Kertas kuitansi itu teremas kuat di dalam genggaman Arini, hingga buku-buku jarinya memutih pasi. Di dalam dadanya, sebuah badai kemarahan yang luar biasa sedang berkecamuk, menghancurkan segala sisa kepercayaan yang mungkin masih tersisa untuk pria bernama Damar. Ia ingin berlari ke ruang depan sekarang juga, menampar wajah suaminya dengan kertas ini, dan meneriakkan semua makian yang ada di kepalanya.
Namun, logika Arini tiba-tiba mengambil alih. Ia teringat bagaimana Damar memanipulasi pertengkaran mereka pagi ini. Damar adalah ahli memutarbalikkan fakta. Jika Arini melabraknya sekarang hanya dengan selembar kuitansi klinik, Damar pasti akan mencari seribu satu alasan baru. Ia bisa saja berkelit bahwa 'Nyonya Lia' di kertas itu adalah kerabat jauh, pengasuh, atau siapa pun. Arini sadar, ia tidak bisa bertindak gegabah. Ia membutuhkan bukti yang lebih kuat, bukti yang tidak akan bisa disangkal oleh lidah licin suaminya itu.
Dengan tangan masih bergetar, Arini melipat kuitansi itu sekecil mungkin dan memasukkannya ke dalam saku daster bagian dalam. Ia menarik napas panjang, berkali-kali, berusaha menormalkan detak jantungnya dan merapikan raut wajahnya. Pertempuran ini baru saja dimulai, dan Arini bersumpah tidak akan menjadi pihak yang kalah dan diinjak-injak.
Ketika Arini keluar dari kamar tamu, suasana rumahnya sudah benar-benar berubah. Hanya dalam hitungan jam, rumah yang selalu rapi dan tenang itu kini dipenuhi oleh suara tembakan dari film kartun di televisi yang volumenya dikeraskan. Balok-balok lego berserakan di atas karpet Persia mahal yang dulu dibeli Arini dengan tabungannya sendiri. Damar sedang berguling-guling di lantai, tertawa lepas saat Rafa naik ke atas punggungnya seolah sedang menunggangi kuda.
Pemandangan itu menciptakan sensasi mual di perut Arini. Tawa Damar terdengar begitu asing. Pria itu tampak begitu hidup, begitu bahagia dengan perannya sebagai ayah. Kebahagiaan yang selama ini gagal Arini berikan. Tiba-tiba saja, Arini merasa seperti tamu tak diundang di rumahnya sendiri. Ia adalah orang asing yang kebetulan menumpang hidup di keluarga kecil bahagia milik Damar dan anak dari wanita lain.
"Eh, Rin, sudah beres bajunya?" tanya Damar yang menyadari kehadiran Arini. Pria itu bangkit duduk, mengusap peluh di dahinya sambil tersenyum lebar. Tidak ada sedikit pun jejak ketegangan sisa pertengkaran pagi tadi di wajahnya. Pria ini sungguh aktor yang hebat.
"Sudah," jawab Arini singkat, nadanya datar. Ia berjalan melewati mereka begitu saja menuju dapur.
"Pa, haus!" rengek Rafa sambil menarik ujung kemeja Damar.
"Rin, tolong ambilkan air dingin buat Rafa, ya! Sekalian sama sirop kalau ada!" teriak Damar dari ruang tengah.
Langkah Arini terhenti. Ia memejamkan mata, membiarkan rasa panas menjalar di dadanya. Perintah itu diucapkan Damar dengan begitu santai, seolah ia sedang menyuruh pembantunya. Arini mengepalkan tangan, menelan egonya bulat-bulat, lalu menuangkan segelas air dingin dan membuatkan sirop sirap manis. Ia membawa nampan itu ke ruang depan dan meletakkannya di atas meja dengan sedikit bantingan pelan.
"Makasih, Tante," ucap Rafa pelan. Anak itu mengambil gelasnya dengan kedua tangan kecilnya, menatap Arini dengan mata bulatnya yang jernih. Mata itu sangat mirip dengan Damar, tapi ada sesuatu pada garis wajahnya yang jelas bukan milik suaminya. Itu pasti garis wajah ibunya. Wanita bernama Lia.
"Sama-sama," jawab Arini kaku. Ia segera memalingkan wajah, tidak sanggup berlama-lama menatap wajah anak itu.
Hari-hari berikutnya di dalam rumah itu terasa seperti neraka yang berjalan dalam gerakan lambat bagi Arini. Dinamika rumah tangganya berubah total secara radikal. Semua pusat gravitasi di rumah itu kini bergeser pada Rafa. Dan Damar, secara terang-terangan menunjukkan betapa ia tidak mempedulikan perasaan istrinya.
Puncaknya terjadi pada malam keempat sejak kehadiran Rafa.
Arini telah menghabiskan waktu lebih dari satu jam di dapur sore itu, memasak hidangan spesial. Sambal goreng krecek kesukaan Damar, gurame bakar kecap, dan tumis kangkung terasi. Ia memasak bukan untuk mengambil hati suaminya, melainkan sekadar mempertahankan rutinitas agar ia tidak gila.
Ketika waktu makan malam tiba, Damar dan Rafa duduk di kursi makan. Arini mengambilkan nasi ke piring Damar, lalu menyodorkan mangkuk berisi sambal goreng krecek. Namun, reaksi Damar sungguh di luar dugaan.
Damar mendorong mangkuk itu perlahan menjauh. Keningnya berkerut tak suka. "Kamu masak pedas semua, Rin?"
Arini mengernyit bingung. "Ini makanan kesukaanmu, Mas. Sambal goreng krecek, seperti biasa."
"Iya, itu kesukaanku. Tapi Rafa nggak bisa makan pedas, Arini," Damar menatapnya dengan tatapan menegur, seolah Arini baru saja melakukan kesalahan besar yang tak termaafkan. "Anak kecil lambungnya masih sensitif. Masa kamu kasih dia krecek dan sambal terasi? Kamu ini nggak punya insting keibuan atau bagaimana, sih?"
Kalimat itu menembus ulu hati Arini bak tombak beracun. Tidak punya insting keibuan. Kata-kata itu keluar dari mulut laki-laki yang tahu persis betapa hancurnya Arini setiap bulan saat menyadari ia gagal menjadi seorang ibu.
Arini terdiam kaku. Matanya memanas. Ia melirik ke arah piring kosong Rafa. "Aku... aku bisa menggorengkan telur untuk Rafa kalau dia tidak mau sayur ini."
"Nggak perlu, kelamaan," potong Damar dingin. Ia berdiri, mengambil kunci mobil di atas meja. "Ayo, Fa. Kita makan di luar saja. Papa belikan kamu ayam goreng tepung ya. Biar Tante makan masakan dia sendiri."
Damar menggandeng Rafa, berjalan menuju pintu depan tanpa menoleh sedikit pun. Meninggalkan Arini yang berdiri mematung di meja makan dengan hidangan yang masih mengepulkan asap. Suara pintu depan yang ditutup rapat menjadi satu-satunya jawaban atas jeritan hati Arini yang hancur lebur.
Malam itu, Arini tidak memakan masakannya sendiri. Ia membuang semuanya ke tempat sampah, membiarkan air matanya jatuh menganak sungai. Ia telah kehilangan posisinya. Ia bukan lagi nyonya di rumah ini. Ia hanyalah figuran yang kehadirannya tak lagi diharapkan.
Namun, di tengah segala rasa sakit itu, ada satu hal yang membuat pertahanan hati Arini goyah. Yaitu Rafa sendiri.
Keesokan sorenya, ketika Damar belum pulang dari kantor, Arini sedang duduk di sofa ruang tengah, melamun memandangi layar televisi yang menyiarkan berita tanpa suara. Tiba-tiba, ia merasakan sebuah sentuhan lembut di lututnya.
Arini menunduk. Rafa berdiri di sana, memegang sebuah buku cerita bergambar tentang dinosaurus. Anak itu mendongak, menatap Arini dengan ekspresi malu-malu yang menggemaskan.
"Tante..." panggil Rafa pelan, suaranya kecil dan polos.
Arini terdiam, tak tahu harus merespons apa. Selama ini ia selalu menghindari interaksi berdua saja dengan anak ini.
"Ada apa?" tanya Arini akhirnya, berusaha menjaga nada suaranya tetap netral.
"Tante sibuk, ya?" Rafa memainkan ujung kausnya. "Kata Papa... Tante Arini itu orang yang sangat baik. Tante Arini secantik bidadari. Tante mau nggak... bacain cerita dinosaurus ini buat Rafa? Rafa belum bisa baca kata-kata yang panjang."
Hati Arini seakan diremas dengan kuat. Ada bongkahan es di dalam dadanya yang perlahan retak mendengar kalimat polos itu. Betapa kejamnya takdir. Anak ini tidak tahu apa-apa. Anak ini tidak tahu bahwa keberadaannya menghancurkan hati wanita yang dipanggilnya bidadari itu. Rafa hanyalah seorang anak yang mencari perhatian dan kasih sayang.
Dengan tangan sedikit gemetar, Arini mengambil buku itu. Ia menggeser duduknya, memberi ruang. "Duduk di sini," titahnya pelan.
Wajah Rafa langsung berbinar. Anak itu naik ke atas sofa, duduk bersila di samping Arini, menempelkan lengan kecilnya ke lengan Arini. Wangi bedak bayi dan minyak telon yang menguar dari tubuh Rafa seketika memenuhi indra penciuman Arini, wangi yang selalu ia impikan untuk dihirup dari anaknya sendiri.
Arini mulai membacakan cerita itu. Awalnya suaranya kaku, namun lama-kelamaan ia terbawa suasana. Ia mulai mengubah nada suaranya saat menirukan suara T-Rex, membuat Rafa terkikik geli. Saat Arini melihat tawa lepas anak itu, sebulir air mata lolos dari pelupuknya. Ia buru-buru menyekanya sebelum Rafa melihat. Ia benci pada situasi ini. Ia benci suaminya. Tapi ia menyadari, sangat sulit untuk membenci anak kecil yang sedang menyandarkan kepala di bahunya ini.
Malam harinya, setelah makan malam yang hening, Damar bertugas menidurkan Rafa di kamar tamu. Arini baru saja selesai mencuci piring dan berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya sendiri. Ketika melewati kamar Rafa yang pintunya sedikit terbuka, langkah Arini terhenti.
Suara Damar terdengar sedang bersenandung pelan, diikuti oleh suara cadel Rafa yang sedang mengantuk. Arini berniat mengabaikannya dan terus berjalan, namun sebuah kalimat yang diucapkan Rafa membuat darah di seluruh tubuh Arini seakan membeku seketika.
"Papa..." gumam Rafa setengah mengantuk.
"Iya, Sayang? Ayo tidur, besok Papa belikan es krim," jawab Damar lembut.
"Papa... kapan Mama jemput Rafa?"
Keheningan yang pekat tiba-tiba menyelimuti kamar itu. Dari celah pintu, Arini bisa melihat punggung Damar menegang kaku. Tangan pria itu yang sedang mengusap kepala anaknya berhenti bergerak.
"Rafa rindu Mama..." lanjut anak itu dengan suara lirih. "Kata Mama... Rafa cuma nginep sebentar aja di rumah Tante baik ini. Kapan Mama datang ambil Rafa, Pa?"
Arini menutup mulutnya kuat-kuat dengan kedua tangan, menahan napas agar isak tangisnya tidak pecah. Kakinya lemas hingga ia nyaris tersungkur ke lantai.
Kata Mama... Rafa cuma nginap sebentar di rumah Tante ini.
Pernyataan polos anak kecil itu adalah palu godam yang menghancurkan seluruh kebohongan Damar tak bersisa. Ibu anak itu bukan hanya masih hidup. Ia ada. Ia berencana. Ia yang menyuruh anak ini dititipkan di rumah Arini!
Tangan Arini mengepal kuat, kukunya menancap dalam di telapak tangannya hingga terasa perih. Suaminya dan wanita jalang itu... mereka berkomplot menjadikannya tempat penitipan anak, sementara Damar merangkai cerita kematian palsu yang begitu dramatis.
Arini mundur perlahan dari pintu itu. Matanya menyalang dalam kegelapan lorong. Rasa sakit di hatinya kini telah hangus, berganti dengan bara dendam dan kemarahan yang menyala terang.
Baik, Damar. Jika ini permainan yang kalian inginkan, batin Arini dengan gigi gemeretak. Mari kita lihat siapa yang akan hancur pada akhirnya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar