Hujan kembali merajam atap tajug rumah joglo itu menjelang siang, seolah langit desa memuntahkan sisa-sisa air bah yang sempat tertahan selama prosesi pemakaman. Udara di dalam ruang tamu terasa semakin beku, menembus jaket tebal yang dikenakan Arya. Sebuah lampu pijar 5 watt berwarna kuning kotor menggantung di langit-langit, berayun pelan tertiup angin yang entah menyusup dari celah mana, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding kayu jati.
Di seberang meja kayu berukir yang memisahkan mereka, duduklah Pak Suripto. Pria paruh baya itu adalah notaris desa, sekaligus saksi legal dari wasiat almarhum kakek Arya. Namun, untuk ukuran seorang profesional hukum, penampilan Pak Suripto saat ini jauh dari kata meyakinkan. Wajahnya pucat pasi. Keringat sebesar biji jagung mengucur deras dari pelipisnya, membasahi kerah kemeja batiknya, padahal suhu di ruangan ini nyaris menyerupai lemari pendingin. Berulang kali mata pria itu melirik gelisah ke arah lantai kayu di bawah sepatunya, seakan-akan takut kayu itu tiba-tiba merekah dan menelannya bulat-bulat.
"Diminum dulu tehnya, Pak Suripto," ucap Rina berbasa-basi dengan suara gemetar. Ia duduk merapat pada Arya, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Di sofa panjang berbalut beludru merah kusam tak jauh dari mereka, Jaka tertidur pulas di balik selimut tebal.
Pak Suripto menggeleng cepat. "T-tidak usah, Bu. Terima kasih. S-saya rasa lebih cepat kita selesaikan pembacaan wasiat ini, lebih baik." Suaranya bergetar, selaras dengan tangannya yang sibuk membuka pengait tas kerja kulitnya.
Mbah Wiryo duduk di sudut ruangan yang paling gelap, agak terpisah dari mereka bertiga. Pria tua bermata legam itu duduk bersila di atas tikar pandan, sama sekali tidak bergerak, tangannya bersedekap. Ia bahkan tidak menoleh ketika Pak Suripto secara tidak sengaja menjatuhkan sebuah map tebal ke atas meja dengan bunyi brak yang keras.
"Ini dokumen aslinya, Mas Arya," kata Pak Suripto, menelan ludah dengan susah payah. Ia mendorong map cokelat itu ke arah Arya, namun buru-buru menarik tangannya kembali, seolah map itu bisa menggigit. "Mbah Kung... almarhum kakek Anda, sudah mengurus peralihan nama di hadapan saya sejak lima tahun lalu. Seluruh aset; lahan pertanian dua hektar, kebun cengkeh di bukit timur, dan rumah joglo beserta tanah pekarangannya ini, sah jatuh ke tangan Anda sebagai cucu laki-laki dari anak sulung."
Arya menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa pening yang sejak tadi bersarang di pelipisnya. Ini dia. Keselamatannya. Solusi untuk menyelamatkan firma arsitekturnya dari kebangkrutan dan utang bank yang mencekik. Ia hanya perlu menandatangani dokumen ini, menjual asetnya kepada pemborong di Jakarta, dan hidupnya akan kembali normal. Logika finansial mulai menutupi celah-celah ketakutan gaib yang sempat merongrongnya di pemakaman tadi.
"Baik. Kalau begitu mana yang harus saya tanda tangani, Pak? Kebetulan besok pagi-pagi sekali saya harus segera kembali ke Jakarta. Ada urusan proyek yang tidak bisa ditinggal," ucap Arya seraya merogoh saku kemejanya, mencari pena.
Mendengar itu, Pak Suripto mendadak berhenti bernapas selama dua detik. Ia menatap Arya dengan raut wajah horor yang tidak ditutup-tutupi. Mata sang notaris lalu melirik liar ke arah Mbah Wiryo di sudut ruangan, sebelum kembali menatap Arya.
"Tidak bisa, Mas Arya," bisik Pak Suripto, suaranya kini nyaris berupa desisan panik.
Kening Arya berkerut. "Apanya yang tidak bisa? Dokumennya kurang? Atau ada sengketa dengan warga? Biar saya urus kompensasinya kalau begitu."
"Bukan... bukan soal itu." Pak Suripto membuka map tersebut dengan tangan yang bergetar hebat, mengeluarkan selembar kertas tebal berstempel merah. "Sertifikat ini... wasiat ini... mengikat dengan satu syarat mutlak. Syarat yang ditambahkan sendiri oleh almarhum kakek Anda, dan sudah disahkan secara hukum adat dan legalitas desa."
Arya mencondongkan tubuhnya ke depan, mencium aroma pekat darah kering dan kapur barus yang tiba-tiba menguar kuat dari lembaran kertas tersebut. "Syarat apa?"
"Anda dan keluarga inti Anda... istri dan anak sulung Anda... wajib menetap di rumah ini tanpa putus selama empat puluh hari empat puluh malam," ucap Pak Suripto cepat, seolah kata-kata itu membakar lidahnya. "Terhitung sejak jenazah disatukan dengan tanah."
Keheningan jatuh menyergap ruang tamu itu, hanya disela oleh gemuruh guntur yang meledak di kejauhan.
"Apa-apaan ini?" Arya setengah berseru, nada suaranya meninggi, memecah kesunyian. Ia mengebrak meja pelan. "Ini wasiat atau hukuman penjara? Saya ini punya pekerjaan di Jakarta! Anak saya harus sekolah! Saya tidak bisa membuang waktu satu setengah bulan di desa mati ini!"
Rina memegang lengan suaminya erat-erat. Wajah istrinya sudah seputih kertas. "Mas... aku nggak mau tinggal di sini selama itu. Sehari saja aku sudah nggak kuat. Hawa rumah ini jelek sekali, Mas. Jaka dari tadi malam demamnya makin parah, badannya dingin banget. Tolong, Mas, kita pulang saja."
Arya mengusap wajahnya kasar, frustrasi mulai mendidihkan darahnya. "Pak Suripto, dengar. Saya bayar Bapak dua kali lipat dari fee yang biasa Bapak terima. Cabut klausal konyol itu. Kita selesaikan sekarang secara rasional."
"Logika uang tidak berlaku di atas tanah ini, Nak Arya," sebuah suara parau monoton tiba-tiba menyela dari sudut gelap.
Mbah Wiryo. Pria tua itu tidak beranjak dari posisi silanya, matanya yang kelam tak berkedip menatap lurus ke arah Arya. "Tanah ini baru kehilangan tuannya. Dia sedang kedinginan. Kalau rumah ini langsung ditinggalkan kosong, apalagi dijual ke sembarang orang, tanahnya akan marah. Kalau dia marah, dia akan mencari selimut dagingnya sendiri ke rumah-rumah warga. Empat puluh hari adalah waktu untuk mengenalkan darah pewaris baru kepada tanah. Biar dia mencicipi hawamu. Biar dia kenal."
Arya merasakan bulu kuduknya kembali berdiri merespons kalimat Mbah Wiryo yang terdengar seperti ancaman klenik yang dibalut tradisi. "Mbah, saya ini orang sekolahan, saya tidak percaya hal-halβ"
"Mas, lihat kertasnya!" potong Rina tiba-tiba, menunjuk ke arah dokumen sertifikat di atas meja dengan jari gemetar.
Arya menunduk, mengalihkan pandangannya pada selembar kertas kuno tersebut. Di bagian bawah dokumen, terdapat daftar riwayat pewaris. Sesuatu yang ganjil seketika mencekik rasionalitas Arya.
Nama kakeknya tercetak di sana dengan tinta hitam yang sudah memudar. Di bawahnya, terdapat nama almarhum ayahnya, namun nama itu dicoret dengan sebuah garis lurus yang tebal dan berwarna merah gelap. Dan tepat di urutan terakhir, nama Arya terpampang jelas: Arya Kusuma.
Hal yang membuat Arya menahan napas adalah bentuk tinta dari namanya sendiri. Jika semalam di apartemen ia melihat tintanya basah dan lengket, kini tinta itu terlihat... hidup. Cairan merah kehitaman yang membentuk huruf-huruf namanya itu seolah berdenyut pelan, meresap lebih dalam ke pori-pori kertas dengan gerakan mikroskopis menyerupai pembuluh vena yang memompa darah ke jantung.
Tanpa sadar, Arya menyentuh tulisan namanya dengan ujung telunjuk.
Rasa dingin yang luar biasa langsung menyengat ujung sarafnya, seperti menyentuh es kering (dry ice). Namun, ketika ia mengangkat jarinya, ada bercak cairan merah yang menempel di sidik jarinya. Berbau anyir pekat. Darah segar.
"Pak Suripto..." Arya mengangkat jarinya, menatap sang notaris dengan sorot mata horor bercampur kebingungan. "Ini... tinta apa yang Bapak pakai?"
Pak Suripto sudah berdiri dari kursinya. Ia bahkan tidak mempedulikan map kulitnya yang tertinggal di atas meja. Pria itu mundur dengan langkah serabutan menuju pintu utama. "Saya sudah membacakan kewajiban saya, Mas Arya. Secara legal, tanah itu milik Anda sekarang. Tapi secara adat... Anda yang sekarang milik tanah itu. J-jangan coba-coba pergi sebelum empat puluh hari. S-saya permisi!"
Tanpa menunggu balasan, Pak Suripto memutar gagang pintu dan berlari keluar menembus hujan badai. Arya dan Rina bisa mendengar deru mesin mobil notaris itu yang dipacu secara brutal, ban mobilnya berdecit dan berputar liar di atas lumpur pekarangan sebelum akhirnya melesat pergi, seolah sang notaris baru saja melarikan diri dari mulut neraka.
Ruang tamu itu kembali dikuasai keheningan dan suara hujan.
Arya menatap sidik jarinya yang bernoda merah, lalu menatap Rina. Sang istri sudah terisak pelan tanpa air mata.
"Mas... ayo kita pergi dari sini sekarang. Bawa tas kita. Bawa Jaka," isak Rina, mencengkeram lengan jaket Arya dengan putus asa. "Persetan dengan warisannya! Persetan dengan utang bank! Rumah sakit jiwa jauh lebih baik daripada kita mati gila di rumah ini, Mas. Kamu nggak lihat tinta itu? Kamu nggak dengar omongan orang tua gila itu?!" Rina menuding ke arah Mbah Wiryo yang masih duduk diam di sudut ruangan bak patung lilin.
Arya memejamkan mata kuat-kuat. Kepalanya serasa ingin pecah. Di satu sisi, insting bertahan hidup dan logika warasnya meneriakkan hal yang sama dengan istrinya: Lari. Pergi sejauh mungkin. Namun di sisi lain, beban realitas menghantamnya telak. Jika ia lari sekarang dan klausal wasiat itu membatalkan hak warisnya, ia akan kehilangan segalanya. Bisnisnya hancur. Keluarganya akan diusir dari apartemen. Harga dirinya sebagai kepala keluarga akan lebur menjadi debu.
Sunk cost fallacy. Jebakan psikologis yang memaksa manusia bertahan pada pilihan buruk hanya karena mereka sudah mengorbankan terlalu banyak untuk mundur.
"Hanya empat puluh hari, Rin," suara Arya terdengar parau, membuka matanya menatap sang istri. "Kita sudah terjebak di sini. Badai di luar juga tidak memungkinkan kita menuruni bukit. Bank akan menyita rumah kita bulan depan. Empat puluh hari. Anggap saja kita sedang... sedang karantina. Setelah itu sertifikat ini bebas kita jual, dan utang kita lunas."
Rina membelalakkan matanya, menatap suaminya seolah Arya baru saja berubah wujud menjadi monster. "Kamu menukar keselamatan Jaka dengan uang, Mas? Anakmu mulai sakit-sakitan aneh sejak kita masuk desa ini!"
"Ini cuma demam biasa akibat hawa gunung, Rina! Jangan ikut-ikutan jadi kolot!" bentak Arya, suaranya tanpa sengaja menggema keras di penjuru ruang tamu kayu tersebut. Ia segera menyesalinya. Membentak istrinya di saat seperti ini adalah hal terakhir yang seharusnya ia lakukan.
Rina melepaskan cengkeramannya dari lengan Arya. Ia menatap suaminya dengan pandangan hancur bercampur ketakutan yang tak terlukiskan. "Uang sudah membutakan akal sehatmu, Mas. Sama seperti kakekmu."
"Rin, bukan begitu maksudkuβ"
"Mama... Papi..."
