Suara mesin pembuat kopi mendengung keras di sudut kafe kecil yang belum terlalu ramai itu. Di salah satu meja di pojok ruangan, aku duduk memeluk cangkir teh kamomil yang sudah mulai dingin. Tanganku masih gemetar tipis. Mataku sembab, terasa perih setiap kali aku berkedip.
Aku menatap kosong ke luar jendela kaca, melihat kendaraan yang berlalu lalang menembus gerimis pagi. Semalam, aku menghabiskan waktu berjam-jam duduk di halte bus yang sepi, tak tahu harus melangkah ke mana, sampai akhirnya nomor telepon Dina menjadi satu-satunya yang berani kuhubungi.
"Diminum dulu tehnya, Sal. Jangan melamun terus," suara Dina membuyarkan lamunanku.
Sahabatku sejak zaman kuliah itu duduk di seberangku dengan wajah merah padam. Ia baru saja kembali dari kasir membawa sepiring roti bakar. Sifat tomboinya tak berubah, bicaranya selalu ceplas-ceplos dan tak kenal takut.
"Makasih, Din," ucapku pelan. Suaraku serak, hampir habis karena menangis semalaman di kamar kosnya.
Dina meletakkan piring dengan sedikit kasar, membuat roti di atasnya nyaris melompat. Ia menghela napas panjang, menatapku dengan sorot mata campuran antara kasihan dan marah yang meledak-ledak.
"Sumpah ya, Sal. Kalau nggak ingat dosa, rasanya pengin aku datengin rumah mertuamu itu sekarang juga. Aku siram muka si nenek sihir pakai kopi panas!" omel Dina sambil mengepalkan tangannya. "Bisa-bisanya dia ngusir kamu malam-malam hujan begitu?! Dan si Farhan? Laki-laki macam apa dia?! Cuma diam lihat istrinya diusir?!"
Aku menunduk, menatap pantulan wajahku yang menyedihkan di permukaan teh. "Mas Farhan nggak murni diam, Din. Dia yang menjatuhkan talaknya. Atas perintah ibunya."
"Bangsat!" umpat Dina keras, tak peduli beberapa pengunjung kafe menoleh ke arah meja kami. "Lima tahun, Sal! Lima tahun kamu ngabdi sama laki-laki pengecut itu! Kamu yang nyetrikain bajunya, kamu yang masakin makanannya, kamu yang dengerin keluh kesahnya tiap dia stres mikirin utang perusahaan! Terus dibalas pakai talak di depan ibunya yang gila hormat itu?!"
"Mungkin memang ini jalan terbaik, Din," kataku tersenyum getir. "Setidaknya aku nggak perlu lagi dengar ibunya manggil aku perempuan mandul, miskin, benalu..." Air mataku kembali menetes. Cepat-cepat kuusap dengan punggung tangan.
"Benalu apanya?!" Dina mendelik, suaranya naik satu oktaf. "Dia pikir anaknya bisa jadi CEO sukses gaya-gayaan pakai jas mahal itu karena doa ibunya doang? Prett!"
Aku terdiam. Dadaku berdenyut ngilu mengingat pertengkaranku semalam dengan Farhan soal kalung ibuku. "Mas Farhan janji mau ganti uang kalung ibuku, Din. Tapi aku tolak. Uang nggak akan bisa menghapus sakit hatiku."
Dina mendengus sinis. "Kalung ibumu itu cuma seujung kuku dari pengorbananmu, Sal! Farhan dan ibunya itu benar-benar buta huruf soal balas budi!"
Dina menatapku tajam. Tubuhnya condong ke depan, menopang dagu dengan kedua tangannya. "Sal, kamu jujur sama aku. Farhan tahu nggak rahasia terbesar soal perusahaannya?"
Jantungku berdegup lebih kencang. Aku menelan ludah, menatap Dina dengan gelisah. "Rahasia apa, Din?"
"Jangan pura-pura bodoh, Salma," suara Dina berubah serius dan menekan. "Soal suntikan dana dua tahun lalu. Dan soal proyek apartemen besar yang sekarang lagi digarap perusahaannya."
Aku langsung menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada yang menguping. "Ssst, Din! Pelankan suaramu. Aku udah janji sama Pak Wijaya buat tutup mulut soal ini selamanya."
"Tutup mulut apanya?!" Dina mengebrak meja pelan, wajahnya benar-benar murka. "Dua tahun lalu, waktu perusahaannya Farhan mau bangkrut dan hampir dituntut klien, siapa yang nyelamatin dia? Bukan ibunya yang pelit itu kan? Bukan juga modal dari kalung ibumu yang nggak seberapa itu!"
Aku menundukkan kepala dalam-dalam. Tanganku meremas ujung jaketku erat-erat. "Din, tolong..."
"Kamu yang nyelamatin, Sal!" Dina melanjutkan tanpa ampun. "Kamu datang hujan-hujanan ke kantorku, nangis-nangis di kakiku minta tolong supaya aku kenalin kamu ke Om Wijaya, paman aku yang jadi investor properti itu! Kamu presentasi sendiri proposal bisnis suamimu di depan Om Wijaya, kamu yakinkan dia, kamu jaminkan namamu sendiri supaya Om Wijaya mau suntik dana miliaran ke perusahaan suamimu!"
"Tapi Mas Farhan nggak boleh tahu itu, Din. Pak Wijaya juga setuju pakai nama perusahaan lain sebagai kedok supaya ego Mas Farhan sebagai suami nggak terluka. Biar dia merasa dia berhasil dapat investor karena kemampuannya sendiri."
"Dan lihat sekarang hasilnya!" Dina menunjuk wajahku dengan mata berkaca-kaca karena saking kesalnya. "Laki-laki yang egonya kamu jaga setengah mati itu membuangmu begitu saja seperti sampah! Dia pikir dia hebat? Dia pikir dia sukses karena otaknya? Cuih! Kalau bukan karena lobi-lobimu di belakang layar, dia itu udah masuk penjara gara-gara utang, Sal!"
Air mataku tumpah tak tertahankan. Kata-kata Dina menghantam ulu hatiku dengan telak. Semua kebenaran itu memang sengaja kukubur dalam-dalam demi menjaga kehormatan suamiku. Demi menjaga harga diri Farhan di depan keluarganya. Tapi apa balasannya?
"Sal," Dina meraih tanganku yang gemetar, menggenggamnya erat. "Bukan cuma itu kan? Proyek apartemen yang bulan depan mau jalan itu... investor utamanya dari konsorsium kenalan Om Wijaya, kan? Mereka mau invest di sana karena mereka tahu 'istrinya Pak Farhan' adalah orang jaminan dari Om Wijaya."
Aku mengangguk pelan. "Iya, Din. Mereka percaya sama integritasku waktu aku yang turun tangan garap draf perjanjiannya. Mas Farhan cuma tahu dia tiba-tiba dapat persetujuan kontrak."
Dina tersenyum miring, senyum yang sangat berbahaya. Ia melepaskan tanganku, merogoh ponsel dari tasnya, dan meletakkannya di atas meja.
"Kalau gitu, permainan baru saja dimulai, Salma," ucap Dina dengan nada dingin yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Aku menatapnya panik. "Din, kamu mau ngapain?"
"Aku mau menelepon Om Wijaya," jawabnya mantap. Jarinya mulai mencari kontak di layar ponsel.
"Din, jangan! Jangan libatkan pekerjaan Mas Farhan sama masalah pribadi kita. Kasihan karyawannya..."
"Kasihan matamu!" Dina menepis tanganku yang mencoba mencegahnya. "Mantan suamimu itu nggak pernah kasihan sama kamu! Ibunya mengusirmu malam-malam tanpa membawa uang sepeser pun. Kamu pikir aku akan diam saja lihat sahabatku diinjak-injak sama keluarga parasit itu?!"
"Din, ku mohon..."
Dina menatapku tajam, matanya menyala penuh tekad. "Salma, dengar aku baik-baik. Kamu terlalu baik, dan kebaikanmu itu yang bikin kamu diinjak. Sekarang saatnya mereka tahu siapa sebenarnya yang megang kendali hidup mereka."
Dina menempelkan ponsel ke telinganya. Terdengar nada sambung beberapa kali. Aku menahan napas, dadaku bergemuruh hebat.
"Halo, Om Wijaya? Pagi, Om," suara Dina berubah formal namun tegas. Ia menatapku tanpa berkedip saat melanjutkan kalimatnya. "Om, maaf ganggu pagi-pagi. Dina mau kasih info penting soal perusahaan suaminya Salma."
Dina terdiam sejenak, mendengarkan suara di seberang sana, lalu tersenyum sinis.
"Iya, Om. Mulai semalam, Salma sudah bukan istri Farhan lagi. Farhan menalaknya. Jadi... Dina rasa, Om nggak punya alasan lagi buat mempertahankan dana konsorsium di proyek bulan depan itu, kan?"
Jantungku serasa berhenti berdetak mendengarnya. Aku menelan ludah yang terasa seperti duri.
Dina tersenyum puas mendengar jawaban pamannya dari seberang telepon. Ia menurunkan ponselnya perlahan dan menatap tepat ke mataku.
"Om Wijaya baru saja memerintahkan penarikan seluruh dana investasi dari perusahaannya Farhan, pagi ini juga," bisik Dina dengan senyum kemenangan. "Mari kita lihat, apakah laki-laki pengecut itu masih bisa sombong dan nurut sama ibunya kalau perusahaannya hancur berkeping-keping hari ini."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar