Denting sendok yang beradu dengan piring porselen malam itu terasa lebih nyaring dari biasanya. Di ujung meja makan panjang berukir gaya klasik itu, Ibu mertuaku, Bu Nita, meletakkan sendoknya dengan kasar.

"Sayur ini keasinan," ucapnya dengan nada dingin yang langsung membelah keheningan ruang makan.

Aku menelan ludah, menatap mangkuk sayur asem di tengah meja. "Maaf, Bu. Tadi saya sudah cicipi, rasanya pas. Mungkin..."

"Mungkin apa? Kamu mau bilang lidah saya yang rusak?" potong Bu Nita cepat. Matanya yang tajam menatapku penuh selidik.

"Bukan begitu maksud saya, Bu."

"Alah, sudahlah, Ma. Namanya juga orang dari kampung, seleranya ya selera lidah murahan. Mana ngerti dia masak buat keluarga konglomerat seperti kita," celetuk Siska, adik iparku yang duduk di seberang meja. Ia mengaduk-aduk makanannya dengan ekspresi jijik.

Aku menoleh ke arah suamiku yang duduk di sebelahku. Farhan. Laki-laki yang sudah lima tahun berbagi bantal denganku itu hanya menunduk, sibuk memotong daging di piringnya seolah percakapan ini tidak pernah ada.

"Mas..." panggilku pelan, berharap ia setidaknya bersuara untuk menengahi.

Farhan menghela napas panjang, meletakkan pisaunya, lalu menatapku dengan sorot mata lelah. "Sal, udah sih. Kalau Mama bilang keasinan, ya minta maaf aja. Jangan dijawab."

Dada ini rasanya seperti ditimpa batu besar. "Tapi aku nggak bermaksud melawan, Mas. Aku cuma..."

"Kamu itu memang nggak pernah bisa diajari sopan santun, Salma!" Suara Bu Nita meninggi. Ia mengebrak meja pelan, tapi cukup membuat beberapa gelas bergetar. "Anak saya ini sekarang CEO. Bos besar. Relasinya orang-orang penting. Lah kamu? Disuruh masak yang benar saja nggak becus! Malu saya kalau ada tamu datang ke rumah dan disuguhi masakan model begini!"

"Ma, ini kan cuma makan malam biasa. Nggak ada tamu," Farhan mencoba melembutkan suara ibunya.

"Justru karena makan malam keluarga! Istrimu ini harusnya melayani kita dengan baik. Kamu itu yang kasih dia makan, Farhan. Kamu yang belikan dia baju. Harusnya dia sadar diri posisinya di rumah ini cuma numpang hidup!"

Telingaku berdenging. Kata-kata 'numpang hidup' itu meluncur begitu mudah dari mulutnya.

"Saya bukan parasit, Bu," balasku. Suaraku bergetar menahan tangis yang mendesak di tenggorokan. "Saya istri Mas Farhan."

"Istri yang tidak bisa menghasilkan apa-apa!" balas Bu Nita tajam. "Lima tahun, Salma. Lima tahun kamu nikah sama anak saya. Mana cucu buat saya? Mana prestasimu yang bisa dibanggakan? Teman-teman arisan saya semua memamerkan menantu mereka yang dokter, yang pengusaha, yang anak menteri. Saya? Saya cuma bisa diam kalau ditanya menantu saya kerja apa!"

"Ma, tolong... masalah anak kan rezeki dari Tuhan," sahut Farhan, wajahnya mulai terlihat panik karena ibunya semakin marah.

"Kamu diam, Han! Ini gara-gara kamu terlalu memanjakan perempuan ini!" Bu Nita menunjuk wajahku. "Kalau saja dulu kamu nurut sama Mama untuk menikahi anak temen Mama, hidup kamu nggak akan repot mengurus perempuan benalu ini!"

"Saya nggak pernah merepotkan Mas Farhan, Bu," kataku tegas. Kesabaranku mulai menipis. "Selama ini saya selalu mengurus rumah, menyiapkan semua kebutuhan Mas Farhan dari dia bangun tidur sampai tidur lagi."

"Halah, pembantu juga bisa kalau cuma begitu!" timpal Siska sambil tertawa sinis.

"Cukup, Siska," kataku, menatap tajam adik iparku itu. "Kamu nggak tahu apa-apa soal urusan rumah tangga saya."

"Berani kamu membentak anak saya di rumah saya sendiri?!" Bu Nita langsung berdiri. Matanya melotot marah.

"Salma! Jaga bicara kamu!" bentak Farhan, ikut berdiri. Ia mencengkeram lenganku cukup keras. "Minta maaf sama Siska dan Mama. Sekarang."

Aku menatap Farhan tidak percaya. Laki-laki yang lima tahun lalu berlutut di depanku, memohon agar aku mau mendampinginya saat ia bahkan tidak punya uang untuk menyewa gedung pernikahan, kini berdiri membelanya keluarganya yang jelas-jelas menghinaku.

"Kenapa aku harus minta maaf, Mas? Kamu dengar sendiri apa yang mereka bilang tentang aku. Aku ini istrimu!"

"Kamu yang mulai duluan membantah Mama! Minta maaf, Salma!"

"Nggak mau."

Plak!

Satu tamparan mendarat di pipiku, bukan dari Farhan, melainkan dari Bu Nita yang sudah berjalan memutari meja. Ujung bibirku terasa perih.

"Mama!" seru Farhan kaget.

"Biarin, Han! Perempuan kurang ajar ini memang harus diajari tata krama!" napas Bu Nita memburu. "Kamu pilih, Farhan! Kamu pilih ibu yang sudah melahirkan dan membesarkan kamu, atau perempuan kampung yang mandul dan nggak tahu diri ini?!"

Suasana ruang makan mendadak hening. Udara terasa membeku. Aku memegangi pipiku yang panas, menatap suamiku lekat-lekat. Mataku sudah berkaca-kaca, tapi aku menolak membiarkan air mata itu jatuh di depan mereka.

"Mas..." panggilku parau. "Kamu mau diam saja lihat istrimu ditampar?"

Wajah Farhan pucat pasi. Ia menatap ibunya yang berkacak pinggang dengan wajah murka, lalu menatapku. Rahangnya mengeras. Ia terlihat seperti orang kebingungan, terjepit di antara dua tebing yang siap menghancurkannya.

"Ceraikan dia malam ini juga, Farhan! Atau kamu angkat kaki dari rumah ini dan jangan pernah panggil saya Mama lagi!" ancam Bu Nita dengan suara menggelegar.

"Ma, jangan begini. Ini bisa dibicarakan..."

"Tidak ada yang perlu dibicarakan! Pilih sekarang!"

Siska bersedekap, tersenyum penuh kemenangan dari kursinya.

Aku menatap mata suamiku. Mencari sisa-sisa cinta yang dulu pernah menjanjikan surga. Namun yang kulihat hanyalah ketakutan dan kepengecutan seorang laki-laki yang terlalu lemah untuk membela wanita yang menemaninya dari titik nol.

Farhan menelan ludah. Ia membuang muka, tidak berani menatap mataku.

"Maafkan aku, Sal," bisiknya lirih, tapi cukup terdengar di ruangan yang sepi itu.

Jantungku seakan berhenti berdetak. "Mas? Kamu... bilang apa?"

Farhan menarik napas panjang, lalu menatapku dengan mata memerah. Suaranya gemetar saat kalimat itu keluar dari mulutnya.

"Mulai malam ini, aku jatuhkan talak satu kepadamu, Salma."

Dunia seakan runtuh di atas kepalaku. Kakiku lemas, tapi aku memaksa diriku untuk tetap berdiri tegak. Bu Nita menghela napas lega, tersenyum lebar seolah baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah.

"Bagus," ucap wanita paruh baya itu puas. "Sekarang, kamu kemasi barang-barangmu, dan keluar dari rumah saya."

Aku tidak menangis. Entah kenapa, air mataku justru mengering. Ada rasa sakit yang begitu luar biasa hingga membuat perasaanku mati rasa. Aku menatap pria yang baru saja membuangku itu. Laki-laki yang kucintai dengan segenap nyawaku, kini menunduk seperti pecundang.

Aku merapikan kerah bajuku yang sedikit berantakan, menatap mertua dan suamiku bergantian. Lalu, perlahan, sebuah senyum pahit terukir di bibirku.

"Terima kasih atas semuanya, Mas," ucapku tenang, menatap tepat ke manik mata Farhan yang tampak terkejut melihat reaksiku. "Semoga suatu hari nanti kamu tidak menyesali keputusan ini."

Aku membalikkan badan, berjalan meninggalkan ruang makan dengan kepala tegak, sementara sayup-sayup kudengar suara Bu Nita yang memanggil pelayan untuk membersihkan piringku.

Malam itu, jam pasir pernikahanku resmi berhenti berdetak.