​Sabtu pagi seharusnya menjadi titik balik bagi Laras. Ia sudah berdandan rapi, mengenakan blus berwarna cerah untuk menaikkan suasana hatinya. Hari ini adalah jadwal pertemuan pertama mereka dengan psikolog pernikahan. Raka, meski dengan wajah enggan, akhirnya setuju setelah Laras mengancam akan tidur di hotel selama seminggu.

​"Mas, ayo. Kita sudah telat sepuluh menit," panggil Laras sambil memperbaiki riasannya di cermin kamar.

​Raka sedang memakai sepatu di tepi ranjang. "Ras, apa nggak bisa minggu depan saja? Aku merasa agak nggak enak hati meninggalkan Ibu sendirian hari ini. Dia bilang semalam dadanya sedikit sesak."

​Laras menghentikan aktivitasnya, berbalik, dan menatap suaminya tajam. "Mas, Ibu sesak napas setiap kali kita mau melakukan sesuatu berdua. Kemarin waktu kita mau nonton bioskop, Ibu mendadak pusing. Waktu kita mau makan malam di luar, Ibu tiba-tiba asam lambung. Kamu nggak lihat polanya?"

​"Laras, jangan suudzon. Ibu sudah tua!" Raka berdiri, suaranya agak meninggi.

​Tepat saat Raka akan meraih kunci mobil, sebuah suara dentuman keras terdengar dari arah tangga, diikuti teriakan melengking yang menyayat hati.

​"ADUHHH! RAKAAA! TOLONG IBUMU, NAK!"

​Raka langsung pucat. Ia berlari keluar kamar secepat kilat. Laras mematung sejenak, menghela napas panjang dengan rasa frustrasi yang membuncah, lalu mengikuti langkah suaminya.

​Di tengah tangga, Ibu Ratna tergeletak dengan posisi miring. Beliau memegangi pergelangan kakinya, wajahnya meringis kesakitan dengan air mata yang mulai mengalir—sangat tepat waktu.

​"Ibu! Ibu kenapa?" Raka berlutut, menyangga kepala ibunya dengan panik.

​"Ibu... Ibu tadi mau bawakan kalian bekal buah buat di jalan... tapi kaki Ibu lemas, Nak... Aduh... sakit sekali..." rintih Ibu Ratna. Beliau melirik ke arah Laras yang berdiri di atas tangga dengan tatapan datar. "Maaf ya Laras... Ibu jadi merepotkan... Kalian pergi saja ke dokter jiwa itu... Ibu biar di sini sendiri saja sampai pingsan..."

​"Nggak! Kita nggak akan pergi!" seru Raka panik. Ia menoleh ke arah Laras. "Ras! Batalkan janjinya! Kita harus bawa Ibu ke rumah sakit sekarang!"

​Laras melihat ke arah kaki Ibu Ratna. Tidak ada memar, tidak ada posisi tulang yang janggal. Bahkan, daster sutranya masih tertata cukup rapi untuk seseorang yang baru saja "terguling" di tangga.

​"Mas, biar aku telepon ambulans saja kalau emang parah. Kita tetap bisa pergi sebentar, cuma satu jam," ujar Laras mencoba tetap tenang.

​"KAMU TEGA BANGET SIH, LARAS!" bentak Raka. "Ini Ibuku! Dia jatuh! Mana hati nurani kamu?"

​Ibu Ratna menyembunyikan senyum tipis di balik bahu Raka saat suaminya membopong sang ibu kembali ke kamar. Laras berdiri sendirian di tangga, memegang ponselnya yang bergetar—sebuah notifikasi dari klinik: "Dokter sudah menunggu." Laras mematikan ponselnya. Hari ini, ia kalah lagi oleh drama pemenang Oscar sang mertua.

​Laci yang Tidak Lagi Rahasia

​Sore harinya, rumah itu berubah menjadi "RS Darurat Ratna". Raka sibuk memijat kaki ibunya, membelikan obat, dan menyuapi makan siang. Laras memilih untuk mengurung diri di kamar, merasa muak dengan sandiwara itu.

​Iseng, Laras ingin mengecek paspornya. Ia berencana mengambil cuti panjang dan pergi ke rumah orang tuanya di Surabaya untuk menenangkan diri. Ia membuka laci meja rias tempat ia menyimpan dokumen penting.

​Laci itu terkunci. Laras mengambil kunci dari dalam tasnya. Namun, saat kunci diputar... kosong.

​Laci itu sudah terbuka, tapi isinya berantakan. Paspornya tidak ada di tempat semula. Dokumen kontrak kerjanya pun berpindah posisi. Laras membongkar seluruh isi laci dengan panik. Di sudut paling belakang, ia menemukan sebuah benda asing: sebuah gantungan kunci kecil dengan belasan kunci cadangan yang diberi label tulisan tangan yang sangat ia kenali.

​"Laci Meja Laras", "Lemari Baju", "Kotak Perhiasan".

​Darah Laras mendidih. Ibu Ratna bukan hanya masuk ke kamarnya, tapi beliau memiliki akses duplikat ke seluruh rahasia pribadinya. Saat ia hendak keluar kamar untuk melabrak, pintu kamarnya terbuka. Raka masuk dengan wajah lelah.

​"Mas, lihat ini!" Laras menunjukkan rentengan kunci itu. "Ibumu menduplikat semua kunci laci kita! Dia mencuri pasporku, Mas!"

​Raka mengucek matanya. "Ibu nggak mencuri, Ras. Tadi Ibu cuma mengamankan paspor kamu ke brankas bawah. Katanya takut hilang karena kamu teledor taruh barang. Soal kunci... Ibu cuma mau jaga-jaga kalau ada keadaan darurat, kayak tadi pagi."

​"Darurat? Keadaan darurat macam apa yang mengharuskan mertua membuka kotak perhiasan menantunya?" suara Laras bergetar karena amarah.

​"Sudahlah, Ras. Aku lagi pusing. Tadi Siska telepon, dia nangis-nangis."

​Panggilan dari Masa Lalu

​Laras terdiam. "Siska? Ngapain dia telepon kamu?"

​"Dia... dia lagi sakit tipes di apartemennya. Dia sendirian di Jakarta, orang tuanya di daerah. Ibu dengar tadi waktu aku angkat telepon, terus Ibu nyuruh aku buat jemput Siska dan bawa dia ke sini supaya bisa dirawat bareng Ibu."

​Laras merasa seolah kepalanya dihantam batu besar. "Kamu bercanda, kan? Kamu mau bawa mantan pacar kamu tinggal di sini? Di rumah yang juga ada aku, istrinya?"

​"Cuma sampai dia sembuh, Ras! Kasihan, dia nggak ada yang urus. Ibu juga bilang ini kesempatan buat kamu belajar dari Siska gimana cara mengurus rumah yang benar sambil kita rawat dia. Ibu bilang, 'Hitung-hitung cari pahala'," Raka menjelaskan dengan nada tanpa dosa, seolah itu adalah kegiatan amal biasa.

​"Kalau kamu jemput dia dan bawa dia ke rumah ini, jangan harap kamu bakal lihat aku lagi di kamar ini, Mas," ancam Laras, suaranya kini dingin dan rendah.

​Raka mendesah keras, mengambil kunci mobilnya lagi. "Kamu egois banget, Laras. Cemburu sama orang sakit. Aku pergi dulu, Ibu sudah nunggu di bawah."

​Laras mendengar suara mobil Raka menjauh. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan di pintunya. Bukan ketukan lembut, tapi ketukan yang penuh kemenangan.

​"Laras... sudah dengar kan? Siska mau datang. Ibu sudah siapkan kamar tamu di sebelah kamar kalian. Tolong ya, nanti kamu ganti seprainya. Ibu nggak bisa, kaki Ibu kan lagi 'sakit'," suara Ibu Ratna terdengar dari balik pintu, penuh dengan nada mengejek.

​Laras menatap rentengan kunci di tangannya. Ia tidak menangis kali ini. Ia mengambil ponselnya, menghubungi Dina lagi.

​"Din, siapkan surat gugatan. Aku nggak mau nunggu delapan bulan lagi. Aku mau keluar dari neraka ini sekarang."