Napas Arya seolah membeku di pangkal tenggorokan. Matanya terpaku pada jejak kaki berlumpur hitam yang berderet rapi, keluar dari bawah celah pintu gudang yang tergembok rantai, dan merayap perlahan menyusuri lantai kayu lorong menuju kamar tempat anak istrinya berada.
Ukurannya terlalu kecil untuk kaki manusia dewasa, namun terlalu panjang dan ramping untuk kaki seekor anjing atau monyet liar. Ujung-ujung jarinya meruncing, meninggalkan bercak lumpur yang lebih tebal di setiap titik tekanannya, mengindikasikan kuku yang tajam menancap ke lantai jati.
Logika, batin Arya berteriak panik. Pasti ada hewan liar yang masuk lewat atap gudang yang bocor, menginjak genangan lumpur, lalu menyelinap keluar lewat bawah pintu.
Namun, saat Arya berjongkok dan menyentuh salah satu jejak itu dengan ujung jarinya yang gemetar, ia tidak merasakan tekstur tanah biasa. Lumpur itu sangat dingin, lengket, dan berbau anyir pekat seperti darah ikan yang membusuk dicampur belerang.
"Mas?"
Suara panggilan pelan dari ambang pintu kamar membuat Arya tersentak hebat, nyaris terjengkang ke belakang. Rina berdiri di sana, hanya berjarak satu meter dari ujung jejak kaki terakhir yang perlahan meresap dan memudar ke dalam sela-sela papan kayu. Istrinya memeluk lengan sendiri, bibirnya sedikit pucat menahan hawa dingin yang tidak wajar di rumah ini.
"Kamu ngapain jongkok di situ, Mas? Ayo masuk, pintunya mau aku kunci dari dalam," bisik Rina sambil menoleh cemas ke sekeliling lorong yang gelap.
Arya buru-buru berdiri, mengusap ujung jarinya yang kotor ke sisi celana jinsnya. Ia menelan ludah, memaksa otot-otot wajahnya membentuk ekspresi setenang mungkin. "Enggak, ini... tadi ada kotoran bekas sepatuku. Aku lagi mikir mau ambil kain pel."
Rina mengernyitkan dahi. "Nanti saja dibersihkan. Aku nggak mau sendirian di dalam. Hawa di kamar ini... bikin merinding, Mas. Sedari tadi Jaka mengigau terus minta pulang."
Arya melangkah mendekat, sengaja menginjak dan menggesek sisa jejak lumpur hitam di lantai dengan sol sepatunya hingga bentuknya hancur. Ia tidak ingin Rina melihatnya. Kepanikan Rina hanya akan meruntuhkan benteng pertahanan terakhir logikanya sendiri.
"Iya, aku masuk sekarang," ucap Arya sambil melangkah melewati ambang pintu.
Di dalam kamar yang luas namun berbau apak itu, Jaka tertidur di atas ranjang besi tua bersprei putih pudar. Tubuh anak laki-laki itu meringkuk di bawah selimut tebal, namun napasnya terdengar memburu. Arya duduk di tepi ranjang, menyentuh dahi anaknya. Suhu tubuh Jaka tidak membaik. Ia sedingin ubin marmer di pagi buta.
"Besok pagi-pagi sekali, setelah urusan notaris dan sertifikat selesai, kita langsung pulang ke Jakarta. Aku janji," bisik Arya, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada istrinya. Rina hanya mengangguk pelan, mengunci pintu kamar dengan dua kali putaran kunci ganda, dan menyandarkan tubuhnya di daun pintu dengan helaan napas panjang yang sarat akan kelelahan.
Malam itu, tak satu pun dari mereka yang benar-benar tertidur. Setiap kali Arya memejamkan mata, telinganya menangkap suara-suara samar dari luar kamar. Suara kayu berderak, bisikan-bisikan seperti angin yang berhembus melalui pipa bambu, dan sesekali... bunyi sesuatu yang basah menyeret dirinya sendiri di sepanjang lantai lorong. Namun setiap kali Arya terbangun dan menajamkan pendengaran, yang tersisa hanyalah deru sisa badai di luar jendela.
Fajar menyingsing di lereng gunung tanpa membawa kehangatan. Cahaya matahari pagi hanya mampu menembus kabut dalam bentuk pendaran abu-abu pucat, membuat seisi rumah joglo raksasa itu tampak seperti foto monokrom yang kehilangan nyawanya.
Ketukan pelan namun bertubi-tubi di pintu depan memaksa Arya keluar dari kamar. Ia berjalan menyusuri lorong yang kini sudah bersih dari jejak lumpur semalamβmeski Arya berani bersumpah bau anyir itu masih tertinggal di udara.
Saat ia membuka pintu depan, halaman rumah kakeknya sudah dipenuhi oleh puluhan pria berpakaian serba hitam dan kain sarung gelap. Mereka berdiri membisu di tengah kabut pagi. Tidak ada yang saling mengobrol. Tidak ada yang merokok. Mereka hanya menatap Arya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Di barisan paling depan, berdirilah Mbah Wiryo, ditemani dua pria paruh baya yang memanggul gulungan tikar pandan dan dua ember kayu besar berisi air yang menguapkan aroma kuat bunga kamboja dan kapur barus.
"Waktunya memandikan yang sudah berpulang, Nak Arya," ucap Mbah Wiryo dengan nadanya yang monoton dan kering. "Sebagai pewaris sulung, kamu yang harus memegang kepalanya."
Arya menelan ludah yang terasa berpasir. Ia tidak punya alasan logis maupun etis untuk menolak tradisi ini. "Baik, Mbah. Saya cuci muka sebentar."
Prosesi pemandian jenazah itu dilakukan di halaman samping rumah, di bawah bayang-bayang dahan pohon beringin raksasa yang seolah mencondongkan daun-daunnya untuk ikut menonton. Sebuah balai bambu reyot diletakkan di tengah-tengah. Dua ember kayu berisi air kembang dan kapur barus diletakkan di sisinya.
Lima orang warga desa sudah bersiap, berdiri kaku mengelilingi balai bambu. Mbah Wiryo memberi isyarat dengan anggukan pelan. Dua warga masuk ke ruang tengah dan selang beberapa menit kemudian, mereka keluar dengan menggotong tubuh kakek yang masih terbungkus kain jarik.
Saat tubuh itu diletakkan perlahan ke atas balai bambu, balai itu berderak sangat keras, seolah ditimpa karung berisi batu-batu kali seberat seratus kilogram.
"Buka penutup wajahnya, Nak Arya," perintah Mbah Wiryo dari sisi balai, matanya yang hitam pekat tanpa kedip menatap lurus ke arah tangan Arya.
Dengan tangan gemetar, Arya melangkah maju ke bagian kepala jenazah. Bau kapur barus yang menyengat tidak mampu sepenuhnya menutupi aroma lain yang menguar dari balik kain jarik itu. Bau tanah basah yang menggumpal. Bau lorong semalam. Bau kutukan.
Arya menarik kain jarik yang menutupi wajah kakeknya.
Jantung Arya seakan berhenti berdetak selama satu sekon penuh. Pemandangan di hadapannya merobek logika anatomis yang selama ini ia pelajari dari buku-buku IPA saat sekolah dulu.
Kakeknya memang sudah berusia lebih dari delapan puluh tahun, namun ini bukanlah rupa wajar dari mayat manusia yang baru meninggal beberapa jam. Kulit wajah pria tua itu berwarna abu-abu kehijauan, berkerut ekstrem dan mengeras seperti cangkang kura-kura yang dijemur di bawah matahari gurun. Tidak ada tanda-tanda pembengkakan akibat gas pembusukan. Tubuh kakek seolah... tersedot dari dalam. Kering kerontang.
Namun yang paling mengerikan adalah tekstur kulit di area leher dan rahang bawahnya. Di sana, terdapat bercak-bercak tebal berwarna cokelat kehitaman yang mengelupas. Saat Arya memperhatikannya lebih dekat di bawah cahaya pagi yang pucat, ia menyadari bahwa itu bukanlah penyakit kulit atau luka memar.
Itu adalah tanah liat. Tanah liat yang seolah tumbuh menembus pori-pori kulit kakeknya, menyatu dengan daging matinya.
Dan mata itu. Sepasang mata kakeknya tidak tertutup rapat. Kelopak matanya sedikit terbuka, memperlihatkan bola mata yang keruh bagai susu basi. Arya berani bersumpah, di balik selaput putih kematian itu, bola mata kakeknya sedang melirik tajam ke arahnya. Mengawasi setiap pergerakannya.
"Itu... kulit lehernya kenapa, Mbah?" tanya Arya, suaranya sedikit pecah. Ia mencoba mencari sandaran logika. "Apakah kakek punya penyakit kulit parah sebelum meninggal? Atau jatuh di tanah berlumpur?"
Pria paruh baya yang berdiri di sebelah Arya, yang memegang gayung batok kelapa, hanya tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya. Pria itu menunduk menatap air kembang di dalam ember dan bergumam dengan suara berat berlenggok Jawa kental.
"Bumi narik sing dadi duweke, Mas," ucapnya pelan. Bumi menarik apa yang menjadi miliknya. "Tanah kemarau minumnya banyak. Kalau sudah haus, yang di atasnya dihisap sampai kering."
Arya terdiam, merinding mendengar kiasan yang terasa terlalu literal itu. Ia memilih untuk tidak memperpanjang pertanyaan. Ini desa kolot. Orang desa selalu menghubungkan kematian dengan pepatah-pepatah klenik. Begitulah Arya menghibur akal sehatnya.
"Angkat pundaknya sedikit, Nak. Kita guyur punggungnya," instruksi Mbah Wiryo memecah ketegangan.
Arya menyelipkan kedua tangannya ke bawah tengkuk dan pundak kakeknya yang kaku. Tubuh itu terasa luar biasa dingin, sedingin balok es yang baru dikeluarkan dari ruang pembeku. Arya menguatkan kuda-kuda kakinya dan mencoba mengangkat bagian atas tubuh kakeknya agar warga lain bisa mengguyurkan air ke bagian punggung.
Namun, ia nyaris terjerembab ke depan.
Tubuh kakeknya menolak untuk diangkat. Otot-otot lengan Arya menegang, urat-urat di lehernya bermunculan. Ia mengerahkan seluruh tenaganya, seolah ia sedang mencoba mengangkat fondasi beton bangunan, bukan tubuh ringkih pria tua berumur delapan puluh tahun.
"Berat... berat sekali, Mbah," keluh Arya dengan napas tersengal, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ini tidak masuk akal. Tubuh manusia dewasa rata-rata memiliki berat 60-70 kilogram. Tubuh kerempeng kakeknya ini seharusnya tidak lebih dari 50 kilogram. Tapi berat yang dirasakan lengan Arya saat ini melebihi 150 kilogram.
Rasa berat ini berbeda dengan berat 'mati' biasa (dead weight). Ini seakan-akan tubuh kakeknya sedang ditarik dari bawah oleh gaya gravitasi yang berlipat ganda kekuatannya. Seolah bumi di bawah kaki mereka sedang memeluk erat jenazah ini bagaikan magnet raksasa.
Mbah Wiryo melangkah mendekat, matanya yang kelam menatap Arya lekat. "Jangan dilawan dengan amarah, Nak Arya. Ikhlaskan saja. Dia sudah menyatu. Daging kembali ke asalnya."
Dengan bantuan dua warga desa lainnya, mereka akhirnya berhasil memiringkan tubuh kakek dengan susah payah. Pria bergayung batok kelapa mulai mengguyurkan air campuran kapur barus dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Arya membuang muka, tak sanggup melihat wajah kakeknya lebih lama. Namun saat pandangannya jatuh ke tanah di bawah balai bambu, perutnya kembali mual.
Air yang mengalir turun dari tubuh kakek, jatuh melewati bilah-bilah bambu, tidak berwarna bening sabun. Air itu berubah menjadi cairan kental berwarna merah kecokelatan yang sangat pekat. Cairan itu tidak menyerap ke dalam tanah halaman, melainkan menggenang berbusa, menyebarkan bau karat dan lumpur busuk yang mengalahkan tajamnya aroma kapur barus dan kembang kamboja. Itu bukanlah air cucian daki manusia biasa. Itu adalah air yang seolah baru saja digunakan untuk mencuci segumpal tanah merah yang digali dari dasar kuburan tua.
Arya menahan napasnya, mencoba mencegah isi lambungnya bergejolak keluar. Ia memejamkan mata, memaksakan diri untuk bertahan hingga ritual penyiksaan psikologis ini selesai.
Logikanya sudah mulai retak, tapi ia menolak untuk hancur. Belum. Ia harus mendapatkan sertifikat itu.
Prosesi mengkafani dilakukan dengan cepat dan hening. Tidak ada tangisan keluarga. Budi, adik Arya yang seharusnya ikut hadir menuntut warisan, rupanya masih tertahan badai di jalur lintas provinsi dan baru mengabarkan akan tiba menjelang siang.
Kini, jenazah kakek yang sudah terbungkus rapi bagaikan kepompong putih itu dibaringkan di dalam keranda besi yang ditutupi kain hijau bertuliskan kaligrafi kuning pudar.
Enam pria bertubuh kekar dari desa maju untuk mengangkat bambu pikulan keranda tersebut. Arya berdiri di barisan depan, memanggul sisi kiri depan keranda.
"Bismillah," gumam salah seorang warga. Mereka mengangkat keranda itu bersamas-sama.
KREK.
Suara bilah bambu yang tertekan beban ekstrem terdengar melengking. Wajah keenam pria itu merah padam, otot betis mereka gemetar menahan bobot yang tidak masuk akal. Arya merasakan bilah bambu yang menekan pundaknya seolah ingin meremukkan tulang selangkanya. Keranda itu berhasil terangkat, namun setiap langkah yang mereka ambil menuju pemakaman desa terasa seperti hukuman kerja paksa.
Iring-iringan jenazah berjalan membelah kabut pagi yang masih pekat. Jalanan desa lengang. Tidak ada warga yang keluar rumah untuk sekadar memberikan penghormatan terakhir. Pintu-pintu rumah dan jendela kayu tertutup rapat. Keheningan desa ini menulikan telinga. Desa ini seolah menahan napasnya berjamaah, menunggu 'sesuatu' selesai dikembalikan ke tempatnya.
Rina berjalan di belakang iring-iringan, menggendong Jaka yang memeluk leher ibunya dengan wajah pucat dan mata terpejam rapat. Anak itu tidak mengeluh, namun giginya bergemeretak pelan menahan hawa dingin yang menggerogoti tubuh mungilnya.
Pemakaman desa terletak di lereng bukit kecil, dipagari deretan pohon bambu kuning yang bergesekan satu sama lain saat angin bertiup, menghasilkan suara decit panjang yang menyerupai rintihan wanita menangis. Di tengah kompleks makam yang dikelilingi batu nisan berlumut itu, sebuah liang lahat sedalam hampir dua meter telah digali.
Tanah merah galian menumpuk di sisinya, terlihat gembur dan sangat basah, seolah tanah itu baru saja memuntahkan darah.
Dengan susah payah dan napas tersengal, keenam pria penandu menurunkan keranda. Mengeluarkan jenazah kakek dan menurunkannya perlahan ke dasar liang lahat dengan bantuan tiga orang yang melompat ke bawah.
Arya berdiri di bibir makam, napasnya memburu, pundaknya berdenyut nyeri. Ia menatap ke dasar liang lahat, melihat sosok kakeknya yang kini terbujur kaku menyatu dengan dinding tanah lembap. Perasaan lega sejenak menyusup ke dadanya. Akhirnya selesai. Kakeknya telah kembali ke tanah, dan ikatan Arya dengan masa lalunya akan segera terkubur bersama pria tua itu. Ia hanya perlu menemui notaris nanti siang, menandatangani surat-surat, dan keluar dari desa terkutuk ini sebelum matahari terbenam.
Warga mulai membongkar tali-tali pocong. Tiga orang di bawah melompat naik ke permukaan dengan sigap.
Kini saatnya menimbun.
Sesuai tradisi, keluarga terdekat diminta untuk melemparkan genggaman tanah pertama ke dalam pusara. Arya membungkuk, meraup segenggam tanah merah yang basah dan lengket. Ia melemparkannya ke atas dada jenazah kakeknya tanpa mengucapkan doa apa pun. Cintanya pada pria itu sudah lama mati, ia tidak akan berpura-pura bersedih di hadapan liang lahat ini.
Mbah Wiryo melangkah pelan mendekati bibir makam. Pria tua keriput itu tidak mengambil tanah dengan tangannya. Ia hanya menunduk, menatap lurus ke arah kegelapan liang lahat yang bersiap menelan tubuh kakek Arya. Tangannya yang kaku dan sedingin es disilangkan di belakang punggung.
Arya yang berdiri sangat dekat dengan Mbah Wiryo, mundur setengah langkah saat mencium kembali aroma kapur barus bercampur getah mati dari tubuh orang tua itu.
Warga desa sudah mengangkat cangkul mereka, bersiap meruntuhkan gunungan tanah kembali ke tempat asalnya. Namun Mbah Wiryo mengangkat satu tangannya dengan kaku, menghentikan gerakan para penggali kubur.
Pria tua bermata hitam pekat itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, mengarahkan wajahnya tepat ke lubang galian yang menganga. Mulutnya yang keriput perlahan terbuka. Bukan doa berbahasa Arab atau tahlil yang meluncur dari bibirnya yang kering. Mbah Wiryo justru berbisik. Sangat pelan, namun nadanya mengiris kesunyian absolut pemakaman itu.
Suaranya tidak ditujukan kepada kakek Arya yang sudah mati. Suaranya diarahkan kepada lubang tanah itu sendiri. Kepada dasar bumi yang basah.
"Sampun wonten gantose," bisik Mbah Wiryo, desahannya merayap menyerupai desis ular di antara rimbunnya bambu. Sudah ada gantinya. "Mboten sah ngelih malih. Wayah sulung sampun dugi, mbeta getih daging kagem sangu panjenengan." Tidak usah lapar lagi. Cucu sulung sudah tiba, membawa darah daging untuk bekal Anda.
Bulu roma di sekujur tubuh Arya berdiri serentak. Darahnya berdesir hebat. Kata-kata itu. Kata-kata laknat macam apa itu? Ditujukan kepada siapa?
Sebelum Arya sempat membuka mulut untuk mempertanyakan kalimat gila Mbah Wiryo, sebuah sensasi fisik menghentikan detak jantungnya.
Tepat saat Mbah Wiryo menyelesaikan kalimatnya, tanah pijakan di bawah sol sepatu Arya bergetar. Bukan gempa tektonik berskala besar, melainkan getaran lokal yang halus namun pasti. Getaran itu seolah berasal dari dasar liang lahat, menjalar naik menembus akar rumput dan lumpur.
Permukaan tanah merah di sekitar bibir makam sedikit amblas ke bawah. Seolah, di kedalaman sana, ratusan meter di bawah tempat jenazah kakeknya dibaringkan, sesuatu yang luar biasa besar dan purba baru saja beringsut pelan. Merubah posisi tidurnya. Bergeser... meregangkan ototnya yang terbuat dari lapisan lempung dan batuan dalam...
Bersiap untuk membuka mulutnya lebar-lebar dan menyambut hidangan utamanya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar