Dua detik pertama setelah jeritan Rina membelah udara rumah joglo itu, tubuh Arya membeku bak disiram semen cair. Otaknya yang selalu membanggakan rasionalitas dan kalkulasi logis, kini terbelah secara brutal menjadi dua kepingan kepanikan absolut.

Di ujung lorong kiri, sejauh lima meter darinya, anak laki-lakinya sedang berjongkok dengan punggung telanjang, menggaruk lantai kayu di depan pintu gudang hingga kuku-kukunya berdarah. Sementara dari sayap kanan rumahβ€”di arah dapurβ€”jeritan istrinya masih bergema, disusul suara dentang logam berdadu lantai batu dan tawa rendah yang menggigilkan sumsum tulang.

Pilih. Insting purbanya berteriak.

Arya melesat maju ke arah gudang. Decit lantai kayu memprotes langkah kasarnya. Ia menerjang tubuh kecil Jaka, menarik bahu anak itu menjauh dari celah bawah pintu gudang.

"Jaka! Berhenti!" teriak Arya dengan suara parau.

Saat tubuh Jaka terangkat, Arya bisa merasakan hawa beku yang tidak masuk akal memancar dari kulit anaknya. Ia melirik ke arah lantai. Di atas papan kayu jati itu, tertinggal goresan-goresan dangkal berlumur darah segar dari kuku Jaka yang patah. Namun yang membuat jantung Arya seolah melorot ke perut adalah bagaimana darah itu bereaksi. Darah Jaka tidak menggenang. Cairan merah pekat itu langsung terserap masuk ke dalam serat-serat kayu mati dalam hitungan detik, seolah lantai rumah ini memiliki pori-pori yang kehausan.

Jaka tidak menangis. Wajahnya sedatar boneka porselen. Mata bulatnya menatap menembus pundak Arya, tertuju pada pintu gudang.

"Papi marah-marah terus," gumam Jaka, suaranya sangat lirih dan datar, tanpa intonasi layaknya mesin yang menirukan suara manusia. "Papi ganggu. Padahal Jaka baru mau buka pintunya. Dia bilang di bawah hangat, Pi. Nggak sedingin di luar."

Arya merengkuh kepala Jaka ke dadanya, menutupi mata anak itu dengan telapak tangannya. "Ssst, sadar, Nak. Kamu cuma ngigau. Jangan bicara lagi."

Arya segera menggendong Jaka dengan satu lengan, berbalik arah, dan berlari menyusuri lorong panjang itu kembali menuju ruang tamu, melintasi Mbah Wiryo yang ternyata sudah tidak ada lagi di sana. Pria tua bermata legam itu lenyap tanpa jejak, meninggalkan udara yang masih pekat oleh bau kapur barus.

"Rina!" Arya berteriak memanggil istrinya sambil berlari menembus ruang makan yang gelap gulita, menuju dapur di bagian paling belakang rumah.

Cahaya lampu pijar kuning yang berayun pelan di langit-langit dapur menyambutnya, memperlihatkan kekacauan. Piring-piring keramik kuno pecah berserakan di atas lantai semen kasar. Di sudut ruangan, beringsut rapat di samping tungku kayu bakar yang sudah lama mati, Rina duduk meringkuk memeluk lututnya sendiri. Tubuhnya bergetar sehebat daun kering diterpa badai.

"Rin! Kamu kenapa?!" Arya menurunkan Jaka dengan hati-hati agak jauh dari pecahan piring, lalu berlutut merengkuh bahu istrinya.

Rina mendongak. Wajahnya sepucat mayat, matanya membelalak lebar memancarkan teror yang merusak kewarasan. Napasnya tersengal-sengal, nyaris hiperventilasi. Ia mengangkat tangannya yang gemetar, menunjuk lurus ke arah wastafel cuci piring dari batu alam yang menempel di dinding seberang.

"T-tangan... ada tangan, Mas..." isak Rina, giginya bergemeretak.

Arya menoleh cepat ke arah wastafel, menyorotkan senternya.

Tidak ada apa-apa di sana. Hanya keran kuningan berkarat dan bak batu yang kosong. Namun, hidung Arya tidak bisa ditipu. Ruangan ini dipenuhi oleh bau belerang yang sangat tajam, bercampur dengan aroma amis darah ikan yang membusuk dan lumpur basah. Bau yang sama persis dengan yang ia rasakan dari tubuh jenazah kakeknya tadi pagi.

