Siang itu, Laras sengaja pulang kantor dua jam lebih awal. Ia sudah menyusun rencana di kepalanya: ia akan mampir ke pasar swalayan, membeli bahan-bahan premium, dan memasak makan malam sebelum Ibu Ratna sempat menyentuh kompor. Ia ingin membuktikan bahwa tanpa intervensi, ia adalah koki yang hebat di dapurnya sendiri.

Namun, saat kakinya melangkah masuk ke ruang tengah, keheningan rumah itu terasa ganjil. Bau karbol yang menyengat menusuk hidung.

Laras berjalan menuju dapur, tapi langkahnya terhenti. Pintu kaca yang membatasi ruang makan dan dapur tertutup rapat. Di gagang pintunya, tergantung sebuah papan kayu kecil bertuliskan: "SEDANG DIPEL. JANGAN MASUK."

"Bu? Ibu di dalam?" Laras mengetuk pintu kaca itu.

Ibu Ratna muncul dari balik konter dapur, masih memegang botol cairan pembersih lantai. Beliau tidak membukakan pintu, hanya bicara dari balik kaca dengan suara yang diredam.

"Laras? Kok sudah pulang? Ibu lagi sterilisasi dapur. Tadi ada semut banyak sekali di rak bumbu, pasti karena ada sisa gula yang jatuh tadi pagi," sindir Ibu Ratna sambil melirik tajam ke arah Laras. "Kamu jangan masuk dulu. Lantainya masih basah dan licin sekali. Ibu nggak mau kamu jatuh terus nanti Raka nyalahin Ibu."

"Tapi Bu, saya mau masak buat makan malam. Saya sudah beli bahan-bahannya," Laras mengangkat kantong belanjaannya.

Ibu Ratna tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuat bulu kuduk Laras meremang. "Aduh, kasihan sekali. Tapi dapur ini nggak bisa dipakai sampai nanti malam, Laras. Ibu baru saja pakai cairan kimia keras supaya semutnya mati semua. Kalau kamu masak sekarang, nanti baunya campur racun. Kamu mau Raka keracunan?"

Laras mengepalkan tangannya di samping paha. "Terus kita makan apa, Bu?"

"Tenang saja. Ibu sudah pesan katering sehat langganan Ibu. Sudah ya, kamu masuk kamar saja. Istirahat. Oh ya, tadi Ibu sudah 'merapikan' sedikit barang-barang kamu yang berantakan di kamar."

Jantung Laras mencelos. "Merapikan? Maksud Ibu?"

Tanpa menjawab, Ibu Ratna kembali menyemprotkan cairan ke lantai, mengabaikan Laras sepenuhnya.


Privasi yang Terkoyak

Laras berlari ke lantai atas, jantungnya berdegup kencang. Ia membuka pintu kamar dan seketika merasa dunianya runtuh.

Tas kerjanya yang tadi pagi ia tinggalkan di atas meja rias kini sudah terbuka. Isinya—dompet, alat make-up, bahkan beberapa dokumen kantor—berjajar rapi di atas kasur. Yang paling membuat Laras gemetar adalah buku diary kecil berkunci magnet miliknya yang kini tergeletak di samping gelas bekas minum Raka. Kuncinya memang masih terpasang, tapi posisinya sudah berpindah jauh.

Laras segera masuk ke kamar mandi untuk menenangkan diri. Ia butuh air dingin untuk menyiram kepalanya yang terasa mau meledak. Namun, saat ia menyalakan keran, ia melihat sesuatu yang lain.

Botol skincare mahal miliknya yang baru dibeli minggu lalu sudah berpindah tempat ke rak paling bawah, sementara sabun batang tradisional milik Ibu Ratna kini bertengger di tempat utama. Bahkan, handuknya yang berwarna biru sudah diganti dengan handuk putih polos yang kasar.

"Ya Tuhan..." Laras terduduk di tepi bathtub. Ia merasa seperti pencuri di rumahnya sendiri.


Martabak dan Minyak Jahat

Malam harinya, Raka pulang membawa aroma harum yang menggugah selera. Di tangannya ada sebuah kotak besar berisi martabak telur spesial dengan ekstra daging.

"Sayang, lihat! Aku bawa martabak kesukaan kita!" seru Raka dengan wajah ceria.

Laras keluar dari kamar dengan mata sembab. Melihat martabak itu, ada sedikit rasa lega. Setidaknya malam ini mereka punya "makanan luar" yang enak.

Namun, sebelum mereka sempat membuka kotak itu di meja makan, Ibu Ratna muncul seperti hantu dari balik pintu dapur (yang anehnya sudah tidak disterilisasi lagi).

"Raka! Apa itu?" tanya Ibu Ratna dengan nada seperti melihat barang ilegal.

"Martabak, Bu. Buat makan bareng-bareng," jawab Raka polos.

Ibu Ratna mendekat, mencium aroma martabak itu, lalu menutup hidungnya dengan tangan. "Ya ampun, Raka! Kamu tahu nggak minyaknya itu pakai minyak apa? Itu minyak goreng sisa berkali-kali! Kolesterol kamu bisa naik drastis. Kamu mau serangan jantung muda kayak Om kamu?"

"Cuma sekali-sekali kok, Bu..."

"Sekali-sekali itu awalnya, Nak. Ibu sudah siapkan katering brokoli rebus dan dada ayam tanpa kulit buat kamu. Itu jauh lebih sehat," Ibu Ratna langsung menyambar kotak martabak itu dari tangan Raka.

Laras tidak tahan lagi. "Tapi Mas Raka yang mau martabak itu, Bu. Dia sudah capek kerja, pengen makan enak."

Ibu Ratna menatap Laras dengan dingin. "Laras, kamu sebagai istri harusnya menjaga kesehatan suami, bukan malah mendukung dia makan sampah seperti ini. Kamu mau jadi janda muda?"

"Bu, itu cuma martabak!" suara Laras naik satu oktav.

Raka langsung memegang bahu Laras, tapi bukan untuk membela. "Sst, Laras. Jangan keras-keras suaranya sama Ibu. Ibu benar juga sih, aku belakangan ini sering pusing. Mungkin emang karena gorengan."

Ibu Ratna tersenyum penuh kemenangan. "Nah, dengar itu. Raka saja sadar. Sini, martabaknya Ibu kasih ke Pak Satpam depan saja. Mubazir kalau dibuang, tapi lebih bahaya kalau kamu yang makan."

Laras hanya bisa melongo melihat Ibu Ratna berjalan keluar membawa martabak mereka. Raka kemudian beralih ke meja makan, membuka kotak katering berisi sayuran hambar yang terlihat menyedihkan.

"Ayo makan, Ras. Enak kok ini, demi kesehatan," ajak Raka tanpa dosa.


Saat mereka sedang makan dalam diam, Ibu Ratna kembali membawa sebuah sendok dan botol madu. Beliau berdiri di samping Raka.

"Ayo, buka mulutnya. Satu sendok madu hutan supaya stamina kamu terjaga," ucap Ibu Ratna.

Raka, pria dewasa berusia 28 tahun yang menjabat sebagai manajer di sebuah perusahaan logistik, membuka mulutnya dengan patuh seperti anak balita. Aam.

Laras meletakkan garpunya dengan keras ke piring. Suaranya bergema di ruang makan yang sunyi.

"Mas, kamu nggak merasa ini aneh?" tanya Laras dengan suara bergetar.

Raka menelan madunya, lalu menoleh bingung. "Aneh kenapa? Madunya manis kok."

"Bukan madunya, Mas! Perlakuan Ibu ke kamu! Kamu itu suami aku, bukan anak TK!"

Ibu Ratna mendesah dramatis, meletakkan tangannya di dada. "Ya Allah, Laras... Ibu cuma mau yang terbaik buat anak Ibu sendiri. Kenapa kamu malah marah-marah? Ibu salah apa sama kamu?"

Raka langsung berdiri, menatap Laras dengan wajah kecewa. "Laras, cukup! Ibu cuma perhatian. Kamu kenapa sih jadi sensitif banget? Minta maaf sama Ibu sekarang."

Laras menatap Raka, lalu beralih ke Ibu Ratna yang kini mulai pura-pura menyeka sudut matanya yang kering.

"Aku nggak akan minta maaf untuk sesuatu yang menurutku benar," ujar Laras dingin. Ia bangkit, meninggalkan meja makan, dan masuk ke kamar, mengunci pintu dari dalam.

Malam itu, Laras menangis tanpa suara di balik bantal. Di luar, ia bisa mendengar suara Ibu Ratna yang sedang membujuk Raka: "Sabar ya, Nak... Mungkin Laras lagi datang bulan. Memang kalau perempuan kurang didikan agama, emosinya suka nggak stabil."

Laras meremas seprai katun Jepang pilihan mertuanya itu. Ia tahu, perang ini baru saja naik ke level yang jauh lebih berbahaya.