Lampu depan SUV hitam itu menembus kabut tebal bagaikan sepasang mata rabun yang meraba-raba kegelapan. Jarum jam di dashboard menunjukkan pukul 05:10 pagi, namun langit di atas jalur pegunungan ini masih segelap dasar sumur. Kaca depan mobil berembun tebal, memaksa wiper bekerja keras dengan bunyi decit yang monoton dan menyayat saraf.
Arya mencengkeram kemudi hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya merah dan pedih akibat kurang tidur, namun ia tidak berani berkedip terlalu lama. Jalanan aspal yang berkelok tajam ini licin oleh lumut dan sisa hujan semalaman. Di sebelahnya, Rina duduk mematung, merengkuh tubuh Jaka ke dalam jaket tebalnya.
"Masih jauh, Mas?" bisik Rina, suaranya parau memecah kesunyian yang sejak tadi menguasai kabin mobil.
"GPS-nya mati sejak kita masuk belokan gapura desa sebelah tadi," sahut Arya datar. Ia mengetuk layar ponselnya yang menempel di dashboard. Layar itu hanya menampilkan peta abu-abu dengan titik biru yang berputar-putar tanpa arah. "Sinyal hilang total. Tapi seingatku, setelah tanjakan pohon beringin kembar di depan sana, kita sudah masuk batas desa kakek."
Rina mengusap dahi Jaka yang bersandar di dadanya. "Jaka badannya dingin banget, Mas. Padahal heater mobil sudah kamu putar penuh kan?"
Arya melirik sekilas ke arah indikator suhu mobil. Benar, pemanas ruangan sudah berada di tingkat maksimal, menyemburkan udara panas ke arah kaki dan wajah mereka. Namun entah mengapa, hawa di dalam kabin tetap terasa menggigit tulang. Hawa dingin ini bukan berasal dari luar, melainkan seolah memancar dari tubuh Jaka sendiri. Mengingat kejadian beberapa jam lalu di apartemenβsaat Jaka menunjuk ke arah lantai yang berbunyi garukanβperut Arya kembali melilit.
Hanya halusinasi anak kecil yang sedang demam, Arya membatin, mengulang mantra rasionalisasinya. Suara garukan itu pasti cuma tikus got atau pipa air gedung yang berderit. Imajinasi Jaka sedang aktif. Logika. Gunakan logikamu, Arya.
Ia kembali memfokuskan pikirannya pada lembaran dokumen di dalam tas di kursi belakang. Sertifikat tanah. Ia membutuhkan warisan itu. Dua hari lalu, pihak bank sudah menelepon dengan nada yang tidak lagi ramah. Jika dalam tiga minggu ia tidak menyetorkan dana talangan, perusahaannya akan disita, begitu pula apartemennya. Ancaman kemiskinan dan rasa malu jauh lebih menakutkan bagi Arya daripada sekadar dongeng hantu pedesaan dan kenangan buruk masa kecil. Ia harus bertahan di sini, membereskan surat menyurat secepat kilat, menjual tanah itu, lalu membawa keluarganya kembali ke Jakarta.
Mobil perlahan merayap naik meniti tanjakan curam. Sepasang pohon beringin raksasa dengan akar gantung yang lebat menyerupai tirai compang-camping muncul dari balik kabut, mengapit jalan layaknya gerbang masuk menuju dunia lain.
Begitu mobil melewati sela kedua pohon itu, suasana mendadak berubah.
Suara desir angin gunung yang sedari tadi menemani perjalanan mereka lenyap seketika, digantikan oleh kesunyian yang menulikan telinga. Udara di luar mobil tampak lebih pekat, seolah kabut di desa ini memiliki massa dan berat.
"Mas..." Rina tiba-tiba menunjuk ke arah luar jendela penumpang. Nada suaranya bergetar. "Coba lihat kebun-kebun itu."
Arya menoleh sekilas. Di sisi kiri dan kanan jalan desa yang kini hanya berupa tanah berkerikil, terhampar ladang pertanian milik warga. Namun ada yang salah dengan proporsinya. Batang-batang pohon jagung itu menjulang setinggi lebih dari tiga meter, setebal tiang bambu. Daun-daun singkong tampak segelap warna zamrud, merambat liar dan luar biasa rimbun hingga menutupi parit-parit jalan. Di tengah kabut dan minimnya cahaya matahari, kesuburan itu terasa sangat tidak wajar, hampir seperti mutasi atau... kanker yang tumbuh tak terkendali di atas tanah.
