Suara ban mobil yang berderit di atas hamparan kerikil tajam halaman rumah Ibu Ratna terdengar seperti melodi pemakaman bagi telinga Laras. Sore itu, langit Jakarta berwarna abu-abu pucat, seolah ikut merasakan beratnya hati Laras saat menatap bangunan dua lantai bergaya kolonial modern di hadapannya. Rumah itu besar, megah, dan sangat bersih—terlalu bersih, sampai-sampai Laras merasa debu dari sepatunya adalah sebuah dosa besar.

"Ayo, Sayang. Kok malah bengong?" suara Raka memecah lamunan Laras.

Raka tersenyum lebar, senyum yang sama yang membuat Laras jatuh cinta tiga tahun lalu. Namun hari ini, senyum itu terasa seperti beban. Raka membuka bagasi mobil, mengeluarkan dua koper besar berwarna marun milik istrinya.

"Kamu yakin kita harus tinggal di sini, Mas?" tanya Laras untuk yang ke-101 kalinya. Suaranya pelan, hampir tenggelam oleh suara deru AC mobil yang belum dimatikan. "Tabunganku cukup kalau kita sewa apartemen kecil dulu di dekat kantor kamu. Kita nggak perlu merepotkan Ibu."

Raka menghela napas, meletakkan koper di tanah, lalu menggenggam jemari Laras. "Laras, kita sudah bahas ini. Rumah kita yang di BSD baru akan serah terima delapan bulan lagi. Uang sewa apartemen itu bisa kita simpan buat cicilan furnitur nanti. Lagi pula, Ibu itu sendirian. Dia butuh teman. Kamu menantu kesayangannya, kan?"

Menantu kesayangan. Laras ingin tertawa getir mendengarnya. Sejak pernikahan mereka tiga bulan lalu, Ibu Ratna lebih sering mengirimkan pesan WhatsApp berisi link artikel tentang "Cara Menjadi Istri yang Penurut" daripada menanyakan kabarnya.

Belum sempat Laras menjawab, pintu jati besar di depan mereka terbuka. Ibu Ratna berdiri di sana. Beliau mengenakan daster sutra bermotif bunga yang tampak lebih mahal dari gaun pesta Laras. Rambutnya disanggul rapi meski hari sudah sore, dan aroma karbol bercampur parfum melati langsung menyeruak keluar.

"Raka! Anak kesayangan Ibu sudah datang!" seru Ibu Ratna, mengabaikan Laras sepenuhnya. Beliau langsung menghambur memeluk Raka, menciumi pipi anaknya berkali-kali seolah Raka baru pulang dari medan perang, bukan dari kantor yang jaraknya hanya sepuluh kilometer.

"Bu, Laras juga datang nih," Raka sedikit melepaskan pelukan ibunya, mencoba memberi ruang bagi istrinya.

Ibu Ratna mengalihkan pandangan. Matanya menyapu penampilan Laras dari ujung kepala hingga ujung kaki. Laras mengenakan kemeja linen yang sedikit kusut karena seharian bekerja dan celana kulot.

"Oh, Laras. Iya, masuk. Tapi tolong, sepatunya ditaruh di rak luar ya. Ibu baru saja panggil orang untuk poles lantai marmer ini kemarin. Ibu nggak mau ada goresan sedikit pun," ucap Ibu Ratna dengan nada datar yang dibuat-buat sopan.

"Baik, Bu," jawab Laras singkat. Ia melepas sepatunya, merasa kedinginan saat telapak kakinya menyentuh lantai marmer yang sedingin es itu.


Wilayah Kekuasaan

Laras menarik kopernya masuk ke dalam. Rumah itu terasa asing. Hampir setiap sudut dihiasi dengan foto Raka. Raka saat wisuda, Raka saat memenangkan lomba renang saat SD, Raka saat bayi tanpa busana. Foto Laras dan Raka saat pernikahan hanya ada satu, itu pun diletakkan di sudut meja kecil di dekat kamar mandi tamu.

"Raka, kamu pasti capek. Ibu sudah masakan rendang kesukaan kamu. Spesial. Tanpa santan kental, supaya kolesterol kamu nggak naik. Ibu tahu di luar sana kamu pasti makannya sembarangan," ujar Ibu Ratna sambil menuntun Raka menuju ruang makan.

Laras mengikuti dari belakang seperti asisten pribadi yang tidak dianggap. Saat mereka sampai di meja makan, aroma rempah yang kuat menyambut. Meja itu penuh dengan makanan.

"Duduk, Mas. Aku ambilkan piringnya ya," ucap Laras secara refleks sebagai seorang istri.

Namun, sebelum tangan Laras menyentuh piring porselen putih itu, tangan Ibu Ratna lebih cepat menyambarnya.

"Eh, biar Ibu saja, Laras. Ibu sudah tahu porsi Raka seberapa. Raka itu kalau nasinya kebanyakan sedikit saja, dia langsung begah. Kamu kan belum hafal betul kebiasaan suami kamu," sela Ibu Ratna dengan senyum manis yang tidak sampai ke mata.

Laras menarik tangannya kembali. Ia duduk di kursi sebelah Raka, merasa seperti orang asing yang numpang makan.

"Laras, kamu nggak makan?" tanya Raka sambil menyuap rendang itu dengan lahap. "Enak banget, Bu! Masakan Ibu emang nggak ada tandingannya."

"Iya, Nak. Ibu kan masak pakai hati. Bukan kayak orang zaman sekarang yang masak cuma pakai bumbu instan atau pesan lewat aplikasi," sindir Ibu Ratna sambil melirik ponsel Laras yang diletakkan di atas meja.

Laras mencoba tersenyum. "Saya juga belajar masak kok, Bu. Nanti kapan-kapan saya masakkan pasta kesukaan Mas Raka."

Ibu Ratna tertawa kecil, suara tawa yang terdengar seperti gesekan amplas. "Pasta? Aduh, Raka itu lidahnya lidah Jawa tulen, Laras. Dia kalau nggak makan nasi dan lauk yang bumbunya meresap sampai ke tulang, dia nggak akan kenyang. Lagipula, Masakan Barat itu kan cuma buat gaya-gayaan. Nutrisinya nggak ada."

Laras menelan ludah. Baru sepuluh menit di rumah ini, dan ia sudah merasa oksigen di sekitarnya menipis.


Ritual Malam

Setelah makan malam yang penuh dengan wejangan tentang cara mengurus laki-laki, Laras berharap bisa segera istirahat di kamar mereka. Ia ingin membongkar koper dan menata bajunya agar merasa sedikit lebih "memiliki" tempat itu.

Kamar Raka terletak di lantai atas. Kamar itu luas, dengan balkon yang menghadap ke taman belakang. Namun, saat Laras membuka pintu kamar, ia tertegun. Di atas tempat tidur, sudah ada dua tumpuk seprai baru yang motifnya sangat... kekanak-kanakan untuk pasangan suami istri.

"Lho, kopermu kok belum dibuka?" tanya Raka yang baru masuk setelah selesai mengobrol dengan ibunya di bawah.

"Mas, Ibu tadi ke sini ya?" tanya Laras menunjuk seprai itu.

"Oh iya, Ibu bilang dia baru ganti seprainya pakai yang bahan katun Jepang. Katanya supaya aku nggak gerah kalau tidur," jawab Raka santai sambil melepas jam tangannya.

"Tapi Mas, aku sudah bawa seprai sendiri yang kita beli waktu honeymoon kemarin. Aku lebih nyaman pakai itu," protes Laras pelan.

"Yah, masa mau diganti lagi? Kasihan Ibu sudah capek-capek pasang. Sudahlah, cuma seprai ini. Jangan dibuat ribet," Raka merebahkan tubuhnya di kasur, langsung memejamkan mata.

Laras berdiri mematung di samping kopernya yang masih tertutup rapat. Ia merasa kamar ini bukan miliknya dan Raka. Ini adalah kamar Raka dan "bayangan" ibunya. Laras mulai membuka kopernya, mencoba mencari tempat untuk menaruh pakaian-pakaian kantornya di dalam lemari besar yang sudah penuh dengan baju-baju Raka yang disetrika sangat licin.

Tiba-tiba, pintu kamar diketuk. Belum sempat Laras menjawab, pintu sudah terbuka separuh. Ibu Ratna muncul membawa segelas susu hangat.

"Raka, ini susunya. Minum dulu supaya tidurmu nyenyak," ucap Ibu Ratna. Beliau masuk tanpa permisi, berjalan melewati Laras yang sedang memegang tumpukan pakaian dalam, lalu duduk di pinggir tempat tidur Raka.

Raka bangun dengan malas. "Makasih, Bu."

Ibu Ratna membelai rambut Raka dengan sayang. "Anak pintar. Oh ya, Laras, Ibu lihat bajumu banyak yang bahannya sutra dan brokat ya? Nanti kalau mencuci, jangan dicampur sama baju Raka. Terus, jangan pakai mesin cuci. Ibu nggak suka suara berisik mesin cuci pagi-pagi. Semuanya dikucek pakai tangan saja supaya awet."

Laras terbelalak. "Semuanya, Bu? Tapi saya harus berangkat kantor jam tujuh pagi."

Ibu Ratna berdiri, menatap Laras dengan pandangan menghakimi. "Ya kalau begitu, bangunnya jam empat pagi, Laras. Ibu dulu waktu muda, sebelum suami Ibu bangun, semua urusan rumah sudah beres. Masakan sudah siap, baju sudah wangi. Itu gunanya jadi istri. Karier itu nomor dua, keluarga itu nomor satu. Kamu mengerti kan?"

Laras melirik Raka, berharap suaminya akan membela atau setidaknya memberi keringanan. Tapi Raka hanya menguap dan kembali menarik selimutnya.

"Iya, Bu. Nanti Laras usahakan," kata Raka pelan dengan mata terpejam.

Ibu Ratna tersenyum puas. Sebelum keluar, beliau melirik koper Laras yang masih terbuka di lantai. "Oh satu lagi, Laras. Koper itu jangan ditaruh di situ ya. Menghalangi jalan. Taruh di gudang bawah kalau sudah selesai. Ibu nggak suka rumah kelihatan berantakan."

Klik.

Pintu tertutup. Laras terduduk di lantai, di samping koper terakhirnya. Air matanya hampir jatuh, tapi ia menahannya kuat-kuat. Ia menatap Raka yang sudah mendengkur halus. Di rumah ini, di balik kemegahannya, Laras menyadari bahwa ia baru saja memasuki sebuah penjara tanpa jeruji, di mana sipirnya adalah seorang wanita yang merasa paling tahu segalanya tentang suaminya, dan suaminya adalah seorang tawanan yang terlalu nyaman untuk dibebaskan.

Besok adalah hari pertama perang dingin dimulai. Dan medan tempurnya adalah dapur.