"Tangan siapa, Rin? Tidak ada siapa-siapa di sini selain kita," Arya mencoba meyakinkan, menekan rasa mual yang mengocok lambungnya. Ia meremas bahu Rina, mencoba menyalurkan kehangatan.

"Aku cuma mau ambil air hangat untuk kompres Jaka..." Rina meracau, air matanya mulai tumpah ruah. "Waktu aku buka kerannya, yang keluar bukan air, Mas. L-lumpur. Lumpur merah kental banget. Buntu. Terus... terus dari dalam lubang air itu..." Rina tersedak tangisannya sendiri, mencengkeram kemeja Arya dengan kuat. "Ada jari-jari hitam yang keluar, Mas! Keras banget seperti akar kayu tua! Tangan itu nyengkrem pergelanganku waktu aku mau cabut saringan airnya! Dia mau narik tanganku masuk ke dalam pipa!"

Arya menelan ludah berpasirnya. Ia melihat pergelangan tangan Rina yang disembunyikan di balik lengan jaket. Dengan tangan bergetar, Arya menarik sedikit lengan jaket itu.

Sebuah memar kehitaman melingkar sempurna di pergelangan tangan istrinya yang putih pucat. Memar itu tidak berbentuk seperti cengkeraman tangan manusia biasa. Polanya kasar, bergelombang, menyerupai pola kulit kayu jati yang sudah mengeras.

Logika Arya benar-benar mencapai batasnya. Sunk cost fallacy yang mengikatnya pada warisan ini mulai luntur, digerus oleh insting dasar seorang ayah dan suami untuk melindungi keluarganya dari bahaya predator. Predator yang kali ini tidak memiliki wujud fisik yang bisa ia tonjok atau ia laporkan ke polisi.

"Kita pergi," putus Arya dengan suara rendah namun tajam. Matanya menyorotkan keputusasaan. "Persetan dengan wasiat kakek. Persetan dengan empat puluh hari. Kita kemas barang-barang sekarang. Aku akan tabrak palang gerbang desa ini kalau perlu."

Rina mengangguk cepat, menyeka air matanya dengan kasar. Ia terhuyung berdiri, dibantu oleh Arya. Mereka menghampiri Jaka yang sedari tadi hanya berdiri diam mengawasi pecahan piring di lantai dengan tatapan kosong.

Arya meraih Jaka, menggendongnya di pundak. "Kita ke kamar, ambil koper, langsung masuk mobil."

Mereka setengah berlari menyusuri lorong kembali menuju ruang tamu. Namun, ada sesuatu yang salah dengan dimensi rumah ini.

Arya menyadarinya saat mereka melewati ruang makan. Jarak dari dapur ke ruang tamu seharusnya hanya belasan langkah. Tapi kini, lorong berlantai kayu itu terasa memanjang tak masuk akal. Cahaya lampu dari ruang tamu di ujung sana tampak sangat jauh, menyusut seperti sebuah titik bintang di ujung terowongan gelap. Setiap langkah yang mereka ambil terasa berat, seolah udara di dalam rumah ini berubah wujud menjadi jeli yang menahan laju mereka.

Distorsi spasial. Otak Arya, sang arsitek yang terbiasa menghitung volume dan luas ruangan secara presisi, menolak menerima apa yang dilihat matanya. Ruang tidak bisa memanjang. Kayu tidak bisa merenggang sendiri. Ini ilusi optik akibat kepanikan, sugestinya pada diri sendiri.

Mereka akhirnya berhasil mencapai ruang tamu yang temaram. Pintu utama masih tertutup rapat seperti saat notaris Suripto melarikan diri tadi.

"Tunggu di sini. Aku lari ke kamar ambil tas dokumen dan koper kita," instruksi Arya pada Rina.

Arya memutar tubuhnya, berlari menuju lorong sayap kiri. Lorong yang sama tempat Jaka menggaruk lantai beberapa menit yang lalu.

Saat Arya mendekati pintu kamar mereka, matanya tanpa sengaja menangkap sebuah perubahan di ujung lorong paling gelap. Di depan pintu gudang berkayu tebal itu.

Langkah Arya terhenti mendadak. Senter di tangannya bergetar, menyorot ke arah pintu tersebut.

Rantai besi raksasa yang melilit gagang pintu itu sudah jatuh melingkar di atas lantai kayu bagai bangkai ular besi. Gembok berkarat sebesar kepalan tangan yang tadi menguncinya rapat-rapat, kini tergeletak begitu saja, terbelah dua seolah baru saja diputus oleh tang hidrolik raksasa.

Pintu gudang itu kini terbuka sedikit, menyisakan celah segelap malam tanpa bintang.

Dari celah pintu yang terbuka itu, berhembus keluar pusaran angin sedingin es. Bukan sekadar dingin, tapi hawa beku yang membawa aroma pekat kemenyan basi dan sesuatu yang sangat tua. Bau makam yang tak pernah tersentuh matahari selama berabad-abad.

Sebuah bisikan menyelinap masuk ke dalam pikiran Arya. Lembut, namun memaksa.

Masuklah. Lihat apa yang kakekmu sembunyikan untukmu. Hakmu ada di dalam sana.

Arya terhipnotis. Kakinya melangkah mendekati celah pintu itu tanpa instruksi dari otaknya. Ego kepemilikannya sebagai pewaris tiba-tiba bergejolak. Rasa penasarannya yang selama 25 tahun terpendam kini meledak. Kenapa kakeknya sangat melarang siapa pun masuk ke sana? Harta apa yang disembunyikan pria tua pelit itu? Emas? Perhiasan peninggalan zaman kolonial?

Arya mendorong daun pintu itu dengan telapak tangannya. Bunyi engsel karatan yang berderit memekakkan telinga merobek kesunyian.

Ia melangkah masuk.

Ruangan gudang itu luar biasa luas, namun tidak dipenuhi tumpukan barang rongsokan seperti yang Arya bayangkan. Ruangan ini tidak berjendela. Satu-satunya sumber cahaya adalah lampu senter di tangan Arya. Di sepanjang dinding, terdapat lemari-lemari kayu jati yang terkunci, dan beberapa kursi goyang tua yang ditutupi kain putih berdebu.

Namun, bagian tengah ruangan itu dibiarkan kosong melompong. Bersih tanpa debu, seolah lantai kayunya rajin dipel setiap hari.

"Mas!"

Panggilan panik Rina dari belakang membuat Arya menoleh. Istrinya berdiri di ambang pintu gudang, menggendong Jaka erat-erat. Wajah Rina memancarkan ketidakpercayaan. "Ngapain kamu masuk ke sini?! Bukannya ambil koper?! Ayo kita pergi!"

"Sebentar, Rin," jawab Arya, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Suaranya serak, berat, dan... posesif. "Gemboknya hancur. Aku harus lihat apa yang ada di dalam rumahku sendiri."

Rina melangkah masuk menyusul Arya, meski kakinya gemetar. "Ini bukan rumahmu, Mas. Ini rumah setan! Jangan sentuh apa pun!"

Jaka, yang bersandar di bahu Rina, tiba-tiba mengangkat kepalanya. Matanya menatap lurus ke arah sudut paling ujung ruangan gudang tersebut. Jari kecilnya yang berlumur darah kering menunjuk.

"Di situ, Pi. Mulutnya di situ. Dia nungguin Papi dari tadi."

Senter Arya refleks mengikuti arah telunjuk anaknya.

Di sudut ruangan yang ditunjuk Jaka, lantai kayunya berbeda. Area seluas satu meter persegi itu tidak ditutupi papan jati, melainkan ditambal menggunakan ubin teraso kuno berukuran sangat besar. Dan tepat di atas ubin tebal tersebut, terbentang selembar kain mori (kain kafan putih) yang warnanya sudah menguning kusam dan dipenuhi bercak-bercak hitam kecokelatan.

Hawa dingin di dalam gudang ini terpusat pada sudut tersebut. Arya bisa melihat napasnya mengepul putih sangat tebal saat ia berjalan mendekat.

"Astaghfirullah..." bisik Rina, melangkah mundur. Bau kemenyan dari sudut itu sangat pekat hingga membuat Rina mual. "Mas, jangan didekati. Firasatku jelek banget. Ayo keluar!"

Namun Arya tidak mendengarkan. Jaraknya kini hanya tersisa setengah meter dari ubin yang ditutupi mori itu.

Ada sesuatu di bawah kain itu. Sesuatu yang memanggil-manggil instingnya sebagai pemilik tanah. Bisikan di kepalanya kembali bergaung, meyakinkannya bahwa rahasia terbesar keluarganya, mungkin surat obligasi atau emas batangan senilai miliaran, disembunyikan kakeknya di bawah lantai ini. Keserakahan yang bukan miliknya perlahan merembes ke dalam alir darahnya bak racun. Entitas tanah ini mulai menggunakan cara termudahnya untuk menjerat manusia: memanipulasi nafsu duniawi.

Rina yang melihat Arya mematung, menjadi sangat cemas. Takut suaminya kesurupan, Rina nekat menurunkan Jaka ke lantai dan berlari mendekat. Ia membungkuk, berniat menarik kain mori sialan itu untuk membuktikan tidak ada apa-apa di sana agar suaminya sadar dan segera pergi dari rumah ini.

Tangannya nyaris menyentuh ujung kain mori yang kusam itu.

"JANGAN SENTUH!"

Bentarakan Arya menggelegar bak guntur di dalam ruang tertutup itu. Tangannya melesat cepat, menepis punggung tangan Rina dengan sangat keras hingga terdengar bunyi tamparan daging yang memekakkan.

Rina terpelanting mundur, jatuh terduduk di atas lantai kayu dengan mata membelalak tak percaya. Ia memegangi punggung tangannya yang memerah, menatap suaminya seolah Arya baru saja berubah menjadi iblis.

Napas Arya memburu. Wajahnya memerah padam oleh amarah yang tiba-tiba meledak tanpa alasan logis. "Ini milikku!" raungnya, matanya melotot tajam menatap istrinya. "Kakek memberikan semuanya kepadaku! Kamu tidak punya hak menyentuh apa pun di rumah ini tanpa izinku!"

Air mata Rina tumpah membasahi pipinya. Bukan karena rasa sakit di tangannya, melainkan karena syok mental. Pria yang berdiri di hadapannya saat ini bukanlah Arya yang rasional dan lembut. Pria ini menatapnya dengan sorot mata sedingin es, penuh dengan kebencian dan keangkuhan. Sorot mata yang persis sama dengan sorot mata mendiang Mbah Kung.

"M-mas Arya... kamu sadar apa yang kamu omongin?" isak Rina mundur perlahan, menjauhi suaminya, merangkul Jaka yang hanya berdiri diam tanpa ekspresi.

Mendengar isakan istrinya, kesadaran Arya seakan disiram air es. Matanya mengerjap cepat. Kabut merah amarah di otaknya tiba-tiba sirna, meninggalkan rasa pening yang luar biasa. Ia menatap tangannya sendiri yang masih gemetar, lalu menatap Rina yang menangis ketakutan di lantai.

"Rin... Ya Tuhan, Rin, maafkan aku," suara Arya kembali normal, diwarnai penyesalan yang dalam. Ia melangkah maju berniat membantu istrinya berdiri. "Aku... aku tidak tahu kenapa aku bilang begitu. Kepalaku tiba-tiba pusing, dan rasanya akuβ€”"

Ucapan Arya terpotong.

Sebuah hembusan angin yang sangat kuat, sangat dingin, dan berbau anyir darah memukul wajah mereka berdua. Angin itu mustahil ada, karena gudang ini tidak memiliki satu pun ventilasi maupun jendela. Angin itu tidak bertiup dari pintu, melainkan bertiup dari arah lantai.

Angin itu menyapu sudut ruangan, meniup kain mori kusam itu.

Ujung kain itu berkibar pelan, tersingkap ke belakang, memperlihatkan wujud asli Ubin Larangan yang selama puluhan tahun disembunyikan sang kakek dari dunia luar.

Senter Arya yang menyorot ke arah ubin itu bergetar hebat di tangannya.

Ubin itu tidak terbuat dari teraso biasa. Permukaannya kasar seperti batu vulkanik berpori-pori besar. Warnanya hitam pekat, namun dipenuhi oleh noda cairan kental berwarna merah kehitaman yang masih terlihat basah. Garis-garis semen (nat) di sela-sela ubin itu tidak terbuat dari pasir, melainkan terisi penuh oleh lumpur merah yang berdenyut-denyut pelan menyerupai pembuluh nadi.

Sreett... plop.

Dari salah satu celah lumpur merah di sisi ubin tersebut, seekor ulat tanah berwarna hitam pekat seukuran ibu jari orang dewasa menggeliat keluar, menjatuhkan dirinya ke lantai kayu dengan suara decapan basah yang memualkan.

Lalu, terdengar suara lain.

Sebuah suara helaan napas yang sangat berat, serak, dan menggeram. Suara itu tidak menggema di udara, melainkan merambat naik melewati getaran lantai kayu jati, menembus sol sepatu Arya, dan bergetar langsung di dalam gendang telinganya.

Suara helaan napas panjang yang berasal langsung dari bawah Ubin Larangan itu.

Sesuatu yang terkubur di bawah sana baru saja terbangun oleh bau darah segar dari jari-jari Jaka dan energi keserakahan yang baru saja dipancarkan Arya. Dan kini, "mulut" bumi itu sedang menanti untuk diberi makan.