Keheningan yang mencekik menyelimuti ruang tamu. Suara detak jarum jam yang beradu dengan gemericik hujan di luar menjadi satu-satunya melodi yang mengiringi kehancuran hati Arini. Dadanya naik turun dengan cepat. Udara yang ia hirup terasa seperti serpihan kaca yang melukai paru-parunya.

"Masa lalu?" Arini mengulang kata-kata itu dengan nada sumbang. Ia tertawa, sebuah tawa hampa yang dipenuhi rasa sakit yang tak terlukiskan. "Masa lalu apa, Mas? Kita sudah menikah lima tahun! Lima tahun aku tidur di sebelahmu, menyiapkan pakaianmu, merawatmu saat kamu sakit, dan mendengarkan keluh kesahmu! Lalu tiba-tiba kamu pulang tengah malam membawa seorang anak, dan kamu bilang ini soal masa lalu?!"

"Rin, pelankan suaramu. Anak ini ketakutan," tegur Damar pelan, melirik ke arah anak kecil bernama Rafa yang kini menciut di sudut sofa, memeluk ranselnya dengan erat. Mata anak itu mulai berkaca-kaca melihat pertengkaran dua orang dewasa di hadapannya.

Mendengar suaminya lebih membela perasaan anak yang tiba-tiba muncul dari antah berantah itu dibandingkan perasaannya sendiri, hati Arini serasa ditusuk ribuan jarum. Ia mundur beberapa langkah, menatap Damar seolah pria di depannya ini adalah monster yang tak pernah ia kenal.

"Kamu menyuruhku memelankan suara?" suara Arini bergetar menahan tangis yang siap pecah kapan saja. "Kamu menghancurkan hidupku malam ini, Mas! Dan kamu peduli pada suaraku yang terlalu keras?!"

Damar memijat pangkal hidungnya dengan frustrasi. Wajahnya terlihat berantakan. Ia berjongkok di depan Rafa, mengusap kepala anak itu dengan kelembutan yang membuat hati Arini semakin perih. Selama lima tahun ia mendambakan melihat Damar mengusap kepala anak mereka sendiri, tetapi kini, pemandangan itu tersaji di depan matanya melalui anak dari wanita lain.

"Rafa, kamu duduk di sini dulu ya, jagoan. Papa mau bicara sama Tante sebentar. Jangan ke mana-mana, ya?" ucap Damar lembut.

Papa. Kata itu kembali diucapkan oleh suaminya sendiri. Bukan sekadar panggilan dari sang anak, tapi Damar sendiri mengakui sebutan itu. Arini menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam isak tangis yang mulai lolos dari tenggorokannya.

Damar berdiri, meraih lengan Arini. "Kita bicara di kamar."

Arini menepis tangan suaminya dengan kasar. "Jangan sentuh aku!" desisnya tajam. Namun, demi tidak membuat keributan di depan anak kecil yang tidak tahu apa-apa itu, Arini membalikkan badan dan setengah berlari menuju kamar tidur mereka.

Begitu pintu kamar tertutup dan dikunci dari dalam, pertahanan Arini benar-benar runtuh. Ia merosot ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Air matanya tumpah ruah, menghapus semua sisa kesabaran dan keyakinan yang selama ini ia pegang teguh.

Damar berdiri di depan pintu yang tertutup, memandangi istrinya yang tersungkur di lantai dengan tatapan penuh rasa bersalah. Ia ikut duduk bersimpuh di depan Arini, mencoba meraih bahu wanita yang sudah lima tahun menemaninya itu.

"Rin... tolong dengarkan aku dulu. Tolong..." mohon Damar, suaranya sarat akan keputusasaan.

Arini mendongak. Matanya memerah, dipenuhi kilatan amarah dan luka yang teramat dalam. "Jelaskan," desisnya, suaranya parau. "Jelaskan padaku bahwa aku sedang bermimpi, Mas. Jelaskan padaku bahwa ini semua cuma lelucon gila. Katakan kalau itu anak tetangga, anak panti asuhan, atau anak siapa pun... asal bukan anakmu!"

Damar terdiam. Ia menundukkan wajahnya, tak sanggup menatap mata istrinya. Keheningan suaminya adalah jawaban paling brutal yang pernah Arini terima seumur hidupnya.

"Dia anak kandungku, Rin."

Kalimat itu meluncur begitu pelan, nyaris seperti bisikan, namun dampaknya bagai ledakan nuklir di telinga Arini.

"Anak kandung..." Arini mengulanginya dengan bibir bergetar. "Dari siapa? Sejak kapan, Mas?! Berapa usianya?!"

"Lima setengah tahun."

Arini terkesiap. Ia menghitung cepat di kepalanya. Lima setengah tahun. Usia pernikahan mereka baru menginjak tahun kelima. Itu berarti...

"Kamu... kamu menghamili perempuan lain sebelum kita menikah?!" jerit Arini histeris. Ia memukul dada suaminya dengan kedua tangan. Bukannya menghindar, Damar membiarkan istrinya melampiaskan rasa sakitnya. "Kamu pembohong, Damar! Bajingan! Kamu menikahiku dengan keadaan kamu sudah punya anak di luar sana?! Kenapa kamu menikahiku, Mas?! Kenapa kamu membiarkan aku dihina ibumu selama lima tahun sebagai wanita mandul, sementara kamu sendiri sudah punya keturunan menyedihkan di luar sana?!"

Pukulan Arini melemah seiring tenaga yang terkuras habis oleh rasa sakit hati yang luar biasa. Ia kembali terisak, menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Rasa sakitnya terlalu besar. Pengkhianatan ini terasa membusukkan tulang-tulangnya.

Damar memberanikan diri meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat meski Arini berusaha meronta.

"Dengarkan aku, Rin. Tolong," suara Damar bergetar. "Itu terjadi jauh sebelum aku bertemu denganmu. Itu adalah kesalahan masa mudaku. Hubungan yang tidak pernah direstui. Saat aku tahu dia hamil, hubungan kami sudah hancur. Keluarganya memisahkan kami. Aku bahkan tidak tahu apakah anak itu benar-benar lahir atau tidak, sampai... sampai beberapa minggu yang lalu."

Arini menghentikan tangisnya. Ia menatap suaminya dengan mata memicing, mencari setitik kebohongan di sana. "Beberapa minggu yang lalu? Jadi selama ini kamu baru tahu?"

Damar mengangguk cepat. "Aku bersumpah demi Tuhan, Rin. Selama kita menikah, aku tidak pernah berhubungan dengannya. Aku mengubur masa lalu itu dalam-dalam karena aku mencintaimu. Aku ingin membangun keluarga yang utuh bersamamu."

"Cinta katamu?" Arini meludah pelan, merasa jijik. "Laki-laki yang mencintai istrinya tidak akan menyembunyikan rahasia sebesar ini, Damar. Lalu kenapa anak itu ada di sini sekarang? Kenapa kamu membawanya masuk ke rumah kita? Ke tempat suciku?!"

Damar menunduk dalam, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya sendiri. Ia menampilkan ekspresi hancur yang entah mengapa terlihat begitu meyakinkan.

"Ibunya... meninggal, Rin."

Arini terdiam. Matanya melebar sesaat.

"Dia meninggal karena sakit minggu lalu," lanjut Damar dengan suara serak, menyeka sudut matanya. "Aku tiba-tiba dihubungi oleh pihak rumah sakit karena namaku ada di dalam dokumen lama milik wanita itu. Keluarganya tidak ada yang mau mengurus Rafa. Mereka membuangnya. Anak itu yatim piatu, Rin. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain aku... ayah kandungnya."

Arini merasakan dunianya berputar. Ada peperangan hebat di dalam nuraninya. Di satu sisi, ia adalah seorang wanita yang sangat mendambakan kehadiran seorang anak, seorang perempuan dengan naluri keibuan yang kuat. Bayangan anak kecil yang kedinginan dan ketakutan di ruang tamunya, yang baru saja kehilangan ibu dan dibuang oleh keluarganya, menyentuh sudut hatinya yang paling lembut.

Namun di sisi lain, anak itu adalah bukti nyata pengkhianatan suaminya. Anak itu adalah darah daging dari wanita lain yang pernah menempati hati Damar. Melihat wajah anak itu setiap hari sama saja dengan mengiris luka di hatinya dengan pisau berkarat berulang-ulang kali.

"Aku tidak minta kamu menyayanginya seperti anakmu sendiri, Rin," kata Damar pelan, memecah keheningan yang menyesakkan itu. Ia menatap mata istrinya dengan sorot memohon. "Tapi aku tidak punya pilihan. Aku tidak bisa membuang darah dagingku sendiri ke panti asuhan. Mulai malam ini... dia akan tinggal di sini. Sebagai anak kita."

Keputusan sepihak itu membuat Arini kembali tersentak. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada diskusi. Damar tidak meminta izin padanya; pria itu memberikan pengumuman mutlak.

"Tinggal di sini?" Arini menggeleng pelan, tidak percaya dengan keegoisan laki-laki di depannya. "Kamu membawa hasil dari dosa masa lalumu ke dalam rumahku, dan memaksaku untuk menelannya bulat-bulat, Mas?"

"Dia tidak berdosa, Rin! Yang berdosa itu aku!" potong Damar, sedikit meninggikan suara sebelum akhirnya kembali menurunkannya. "Aku mohon. Beri aku kesempatan untuk menebus dosa ini. Beri anak itu tempat bernaung. Aku berjanji, aku akan mengurus semuanya. Kamu tidak perlu repot. Tolong... aku berlutut padamu."

Dan benar saja, Damar beringsut dari posisinya, memosisikan dirinya berlutut di hadapan Arini, mencium punggung tangan istrinya yang basah oleh air mata.

Arini memalingkan wajah. Kepalanya terasa mau pecah. Ia terlalu lelah untuk berdebat. Tubuhnya menggigil, bukan karena udara malam, tapi karena kenyataan hidupnya telah berubah menjadi neraka dalam waktu kurang dari satu jam. Ia menarik tangannya dari genggaman Damar, berdiri dengan sisa tenaga yang ada, dan berjalan gontai menuju ranjang.

"Aku butuh waktu," ucap Arini dingin, memunggungi suaminya. "Urus anak itu malam ini. Jangan bawa dia masuk ke kamar ini."

Damar menghela napas panjang, sebuah kelegaan semu tergambar di wajahnya. "Terima kasih, Rin. Aku tahu kamu wanita yang berhati malaikat."

Pria itu bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu kamar. Namun, saat Damar merogoh saku celananya untuk mengambil kunci mobil yang tertinggal, ponselnya terjatuh ke atas kasur, tepat di samping Arini.

Layar ponsel itu menyala terang di tengah remang kamar.

Arini yang sedang duduk menunduk, tanpa sengaja melirik ke arah layar yang menyala tersebut. Mata Arini terpaku. Jantungnya yang tadi terasa berhenti, kini berdegup kencang dengan ritme yang menyakitkan.

Sebuah notifikasi pesan masuk terpampang jelas di layar kunci ponsel Damar. Bukan pesan dari rekan kerja, bukan pula dari operator. Pesan itu dari sebuah nomor tanpa nama, dengan isi pesan yang sangat singkat namun mematikan.

"Anaknya sudah tidur? Jangan lupa transfer uang bulanannya."

Hanya butuh sekian detik sebelum Damar dengan panik menyambar ponselnya dari atas kasur, membalikkan layarnya, dan memasukkannya ke dalam saku dengan gerakan yang canggung dan salah tingkah. Wajah Damar pias, keringat dingin seolah tiba-tiba membasahi pelipisnya.

"A-aku urus Rafa dulu di luar," ucap Damar terbata-bata, nyaris tidak berani menatap mata Arini yang kini menatapnya dengan tajam. Suaminya itu bergegas keluar dan menutup pintu rapat-rapat.

Di dalam kamar yang kembali senyap, Arini mematung. Napasnya memburu. Kuku-kukunya menancap kuat pada seprai kasur hingga buku-buku jarinya memutih.

Ibunya sudah meninggal, keluarganya membuangnya, dia sebatang kara.

Kata-kata melankolis Damar tadi kembali terngiang di telinganya. Jika ibunya benar-benar sudah meninggal minggu lalu, lalu... siapa yang baru saja mengirimkan pesan menuntut uang bulanan selarut ini?

Sebuah firasat buruk merayap naik ke tengkuk Arini. Rasa sakit hatinya kini bercampur dengan kemarahan yang membakar. Ia menyadari satu hal yang pasti di malam jahanam ini: suaminya bukan hanya seorang pengkhianat. Damar masih menyembunyikan sebuah kebohongan besar yang jauh lebih busuk dari sekadar anak di luar nikah.

Dan Arini bersumpah pada dirinya sendiri, ia akan mencari tahu kebenaran itu.