Tetesan embun yang menempel di ujung daun-daun raksasa itu terlihat kental. Sesekali menetes jatuh ke tanah dengan suara decapan pelan, menyerupai air liur.
"Subur sekali. Berarti tanah kakek harganya bisa lebih tinggi dari perkiraanku," ucap Arya, mencoba melihatnya dari kacamata bisnis, menepis rasa ganjil yang merayap di tengkuknya.
"Bukan subur, Mas. Itu... nggak normal," Rina memeluk Jaka makin erat. "Desa ini nggak normal."
Mereka mulai memasuki area pemukiman. Rumah-rumah warga yang terbuat dari bata dan kayu berjejer dalam jarak yang agak berjauhan. Tidak ada lampu jalan. Hanya cahaya temaram dari lampu pijar 5 watt di setiap teras rumah.
Saat mobil melintas dengan kecepatan rendah, Arya menyadari sesuatu yang membuat darahnya berdesir dingin. Di balik jendela-jendela kayu rumah warga, dari celah-celah gorden yang lusuh, ia bisa melihat wajah-wajah pucat yang mengintip. Laki-laki, perempuan, orang tua. Mereka semua berdiri mematung di dalam gelap rumah mereka sendiri, menatap mobil Arya yang melintas.
Tidak ada ekspresi permusuhan di wajah mereka. Namun juga tidak ada keramahan. Tatapan mereka kosong, datar, dan dingin. Seperti tatapan orang-orang yang sedang menonton sapi perahan digiring masuk ke pekarangan jagal. Tidak ada yang melambai, tidak ada yang keluar dari rumah. Kesunyian mereka adalah bentuk konfirmasi terburuk bahwa kedatangan Arya sudah dinantikan, dan mereka tahu persis untuk apa Arya "dipanggil" pulang.
"Mereka ngeliatin kita, Mas," bisik Rina, nyaris menangis.
"Abaikan saja. Orang desa memang selalu curiga pada mobil plat B," dusta Arya. Ia menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, ingin segera mengakhiri parade penyambutan yang meresahkan ini.
Di ujung jalan desa yang buntu, di tanah yang posisinya sedikit lebih tinggi dari rumah-rumah lain, berdirilah bangunan itu.
Rumah Joglo peninggalan sang kakek.
Ukurannya luar biasa besar untuk ukuran rumah di pedesaan, dikelilingi halaman tanah lapang yang anehnya gundul tanpa satu pun tanaman yang hidup, sangat kontras dengan kesuburan gila-gilaan di ladang warga tadi. Bangunan utamanya terbuat dari kayu jati berukir yang sudah menghitam dimakan usia. Atap tajugnya menjulang tinggi ke langit yang tertutup kabut, seakan-akan sedang menantang Tuhan. Dalam remang fajar, rumah itu tidak terlihat seperti tempat tinggal, melainkan menyerupai makhluk purba raksasa yang sedang berjongkok, menunggu mangsanya masuk ke dalam mulutnya yang menganga.
Arya mematikan mesin mobil di halaman. Seketika, kesunyian absolut membungkus mereka. Tidak ada kokok ayam pelung, tidak ada kicau burung camar pagi. Hanya detak jantung mereka sendiri.
"Kita sudah sampai," Arya menghela napas berat, meraih pegangan pintu. "Ayo turun."
Begitu pintu mobil dibuka, udara luar langsung menampar wajah Arya. Dinginnya tidak masuk akal, seolah ia baru saja melangkah masuk ke dalam lemari pendingin daging. Hawa itu begitu berat, menekan rongga dadanya hingga ia harus mengambil napas panjang untuk bisa memompa oksigen ke paru-paru.
Dan baunya.
Bau tanah basah yang ia cium di apartemen tadi kini bercampur dengan aroma kemenyan yang tajam, kapur barus, dan sesuatu yang manis namun busuk, mengingatkannya pada bunga kamboja yang layu di atas kuburan.
Di beranda depan yang luas dan hanya diterangi sebuah lampu teplok gantung, sesosok pria tua berdiri mematung. Mengenakan kemeja batik pudar dan kain sarung, bersedekap dengan wajah menunduk.
Itu Mbah Wiryo.
Arya melangkah mendekat, diikuti Rina yang menggendong Jaka di belakangnya. "Mbah," sapa Arya berbasa-basi.
Mbah Wiryo perlahan mengangkat wajahnya. Arya tersentak mundur setengah langkah. Cahaya lampu teplok menyinari wajah keriput itu. Kulit Mbah Wiryo terlihat kering seperti tanah kemarau yang retak-retak. Namun yang membuat Arya bergidik adalah matanya. Kedua bola mata itu hitam pekat, seolah bagian putihnya telah menyusut. Saat Mbah Wiryo menatapnya, pria tua itu tidak berkedip sama sekali. Bahkan ketika seekor lalat kecil hinggap sesaat di pelupuk matanya, kelopak itu tetap kaku.
Dan di tengah suhu udara sedingin ini, saat napas Arya dan Rina mengepul menjadi asap putih setiap kali mereka menghembuskan udara, mulut dan hidung Mbah Wiryo sama sekali tidak mengeluarkan uap. Seolah pria tua itu tidak bernapas. Tidak ada proses metabolisme di dalam dadanya.
"Sudah pulang rupanya, pewaris kita," suara parau Mbah Wiryo memecah keheningan. Nadanya monoton. Ia mengulurkan tangannya yang kurus berurat.
Arya menyambut uluran tangan itu dengan ragu. Saat kulit mereka bersentuhan, Arya nyaris menarik tangannya kembali secara refleks. Tangan Mbah Wiryo sekaku dahan pohon basah, dan luar biasa dingin. Tidak ada denyut nadi yang terasa di pergelangan tangannya. Di sela-sela kuku pria tua itu, Arya melihat kotoran hitam lengket yang awalnya ia kira lumpur, namun kotoran itu tampak mengkilap seperti getah pohon mati. Aroma kapur barus menyeruak tajam dari pori-pori kulit Mbah Wiryo.
"Kakek... kakek ada di dalam, Mbah?" tanya Arya, berusaha melepaskan jabatan tangan itu dengan sopan.
"Mbah Kung sudah rindu. Dia menunggu di ruang tengah. Mari," Mbah Wiryo membalikkan badan tanpa mempedulikan Rina maupun Jaka yang sedari tadi menggigil di belakang Arya. Ia melangkah masuk menembus pintu kayu jati ganda yang terbuka separuh. Langkah kaki Mbah Wiryo tidak menimbulkan suara decit sedikit pun di atas lantai kayu beranda, seolah kakinya melayang sekian milimeter di atas permukaan.
Arya menelan ludah. Ia menoleh ke arah istrinya dan mengangguk pelan, memberikan isyarat agar tetap tenang. Rina membalas dengan tatapan memohon, namun ia tidak punya pilihan selain mengikuti suaminya melangkah masuk melewati ambang pintu rumah raksasa itu.
Begitu mereka masuk ke dalam ruang tamu, suhu udara entah bagaimana terasa jauh lebih dingin daripada di luar. Suasana di dalam temaram. Perabotan kayu kuno tertutup kain putih lusuh menyebar di beberapa sudut. Di tengah ruangan yang luas itu, di atas sebuah dipan kayu rendah, terbujur sesosok tubuh yang ditutupi seluruhnya oleh kain jarik bermotif parang cokelat.
Tidak ada pelayat. Tidak ada lantunan doa. Jenazah kakek Arya dibiarkan sendirian dalam sepi, ditemani kepulan asap tipis dari tungku kemenyan kecil di dekat kepalanya.
Lantai kayu jati di bawah kaki Arya berderit pelan saat ia melangkah maju. Suaranya panjang dan melengking, menyerupai erangan pelan manusia yang sedang menahan sakit.
"Aku... aku letakkan barang-barang dulu di kamar, Mbah. Sekalian menidurkan Jaka. Dia kurang sehat," kata Arya, merasa tidak sanggup langsung melihat wajah kakeknya setelah 25 tahun terasing. Ia butuh waktu untuk menata logikanya kembali.
"Kamar Mbah Kung sudah Mbah bersihkan. Di sayap kiri. Kamu dan keluargamu tidur di sana," ucap Mbah Wiryo tanpa menoleh, matanya terpaku pada jenazah di atas dipan. "Istirahatlah. Nanti siang perangkat desa akan datang untuk memandikan dan menguburkan. Setelah itu, tidak ada yang boleh keluar dari pekarangan ini."
Arya mengernyitkan dahi. Ingin rasanya ia membantah dan bertanya, apa maksudnya tidak ada yang boleh keluar? Namun kelelahan fisik dan mental menahan lidahnya. Ia hanya mengangguk dan menuntun Rina menuju lorong sayap kiri rumah.
Lorong itu sempit, gelap, dan memanjang ke belakang. Langit-langitnya dipenuhi sarang laba-laba tebal. Udara di sini terasa stagnan, berbau karat besi dan debu yang sudah menumpuk puluhan tahun. Di sepanjang lorong, terdapat tiga pintu kayu. Kamar utama berada di ujung paling depan. Namun mata Arya justru tertuju pada sebuah pintu ganda di ujung lorong yang paling gelap.
Pintu itu berbeda dari yang lain. Kayunya lebih tebal, dan di bagian tengahnya terdapat gembok besi berkarat sebesar kepalan tangan orang dewasa. Rantai besi melilit gagang pintunya dengan rapat. Itu adalah gudang penyimpanan lama. Ruangan tempat kakeknya dulu melarang siapa pun masuk, tempat di mana Arya kecil pernah mendengar suara-suara aneh saat ia bermain petak umpet.
"Mas, kamar kita yang mana?" bisik Rina, membuyarkan lamunan Arya. Rina tampak enggan berlama-lama di lorong tersebut. Jaka di gendongannya kini sudah tertidur pulas akibat kelelahan, walau napasnya terdengar berat.
"Yang pertama ini," Arya membuka pintu kamar yang paling dekat. "Kamu masuklah dulu. Baringkan Jaka. Aku akan ambil koper dan tas di mobil."
Rina mengangguk dan segera masuk, menutup pintu dengan cepat dari dalam.
Arya berdiri sendirian di lorong yang temaram itu. Keheningan kembali menguasainya. Ia berniat berbalik menuju pintu depan, namun matanya seolah ditarik paksa kembali ke arah pintu gudang yang tergembok rantai di ujung lorong.
Hidungnya menangkap bau yang sangat menyengat dari arah sana. Bau lumpur anyir yang begitu kental.
Dengan langkah pelan dan hati-hati, meminimalisir suara derit lantai kayu, Arya berjalan mendekati pintu gudang tersebut. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya. Ia ingat kakeknya pernah sangat marah besar hingga memukul ayah Arya menggunakan rotan hanya karena ayahnya tanpa sengaja menyenggol gembok itu. Apa yang sebenarnya disembunyikan pria tua serakah itu di dalam sana? Harta karun? Emas? Dokumen rahasia?
Arya tiba di depan pintu. Ia bisa merasakan hawa dingin berhembus pelan dari celah bawah pintu tersebut, mengenai punggung kakinya.
Ia menunduk. Matanya memicing, berusaha menembus keremangan.
Logika Arya sejenak berhenti berfungsi. Napasnya tercekat di tenggorokan.
Dari celah sempit di bawah pintu kayu yang tergembok rapat itu, merembes keluar lumpur hitam pekat yang tampak basah dan berlendir. Lumpur itu tidak menyebar secara acak. Ia membentuk pola di atas lantai kayu lorong.
Pola jejak kaki.
Jejak kaki tanpa alas, seukuran anak kecil atau mungkin... seukuran sesuatu yang memiliki cakar kecil di ujung jari-jarinya. Jejak-jejak berlumpur hitam itu tercetak jelas menapak di lantai.
Dan yang membuat seluruh darah di tubuh Arya serasa membeku adalah arah dari jejak kaki tersebut. Jejak itu tidak mengarah masuk ke dalam gudang.
Jejak kaki lumpur itu baru saja dicetak, dan mengarah keluar dari bawah celah pintu gudang, berjalan merayap menyusuri lorong... lurus menuju kamar tempat istri dan anaknya berada.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar