Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden jendela ruang makan, seolah tak peduli bahwa semalam ada hati yang baru saja hancur lebur di rumah ini. Aroma kopi tubruk dan roti panggang menguar, menyapa hidung siapa saja yang turun dari lantai dua.

Bu Nita duduk di kursi kebesarannya di ujung meja. Wajahnya cerah, bibirnya menyunggingkan senyum puas yang tak kunjung luntur sejak semalam. Tangannya yang dipenuhi perhiasan emas mengetuk-ngetuk meja dengan irama riang.

"Bik! Bik Minah!" panggil Bu Nita dengan suara lantang.

Seorang wanita paruh baya berseragam asisten rumah tangga tergopoh-gopoh keluar dari dapur. Wajahnya menunduk ketakutan. "I—iya, Nyonya Besar?"

"Kamu sudah buang semua barang rongsokan perempuan itu yang masih tertinggal di kamar atas?" tanya Bu Nita ketus.

"Maksud Nyonya... barang-barang Non Salma?"

"Jangan sebut nama perempuan itu di rumah ini lagi!" Bu Nita menggebrak meja pelan, tapi cukup membuat Bik Minah berjengit. "Dia bukan 'Non'-mu lagi. Dia cuma gembel yang kebetulan pernah numpang makan di sini. Saya tanya, barang-barangnya sudah dibuang semua atau belum?!"

"B—belum semua, Nyonya. Ada beberapa buku resep dan baju daster yang di lemari bawah..."

"Bakar semuanya!" potong Bu Nita cepat. "Saya nggak mau lihat ada satu benang pun milik perempuan mandul itu tertinggal di rumah saya. Bikin sial saja!"

"T—tapi Nyonya, bukunya sepertinya penting..."

"Kamu ini dibayar untuk kerja atau untuk membantah saya?!" Mata Bu Nita melotot tajam. "Atau kamu mau saya pecat dan kamu ikut menyusul majikan miskinmu itu jadi gelandangan?!"

"B—baik, Nyonya. Saya bereskan sekarang juga." Bik Minah menunduk dalam-dalam dan buru-buru menyingkir dari ruang makan sebelum amarah majikannya meledak lebih jauh.

Tak lama, suara langkah kaki berat terdengar menuruni tangga. Siska muncul dengan piyama sutra merahnya, menguap lebar sambil menggaruk rambutnya yang berantakan. Ia menarik kursi di sebelah ibunya dan langsung menuangkan jus jeruk ke gelas.

"Pagi, Ma. Serah terima jabatan sama asisten baru nih?" goda Siska sambil tertawa kecil, melirik ke arah perginya Bik Minah.

"Biarin aja. Pembantu kok belain mantan majikan yang nggak tahu diri," dengus Bu Nita, mengambil sepotong roti panggang. "Lagian, Mama lega banget rasanya, Sis. Udara di rumah ini rasanya lebih segar. Nggak ada lagi bau bawang dan bau kemiskinan."

Siska tertawa lepas. "Bener banget, Ma! Semalam Siska sampai tidur nyenyak banget. Akhirnya ya, Ma, drama numpang hidup si Salma itu tamat juga. Mas Farhan sadar juga akhirnya."

Langkah kaki lain menyela tawa mereka. Farhan berjalan gontai memasuki ruang makan. Kemeja putih yang dipakainya tampak kusut, kancing atasnya terbuka dua, dan kantung matanya menghitam jelas. Wajahnya kuyu, seolah ia baru saja dikeroyok preman semalaman suntuk.

Ia menarik kursi dan duduk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya kosong memandangi meja makan.

Bu Nita meletakkan rotinya, menatap putranya dengan dahi berkerut. "Kamu ini kenapa, Han? Kusut banget muka kamu. Harusnya kamu bersyukur, beban hidupmu sudah berkurang satu."

Farhan mengusap wajahnya kasar, mendesah panjang. "Ma, tolonglah. Farhan lagi pusing. Kepala Farhan rasanya mau pecah."

"Pusing kenapa? Perusahaan ada masalah lagi?"

"Bukan urusan kantor, Ma. Ini soal semalam." Farhan menekan pelipisnya dengan dua jari. "Farhan nggak bisa tidur mikirin Salma. Dia beneran pergi bawa koper tengah malam. Uang yang Mama lempar ke dia semalam juga nggak dia sentuh sama sekali. Tadi pagi Farhan cek, uangnya masih berserakan di lorong."

Mendengar itu, Bu Nita tertawa sinis. Ia menatap Siska sebentar sebelum kembali menatap putranya.

"Bagus dong kalau dia nggak ambil! Berarti uang kita utuh," ucap Bu Nita enteng. "Itu cuma akal-akalan dia saja, Han. Dia sok jual mahal, sok punya harga diri. Padahal Mama yakin, paling lambat besok sore dia bakal nangis-nangis telepon kamu minta dijemput. Perempuan miskin seperti dia mana bisa hidup di luar sana tanpa uang dari kamu?"

"Tapi Ma, di luar sana bahaya. Kalau sampai terjadi apa-apa sama Salma..."

"Terus kenapa?!" suara Bu Nita langsung meninggi. "Kamu masih peduli sama perempuan yang sudah berani membentak ibumu di rumah ibumu sendiri?! Kamu lupa semalam dia menunjuk-nunjuk wajahmu? Istri macam apa itu?!"

"Dia emosi, Ma! Mama juga tahu kan, Salma selama ini sabar banget," bela Farhan setengah berbisik, matanya tak berani menatap ibunya penuh. "Farhan ngerasa bersalah, Ma. Farhan kelepasan jatuhkan talak."

Prang!

Bu Nita melempar sendok selainya ke atas piring dengan kasar. Matanya menyalang menatap Farhan.

"Kamu ini laki-laki atau bukan, Han?! Baru ditinggal perempuan benalu saja sudah cengeng begini!" maki Bu Nita. "Dengar ya, keputusan kamu menalak dia itu adalah keputusan paling cerdas yang pernah kamu buat seumur hidupmu! Buat apa kamu pertahankan istri yang lima tahun nggak ngasih kamu anak? Kamu mau garis keturunan keluarga kita putus?!"

"Tapi Salma bukan perempuan jahat, Ma..."

"Cukup, Farhan!" potong Bu Nita tegas, tak mau dibantah. "Kamu ini direktur. CEO! Status kamu itu di atas angin. Kamu bisa dapat seratus perempuan yang jauh lebih cantik, lebih kaya, dan lebih berpendidikan dari si Salma itu!"

Siska yang sejak tadi mengunyah roti, ikut menimpali. "Iya, Mas. Lebay banget sih pakai ngerasa bersalah segala. Harusnya Mas itu mikir, bebas dari Salma berarti Mas bisa cari istri yang levelnya sepadan sama kita. Malu tau, tiap aku kumpul sama temen-temenku, mereka nanya istri Mas Farhan lulusan apa. Aku sampai bingung jawabnya!"

Farhan hanya diam. Ia menunduk menatap cangkir kopi yang belum disentuhnya. Pikirannya melayang pada ucapan Salma semalam tentang kalung peninggalan ibunya. Rasa bersalah itu terus menggerogoti dadanya, namun ketakutannya pada sang ibu jauh lebih besar.

Melihat putranya terdiam, Bu Nita merendahkan suaranya, mencoba merayu. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Han, kamu percaya sama Mama. Mama melakukan ini semua demi masa depan kamu," ucap Bu Nita lembut, meski matanya tetap menyiratkan ambisi. "Sebenarnya, dari bulan lalu Mama sudah menyiapkan seseorang untuk kamu."

Farhan langsung mendongak. Dahinya berkerut dalam. "Maksud Mama apa? Menyiapkan siapa?"

Bu Nita tersenyum penuh arti. "Alina. Anak perempuan Tante Sisca, sahabat arisan Mama. Dia baru pulang S2 dari London. Cantik, pintar, dan yang paling penting... papanya adalah pemegang saham terbesar di grup properti yang sedang kamu incar kerjasamanya itu."

"Ma! Farhan baru semalam cerai sama Salma! Belum juga dua puluh empat jam! Masa Mama sudah jodohin Farhan sama perempuan lain?!" Farhan setengah berteriak, tak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Loh, memangnya kenapa?" balas Bu Nita santai, bersandar di kursinya. "Laki-laki sepertimu nggak boleh kelihatan terpuruk cuma karena urusan rumah tangga. Alina itu paket lengkap. Kalau kamu nikah sama dia, jangankan suntikan dana, seluruh jaringan bisnis papanya akan jadi milikmu."

"Farhan nggak mau, Ma! Ini gila!"

"Yang gila itu kamu kalau menolak rezeki sebesar ini!" bentak Bu Nita, kembali menaikkan nada bicaranya. "Kamu pikir perusahaanmu sekarang aman?! Mama tahu kamu lagi kesulitan dana untuk proyek apartemen baru itu. Kalau kamu nggak dapat suntikan dana bulan depan, kamu bisa bangkrut, Farhan!"

Skakmat. Farhan terdiam kaku. Wajahnya yang kuyu semakin pucat. Mulutnya terkunci rapat.

"Nah, makanya nurut sama Mama," kata Bu Nita sambil tersenyum puas melihat reaksi putranya. "Nanti malam, Mama sudah mengundang Alina dan keluarganya makan malam di sini. Mama mau kamu potong rambut, pakai jas yang rapi, dan bersikap manis di depan mereka."

"Ma, tolonglah... kasih Farhan waktu," mohon Farhan dengan suara parau.

"Tidak ada waktu! Malam ini jam tujuh malam. Kamu harus ada di rumah, menyambut mereka dengan senyum terbaikmu," titah Bu Nita mutlak. Ia berdiri dari kursinya. "Dan ingat, Han. Jangan pernah coba-coba mencari perempuan bernama Salma itu lagi, atau Mama pastikan semua fasilitas dan modal bisnis dari relasi Mama ditarik hari ini juga."

Bu Nita melangkah pergi meninggalkan ruang makan, diikuti Siska yang tersenyum mengejek ke arah kakaknya.

Farhan tertinggal sendirian. Ia menatap kosong ke arah kursi kosong di sebelahnya. Kursi yang selama lima tahun ini selalu ditempati oleh Salma. Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar hebat.

Farhan merogoh sakunya perlahan. Sebuah pesan masuk dari nomor asisten kepercayaannya di kantor.

[Pak Farhan, gawat. Investor utama kita untuk proyek bulan depan tiba-tiba minta rapat mendadak pagi ini. Mereka bilang ada pertimbangan ulang soal pencairan dana.]

Mata Farhan melebar. Napasnya tertahan. Ia meremas ponselnya kuat-kuat dengan tangan gemetar.