Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi dapur, menggoreskan garis cahaya di atas meja makan kayu jati yang sudah tertata rapi. Arini berdiri di depan kompor, mengaduk panci berisi bubur ayam dengan gerakan pelan dan monoton. Matanya menatap kosong ke arah gelembung-gelembung kecil yang meletup di permukaan bubur.
Kata-kata polos Rafa semalam terus terngiang di telinganya, berputar seperti kaset rusak yang tak bisa dimatikan.
“Papa... kapan Mama jemput Rafa?”
“Kata Mama... Rafa cuma nginep sebentar aja di rumah Tante baik ini.”
Arini mencengkeram gagang panci hingga ruas jarinya memutih. Jika wanita itu masih hidup, mengapa Damar harus mengarang cerita sedramatis itu? Mengapa suaminya harus membunuh karakter wanita itu dalam ceritanya, melabeli Rafa sebagai yatim piatu yang dibuang keluarga, hanya untuk membawa anak itu masuk ke dalam rumah ini?
"Wangi banget, Rin. Masak apa?"
Suara bariton Damar memecah lamunan Arini. Wanita itu tersentak pelan, segera melepaskan cengkeramannya dari gagang panci dan mengubah raut wajahnya senormal mungkin. Ia menoleh dan mendapati suaminya sudah rapi dengan kemeja abu-abu dan celana bahan hitam, berdiri di ambang pintu dapur sambil merapikan lengan kemejanya.
"Bubur ayam," jawab Arini datar. Ia mematikan kompor, lalu mengambil tiga buah mangkuk dari rak. "Rafa belum bangun, Mas?"
Damar melangkah mendekat, menarik kursi dan duduk di meja makan. "Baru saja aku mandikan. Sedang pakai baju di kamar. Tumben kamu masak bubur? Biasanya pagi-pagi cuma bikin roti panggang."
"Rafa masih kecil, Mas. Pencernaannya lebih bagus kalau makan yang hangat dan lembut di pagi hari. Bukannya kemarin kamu sendiri yang bilang lambungnya masih sensitif sampai tidak boleh makan krecek?" sindir Arini halus. Nada suaranya sangat tenang, tapi kata-katanya setajam silet.
Damar menghentikan gerakannya yang sedang mengambil segelas air. Pria itu menatap Arini dengan kening berkerut tipis, mencoba mencari tanda kemarahan di wajah istrinya, namun Arini sama sekali tidak membalas tatapannya. Ia sibuk menuangkan bubur ke dalam mangkuk.
"Kamu masih marah soal semalam?" tanya Damar pelan, nadanya terdengar seperti sedang menghadapi anak kecil yang merajuk. "Rin, aku kan cuma mengingatkan. Kamu nggak usah menyindir seperti itu. Aku cuma mau yang terbaik buat Rafa."
"Aku tidak menyindir, Mas. Aku sedang belajar," Arini meletakkan semangkuk bubur di hadapan Damar, lalu menatap suaminya tepat di manik mata. "Belajar menjadi ibu yang baik seperti yang kamu inginkan. Karena sepertinya, ibu kandungnya tidak sempat mengajari banyak hal sebelum dia... meninggal."
Damar terdiam seketika. Jakunnya naik turun saat ia menelan ludah. "Ya... ya, tentu saja. Kondisinya waktu itu kan sedang sakit keras."
"Sakit apa sebenarnya ibunya Rafa, Mas?" tanya Arini santai. Ia menarik kursi di seberang Damar dan duduk melipat tangan di atas meja. "Kamu bilang pihak rumah sakit yang menghubungimu. Berarti dia sempat dirawat? Sakit apa yang bisa merenggut nyawa secepat itu?"
"Itu... komplikasi, Rin," jawab Damar terbata-bata. Pria itu mengalihkan pandangannya, pura-pura sibuk mengaduk bubur di mangkuknya meski belum berniat memakannya. "Ada masalah di paru-paru dan jantungnya. Sudah lama sebenarnya, cuma telat ditangani."
"Oh, kasihan sekali," Arini tersenyum tipis. Sangat tipis hingga lebih terlihat seperti seringai. "Pasti berat untuk Rafa. Di detik-detik terakhir ibunya, apakah Rafa ada di sana? Maksudku, menemani di rumah sakit?"
"Kenapa kamu tiba-tiba tanya sedetail ini, Rin?" Damar meletakkan sendoknya dengan sedikit kasar, menciptakan bunyi denting nyaring yang beradu dengan mangkuk keramik. Wajahnya mulai terlihat tidak nyaman. "Aku sudah bilang, keluarganya membuang mereka. Rafa dititipkan di rumah tetangganya waktu ibunya dirawat. Sudahlah, jangan bahas ini lagi. Aku tidak mau mengingat masa lalu yang menyedihkan."
"Aku hanya ingin tahu, Mas. Sebagai wanita yang sekarang harus mengurus anaknya, aku berhak tahu latar belakangnya, kan?" Arini mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap suaminya tanpa berkedip. "Kecuali... ada hal lain yang tidak kamu ceritakan padaku."
"Hal lain apa maksudmu?!" suara Damar sedikit meninggi. Matanya membulat marah. "Aku sudah menceritakan semuanya padamu! Anak ini sebatang kara, ibunya sudah mati, dan dia cuma punya aku! Kenapa kamu curiga terus, sih? Kamu nggak ikhlas nerima dia di sini?!"
"Papa? Tante? Kok marah-marah?"
Suara cempreng khas anak kecil itu menghentikan pertengkaran mereka. Arini dan Damar menoleh bersamaan ke arah pintu dapur. Rafa berdiri di sana dengan rambut yang masih sedikit basah dan tersisir rapi. Anak itu mengenakan kaus kuning bergambar mobil pemadam kebakaran, menatap kedua orang dewasa di depannya dengan tatapan takut.
Seketika, raut wajah keras Damar berubah seratus delapan puluh derajat. Ia memaksakan sebuah tawa renyah, bangkit dari kursinya, dan menghampiri anak itu. "Nggak ada yang marah-marah, Jagoan. Papa sama Tante cuma lagi diskusi. Sini, duduk di sebelah Papa. Tante Arini masakin bubur ayam enak banget buat Rafa."
Damar mengangkat tubuh kecil itu dan mendudukkannya di kursi. Arini menatap adegan itu dengan rasa muak yang tertahan di kerongkongannya. Betapa pintarnya suaminya ini berakting. Berapa banyak wajah yang dimiliki oleh pria ini?
Sepanjang sarapan, meja makan itu hanya diisi oleh ocehan riang Rafa dan tanggapan hangat Damar. Arini memilih bungkam. Ia mengunyah buburnya perlahan, meresapi setiap rasa sakit yang menjalar di hatinya. Ia tidak akan bertindak gegabah. Ia akan menunggu hingga kebohongan Damar terkuak dengan sendirinya, atau lebih tepatnya, hingga ia sendiri yang menguliti kebohongan itu satu per satu.
Malam harinya, hujan deras kembali mengguyur kota. Suara petir sesekali menggelegar, membuat udara di dalam rumah terasa semakin dingin. Arini berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berkecamuk. Di sebelahnya, Damar sedang duduk bersandar pada kepala ranjang, fokus menatap layar ponselnya. Jemarinya bergerak lincah mengetik sesuatu.
Sesekali, kening Damar berkerut, lalu ia akan mengetik lagi dengan tergesa-gesa.
"Kerjaan, Mas?" pancing Arini pelan, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti kamar mereka.
Damar terkejut. Ia buru-buru membalikkan layar ponselnya ke arah kasur. "Eh... iya, Rin. Ini, ada klien yang komplain soal jadwal pengiriman barang bulan depan. Biasalah, urusan kantor."
"Sampai jam sebelas malam begini?" Arini mengubah posisinya menjadi menyamping, menghadap suaminya. "Biasanya staf operasional yang urus komplain begini. Sejak kapan Manajer Pemasaran merangkap urus jadwal pengiriman?"
"Ya karena ini klien VIP, Rin. Harus aku sendiri yang turun tangan biar mereka nggak lari ke kompetitor," jawab Damar dengan nada yang dibuat setenang mungkin. Ia meletakkan ponselnya di atas nakas, layar menghadap ke bawah, lalu ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Arini. "Sudah malam. Ayo tidur. Besok aku ada meeting pagi."
Damar menarik selimut sebatas dada, lalu membalikkan badannya memunggungi Arini. Sama seperti malam-malam sebelumnya sejak kehadiran Rafa, Damar tidak lagi memeluknya. Punggung lebar itu menjadi dinding pemisah yang semakin mempertegas jarak di antara mereka.
"Mas..." panggil Arini lirih.
"Hm?" gumam Damar tanpa menoleh.
"Kalau seandainya... aku yang ada di posisi perempuan itu. Kalau seandainya aku yang sakit keras dan meninggal... apa kamu akan membawa anak kita ke rumah istri barumu kelak?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Arini, terdengar seperti bisikan keputusasaan.
Tubuh Damar menegang sesaat. Ia diam cukup lama sebelum akhirnya menjawab dengan suara serak. "Kamu ngomong apa sih, Rin? Ngelantur. Jangan bahas kematian malam-malam begini. Pamali."
"Jawab saja, Mas."
Damar menghela napas kasar. "Tentu saja. Anak itu darah dagingku. Ke mana pun aku pergi, dia akan ikut bersamaku."
"Meski itu artinya menyakiti hati perempuan lain?"
"Arini, cukup!" Damar berbalik dengan cepat, menatap istrinya dengan sorot mata lelah dan marah. "Berhenti menyudutkanku! Aku tahu kamu belum bisa menerima kehadiran Rafa sepenuhnya, tapi tolong berhenti membuat drama! Aku butuh istirahat!"
Damar kembali membalikkan badannya, kali ini menarik selimutnya hingga menutupi telinga.
Arini tersenyum getir dalam kegelapan. Drama, batinnya. Laki-laki yang sedang memainkan sandiwara terbesar di rumah ini berani menyebut pertanyaannya sebagai drama. Air mata Arini menetes membasahi bantal, namun ia buru-buru menyekanya. Ia tidak boleh menangis lagi. Air matanya terlalu berharga untuk ditangisi demi pengkhianat seperti Damar.
Waktu berlalu lambat. Suara rintik hujan di luar perlahan mereda, menyisakan keheningan yang pekat. Arini melirik jam beker di atas nakas. Pukul 01.30 dini hari.
Mata Arini masih enggan terpejam. Tiba-tiba, ia merasakan pergerakan pelan di sebelahnya. Kasur sedikit berderit ketika Damar menyingkap selimutnya dengan sangat hati-hati. Arini segera memejamkan mata, mengatur napasnya agar terdengar teratur seperti orang yang sedang tidur pulas.
Melalui celah matanya yang sedikit terbuka, Arini melihat Damar mengambil ponselnya dari atas nakas. Pria itu menatap layar ponselnya sejenak, wajahnya terlihat tegang dalam temaram lampu tidur. Damar kemudian bangkit dari ranjang, berjalan mengendap-endap keluar kamar tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Pintu kamar ditutup perlahan hingga terdengar bunyi klik yang sangat pelan.
Seketika itu juga Arini membuka matanya. Jantungnya berdebar kencang. Naluri perempuannya menjerit, mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Tidak ada klien VIP yang mengirim pesan pukul setengah dua dini hari.
Dengan gerakan seringan mungkin, Arini bangkit dari kasur. Ia tidak memakai alas kaki agar langkahnya tidak bersuara di atas lantai keramik yang dingin. Ia membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati, bersyukur karena engsel pintu itu baru saja diminyaki bulan lalu sehingga tidak mengeluarkan bunyi derit yang menyebalkan.
Lorong rumah gelap gulita. Arini menajamkan pendengarannya. Ada suara gumaman pelan yang berasal dari arah ruang kerja Damar yang terletak di ujung lorong, bersebelahan dengan kamar yang kini ditempati Rafa.
Arini melangkah jinjit, merayap perlahan menempel pada dinding lorong. Jantungnya berdegup semakin brutal seiring jaraknya yang semakin dekat dengan ruang kerja itu. Pintu ruangan itu tertutup, tetapi tidak rapat. Ada celah kecil yang memancarkan cahaya kekuningan dari lampu meja di dalam sana.
Arini berdiri di samping celah pintu, menahan napasnya. Telinganya ditempelkan sedekat mungkin tanpa menyentuh daun pintu kayu itu.
Di dalam sana, Damar sedang mondar-mandir. Bayangannya bergerak-gerak liar di lantai yang mengintip dari celah pintu. Pria itu menempelkan ponsel ke telinganya, suaranya berupa desisan marah yang ditekan serendah mungkin agar tidak menggema.
"Aku kan sudah bilang, jangan pernah hubungi aku jam segini!" desis Damar, nadanya penuh dengan peringatan keras.
Ada jeda sejenak. Arini bisa menebak seseorang di seberang sana sedang berbicara.
"Lia, kumohon, gunakan otakmu!" bentak Damar tertahan. Mendengar nama 'Lia' disebut langsung dari mulut suaminya, lutut Arini nyaris lemas. Nama itu sama persis dengan nama wali di kuitansi klinik yang ia temukan. Damar benar-benar sedang berbicara dengan ibu kandung Rafa!
"Kamu mau menghancurkan semuanya?!" lanjut Damar, kali ini suaranya terdengar frustrasi. "Iya, aku tahu kamu rindu pada Rafa. Tapi ini baru beberapa hari! Kamu sendiri yang minta aku mengamankan anak ini, kan? Kalau kamu bawa dia ke apartemenmu sekarang, pacarmu yang brengsek itu bisa menyakiti Rafa lagi!"
Arini menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya membelalak lebar dalam kegelapan. Rentetan fakta baru ini menghantamnya bertubi-tubi. Apartemen? Pacar brengsek? Menyakiti Rafa? Jadi ini alasan sebenarnya Damar membawa anak itu ke mari? Bukan karena ibunya meninggal. Bukan karena keluarganya membuangnya. Tapi untuk menyembunyikan anak itu dari pacar selingkuhannya?! Dan Damar menjadikan rumah mereka, rumah Arini, sebagai tempat persembunyian yang aman?!
"Dengar," suara Damar melembut, kali ini terdengar nada membujuk yang sering ia gunakan pada Arini saat Arini sedang marah. "Aku sudah transfer uang bulananmu tadi sore. Kamu pakai saja uang itu dulu. Soal Rafa, dia aman di sini. Dia dijaga dengan sangat baik."
Jeda lagi. Arini menajamkan pendengarannya hingga kepalanya terasa pening.
"Soal istriku?" Damar mendengus pelan, sebuah tawa meremehkan yang membuat hati Arini serasa dicabik-cabik. "Kamu nggak usah khawatir soal Arini. Dia perempuan yang penurut. Dia gampang dikelabui. Sebentar lagi dia pasti luluh dan mengurus Rafa seperti anaknya sendiri."
Air mata panas mengalir deras membasahi pipi Arini. Penurut. Gampang dikelabui. Itulah nilai dirinya di mata pria yang telah ia layani sepenuh hati selama lima tahun. Ia tak lebih dari seorang pengasuh gratis yang bodoh.
Di dalam ruangan, Damar menghentikan langkahnya. Ia berdiri membelakangi pintu, melihat ke arah jendela yang basah oleh sisa hujan. Pria itu menghela napas panjang, lalu mengucapkan sebuah kalimat penutup yang akan mengubah sisa hidup Arini selamanya.
"Tenang saja… Arini tidak akan pernah tahu kamu masih hidup."
Bumi seakan berhenti berputar. Udara di lorong itu lenyap seketika.
Arini membeku di tempatnya berdiri. Kalimat itu diucapkan Damar dengan begitu lugas, begitu yakin, dan begitu kejam. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi sisa harapan bahwa semua ini hanyalah salah paham. Suaminya dengan sadar telah merancang kematian palsu wanita itu, menginjak-injak harga diri Arini, dan memperlakukannya seperti orang paling bodoh di dunia.
Arini mundur perlahan. Matanya menyalang tajam dalam kegelapan, memancarkan amarah yang tidak akan pernah bisa dipadamkan lagi. Air matanya telah mengering seketika, digantikan oleh bara kebencian yang menyala terang. Babak belur hatinya kini telah mengeras menjadi batu.
Ia berbalik, melangkah kembali ke kamarnya dengan langkah pasti, meninggalkan sosok suaminya yang masih sibuk merajut kebohongan di ujung telepon. Arini bersumpah, mulai detik ini, neraka yang Damar bawa ke rumah ini akan berbalik membakar pria itu hidup-hidup.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar