Tiga hari setelah pusara Arya ditaburi bunga, aroma duka masih mengendap tebal di sudut-sudut rumah kontrakan mereka yang sederhana. Pagi itu, Laras terbangun oleh kebiasaan yang menyayat hati: tangannya meraba sisi ranjang yang kosong dan dingin. Tidak ada dengkur halus Arya. Tidak ada wangi sabun mandi murah bercampur aroma kopi tubruk yang selalu disiapkan pria itu sebelum berangkat kerja. Yang ada hanyalah kesunyian yang menulikan telinga.
Laras memejamkan mata, membiarkan sebutir air mata kembali lolos dari sudut matanya yang sudah membengkak. Ia harus bangkit. Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena separuh napasnya telah direnggut paksa. Hari ini, ia harus mendatangi kantor tempat suaminya mengabdi selama lima belas tahun terakhir. Ada urusan administrasi yang harus diselesaikan, jaminan masa depan yang dulu sering Arya janjikan dengan senyum lelahnya sepulang kerja. “Sabar ya, Ras. Nanti kalau aku pensiun, uangnya kita pakai buat buka warung makan kecil-kecilan. Kamu nggak usah capek-capek lagi ngurus rumah sendirian,” begitu janji Arya yang kini hanya menjadi gema menyakitkan di kepala Laras.
Berbekal map plastik berisi surat kematian dari kelurahan, kartu keluarga, dan buku nikah, Laras melangkah menyusuri lorong gedung kantor BUMN yang megah itu. Udara pendingin ruangan yang menggigit kulitnya terasa sangat kontras dengan keringat dingin yang mengalir di tengkuknya. Sepatu pantofel hitam usangnya berderit pelan di atas lantai marmer yang mengkilap, memantulkan bayangan seorang janda yang tampak rapuh namun berusaha berdiri tegak.
Beberapa pegawai yang berpapasan dengannya menatap dengan pandangan iba, berbisik pelan menyadari siapa wanita berwajah jelita dengan kerudung pudar itu. Laras menundukkan pandangannya, mempercepat langkah menuju ruangan HRD di lantai dua.
Seorang pria paruh baya berkacamata tebal, Pak Hermawan, menyambutnya di balik meja kayu yang dipenuhi tumpukan dokumen. Wajahnya menyiratkan simpati, namun ada ketegangan kaku khas birokrat di garis rahangnya.
"Silakan duduk, Bu Laras. Kami segenap manajemen turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya atas kepergian Pak Arya. Beliau pekerja yang sangat rajin dan jujur," buka Pak Hermawan dengan nada formal yang tertata rapi.
"Terima kasih, Pak," suara Laras terdengar serak, nyaris berbisik. Ia meletakkan map plastik di atas meja dengan tangan sedikit gemetar. "Saya datang untuk mengurus hak-hak almarhum suami saya... dan, mungkin, uang pensiun yang bisa kami gunakan untuk menyambung hidup."
Hening merayap di antara mereka. Laras bisa mendengar detak jarum jam dinding di belakang Pak Hermawan yang seolah berdetak lebih lambat. Pria itu menghela napas panjang, melepas kacamatanya, dan memijat pangkal hidungnya dengan raut wajah serba salah. Gerakan kecil itu seketika mengirimkan sinyal bahaya ke otak Laras. Perutnya melilit.
"Bu Laras...," Pak Hermawan memulai dengan nada berat yang membuat jantung Laras mencelos. "Saya sangat memahami kondisi Ibu saat ini. Namun, ada hal yang harus saya sampaikan terkait status kepegawaian almarhum Pak Arya."
Pak Hermawan membuka sebuah map berisi riwayat kerja Arya. "Pak Arya memang sudah mengabdi selama lima belas tahun. Tetapi, status beliau sejak awal masuk hingga akhir hayatnya adalah tenaga honorer atau pegawai kontrak lepas. Perusahaan kami memiliki regulasi yang sangat ketat dari pusat. Hak pensiun bulanan, jaminan hari tua berkelanjutan... itu semua hanya diberikan kepada pegawai dengan status karyawan tetap atau organik."
Dunia Laras serasa berhenti berputar. Udara di ruangan ber-AC itu tiba-tiba menguap, mencekiknya hingga ia sulit bernapas. "Maksud Bapak... suami saya tidak mendapat uang pensiun?" suaranya bergetar, memburu kepastian yang sebenarnya sudah ia ketahui jawabannya.
"Benar, Bu. Secara hukum ketenagakerjaan yang mengikat kontrak Pak Arya, tidak ada pesangon purna tugas atau uang pensiun bulanan untuk ahli waris." Pak Hermawan menunduk, tak sanggup menatap mata Laras yang perlahan dipenuhi keputusasaan. "Namun, kebijakan internal dari direksi... mengingat dedikasi Pak Arya yang luar biasa... perusahaan memberikan uang santunan duka cita."
Pak Hermawan menarik laci mejanya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapat, lalu menyodorkannya melintasi meja ke hadapan Laras.
"Ini uang belasungkawa dari perusahaan, dicampur dengan hasil patungan sukarela dari rekan-rekan kerja almarhum di seluruh divisi. Jumlahnya lima puluh juta rupiah. Saya tahu ini mungkin tidak sepadan dengan kehilangan Ibu, tapi hanya ini batas maksimal yang bisa kami upayakan secara institusi."
Laras menatap amplop cokelat itu seolah benda itu beracun. Lima puluh juta rupiah. Angka yang tertera di kertas tanda terima itu menari-nari mengejeknya. Bagi Laras di masa lalu—Laras sang putri konglomerat—lima puluh juta hanyalah harga sebuah tas tangan yang ia beli tanpa melihat label harganya. Namun bagi Laras hari ini, sang janda dengan dua anak yang perutnya harus terus diisi, lima puluh juta adalah garis batas antara kehidupan dan kematian.
Uang itu harus cukup untuk seumur hidup. Karena setelah amplop ini habis, tidak akan ada lagi transferan gaji di awal bulan. Tidak akan ada lagi pelindung.
Laras memaksa tangannya yang kaku untuk mengambil pulpen dan menandatangani kuitansi penerimaan. Air matanya menetes, jatuh tepat di atas tanda tangannya, merusak tinta biru itu hingga pudar. Ia mengambil amplop tersebut, mendekapnya di dada seperti memeluk sisa-sisa nyawa suaminya.
"Terima kasih, Pak," ucap Laras lirih. Ia bangkit berdiri, kakinya terasa seperti terbuat dari timah. Ia tidak menangis meraung, ia tidak marah memaki ketidakadilan sistem, karena Laras tahu, kemarahan orang miskin tidak akan pernah mengubah birokrasi.
Sepanjang perjalanan pulang di dalam angkot yang pengap, Laras memeluk tas usangnya erat-erat. Di luar jendela, langit mendung seolah mengejek nasibnya. Di rumah, Bima dan Sita menunggunya dengan perut kosong. Laras menekan bibirnya kuat-kuat hingga pucat. Amplop tipis ini adalah harga dari lima belas tahun keringat dan nyawa suaminya. Laras bersumpah, ia tidak akan membiarkan uang ini habis untuk menangis. Ia akan mengubahnya menjadi darah dan daging untuk anak-anaknya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar