Hujan memukul kaca jendela apartemen di lantai dua belas itu dengan ritme yang nyaris brutal. Di luar, Jakarta tenggelam dalam kelamnya badai pertengahan November, namun di dalam kamar tidur utama, kesunyian justru terasa pekat dan mencekik. Mesin pendingin ruangan berdesir pelan, menghembuskan udara yang malam ini terasa aneh. Bukan sekadar sejuk buatan kompresor, melainkan hawa dingin yang menusuk pori-pori, membawa serta aroma samar yang tidak seharusnya ada di sebuah gedung beton di tengah kota: bau tanah basah yang baru digali.
Arya terbangun dengan napas tertahan. Jarum jam weker pendar di nakas menunjuk angka 02:15 dini hari. Keringat dingin merembes di pelipisnya, menempelkan helaian rambut ke kulit. Di sebelahnya, Rina, istrinya, menggeliat gelisah di bawah selimut tebal namun tidak terbangun.
Dada Arya bergemuruh. Ia baru saja memimpikan sesuatu yang tidak bisa ia ingat dengan jelas, menyisakan residu teror berupa perasaan tercekik, seolah paru-parunya penuh dengan lumpur. Saat ia berusaha menstabilkan detak jantungnya, benda pipih di atas nakas bergetar hebat. Layar ponselnya menyala, merobek kegelapan kamar.
Panggilan masuk.
Arya menyipitkan mata, menatap deretan angka tanpa nama yang berpendar di layar. Jari-jarinya mendadak kaku. Itu bukan nomor ponsel, melainkan nomor telepon darat dengan kode area daerah pegunungan di Jawa Tengah. Sebuah deretan angka yang selama dua dekade terakhir berusaha keras ia hapus dari ingatannya, bersama dengan memori tentang rumah joglo besar yang suram dan tatapan sedingin es milik sang kakek.
Tangannya ragu sejenak di udara. Logikanya, sebagai seorang arsitek yang terbiasa dengan perhitungan presisi, mengatakan untuk mengabaikannya. Siapa yang menelepon di jam selarut ini selain orang salah sambung atau kabar buruk? Namun, bau tanah basah di udara kamar ini terasa semakin pekat, seolah memaksa tangannya untuk menggeser tombol hijau.
Ia mengangkatnya, menempelkan benda dingin itu ke telinga. "Halo?"
Tidak ada jawaban seketika. Hanya terdengar suara gemerisik statis yang panjang, disusul derak pelan di latar belakangβseperti suara kayu tua yang diinjak oleh beban yang sangat berat. Arya nyaris memutus sambungan ketika sebuah suara akhirnya merambat masuk ke saluran pendengarannya.
"Nak Arya..."
Bulu kuduk Arya meremang hebat. Suara itu parau, datar, dan anehnya, tidak disertai tarikan napas sama sekali. Seolah kata-kata itu diucapkan oleh seonggok batu, bukan paru-paru manusia. Arya mengenalinya. Itu suara Mbah Wiryo. Orang kepercayaan kakeknya, sesepuh desa yang seingat Arya wajahnya tidak pernah menua sejak ia masih kanak-kanak, hanya kulitnya yang semakin mengeras seperti kayu jati mati.
"Mbah Wiryo? Ada apa malam-malam begini?" Arya berusaha menjaga nada suaranya tetap rasional dan tegas, menekan getaran irasional yang tiba-tiba menyergap pita suaranya. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, menarik selimut lebih tinggi. Suhu AC ini rasanya benar-benar tidak beres.
"Mbah Kung, Nak... Mbah Kung sudah berpulang."
Suara tua itu terdengar tanpa intonasi duka sedikit pun. Malah, jika Arya tidak salah dengar, ada semacam kelegaan ganjil yang mengendap dalam pelafalannya.
Arya terdiam. Kakeknya, sosok otoriter yang mengusir mendiang ayahnya 25 tahun lalu, pria tua pendendam yang tak pernah sudi membalas satu pun surat undangan pernikahan Arya, kini telah tiada. Seharusnya ada kesedihan, atau minimal rasa kehilangan yang wajar sebagai cucu. Namun yang Arya rasakan hanyalah kekosongan yang perlahan diisi oleh kecemasan. Terbayang kembali rumah joglo raksasa di ujung desa yang selalu terhalang kabut, lorong-lorongnya yang berbau kemenyan, dan lantai kayunya yang selalu berdecit seolah menyimpan ribuan rahasia di bawahnya.
"Sakit apa kakek, Mbah?" tanya Arya datar.
"Sudah waktunya," jawab Mbah Wiryo, evasif. "Tanah ini... rumah ini, sekarang menunggu tuannya yang baru. Jangan lama-lama, Nak. Mbah Kung tidak bisa disemayamkan sebelum kamu menginjakkan kaki di sini."
Kening Arya berkerut. "Saya usahakan berangkat pagi ini, setelah urus tiket kereta. Tapi untuk pemakaman, jangan ditunda, Mbah. Agama melarang menunda penguburan jenazah."
"Malam ini juga, Nak Arya. Sebelum subuh," sela Mbah Wiryo cepat. Suaranya kini terdengar lebih dekat, seolah mulut keriput itu menempel langsung di telinga Arya. "Jalannya sudah disiapkan. Bawa istrimu. Bawa anak sulungmu. Mereka juga... harus dikenalkan kepada yang memberi makan keluarga kita."
"Mbah, dengar, ini di luar kendali sayaβ"
Klik. Sambungan terputus. Hanya nada sibuk yang menggema monoton, berpadu dengan suara guruh yang menggelegar membelah langit Jakarta.
Arya menurunkan ponselnya perlahan, membuang napas kasar. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kepalanya mulai berdenyut.
"Siapa, Mas?"
Suara serak Rina dari sebelahnya membuat Arya menoleh. Istrinya mengusap mata yang masih membengkak karena tidur, menatap Arya dengan raut bingung.
"Orang dari desa," jawab Arya pelan, meraba sakelar lampu tidur hingga ruangan benderang oleh cahaya kekuningan. "Kakek meninggal."
Rina terdiam, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan berita mendadak tersebut. Ia tahu betul sejarah kelam suaminya dengan keluarga di desa. Arya tak pernah menceritakan detailnya, selalu menutup rapat topik itu dan mengalihkan pembicaraan dengan alasan bahwa masa lalu biarlah tertinggal di pegunungan sana. Rina merapatkan selimut ke dadanya. "Innalillahi. Terus... kita harus ke sana sekarang?"
"Mbah Wiryo memaksa. Katanya kakek tidak bisa dimakamkan sebelum aku datang." Arya mendengus, mencoba memaksakan tawa sumbang untuk mengusir ketegangan. "Aturan kolot dari mana coba? Tapi... mau tidak mau aku harus ke sana, Rin."
"Hujan badai begini, Mas? Jalur ke desa itu kan lewat tebing pegunungan. Besok pagi saja tidak bisa?" Rina menatap suaminya cemas. "Lagi pula, perasaanku tiba-tiba nggak enak."
Arya terdiam, pikirannya berputar cepat. Rina benar, ini berisiko. Tapi ada satu hal krusial yang tidak pernah ia ceritakan kepada istrinya selama tiga bulan terakhir. Firma arsitektur yang ia rintis bersama dua rekannya sedang berada di ambang kehancuran. Dua mega-proyek batal sepihak, denda keterlambatan material menumpuk, dan utang bank akan segera jatuh tempo dalam hitungan minggu. Mereka terancam bangkrut dan rumah apartemen ini berisiko disita.
Warisan itu.
Kakek adalah tuan tanah terbesar di desa. Ia menguasai hampir dua hektar lahan produktif dan sebuah rumah joglo kuno dari kayu jati utuh yang nilainya bisa mencapai miliaran rupiah jika dihitung dengan kurs hari ini. Sebagai satu-satunya garis keturunan laki-laki yang tersisa dari anak sulung, Arya tahu ia adalah pewaris sah. Ini adalah sekoci penyelamat yang turun dari langit di saat yang paling genting. Sunk Cost Fallacy menguasai logikanya. Ia sudah mengorbankan banyak hal untuk membangun hidup di kota; ia tidak akan membiarkan semuanya hancur hanya karena ia malas mengurus birokrasi kematian seorang kakek yang membencinya.
"Kita berangkat sekarang," putus Arya dengan nada final, bangkit dari ranjang. "Budi pasti juga akan ke sana menuntut bagiannya. Aku tidak mau adikku yang serakah itu mengacak-acak dokumen legal kakek sebelum aku tiba. Ini cuma urusan notaris, Rin. Kita datang, pastikan nama di sertifikat dialihkan, lalu kita jual tanahnya. Setelah itu kita tidak perlu berurusan dengan desa itu lagi selamanya."
Rina menghela napas pasrah, meski raut wajahnya masih menahan kecemasan yang dalam. "Kalau begitu, aku bangunkan Jaka dulu."
"Aku ke ruang kerja sebentar, mengambil map dokumen ayah," kata Arya sambil melangkah keluar kamar.
Lorong apartemen terasa lengang dan jauh lebih dingin dari kamar tidur. Arya berjalan menuju ruang kerja kecilnya. Ia membuka laci terbawah meja kerjanya, tempat ia menyimpan kotak besi berisi dokumen-dokumen lama peninggalan almarhum ayahnya. Kotak itu sedikit macet saat ditarik.
Ketika tutup kotak besi itu terbuka, bau tanah basah kembali menyerbu rongga penciuman Arya, kali ini jauh lebih kuat, menyengat bercampur dengan aroma kapur barus tua. Arya mengernyit. Apartemennya berada di lantai dua belas, mustahil kelembapan dari luar bisa merusak kotak bajanya.
Ia meraih map kulit berwarna cokelat dari dalam sana. Permukaan map itu terasa ganjil di ujung jarinya. Kasar, dingin, dan... lembap. Seperti baru saja diangkat dari dasar sumur.
Jantung Arya kembali berdegup lebih kencang. Ia membawa map itu ke bawah cahaya lampu meja belajar, lalu membukanya. Di dalamnya terdapat salinan Sertifikat Tanah Hak Milik bertahun lama. Kertasnya berwarna agak menguning, namun ada satu hal yang membuat Arya menahan napas.
Deretan nama pewaris yang tercetak di dokumen itu. Di bawah nama kakeknya, tertulis nama ayahnya. Dan tepat di bawah nama ayahnya, tertulis namanya: Arya Kusuma.
Bukan keberadaan namanya yang membuat bulu romanya meremang, melainkan tinta yang digunakan untuk menuliskan namanya. Tinta hitam pekat itu terlihat mengkilap memantulkan cahaya lampu. Tebal, basah, dan seolah berdenyut pelan menyerap ke dalam serat kertas. Arya menyentuh perlahan tulisan namanya dengan ujung telunjuk. Benar saja, tintanya menempel di kulitnya. Lengket dan dingin. Merah kehitaman.
Ini bukan tinta. Ini terlihat seperti... darah yang sudah teroksidasi.
"Masuk akal, kelembapan parah merusak tinta printer murahan," Arya menggumam sendiri, mencoba memaksa logikanya bekerja. Ia mengusap jarinya ke celana tidur, meski rasa dingin dari cairan itu seolah meresap hingga ke tulangnya. Ia buru-buru menutup map tersebut dan memasukkannya ke dalam tas ransel.
Hanya urusan birokrasi. Ambil sertifikat, jual, lalu pulang, rapal Arya dalam hati berulang kali bak sebuah mantra perlindungan.
Tiba-tiba, jeritan melengking memecah keheningan apartemen.
Itu suara Rina. Berasal dari kamar Jaka di ujung lorong seberang.
Arya segera melempar tasnya ke lantai dan berlari kencang. Pintu kamar Jaka terbuka lebar. Saat Arya menerobos masuk, ia mendapati istrinya sedang berdiri mematung dengan tangan menutup mulut, matanya membelalak ngeri menatap ke arah tempat tidur.
Jaka, bocah laki-laki berusia tujuh tahun yang biasanya tidur senyap sampai pagi, kini sedang duduk meringkuk di sudut lantai, tepat di samping kaki ranjang. Ruangan itu terasa sedingin freezer daging. Hembusan napas Jaka mengepul putih di udara.
"Rin? Ada apa?" Arya segera menghampiri Jaka, berlutut di samping anaknya. Ia menyentuh lengan Jaka. Kulit bocah itu sedingin balok es. "Astaga, Jaka, kamu sakit? Kenapa turun dari kasur?"
Jaka tidak menoleh. Mata bulatnya menatap kosong ke arah lantai parket kayu yang mengkilap di hadapannya. Tangan kecilnya mencengkeram erat piyamanya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jaka?" panggil Arya lagi, kepanikannya mulai naik, suaranya sedikit bergetar.
Bocah itu perlahan mengangkat satu tangannya, telunjuk kecilnya yang gemetar menunjuk lurus ke satu titik di lantai kayu yang mulus itu. Suara Jaka terdengar sangat lirih, bergetar, namun sangat jelas di tengah deru hujan di luar jendela.
"Papi..." bisik Jaka tanpa berkedip. "Jangan ke sana. Ada yang garuk-garuk mau keluar dari bawah sini. Dia bilang... dia lapar nungguin Papi."
Dalam keheningan yang menyergap seketika setelah kalimat itu terucap, telinga Arya dan Rina menangkap sesuatu. Samar, namun ritmis dan berasal tepat dari bawah lantai parket yang ditunjuk Jaka. Lantai dua belas sebuah apartemen mewah beton bertulang.
Srek... srek... srek... Suara kuku-kuku panjang yang menggaruk kayu mati dari bawah tanah, mencoba mencari jalan ke atas.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar