Laras tersentak. Suara dentuman logam yang beradu dengan marmer terdengar seperti ledakan granat di telinganya. Ia segera meraba nakas, mencari ponselnya dengan mata setengah terpejam.
05:15.
"Mati aku!" gumam Laras panik. Ia teringat ancaman Ibu Ratna semalam tentang ritual pagi. Dengan gerakan secepat kilat, ia menyambar ikat rambut, mencuci muka sekadarnya, dan berlari menuruni tangga tanpa sempat menyisir rambutnya yang berantakan.
Di lantai bawah, pemandangan yang menyambutnya jauh lebih mengerikan daripada yang ia bayangkan. Dapur itu sudah terang benderang. Aroma minyak panas, bawang goreng, dan kopi tubruk sudah memenuhi udara. Ibu Ratna berdiri di sana, mengenakan celemek bunga-bunga yang disetrika licin, tampak segar seolah beliau sudah bangun sejak tengah malam.
"Baru bangun, Laras?" suara Ibu Ratna memotong udara, dingin dan tajam tanpa perlu menoleh. "Ibu kira kamu pingsan di atas. Raka itu jam enam sudah harus mandi, dan jam setengah tujuh dia sudah harus sarapan. Kalau nunggu kamu, suami kamu bisa pingsan di jalan karena kelaparan."
"Maaf, Bu. Saya tadi malam kurang tidur karena beresin koper," Laras mencoba membela diri sambil mendekat ke meja konter dapur yang penuh dengan potongan sayuran. "Biar saya lanjutkan, Bu. Ibu istirahat saja."
Ibu Ratna meletakkan sutilnya dengan dentingan keras. Beliau berbalik, menatap Laras dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapannya tertuju pada rambut Laras yang mencuat ke sana kemari.
"Masak itu pakai etika, Laras. Rambut itu dirapikan, pakai celemek. Kamu mau rambut kamu jatuh ke piring Raka? Itu namanya jorok," ucap Ibu Ratna sinis. "Sudah, kamu potong-potong saja wortel ini. Tapi ingat, potongannya harus dadu kecil-kecil yang presisi. Raka nggak suka wortel yang kegedean, katanya kayak makan kayu."
Laras mengangguk patuh. Ia mengambil pisau, mencoba fokus meski nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Namun, setiap gerakan Laras seolah-olah dipantau oleh mikroskop.
"Salah itu caranya! Pisau itu miring sedikit, biar potongannya cantik. Kamu ini di rumah orang tua nggak diajarin masak, ya?"
Laras menarik napas panjang. Sabar, Laras. Ini baru hari pertama. "Diajarin kok, Bu. Tapi mungkin tekniknya beda."
Insiden Wadah Bumbu
Laras sedang menyiapkan bumbu untuk nasi goreng spesial yang ia rencanakan untuk mengambil hati Raka pagi ini. Ia ingin membuktikan bahwa ia juga bisa mengurus suaminya. Saat Ibu Ratna pergi sebentar ke belakang untuk mengambil jemuran, Laras dengan cepat menumis bumbu halus.
Ia mencari wadah garam. Ada dua wadah keramik putih identik di atas rak. Biasanya, di rumah ibunya, wadah yang lebih besar adalah garam. Laras mengambil satu sendok penuh dan menaburkannya ke dalam nasi yang sedang ia aduk.
Tiba-tiba, Ibu Ratna kembali dengan langkah cepat. "Laras! Kamu pakai wadah yang mana?!"
Laras terkejut. "Yang ini, Bu. Yang kanan."
Ibu Ratna memekik pelan, sebuah reaksi yang menurut Laras terlalu dilebih-lebihkan. "Itu gula, Laras! Kamu mau kasih Raka nasi goreng kolak?! Ya ampun, kamu ini bener-bener nggak bisa bedain mana garam mana gula? Di rumah ini, garam itu di wadah yang sebelah kiri. Sudah Ibu bilang kan, semuanya ada aturannya!"
"Tapi Bu, saya baru mau cicipi—"
"Nggak perlu dicicipi! Sudah rusak ini rasanya!" Ibu Ratna langsung menyambar wajan itu, mengangkatnya dengan kasar, dan menuangkan seluruh isinya ke tempat sampah di bawah wastafel. Prang!
Laras terpaku. Jantungnya berdegup kencang. Ia menatap nasi goreng yang ia buat dengan susah payah kini tercampur dengan sampah sisa sayuran.
"Mubazir, Bu... itu bisa diperbaiki kalau ditambah sedikit garam," suara Laras bergetar, menahan tangis.
"Di rumah ini tidak ada kata 'diperbaiki' untuk urusan perut Raka. Harus sempurna dari awal. Sudah, kamu minggir! Biar Ibu yang buat bubur ayam saja. Itu lebih aman daripada masakan kamu yang nggak jelas."
Penghakiman di Meja Makan
Tepat jam setengah tujuh, Raka turun dengan kemeja biru muda yang sudah disiapkan ibunya semalam. Ia tampak segar dan wangi.
"Wah, baunya enak banget! Masak apa hari ini?" tanya Raka sambil menarik kursi.
"Ibu buatkan bubur ayam spesial buat kamu, Nak. Tadi Laras coba masak nasi goreng, tapi... ya, begitulah. Masih harus banyak belajar bedain bumbu," ujar Ibu Ratna sambil menuangkan bubur ke piring Raka dengan gerakan anggun.
Raka menoleh ke arah Laras yang duduk diam dengan wajah pucat. "Lho, kamu masak apa tadi, Ras? Kok nggak jadi?"
"Tadi... salah bumbu sedikit, Mas," jawab Laras pendek. Ia berharap Raka akan berkata, "Nggak apa-apa, besok coba lagi," tapi harapan itu pupus seketika.
"Yah, kamu gimana sih, Ras? Kan sudah ada Ibu, tanya dong kalau nggak tahu. Jangan asal masukin bumbu. Aku kan sensitif perutnya kalau bumbunya nggak pas," ucap Raka sambil menyuap bubur buatan ibunya. "Hmm, ini baru bubur! Gurihnya pas. Makasih ya, Bu."
Ibu Ratna tersenyum kemenangan. Beliau melirik Laras yang hanya mengaduk-aduk nasi putih di piringnya sendiri tanpa nafsu makan.
"Oh ya Raka, tadi Ibu lihat Laras naruh koper masih di lorong bawah. Ibu sudah bilang kan, rumah ini harus rapi. Nanti kalau Ibu jalan terus kesandung gimana? Kamu tahu sendiri kan kaki Ibu sering linu kalau kena benturan," lapor Ibu Ratna, memulai sesi pengaduan pagi.
Raka menghentikan suapannya sejenak, menatap Laras dengan dahi berkerut. "Ras, kan semalam aku sudah bilang, beresin kopernya. Jangan bikin Ibu susah. Kasihan Ibu kalau harus mindahin koper kamu yang berat itu."
Laras meletakkan sendoknya. Suaranya terdengar serak. "Aku tadi pagi fokus mau masak buat kamu, Mas. Makanya belum sempat mindahin koper."
"Masak kan bisa nanti. Yang penting rumah rapi dulu. Ibu itu perfeksionis, kamu harusnya paham," balas Raka seolah itu adalah hukum alam yang tidak bisa diganggu gugat.
Pujian Sang Mantan
Suasana makin gerah ketika Ibu Ratna tiba-tiba teringat sesuatu.
"Tadi malam Siska WhatsApp Ibu," ucap Ibu Ratna tiba-tiba.
Raka tersedak sedikit. "Siska? Ngapain, Bu?"
"Dia nanya kabar kamu. Katanya dia baru saja menang lomba masak tingkat provinsi. Hebat ya anak itu, sudah cantik, sukses, pinter masak lagi. Ibu masih ingat dulu dia sering bawain kamu bekal rendang paru. Kamu sampai nambah tiga kali kan kalau dia yang masak?" Ibu Ratna bercerita dengan mata berbinar-binar, seolah sedang menceritakan pahlawan nasional.
Laras merasa dadanya sesak. Membicarakan mantan pacar di depan istri sah di meja makan adalah level cringy yang tidak pernah ia bayangkan akan ia alami.
"Iya, Siska memang jago masak sih," jawab Raka santai, seolah tidak peduli dengan perasaan Laras yang duduk tepat di depannya.
"Nah, makanya Laras, kamu harus sering-sering tanya tips ke Ibu. Atau kalau perlu, Ibu kasih nomor Siska biar kamu bisa belajar gimana caranya bikin Raka betah di rumah," tambah Ibu Ratna dengan tawa kecil yang terdengar sangat merendahkan.
Laras bangkit dari kursinya. "Saya sudah selesai. Saya berangkat kantor dulu."
"Lho, sarapannya belum habis?" tanya Raka.
"Aku kenyang, Mas. Kenyang banget sama bumbunya," jawab Laras sinis yang sayangnya tidak ditangkap oleh Raka.
Laras menyambar tasnya dan berlari keluar. Di teras, ia sempat melihat Ibu Ratna sedang mengelap meja yang sebenarnya sudah sangat bersih dengan wajah penuh kepuasan. Laras masuk ke mobil, menutup pintu dengan keras, dan akhirnya air mata yang ia tahan sejak tadi luruh juga.
Ia menyadari satu hal: Dapur ini bukan hanya tempat memasak. Dapur ini adalah medan perang untuk menentukan siapa yang paling dicintai oleh Raka. Dan saat ini, Laras merasa ia bahkan tidak memiliki satu inci pun wilayah di sana.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar