jauh, menunggu dengan kikuk bersandar pada cangkul mereka.

Laras mengerti. Ia menyeka air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu merogoh saku roknya yang agak pudar. Ia mengeluarkan dompet kain kecil yang tipis, mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu terakhir yang ia miliki, dan berjalan tertatih menghampiri kedua pria kasar itu.

"Terima kasih, Pak, sudah mengurus rumah terakhir suami saya dengan baik," ucap Laras pelan, menyelipkan uang tersebut ke tangan salah satu dari mereka.

"Sama-sama, Bu. Yang sabar, ya, Bu. Insya Allah almarhum husnul khatimah. Beliau orang baik," balas tukang gali kubur itu, menunduk sopan seakan sungkan menatap langsung wajah jelita Laras yang dipenuhi duka.

Gerimis mulai turun, seolah langit akhirnya tak sanggup lagi menahan bebannya. Titik-titik air yang dingin menyentuh wajah Laras. Ia berbalik, memandang nisan kayu itu untuk terakhir kalinya.

Mas, aku membuang duniaku untuk menjadi duniamu. Dan sekarang kamu pergi meninggalkanku di dunia yang asing ini, batin Laras perih. Tapi kamu jangan khawatir, Mas. Kamu sudah meninggalkan dua malaikat untukku. Aku berjanji... demi Tuhan, aku berjanji tidak akan membiarkan mereka kelaparan. Aku akan membesarkan mereka, walau aku harus merangkak di atas pecahan kaca.

Laras menarik napas panjang, membiarkan udara makam yang basah memenuhi paru-parunya. Ia harus menutup babak kehidupannya yang diisi dengan kelembutan, dan bersiap menyambut badai.

Laras meraih tangan Bima di sebelah kirinya, dan menggenggam tangan Sita di sebelah kanannya. Tangan wanita yang dulu selalu dirawat dengan lulur mahal itu kini terasa dingin, namun genggamannya begitu kuat.

"Ayo, kita pulang," ucap Laras tegar.

Sita mendongak, menatap ibunya dengan sisa air mata. "Pulang ke mana, Bu? Ayah kan di sini."

Laras menelan ludah yang terasa seperti duri di tenggorokannya. Ia menunduk menatap putrinya, memaksakan sebuah senyum tipis yang tak mencapai matanya. "Pulang ke rumah kita. Mulai sekarang, rumah kita ada di sini," Laras menyentuh dada Sita, lalu dadanya sendiri. "Ayah selalu ikut kita pulang, Sayang. Di sini."

Dengan langkah gontai namun tak lagi ragu, sang angsa putih itu mulai melangkah keluar dari gerbang pemakaman, menyongsong realita dunia yang siap mencabiknya tanpa ampun. Tiga siluet itu berjalan menembus gerimis sore, meninggalkan pusara yang masih basah, menuju hari esok yang gelap dan tak pasti.

Kisah penderitaan sang janda baru saja dimulai.