Pagi itu, suasana rumah terasa lebih mencekam daripada biasanya. Laras terbangun dengan perasaan hampa. Raka sudah tidak ada di sampingnya; suaminya itu pasti sudah turun lebih awal untuk mendapatkan "jatah" perhatian dari ibunya di meja sarapan.
Saat Laras bersiap-siap untuk berangkat kantor, ia menyadari ponselnya yang ia cas di meja rias semalam posisinya sedikit miring. Laras adalah orang yang rapi—ia selalu meletakkan ponsel sejajar dengan garis meja. Dengan perasaan curiga, ia membuka ponselnya.
Tidak ada pesan yang dihapus, tidak ada galeri yang terbuka. Namun, saat ia mengecek penggunaan baterai di pengaturan, ada sebuah aplikasi asing bernama “FamilyGuard” yang aktif di latar belakang.
Laras mematung. Itu adalah aplikasi pelacak lokasi yang biasanya digunakan orang tua untuk memantau anak balita mereka.
"Mas Raka..." bisik Laras tak percaya.
Ia segera turun ke bawah dengan langkah lebar. Di ruang makan, Raka sedang asyik menyeruput teh hijau buatan ibunya sambil membaca koran digital.
"Mas, bisa kita bicara sebentar? Berdua saja," ucap Laras, menekankan kata 'berdua'.
Ibu Ratna, yang sedang sibuk mengelap vas bunga di dekat sana, langsung menoleh. "Bicara apa sih, Laras? Pagi-pagi kok wajahnya sudah ditekuk begitu. Nanti rezeki Raka seret lho kalau istrinya cemberut terus."
Laras mengabaikan mertuanya. Ia menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Raka. "Aplikasi apa ini, Mas? Kenapa ada pelacak lokasi di ponselku?"
Raka tampak gagap sejenak. Ia melirik ibunya, lalu kembali menatap Laras dengan senyum canggung. "Oh, itu... itu buat keamanan kamu, Sayang. Jakarta kan rawan. Ibu yang kasih tahu, katanya sekarang banyak modus kejahatan. Kalau aku tahu kamu di mana, aku jadi tenang."
"Keamanan atau pengawasan, Mas?" suara Laras meninggi. "Aku ini istri kamu, bukan tahanan kota! Kamu bahkan nggak izin dulu sama aku!"
"Lho, Laras," Ibu Ratna menyela sambil berjalan mendekat, masih memegang kain lapnya. "Ibu yang suruh Raka pasang itu. Ibu sering dengar cerita, istri-istri zaman sekarang itu pamitnya ke kantor, eh ternyata malah mampir ke kafe sama laki-laki lain. Ibu cuma mau jagain nama baik keluarga kita."
Laras berbalik menatap Ibu Ratna dengan tajam. "Nama baik keluarga? Atau Ibu cuma mau tahu setiap jengkel langkah saya supaya bisa Ibu atur?"
"Laras! Jaga bicara kamu!" bentak Raka sambil berdiri. "Ibu cuma perhatian! Kamu kenapa sih selalu menganggap Ibu itu jahat? Ibu itu sayang sama kita!"
Laras tertawa getir. "Sayang? Mas, kamu sadar nggak sih? Kamu sudah jadi mata-mata ibumu sendiri!"
Arisan di Ruang Tamu
Laras memutuskan untuk pulang lebih sore hari itu karena ada pekerjaan tambahan. Ia berharap rumah sudah sepi saat ia sampai. Namun, saat ia membuka pintu depan, ia disambut oleh suara tawa ibu-ibu yang melengking.
Di ruang tamu, ada sekitar sepuluh orang ibu-ibu mengenakan seragam pengajian berwarna hijau toska. Ibu Ratna duduk di tengah, tampak seperti ratu di singgasananya.
"Nah, ini dia menantu saya baru pulang," ucap Ibu Ratna dengan suara keras yang dibuat-buat ramah.
Laras terpaksa tersenyum tipis dan menyalami ibu-ibu itu satu per satu. Ia ingin segera lari ke atas, tapi tangan Ibu Ratna menahan lengannya.
"Laras, kebetulan sekali. Kami tadi sedang bahas soal ketaatan istri. Jeng asri ini anaknya baru saja cerai karena istrinya terlalu dominan dan sering membangkang sama mertua. Kasihan ya?" ucap Ibu Ratna sambil melirik teman-temannya yang langsung mengangguk-angguk setuju.
"Iya, Jeng Laras," sahut salah satu ibu dengan nada menggurui. "Surga istri itu ada di bawah telapak kaki suami, dan suami itu harus hormat pada ibunya. Jadi, kalau mau rumah tangga barokah, jangan pernah membantah mertua. Mertua itu orang tua sendiri."
Laras merasa seperti sedang diadili di tengah alun-alun. Ini bukan sekadar arisan; ini adalah sesi "pencucian otak" publik yang disiapkan Ibu Ratna.
"Terima kasih nasihatnya, Bu. Tapi saya rasa urusan rumah tangga saya cukup saya bahas dengan Mas Raka saja," jawab Laras sopan namun tegas.
Ibu Ratna mendesah dramatis. "Tuh, dengar sendiri kan Jeng? Baru dikasih tahu sedikit saja jawabnya sudah begitu. Ibu pusing, Jeng, tiap hari harus elus dada."
Laras melepaskan pegangan tangan Ibu Ratna dan berjalan cepat menuju tangga. Ia bisa mendengar bisikan-bisikan di belakangnya: "Kasihan ya Bu Ratna, dapat menantu yang keras kepala begitu."
Sekutu Tak Terduga
Malam itu, di dalam kamar, Laras tidak lagi menangis. Rasa sedihnya telah berubah menjadi dingin yang membeku. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencari sebuah nama di kontak: Dina.
Dina adalah teman kuliahnya yang kini bekerja di sebuah firma hukum khusus masalah keluarga.
"Din, bisa kita ketemu besok makan siang? Aku butuh bantuan hukum. Bukan, aku belum mau cerai... aku cuma mau tahu hak-hakku kalau aku dipaksa tinggal di rumah yang privasinya nol," ketik Laras dalam pesan singkatnya.
Saat ia sedang mengetik, pintu kamar terbuka. Raka masuk membawa segelas susu—ritual yang kini menjadi pemandangan paling menyebalkan bagi Laras.
"Laras, Ibu tadi sedih banget kamu jutek sama teman-temannya. Kamu harusnya—"
"Mas," potong Laras tanpa menoleh dari ponselnya. "Besok aku mau kita pergi ke psikolog pernikahan."
Raka tertegun di ambang pintu. "Psikolog? Buat apa? Kita nggak gila, Ras."
"Kita nggak gila, tapi pernikahan kita sakit, Mas. Dan penyebabnya ada di lantai bawah," Laras menatap Raka dengan tatapan yang sangat datar. "Kalau kamu nggak mau ikut, aku akan anggap ini sebagai tanda bahwa kamu lebih memilih menjadi anak mami daripada menjadi suamiku."
Raka terdiam, gelas susu di tangannya bergetar sedikit. Di luar kamar, di balik pintu yang sedikit terbuka, Laras bisa melihat bayangan seseorang yang berdiri diam, mendengarkan setiap kata yang mereka ucapkan.
Itu adalah bayangan Ibu Ratna.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar