Malam larut membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Di rumah kontrakan yang mulai terasa asing tanpa kehadiran Arya, Bima dan Sita akhirnya terlelap di atas kasur tipis di depan televisi yang dibiarkan menyala tanpa suara. Laras duduk bersimpuh di lantai semen yang dilapisi karpet plastik murahan. Di pangkuannya, amplop cokelat berisi lima puluh juta rupiah itu tergeletak diam, seolah menantang Laras untuk memikirkan masa depan.

Lampu neon lima watt yang berkedip-kedip di langit-langit menyorot wajah lelah Laras. Jemarinya yang mulai kasar menyentuh ujung kerudungnya. Dalam keheningan malam yang hanya diisi oleh suara jangkrik dan deru napas anak-anaknya, pikiran Laras tanpa ampun ditarik mundur ke belasan tahun silam. Ke sebuah masa di mana ia hidup bak angsa putih di dalam istana emas yang dingin.

Ingatan itu datang seperti badai, sejelas kilat yang menyambar di malam pengusirannya.

Saat itu usianya baru dua puluh tahun. Laras berdiri gemetar di ruang tamu bergaya klasik yang pilar-pilarnya terbuat dari marmer Italia. Hujan turun dengan sangat lebat di luar, seolah langit sedang menangisi takdirnya. Di hadapannya, Tuan Darmawan—ayahnya, seorang taipan properti yang ditakuti—berdiri dengan wajah memerah karena murka yang tak tertahankan. Urat-urat di leher ayahnya menonjol, sementara ibunya hanya duduk di sofa beludru, menangis terisak tanpa berani menatap mata putrinya.

“Kamu sudah gila, Larasati?! Otakmu sudah dicuci oleh laki-laki miskin itu?!” Suara bariton ayahnya menggelegar, memantul di langit-langit ruangan yang tinggi. “Bapak menyekolahkanmu ke luar negeri bukan untuk pulang dan menjadi istri seorang kuli murahan! Terlebih lagi, kamu menukar imanmu! Kamu menukar Tuhanmu hanya demi laki-laki yang bahkan tidak mampu membelikanmu sepatu yang layak?!”

Laras muda saat itu berdiri tegak, meski lututnya terasa lemas. Ia telah menemukan kedamaian yang tak pernah ia rasakan di rumah mewah yang penuh dengan ambisi dan kebencian ini. Arya telah menunjukkan padanya bahwa cinta bukan tentang angka di rekening bank, dan Tuhan yang baru ia kenal memberinya ketenangan yang tak bisa dibeli dengan miliaran rupiah milik ayahnya.

“Arya bukan kuli, Pak. Dia pria baik yang bertanggung jawab. Dan keputusanku untuk berpindah keyakinan bukan karena Arya semata, tapi karena aku menemukan kebenaran di sana,” jawab Laras dengan suara bergetar namun penuh keyakinan.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi mulus Laras. Sudut bibirnya robek dan mengecap rasa anyir darah. Ibunya menjerit tertahan, namun tak berani melerai. Ayahnya menunjuk ke arah pintu utama dengan telunjuk yang bergetar karena amarah.

“Mulai malam ini, detik ini juga, kamu bukan anakku lagi! Namamu saya coret dari daftar keluarga Darmawan! Pergi kamu dari rumah ini! Bawa pakaian yang menempel di badanmu, dan jangan pernah berharap sepeser pun harta dari keluarga ini! Keluar!!”

Malam itu, dengan pipi yang bengkak dan hati yang hancur karena tak ada pembelaan dari sang ibu, Laras melangkah keluar dari istana emasnya. Derai hujan langsung membasahi tubuhnya, menyamarkan air mata yang akhirnya tumpah. Para petugas keamanan dan asisten rumah tangga hanya bisa menunduk menatap lantai, tak berani menolong sang nona muda.

Namun, ketika Laras melangkah gontai melewati gerbang besi tempa yang menjulang tinggi, ia melihat siluet seorang pria di bawah guyuran hujan lebat. Arya berdiri di sana, tanpa payung, kemejanya basah kuyup melekat di tubuhnya. Pria itu tidak peduli pada hujan, ia hanya peduli pada wanitanya. Arya berlari mendekat, membuka jaket usangnya, dan menutupi tubuh Laras yang menggigil.

“Aku di sini, Ras. Aku di sini. Kita pulang, ya?” bisik Arya malam itu, memeluknya dengan kehangatan yang mengalahkan dinginnya badai.

Laras tersentak dari lamunannya. Suara deru motor yang lewat di depan kontrakannya mengembalikan Laras pada realita yang kejam. Ia tidak lagi berada di pelataran istana keluarganya, dan Arya... Arya tak lagi ada untuk memeluknya saat badai datang.

Kini, ia benar-benar sendirian.

Laras menunduk menatap tangannya sendiri. Tangan yang dulu dihiasi perhiasan berlian, kini bersih tanpa cincin kawin—karena cincin itu pun telah ia jual bulan lalu untuk menutupi biaya pengobatan Arya sebelum meninggal. Ia bisa saja menyerah. Ia tahu persis di mana letak rumah orang tuanya. Ia bisa saja mengesampingkan harga dirinya, datang mengemis, bersujud di kaki ayahnya, dan memohon agar anak-anaknya diselamatkan dari kemiskinan.

Tapi Laras menggeleng kuat-kuat. Menggigit bibir bawahnya hingga terasa sakit.

Tidak, batin Laras tegas. Mas Arya telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk menjagaku. Jika aku kembali pada keluarga yang membuang dan menghinanya, sama saja aku menginjak-injak harga diri dan cinta Mas Arya. Lebih dari itu, ia melihat wajah Bima dan Sita. Laras tak ingin anak-anaknya tumbuh di lingkungan keluarga yang mengukur harga diri manusia dari ketebalan dompet. Ia ingin anak-anaknya tumbuh mewarisi kebaikan hati dan ketegaran Arya.

Laras melipat amplop cokelat itu dan menyimpannya ke dalam lemari bajunya, meletakkannya di bawah tumpukan pakaian paling bawah. Air matanya telah mengering, digantikan oleh sorot mata tajam seorang ibu yang bersiap turun ke medan perang. Uang lima puluh juta ini bukan untuk dihabiskan demi membayar sewa rumah yang mahal atau membeli makan enak bulan ini. Uang ini harus diputar. Laras harus mencari kontrakan yang jauh lebih murah besok pagi, di daerah mana pun asalkan ada atap. Sisa uangnya akan ia jadikan modal usaha.

Ia pernah membuang istana demi cinta, kini ia akan membangun kerajaannya sendiri dari puing-puing penderitaan demi anak-anaknya. Malam itu, di bawah temaram lampu lima watt, Laras mengunci hatinya dari kelemahan. Babak baru hidupnya yang berdarah-darah telah dimulai.