Kamar utama yang biasanya terasa hangat ini, mendadak berubah menjadi ruangan paling asing bagiku. Kutarik koper ukuran besar dari atas lemari, meletakkannya dengan kasar di atas tempat tidur berseprai putih bersih.

Suara ritsleting koper yang terbuka memecah keheningan. Tanganku bergerak cepat, memasukkan baju, celana, dan beberapa dokumen penting tanpa peduli kerapiannya. Napasku memburu. Dadaku terasa sesak seperti ada bongkahan es yang bersarang di sana.

Cklek.

Pintu kamar terbuka. Dari ekor mataku, aku melihat pantulan Farhan di cermin meja rias. Ia masuk, menutup pintu perlahan, lalu berdiri canggung di dekat ambang pintu.

"Kamu... beneran mau langsung pergi malam ini, Sal?" suaranya terdengar ragu.

Aku tidak menoleh. Terus melipat beberapa kemeja dan melemparnya ke dalam koper. "Lalu? Kamu berharap aku menginap di kamar tamu dan membikinkanmu sarapan besok pagi setelah kamu menalakku di depan keluargamu?"

"Sal, tolong. Kamu tahu aku lagi emosi," langkah Farhan mendekat. Ia mencoba menyentuh bahuku, tapi aku langsung menepisnya.

"Jangan sentuh aku!" sentakku tajam. Kali ini aku berbalik menatapnya. "Kamu sudah menjatuhkan talak, Mas. Secara agama, kita bukan lagi suami istri yang bebas bersentuhan."

Farhan mengusap wajahnya kasar. "Kamu sih, kenapa harus ngelawan Mama? Kamu tahu kan tensi Mama lagi tinggi? Kalau kamu diam aja, minta maaf, semuanya nggak akan jadi panjang begini!"

Aku tertawa hambar. Tawa yang sama sekali tidak ada kebahagiaan di dalamnya. "Jadi ini salahku? Salahku karena aku menolak dihina sebagai perempuan kampung yang mandul? Salahku karena aku minta sedikit saja pembelaan dari suamiku sendiri?"

"Aku bukannya nggak mau bela kamu, Sal! Tapi posisi aku serba salah!" Farhan membalas dengan nada sedikit tinggi. "Kamu ngertiin dong posisi aku. Perusahaanku lagi butuh suntikan dana dari relasi Mama. Kalau Mama narik dukungannya, bisnisku bisa hancur!"

"Oh, jadi ini soal uang?" Aku mengangguk-angguk pelan, menatapnya dengan rasa jijik yang mulai tumbuh. "Demi mengamankan bisnis yang kamu banggakan itu, kamu rela menumbalkan istrimu?"

"Bukan begitu maksudku!"

"Terus apa?!" bentakku, kali ini air mata yang kutahan sejak tadi akhirnya menetes. "Kamu ingat dari mana modal awal bisnismu waktu kamu hampir bangkrut dua tahun lalu, Mas? Waktu vendor menuntut pembayaran dan kamu hampir dipenjara karena cek kosong? Kamu ingat siapa yang bayar itu semua?!"

Wajah Farhan seketika memucat. Matanya menghindari tatapanku. "Itu... itu kan masa lalu, Sal."

"Masa lalu katamu?!" Aku merangsek maju, menunjuk tepat ke dadanya. "Kalung berlian peninggalan almarhumah ibuku, satu-satunya warisan yang kumiliki, kujual diam-diam supaya kamu nggak malu di depan ibumu! Aku berbohong pada ibumu, bilang kalung itu hilang dicuri, sampai aku dituduh ceroboh! Kamu tahu itu, Mas! Tapi pernahkah kamu menceritakan pengorbananku itu ke ibumu? Pernahkah kamu bilang padanya bahwa 'perempuan benalu' ini yang menyelamatkan nyawamu?!"

"Sal... pelankan suaramu. Nanti kedengaran Mama," bisik Farhan panik, melirik ke arah pintu.

"Biarin! Biar dia dengar sekalian kalau anak kebanggaannya ini cuma laki-laki pengecut yang berlindung di balik rok ibunya!"

"Salma, cukup!" Farhan mencengkeram kedua bahuku kuat-kuat. "Aku kan udah bilang, uang kalung itu pasti aku ganti. Berapa harganya? Lima puluh juta? Seratus? Aku bisa transfer sekarang juga!"

Aku menatapnya dengan tatapan kosong. Hatiku rasanya sudah mati sepenuhnya untuk laki-laki ini.

Kulepaskan cengkeramannya dari bahuku dengan tenaga yang tersisa. "Kamu pikir uang seratus juta bisa mengembalikan harga diriku yang diinjak-injak ibumu selama lima tahun? Kamu pikir uangmu bisa membeli air mata yang kukeluarkan setiap malam karena harus menahan sakit hati sendirian?"

Farhan terdiam. Mulutnya setengah terbuka, tapi tak ada kata yang keluar.

Aku kembali berbalik, menutup koperku dan menarik ritsletingnya dengan cepat. Kupakai jaketku, lalu mengambil tas selempang di atas nakas. Sebelum melangkah pergi, aku melepas cincin kawin dari jari manisku. Cincin emas putih sederhana yang dulu kupakai dengan senyum paling bahagia di dunia.

Kutaruh cincin itu di atas meja rias, bunyinya berdenting pelan.

"Uangmu simpan saja, Mas. Buat modal nikah lagi dengan perempuan kaya pilihan ibumu," ucapku dingin tanpa menoleh kepadanya lagi.

Kutarik gagang koper, berjalan melewati Farhan yang masih mematung. Saat tanganku menyentuh kenop pintu, suaranya kembali terdengar, kali ini terdengar bergetar.

"Kamu nggak punya siapa-siapa di kota ini, Sal. Kamu mau pergi ke mana malam-malam begini? Uang tabunganmu nggak seberapa. Paling lama tiga hari lagi, kamu pasti akan meneleponku dan minta dijemput pulang."

Aku memutar kenop pintu, menatap lorong rumah mewah yang terasa dingin ini untuk terakhir kalinya.

"Lebih baik aku mati kelaparan di jalanan," jawabku tanpa berbalik, "daripada harus mengemis sisa makanan di rumah ini lagi."

Aku melangkah keluar dari kamar. Namun, baru tiga langkah aku berjalan di lorong, langkahku terhenti. Di ujung tangga, Bu Nita berdiri melipat tangan di dada. Di tangannya, ia memegang sebuah amplop cokelat tebal yang kemudian ia lemparkan ke lantai tepat di depan kakiku. Amplop itu terbuka, memperlihatkan tumpukan uang seratus ribuan.

"Ambil itu sebagai pesangonmu," ucap Bu Nita dengan senyum meremehkan. "Hitung-hitung bayaran untuk jasamu selama lima tahun mencucikan baju anak saya. Sekarang, pungut uang itu dan enyah dari pandangan saya selamanya."

Aku menunduk, menatap tumpukan uang di ujung sepatuku, lalu perlahan mengangkat wajah menatap wanita arogan itu. Tanganku mengepal kuat di gagang koper.