Perjalanan memakan waktu hampir satu jam, menembus kemacetan kota sebelum akhirnya mobil pikap itu berbelok ke sebuah jalan yang jauh lebih sempit. Aspal mulus berganti dengan jalanan tanah bercampur batu kerikil yang berlubang di sana-sini. Sisa genangan hujan semalam membentuk kubangan lumpur berwarna kecokelatan yang memercik ke badan mobil setiap kali roda melintasinya.

Pemandangan di luar jendela berubah drastis. Deretan rumah tertata rapi dengan taman kecil kini digantikan oleh deretan rumah petak yang berdempetan nyaris tanpa jarak. Tembok-temboknya kusam, catnya mengelupas dan ditumbuhi lumut hijau di bagian bawah. Kabel-kabel listrik menjuntai semrawut dari tiang ke tiang seperti sarang laba-laba raksasa. Bau selokan yang mampet bercampur dengan aroma terasi goreng dan asap knalpot menyergap masuk melalui jendela mobil yang terbuka, membuat Sita terbatuk pelan di belakang sana.

"Kita sudah sampai, Bu," kata sopir pikap dengan suara serak, menginjak rem hingga mobil berhenti mendadak.

Laras turun dari kabin. Udara pengap dan panas langsung menampar wajahnya. Ia berada di ujung sebuah gang kecil, Gang Swadaya namanya, yang saking sempitnya hanya bisa dilewati oleh satu sepeda motor secara bergantian. Di kiri kanan gang, ibu-ibu berdaster tampak duduk berkerumun di balai bambu, mencari kutu atau mengupas bawang sambil mendengarkan musik dangdut koplo dari radio transistor yang suaranya pecah.

Kedatangan mobil pikap itu, dan terutama sosok Laras yang turun darinya, seketika menghentikan semua aktivitas di mulut gang. Musik dangdut seolah tak lagi terdengar. Puluhan pasang mata langsung tertuju padanya. Tatapan mereka bagaikan pisau bedah yang membedah penampilan Laras dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Meski mengenakan gamis katun murahan berwarna cokelat pudar dan kerudung bergo instan yang ujungnya sedikit berserabut, Laras terlihat sangat salah tempat. Kulitnya yang bersih, postur tubuhnya yang tegak nan anggun, serta gurat wajah aristokrat dengan hidung mancung dan rahang tegasnya, memancarkan aura 'orang kaya' yang tak bisa dihapus oleh kemiskinan sedrastis apa pun. Ia seperti seekor angsa putih yang terjatuh ke dalam kubangan lumpur; betapapun kotor bulunya, lenggak-lenggoknya tetaplah seekor angsa.

Di antara gerombolan ibu-ibu itu, sepasang mata menatap Laras dengan sorot yang paling tajam. Itu adalah Yu Marni. Wanita berusia akhir tiga puluhan dengan bibir merah menyala, alis digambar tebal, dan daster ketat bermotif macan tutul. Ia adalah 'ratu gosip' di Gang Swadaya. Tatapan Yu Marni seketika memancarkan permusuhan yang instingtif. Ia merasa tahtanya sebagai wanita paling 'menarik' di gang itu mendadak terancam.

Rasa dengki Marni semakin terbakar ketika matanya menangkap sosok suaminya, Bagas. Pria pengangguran yang sehari-hari hanya mabuk dan berjudi itu tengah duduk di pos ronda tak jauh dari situ. Bagas, dengan sarung yang disampirkan di bahu dan sebatang rokok kretek menempel di bibir hitamnya, menatap Laras dengan pandangan tak berkedip. Matanya yang merah menelanjangi sosok Laras dengan cara yang menjijikkan, menelan ludah melihat keanggunan janda baru itu. Marni mendengus kasar, membuang muka, dan meludah ke tanah dengan kasar.

Laras menyadari semua tatapan itu. Jantungnya berdebar cepat, nalurinya sebagai wanita langsung menangkap sinyal bahaya dan permusuhan di udara. Namun ia tak menundukkan kepalanya. Ia menegakkan punggungnya, melangkah tenang ke arah Bima dan Sita, membimbing kedua anaknya turun dari pikap.

"Ayo, turun pelan-pelan," bisik Laras, menggenggam erat tangan Sita yang ketakutan melihat lingkungan baru yang asing dan kasar ini.

Mereka harus mengangkut barang-barang menyusuri gang sejauh lima puluh meter karena pikap tidak bisa masuk. Bima memanggul kardus berisi baju, wajahnya merah menahan beban, namun ia menolak bantuan ibunya. Laras sendiri mengangkat kompor dan peralatan masak, sementara Sita membawa tas ranselnya sendiri.

Rumah kontrakan baru mereka berada di ujung gang. Rumah petak nomor tujuh. Pintunya terbuat dari kayu tripleks yang sudah reyot, dicat hijau lumut yang memudar. Atap asbesnya tampak bergelombang dan berlubang di beberapa bagian. Tidak ada teras, pintu depan langsung berbatasan dengan jalan gang. Di samping pintu, ada selokan kecil yang airnya menghitam dan menggenang.

Laras membuka gembok karatan yang kuncinya sudah diberikan oleh pemilik kontrakan kemarin sore. Pintu berderit nyaring saat didorong terbuka. Hawa panas yang terperangkap di dalam ruangan langsung menyergap. Rumah itu hanya terdiri dari satu ruangan depan yang sempit—yang berfungsi sebagai ruang tamu, ruang keluarga, dan ruang tidur sekaligus—sebuah dapur kecil yang gelap di bagian belakang, dan kamar mandi berukuran satu kali satu meter dengan bak semen yang berlumut.

Sita menempel rapat di kaki ibunya, matanya nanar melihat kecoa mati di sudut ruangan dan sarang laba-laba tebal di langit-langit. "Bu... rumahnya jelek. Bau pesing, Bu. Sita takut," rengeknya, mulai menangis terisak.

Pertahanan Laras nyaris runtuh melihat ketakutan putrinya. Ia menjatuhkan kardus di tangannya, berlutut di lantai semen yang kasar, dan memeluk Sita erat-erat. Ia mencium puncak kepala putrinya berkali-kali.

"Maafkan Ibu, Nak. Maafkan Ibu..." bisik Laras, suaranya bergetar hebat. "Ibu janji, ini cuma sebentar. Rumah ini memang jelek, tapi ini istana kita sekarang. Nanti kita bersihkan sama-sama ya? Ibu sikat lantai kamar mandinya sampai bersih, Mas Bima bantu sapu sarang laba-laba. Nanti malam kita tidur pakai kelambu biar nggak digigit nyamuk. Sita percaya sama Ibu, kan?"

Bima meletakkan kardusnya, lalu berjongkok di samping ibunya. Ia mengelus punggung adiknya dengan canggung. "Sita jangan nangis. Nanti Mas Bima tangkap kecoaknya. Mas Bima yang jagain Sita kalau malam."

Melihat ketegaran putra sulungnya, hati Laras terasa diiris-iris. Ia menelan ludah, menyingkirkan sisa-sisa air mata di sudut matanya. Ia tidak boleh terlihat lemah. Jika ia hancur di sini, anak-anaknya akan ikut hancur.

Sore itu, dihabiskan Laras dengan menyikat kerak lantai, mengepel ruangan berulang kali dengan karbol murahan, dan menata barang-barang mereka yang tak seberapa. Kasur busa digelar di sudut ruangan depan. Saat malam akhirnya turun, suhu udara di dalam rumah petak itu terasa memanggang kulit. Kipas angin kecil peninggalan Arya mendengung pelan, putarannya nyaris tak terasa membawa angin. Suara tangis bayi, teriakan orang bertengkar, dan tawa kasar bapak-bapak yang sedang main gaple di pos ronda terdengar jelas menembus dinding batako yang tipis.

Bima dan Sita akhirnya tertidur karena kelelahan, tubuh kecil mereka berkeringat. Laras duduk bersandar di dinding yang terasa hangat. Ia menatap lekat ke arah pintu tripleks yang sengaja ia kunci ganda dan ia palang dengan meja televisi. Instingnya mengatakan bahwa dunia di luar pintu itu tak bersahabat. Ia merasakan tatapan predator Bagas dan kebencian Yu Marni sejak langkah pertamanya.

Ini adalah medan perang yang sesungguhnya. Di lorong pengap takdir barunya ini, Laras bersumpah pada keheningan malam; ia akan menjadi singa betina yang tak tersentuh. Siapa pun yang berani mengusik anak-anaknya, akan ia hadapi hingga tetes darah terakhir.