Perdebatan mereka terhenti secara prematur. Suara panggilan itu lirih, datang dari arah belakang Rina. Namun suara itu bukan berasal dari sofa tempat Jaka tidur. Suara itu menggema dari lorong panjang yang gelap, lorong yang menghubungkan ruang tamu dengan barisan kamar, berujung pada gudang berpintu kayu tebal yang tergembok rantai raksasa.
Arya dan Rina serentak menoleh ke arah sofa.
Selimut beludru itu tersingkap berantakan. Kosong. Jaka tidak ada di sana.
"Jaka?!" Rina menjerit panik, seketika melupakan pertengkarannya dengan Arya. Ia berputar mencari sosok anaknya di sudut-sudut ruang tamu yang temaram.
Hawa dingin di dalam ruangan tiba-tiba melonjak tajam, membuat uap napas mereka kembali mengepul putih. Bau tanah basah yang busuk menghempas masuk, seolah ada kuburan tua yang baru saja dibongkar di suatu tempat di dalam rumah ini.
Mbah Wiryo yang sedari tadi duduk mematung, tiba-tiba memiringkan kepalanya sedikit. Suaranya terdengar sangat parau, seolah pita suaranya bergesekan dengan batu kerikil. "Tamu yang di bawah... sudah mulai mengajak main."
"Diam kau, Mbah!" geram Arya, amarah seorang ayah kini menguasai ketakutannya. Ia meraih senter besar dari dalam tasnya. "Rina, kamu periksa dapur. Biar aku yang periksa lorong kamar."
Rina mengangguk cepat sambil terisak, berlari ke arah sayap kanan rumah. Arya menyalakan senter, menyorotkan sinar putihnya yang menembus kegelapan lorong sayap kiri. Lorong tempat mereka tidur semalam.
Lantai kayu lorong itu berderak panjang saat Arya melangkah masuk. Cahaya senter menari-nari di dinding kayu yang dipenuhi sarang laba-laba. Pintu kamar mereka terbuka lebar. Arya memeriksa ke dalam. Kosong. Kamar mandi. Kosong.
Lalu, telinganya menangkap sebuah suara.
Suara kuku-kuku yang menggaruk kayu mati. Suara yang sama persis dengan yang Jaka dengar semalam di apartemen.
Srek... srek... srek...
Suara itu berasal dari ujung lorong terdalam. Dari depan pintu kayu tebal yang tergembok rantai.
Jantung Arya memompa darah dengan kecepatan menyakitkan. Ia menelan ludah berpasirnya, mengarahkan sorot senter perlahan ke ujung lorong yang pekat.
Di sana, di depan pintu gudang, Jaka sedang berdiri membelakangi Arya. Anak laki-laki itu tidak memakai piyama atasannya, membiarkan punggung kecilnya yang pucat dan kurus terekspos hawa beku rumah joglo itu. Namun, Jaka tidak sedang mematung.
Jari-jari kecil anak itu menyusup ke bawah celah pintu gudang, menggaruk-garuk lantai kayu dengan gerakan ritmis dan konstan, seolah berusaha menggali jalan masuk ke bawah tanah. Ujung kuku-kuku Jaka sudah patah, mengeluarkan darah segar yang menetes mengotori lantai kayu jati, berbaur dengan noda lumpur hitam yang merembes keluar dari balik pintu.
"Iya, Jaka gali dari luar," gumam Jaka pelan, suaranya bergetar bukan karena menangis, tapi karena ia sedang berdialog dengan 'seseorang' di balik pintu gelap itu. "Nanti kita main di bawah ya... di tempat yang hangat."
Logika Arya hancur berkeping-keping. Itu bukan omongan anak kecil yang sedang mengigau akibat demam. Itu adalah konfirmasi dari sebuah teror yang tak kasat mata.
"JAKA!" teriak Arya putus asa. Ia berlari kencang menyusuri lorong, mengabaikan decit kayu yang melengking memprotes langkah kakinya, berniat merengkuh anaknya menjauh dari pintu neraka itu.
Namun, sebelum Arya berhasil mencapai Jaka, sebuah jeritan melengking tinggi mengiris udara dari arah sayap kanan rumah.
Jeritan Rina.
Disusul bunyi barang-barang pecah belah yang berjatuhan menghantam lantai batu dapur, dan suara tawa serak bernada rendahβtawa yang bukan milik manusiaβmenggema memenuhi seluruh lorong rumah joglo tersebut.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar