Jarum jam dinding berdenting lambat, memecah kesunyian ruang makan yang terasa semakin dingin seiring berjalannya malam. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Di luar, rintik hujan mulai turun, mengetuk kaca jendela dengan irama yang tak beraturan, seolah mengejek kegelisahan yang sejak tadi bersarang di dada Arini.
Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu duduk diam di kursi meja makan. Di hadapannya, beberapa piring berisi makanan kesukaan suaminya—ayam bumbu rujak, sayur lodeh, dan tempe mendoan—sudah dingin sejak berjam-jam lalu. Tudung saji yang tergeletak di sudut meja menjadi saksi bisu penantiannya. Arini menatap kosong ke arah layar ponselnya yang gelap. Tidak ada pesan. Tidak ada panggilan terjawab. Hanya kebisuan yang semakin membuat hatinya didera rasa cemas yang tak beralasan.
Lima tahun sudah ia mengarungi biduk rumah tangga bersama Damar. Lima tahun yang dipenuhi oleh cinta, kesabaran, dan juga… air mata. Menikah dengan Damar adalah sebuah keputusan yang tak pernah Arini sesali, meskipun jalan yang mereka lalui tidak pernah mulus. Badai terbesar dalam pernikahan mereka bukanlah masalah ekonomi, melainkan kehadiran buah hati yang tak kunjung datang.
Arini menghela napas panjang, merasakan dadanya sesak saat kenangan menyakitkan itu kembali berkelebat di benaknya. Ia ingat betul setiap sindiran yang keluar dari mulut ibu mertuanya saat acara kumpul keluarga bulan lalu.
"Perempuan itu kodratnya memberi keturunan, Rin. Kalau rumah cuma diisi kalian berdua saja, apa bedanya sama rumah kos-kosan? Kasihan Damar, dia anak laki-laki satu-satunya. Kapan ibu bisa nimang cucu?"
Kata-kata itu setajam sembilu, mengiris hati Arini hingga berdarah. Ia sudah melakukan segalanya. Berbagai program kehamilan, minum obat-obatan herbal yang rasanya tak karuan, hingga bolak-balik ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan medis yang melelahkan fisik dan mentalnya. Dokter bilang rahimnya baik-baik saja, hanya butuh waktu dan pikiran yang rileks. Namun, bagaimana ia bisa rileks jika setiap tatapan keluarga suaminya seolah menuduhnya sebagai wanita yang gagal?
Selama ini, Damar selalu menjadi tamengnya. Suaminya itu akan menggenggam tangannya erat di bawah meja setiap kali ibunya mulai membahas soal anak. Damar selalu berkata, "Sabar ya, Sayang. Waktu Tuhan pasti yang terbaik untuk kita."
Namun, entah mengapa, belakangan ini sikap Damar perlahan berubah. Pria yang biasanya hangat dan selalu menyempatkan diri untuk memeluknya sebelum tidur itu kini terasa berjarak. Alasan pekerjaan, rapat di luar kota, hingga lembur yang tak berkesudahan selalu menjadi tameng Damar setiap kali ia pulang larut malam dengan wajah lelah dan pikiran yang entah berada di mana. Arini mencoba mengerti. Ia berusaha menjadi istri yang berbakti, yang tidak banyak menuntut, yang selalu menyiapkan air hangat dan makanan di meja, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya disembunyikan suaminya di luar sana.
Suara deru mesin mobil yang memasuki pekarangan rumah membuat Arini tersentak dari lamunannya. Jantungnya berdebar lega. Itu pasti mobil Damar.
Arini buru-buru berdiri, merapikan anak rambutnya yang sedikit berantakan, dan mengusap wajahnya agar tidak terlihat terlalu lelah. Ia melangkah cepat menuju pintu depan, menyalakan lampu teras yang sempat ia matikan. Suara pintu mobil ditutup terdengar di sela-sela rintik hujan.
"Mas Damar..." gumam Arini pelan sambil meraih kenop pintu.
Ceklek.
Pintu kayu jati itu terbuka. Hembusan angin malam yang dingin langsung menerpa wajah Arini. Namun, rasa dingin di kulitnya tidak sebanding dengan rasa beku yang tiba-tiba menjalar di sekujur tubuhnya saat ia melihat pemandangan di hadapannya.
Damar berdiri di sana. Kemeja kerjanya sedikit basah terkena tempias hujan, wajahnya terlihat luar biasa lelah, dan matanya memancarkan keraguan yang tak pernah Arini lihat sebelumnya. Pria itu tidak tersenyum. Ia menelan ludah dengan susah payah, seolah ada bongkahan batu besar yang mengganjal tenggorokannya.
