Pagi itu, matahari bersinar terlalu terang, seolah mengejek kegelapan yang tengah merajai hati Laras. Debu-debu keemasan menari di udara saat sinar matahari menembus celah jendela rumah kontrakan yang telah menjadi saksi bisu kebahagiaannya bersama Arya selama sepuluh tahun terakhir. Rumah ini tidak besar, hanya bangunan tipe 36 di sebuah perumahan sederhana, namun di setiap sudutnya, tawa dan keringat Arya tertanam begitu dalam.
Kini, dinding-dinding bercat krem yang mulai mengelupas itu terasa mengimpit dada Laras. Masa sewa rumah ini akan habis tiga hari lagi, dan pemilik rumah sudah menanyakan kelanjutannya semalam. Dengan sisa uang duka lima puluh juta rupiah, memperpanjang sewa rumah ini seharga lima belas juta per tahun adalah sebuah bunuh diri finansial. Laras telah berhitung dengan kejam semalaman; uang itu harus dibagi untuk mencari tempat tinggal yang jauh lebih murah, biaya sekolah Bima dan Sita yang tak boleh putus, makan sehari-hari, dan yang paling krusial: modal usaha.
Laras duduk bersimpuh di tengah ruang tamu yang kini dipenuhi kardus-kardus bekas dari warung depan. Tangannya yang gemetar perlahan melipat kemeja flanel kotak-kotak milik Arya. Aroma sabun cuci yang familiar dan samar-samar wangi tubuh suaminya masih menempel di serat kain itu. Laras memejamkan mata, membenamkan wajahnya ke lipatan kemeja itu, membiarkan air matanya kembali tumpah dalam diam. Ia mengisap aroma itu dalam-dalam, mencoba menyimpan memori tentang Arya sebanyak yang ia bisa sebelum kenyataan merampas semuanya.
"Ibu..."
Suara serak Bima membuat Laras tersentak. Ia buru-buru menyeka sudut matanya dengan punggung tangan dan memasukkan kemeja itu ke dalam kardus paling bawah, menyembunyikannya.
Bima berdiri di ambang pintu kamarnya, memegang sebuah kotak sepatu berisi mainan robot-robotan plastik yang dulu dibelikan ayahnya di pasar malam. Mata anak laki-laki itu sembab, namun rahangnya mengeras, meniru ketegaran yang sering ditunjukkan almarhum ayahnya. Di usianya yang baru dua belas tahun, kepolosan Bima telah dirampas paksa oleh takdir.
"Semua mainan Bima sudah masuk kardus, Bu. Buku-buku sekolah juga sudah. Bima bantu ikat kardus yang di dapur, ya?" tawar anak itu, suaranya terdengar terlalu berat untuk anak seusianya.
Laras menatap putra sulungnya dengan dada bergemuruh. Ia ingin memeluk Bima, mengatakan bahwa ia tidak perlu menjadi dewasa secepat ini, bahwa menangis itu tidak apa-apa. Namun Laras tahu, Bima sedang membangun benteng pertahanannya sendiri.
"Terima kasih, Jagoan Ibu. Hati-hati ya, jangan sampai tanganmu terluka kena tali rafia," jawab Laras lembut, memaksakan seulas senyum yang terasa kaku di wajahnya.
Di sudut lain, terdengar isakan tertahan. Sita duduk meringkuk di atas kasur tipisnya, memeluk sebuah boneka beruang usang yang salah satu matanya sudah hilang. Gadis kecil itu menolak beranjak dari kamarnya.
Laras menghampiri putrinya, duduk di tepi ranjang yang berderit pelan. Ia membelai rambut ikal Sita yang sedikit kusut. "Sita sayang, ayo barang-barangnya dimasukin ke tas. Mas Bima sudah selesai packing-nya."
"Sita nggak mau pindah, Bu..." isak Sita, menenggelamkan wajahnya ke perut boneka beruangnya. "Kalau kita pindah, nanti Ayah nyariin kita gimana? Ayah kan cuma tahu rumah ini. Nanti Ayah tersesat."
Kata-kata polos itu bagai sembilu yang menyayat urat nadi Laras. Udara seakan tersedot habis dari paru-parunya. Laras menarik napas panjang dengan susah payah, menahan agar suaranya tidak ikut bergetar. Ia mengangkat wajah Sita dengan lembut, menatap sepasang mata bulat yang begitu mirip dengan mata Arya.
"Ayah nggak akan tersesat, Sayang. Ayah itu kan sekarang ada di hati Sita, di hati Mas Bima, di hati Ibu. Jadi ke mana pun kita pergi, Ayah pasti ikut. Ayah pasti selalu tahu kita ada di mana," Laras mengusap air mata di pipi tembam putrinya dengan ibu jari. "Kita harus pindah ke rumah yang baru, biar uang peninggalan Ayah bisa Ibu pakai buat jualan. Biar Sita dan Mas Bima tetap bisa sekolah, bisa makan enak. Sita mau kan bantu Ibu?"
Dengan bibir bawah yang masih bergetar, Sita akhirnya mengangguk pelan. Ia mulai memasukkan baju-baju kecilnya ke dalam tas ransel dengan gerakan lambat, sementara air mata masih sesekali menetes di pipinya.
Siang itu, sebuah mobil pikap sewaan yang sudah berkarat di beberapa bagian terparkir di depan rumah. Sang sopir dibantu Bima mengangkut kardus-kardus yang tak seberapa banyak itu ke atas bak. Tidak ada perabotan mewah; hanya sebuah televisi tabung kecil, kasur busa yang sudah menipis, kompor gas satu tungku, dan beberapa alat dapur. Kursi tamu plastik dan lemari kayu yang sudah keropos sengaja Laras tinggalkan, tak layak lagi untuk dibawa.
Setelah semua barang naik ke atas pikap, Laras berdiri sejenak di teras. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah yang kini kosong melompong. Suara gema langkah kakinya sendiri terdengar menyeramkan. Ia mengingat saat pertama kali Arya menggendongnya masuk melewati pintu itu belasan tahun lalu, berjanji akan menjadikannya wanita paling bahagia di dunia. Dan Arya berhasil. Ia sangat bahagia, hingga kehilangannya terasa seperti dicabik dari dalam.
Laras mengunci pintu depan, merasakan dinginnya besi gembok di tangannya. Ia menyerahkan kunci itu kepada Pak RT yang mewakili pemilik rumah.
"Ibu Laras, saya mewakili warga sini mendoakan yang terbaik untuk Ibu dan anak-anak. Semoga di tempat baru nanti rezekinya lebih lancar. Pak Arya itu orang baik, Bu, insya Allah Gusti Allah mboten sare (Tuhan tidak tidur), pasti ada jalan untuk keluarga Ibu," ucap Pak RT dengan nada penuh simpati.
Laras hanya bisa mengangguk pelan, "Terima kasih banyak, Pak. Saya pamit. Maafkan kalau selama kami tinggal di sini ada salah kata atau perbuatan."
Ia berbalik, melangkah naik ke kabin penumpang pikap yang pengap. Bima dan Sita sudah duduk di belakang, di antara kardus-kardus yang ditutupi terpal terpal biru, membiarkan angin panas menerpa wajah mereka. Mesin mobil menderu kasar, menyemburkan asap hitam, dan perlahan bergerak meninggalkan perumahan itu.
Laras menatap ke luar jendela yang kacanya berdebu. Ia tidak menoleh ke belakang lagi. Sisa air matanya telah ia kemas rapat-rapat bersama kenangan Arya di dalam kardus-kardus itu. Hari ini, Larasati sang putri konglomerat benar-benar telah mati. Yang tersisa hanyalah Laras, seorang ibu berhati baja yang siap mencakar takdir demi dua nyawa yang ada di belakang punggungnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar