Tiga minggu telah berlalu sejak malam di mana duniaku runtuh di ruang makan keluarga itu.

Suasana kamar kos Dina yang sempit terasa pengap, meskipun kipas angin di sudut ruangan sudah berputar dengan kecepatan maksimal. Aku duduk bersila di atas karpet lantai, melipat setumpuk pakaian yang baru saja kuangkat dari jemuran.

Dina berbaring tengkurap di atas kasur, matanya tak lepas dari layar ponselnya. Tiba-tiba, ia tertawa meledak. Tawa yang terdengar sangat puas dan penuh dendam.

"Sal! Sini deh, kamu harus lihat ini!" seru Dina sambil memukul-mukul kasur. "Sumpah, ini berita paling bikin bahagia abad ini!"

Aku menoleh perlahan, masih memegang kemeja Dina yang belum selesai dilipat. "Berita apa, Din? Jangan aneh-aneh deh. Kamu bukannya harus nyiapin bahan presentasi buat besok?"

"Alah, presentasi mah gampang! Ini lebih penting!" Dina bangkit dari kasur, melompat turun, dan menyodorkan layar ponselnya tepat ke depan wajahku. "Baca, Sal. Baca tajuk rencananya!"

Aku menyipitkan mata, membaca deretan huruf tebal di sebuah portal berita bisnis online.

Gagal Dapatkan Suntikan Dana Konsorsium, Proyek Apartemen Elit PT Visi Bangun Persada Terancam Mangkrak. Saham Anjlok Tajam.

Dadaku berdesir. PT Visi Bangun Persada. Itu perusahaan Farhan. Perusahaan yang kubantu bangun dari nol, dari saat kantornya hanya berupa garasi sewaan yang bocor saat hujan.

"Din..." suaraku tercekat. "Ini... proyek yang Om Wijaya tarik dananya waktu itu?"

"Tepat sekali!" Dina bersorak, menepuk tanganku dengan antusias. "Kamu tahu apa artinya ini, Sal? Mantan suamimu yang sok hebat itu sekarang lagi megap-megap! Om Wijaya bilang, gara-gara konsorsium mundur, bank-bank lain juga ikutan menahan pinjaman. Efek domino, Sayang! Hancur sudah kesombongan keluarga benalu itu!"

Aku menunduk. Bukannya merasa senang, ada rasa ngilu yang asing merambat di dadaku. Bagaimanapun, aku tahu persis seberapa keras Farhan bekerja untuk proyek itu. Aku ingat malam-malam di mana ia tertidur di depan laptopnya, dan aku harus memijat pundaknya yang kaku.

"Kok muka kamu malah sedih gitu sih?" Dina memprotes, menarik ponselnya kembali dengan wajah bersungut-sungut. "Kamu nggak lagi kasihan sama laki-laki pengecut itu, kan? Sal, sadar! Dia udah buang kamu!"

"Bukan kasihan, Din," jawabku pelan, kembali melipat pakaian dengan tangan sedikit gemetar. "Hanya saja... aneh rasanya. Sesuatu yang kita bangun susah payah selama bertahun-tahun, bisa hancur cuma dalam waktu tiga minggu."

"Bukan 'kita', Sal. Tapi kamu!" ralat Dina tegas, menunjuk wajahku. "Kamu yang bangun. Dia cuma numpang nama. Makanya, begitu fondasi aslinya—yaitu kamu—pergi, bangunannya langsung rubuh! Biarin aja, biar ibunya tahu rasa..."

"Permisi! Paket!"

Suara ketukan keras di pintu kos memotong kalimat Dina. Kami berdua saling pandang.

"Kamu belanja online lagi, Din?" tanyaku.

"Nggak tuh. Tanggal tua begini mana berani aku checkout keranjang," Dina mengernyitkan dahi. Ia berjalan ke arah pintu dan membukanya.

Di ambang pintu, seorang kurir berdiri memegang sebuah kotak beludru berwarna merah marun yang terlihat sangat mewah, diikat dengan pita emas. Di atasnya terdapat sepucuk amplop putih berlogo embos.

"Atas nama Ibu Salma?" tanya kurir itu.

Dina menoleh ke arahku dengan tatapan bingung. "Buat kamu, Sal."

Aku berdiri, mendekat ke pintu dengan perasaan tak menentu. "Dari siapa, Mas?"

"Wah, kurang tahu, Bu. Saya cuma disuruh antar dari butik wedding organizer di pusat kota. Tanda tangan di sini ya, Bu."

Jantungku tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Wedding organizer? Aku menandatangani resi itu dengan tangan dingin, lalu menerima kotak beludru tersebut. Kotak itu berat. Dan entah kenapa, aroma parfum maskulin yang sangat kukenal menguar tipis dari permukaannya. Parfum Farhan.

Begitu kurir pergi dan pintu ditutup, Dina langsung merampas kotak itu dari tanganku.

"Buka, Sal. Buka sekarang. Firasatku nggak enak banget," desak Dina, matanya membelalak penasaran.

Tanganku gemetar saat menarik pita emas itu. Kotak beludru terbuka. Di dalamnya, terbaring sebuah undangan pernikahan akrilik transparan dengan ukiran tinta emas yang sangat indah. Namun, bukan keindahan undangan itu yang membuat napasku seakan berhenti, melainkan dua nama yang terukir besar di sana.

Farhan & Alina

"Kurang ajar!" Dina memekik keras, merebut undangan akrilik itu dan membacanya dari dekat. "Farhan dan Alina?! Tanggal pernikahannya... Minggu depan?! Gila! Ini beneran gila, Sal! Baru tiga minggu kalian cerai secara agama, surat pengadilan aja belum keluar, dia udah mau nikah lagi?!"

Tubuhku membeku. Kakiku mendadak kehilangan tenaga hingga aku harus berpegangan pada pinggiran meja.

"Itu... perempuan yang mau dijodohkan ibunya, Din," bisikku lirih. Suaraku nyaris tak terdengar. "Pantas saja Mas Farhan begitu mudah menjatuhkan talak malam itu. Ternyata ibunya sudah menyiapkan penggantiku."

"Ini bukan manusia, Sal! Ini iblis!" dada Dina naik turun menahan amarah yang meledak. "Mereka sengaja kirim undangan VIP ini ke kosanku buat ngehina kamu! Lihat nih, resepsinya di hotel bintang lima! Pakai duit dari mana coba, padahal perusahaannya lagi mau bangkrut?!"

Aku tak merespons ucapan Dina. Mataku terpaku pada secarik kertas kecil berwarna merah muda yang terselip di dasar kotak beludru. Kertas itu dilipat rapi. Aku mengambilnya dengan ujung jari yang dingin.

Tulisan tangan yang sangat kukenal. Tulisan tegak bersambung milik Bu Nita.

Aku membacanya dalam hati, namun setiap kata seolah diteriakkan langsung ke telingaku.

Untuk Salma, mantan benalu.

Saya kirimkan undangan ini khusus supaya kamu tahu posisi kamu di mana. Lihatlah menantu saya yang baru. Alina. Lulusan luar negeri, anak orang kaya raya, dan pastinya bisa langsung memberikan saya cucu, tidak mandul seperti kamu.

Datanglah kalau kamu mau. Tidak perlu bawa amplop sumbangan, karena saya tahu kamu pasti sudah jatuh miskin dan hidup luntang-lantung. Anggap saja ini sedekah dari keluarga kami supaya kamu bisa merasakan makanan enak untuk terakhir kalinya. Pastikan kamu pakai baju yang rapi supaya tidak dikira pengemis yang nyasar ke hotel bintang lima.

Tertanda, Nyonya Besar Nita.

Air mataku yang sudah mengering selama beberapa minggu ini, kembali luruh tanpa permisi. Kertas merah muda itu terlepas dari tanganku, melayang jatuh ke lantai.

Dina memungutnya. Matanya bergerak cepat membaca barisan kalimat hinaan itu. Detik berikutnya, ia meremas kertas itu kuat-kuat.

"Sal, malam ini juga kita ke rumahnya! Aku bawa polisi sekalian! Mereka pikir mereka siapa bisa nginjak-nginjak harga diri manusia sampai begini?!" Dina berteriak, air mata kemarahan ikut menggenang di pelupuk matanya. "Aku nggak terima sahabatku diginiin, Sal! Aku nggak terima!"

"Jangan, Din," potongku pelan, mengusap air mataku dengan kasar.

"Kamu masih mau diam aja?!"

Aku mengangkat wajah, menatap lurus ke mata Dina. Kesedihan di mataku perlahan memudar, digantikan oleh sebuah tekad yang dingin dan beku. "Bukan diam, Din. Tapi aku sudah kalah. Di mata mereka, aku bukan siapa-siapa."

"Sal..."

"Aku nggak akan membalas dendam dengan datang ke sana atau marah-marah," kataku mantap, meski suaraku masih sedikit bergetar. Aku menatap koperku yang masih bersandar di sudut kamar. "Aku akan pergi, Din."

"Pergi ke mana? Kamu mau pindah kos?"

"Bukan." Aku menggeleng. Menatap undangan akrilik yang tergeletak di atas meja. "Aku harus pergi dari kota ini. Sejauh mungkin. Selama aku masih di sini, bayang-bayang hinaan mereka akan terus menghantuiku."

"Sal, kamu gila?! Kamu nggak punya siapa-siapa di luar sana!" Dina mencengkeram bahuku, mencoba menyadarkanku.

"Justru karena aku nggak punya siapa-siapa, aku harus mulai semuanya dari awal. Tanpa embel-embel mantan istri Farhan." Aku melepaskan tangan Dina dari bahuku dengan lembut. "Besok pagi, aku berangkat."

Dina menatapku tak percaya. "Kamu beneran mau nyerah, Sal?"

Aku tersenyum tipis. "Aku bukan menyerah, Din. Aku sedang menyiapkan kebangkitanku sendiri."