Tetapi, bukan wajah lelah Damar yang membuat napas Arini tercekat.
Bukan pula keterlambatannya yang membuat mata Arini membelalak.
Di samping kaki Damar, berlindung di balik celana bahan pria itu, berdiri seorang anak laki-laki. Anak itu terlihat berusia sekitar lima tahun. Ia mengenakan jaket tebal berwarna biru tua, memeluk sebuah ransel kecil di dadanya. Wajah anak itu menunduk, terlihat ketakutan dan kedinginan. Namun, yang paling menghancurkan kewarasan Arini adalah kenyataan bahwa tangan besar suaminya menggenggam erat tangan kecil anak itu.
Waktu seakan berhenti berputar. Suara hujan di luar terdengar seperti dengungan lebah di telinga Arini. Pikirannya mendadak kosong. Berbagai pertanyaan meledak di kepalanya, tumpang tindih menciptakan kekacauan logika.
Anak siapa ini? Apakah Damar menemukan anak hilang di jalan? Apakah ini anak salah satu kerabat Damar yang dititipkan mendadak?
"Mas...?" Suara Arini keluar seperti cicitan lirih. Tenggorokannya mendadak kering kerontang. Ia menatap wajah suaminya, mencari jawaban atas teka-teki gila yang tiba-tiba hadir di teras rumahnya tengah malam ini.
Damar menunduk. Ia tidak berani menatap mata istrinya. Cengkeraman tangannya pada jemari kecil itu semakin erat. "Rin... aku..." Suara Damar terdengar serak, bergetar oleh sesuatu yang terdengar seperti ketakutan, atau mungkin rasa bersalah.
Mendengar suara Damar, anak kecil itu perlahan mendongakkan kepalanya. Ia menatap Arini dengan sepasang mata bulat yang jernih, mata yang entah mengapa terlihat begitu familiar di benak Arini. Anak itu berkedip perlahan, lalu beralih menatap Damar. Ia menarik-narik ujung jas suaminya itu.
Lalu, dari bibir mungil yang sedikit pucat karena kedinginan itu, meluncurlah sederet kalimat polos yang menghancurkan seluruh dunia Arini dalam hitungan detik.
"Papa, ini rumah kita?"
Papa.
Satu kata itu jatuh seperti godam raksasa yang menghantam dada Arini tanpa ampun. Udara di sekitarnya seakan tersedot habis, membuatnya sulit bernapas. Kakinya mendadak terasa seperti agar-agar yang kehilangan pijakan. Matanya terpaku pada wajah anak kecil itu, lalu beralih perlahan pada wajah suaminya.
Papa? Anak ini memanggil suaminya... Papa?
"Mas..." Arini mundur selangkah. Tangannya bergetar hebat, mencengkeram kusen pintu untuk menahan tubuhnya agar tidak ambruk ke lantai. "A-apa yang baru saja dia bilang? Anak ini... dia panggil kamu apa, Mas?"
Damar memejamkan matanya erat-erat, seolah tidak sanggup melihat hancurnya pertahanan sang istri. Rahangnya mengeras. Ketika ia membuka mata, ada keputusasaan yang kelam di sana. Ia melangkah masuk, menarik anak itu bersamanya melewati ambang pintu, memaksa Arini mundur lebih jauh ke dalam ruang tamu.
"Kita bicara di dalam, Rin," ucap Damar dengan nada rendah yang menuntut. Namun suaranya bergetar.
Arini membeku di tempatnya berdiri. Ia memandang suaminya yang perlahan menutup pintu depan, mengunci dunia luar, dan menjebak Arini dalam mimpi buruk yang paling nyata. Tatapan Arini turun ke arah anak kecil yang kini berdiri di tengah ruang tamunya, menatap sekeliling dengan polos, sama sekali tidak menyadari bahwa kehadirannya baru saja meruntuhkan sebuah pernikahan yang telah dijaga Arini dengan air mata dan darah.
"Siapa dia, Mas?" tuntut Arini, kali ini suaranya naik satu oktaf, memecah keheningan rumah. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, mengaburkan pandangannya. "Jawab aku, Damar! Kenapa anak ini memanggilmu Papa?!"
Damar berbalik. Ia menatap istrinya dengan tatapan yang menyiratkan ribuan rahasia kelam.
"Namanya Rafa," bisik Damar perlahan. Ia menarik napas panjang, seakan sedang mempersiapkan diri untuk menjatuhkan bom yang akan meluluhlantakkan segalanya. "Dan ada banyak hal... yang tidak kamu ketahui tentang masa laluku, Rin."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar