Sinar matahari pagi kembali menerobos masuk melalui celah gorden vertikal di kamar utama, persis seperti rutinitas fajar di hari-hari sebelumnya. Namun bagi Kirana, matahari hari ini terasa membakar, bukan menghangatkan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah pantulan dirinya di cermin meja rias. Matanya bengkak parah, sembap, dan dihiasi lingkaran hitam yang tercetak jelas di bawah kelopak matanya. Semalaman suntuk ia tidak tidur sedetik pun. Ia hanya meringkuk di atas sofa ruang keluarga, menangis dalam diam hingga air matanya mengering, meratapi kenyataan bahwa enam tahun hidupnya hanyalah sebuah lelucon yang kejam.
Di atas meja rias, tergeletak tiga lembar kertas HVS yang ujung-ujungnya sedikit lecek karena diremas. Subuh tadi, sebelum asisten rumah tangga mereka terbangun, Kirana menyambungkan laptop Ridwan ke printer kecil di ruang studi dan mencetak jurnal digital laknat itu. Ia butuh bukti fisik. Ia butuh memegang kertas itu untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia baca semalam bukanlah mimpi buruk, melainkan realita yang harus ia hadapi.
Dari balik selimut tebal, terdengar lenguhan pelan. Ridwan menggeliat, meregangkan otot-ototnya, lalu perlahan membuka mata. Pria itu mengucek matanya sejenak, membiasakan diri dengan cahaya pagi.
"Na..." panggil Ridwan dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia meraba sisi kasur di sebelahnya yang terasa dingin dan kosong. "Tumben kamu sudah bangun duluan. Jam berapa ini?"
Kirana tidak menoleh. Ia tetap menatap lurus ke arah cermin, melihat pantulan suaminya yang perlahan duduk dan bersandar pada kepala ranjang. "Jam enam lewat seperempat," jawab Kirana datar. Tidak ada intonasi manja. Tidak ada keceriaan yang biasa ia paksakan setiap pagi. Suaranya serak dan nyaris tanpa emosi.
Ridwan menyingkap selimut dan beranjak turun. Ia berjalan menuju kamar mandi, namun langkahnya terhenti di tengah jalan. Biasanya, setiap pagi, setelan kemeja, celana panjang, dan dasi yang serasi sudah tergelar rapi di atas ranjang. Pagi ini, kasur itu kosong.
"Na, kemejaku untuk hari ini belum kamu siapkan?" tanya Ridwan, menoleh ke arah istrinya dengan dahi berkerut halus.
Kirana menarik napas panjang, menekan dalam-dalam rasa mual yang tiba-tiba menyerang perutnya setiap kali menatap wajah pria itu. Wajah yang selama ini ia puja, kini terasa seperti topeng mengerikan milik orang asing.
"Kemejamu ada di dalam lemari. Ambil saja sendiri," ucap Kirana dingin. Ia berdiri dari kursi riasnya, sama sekali enggan menatap mata suaminya.
Ridwan tertegun sejenak. Ia merasa ada yang janggal, namun otak rasionalnya yang baru saja terbangun mencoba mencari pembenaran logis. "Kamu sakit? Suaramu serak begitu. Kalau tidak enak badan, istirahat saja. Biar Bi Sumi yang buatkan sarapan dan urus anak-anak."
Aku tidak sakit, Mas. Aku hancur. Kirana menjerit dalam hati. Namun, ia hanya diam. Ia melangkah keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun, meninggalkan Ridwan yang mematung dengan kebingungan.
Di ruang makan, suasana terasa luar biasa kaku. Raka dan Rara sedang memakan sereal mereka dengan tenang, diawasi oleh Bi Sumi. Kirana duduk di ujung meja, hanya mengaduk-aduk secangkir kopi hitam tanpa gula. Ini adalah pertama kalinya dalam enam tahun ia tidak menyeduh teh manis hangat di pagi hari. Pahitnya kopi dirasa sangat pas untuk menemani lidahnya yang terasa kelu.
Ridwan keluar dari kamar, sudah berpakaian rapi meski tanpa dasiβia rupanya malas mencari dasi sendiri. Ia duduk di kursi utamanya. Tidak ada piring yang disiapkan. Tidak ada sapaan "Mas mau makan pakai apa hari ini?".
"Na, sarapanku mana?" tanya Ridwan akhirnya, mencoba memecah keheningan yang menyesakkan itu.
"Di meja masih ada roti tawar. Di kulkas ada selai. Kamu punya dua tangan yang sehat, kan?" jawab Kirana tajam. Tatapan matanya lurus menembus mata Ridwan, sedingin es.
Ridwan meletakkan ponselnya dengan sedikit kasar. Emosinya mulai terpancing. "Kamu ini kenapa sebenarnya? Pagi-pagi sudah ketus begini. Apa ada kata-kataku semalam yang menyinggungmu? Atau kamu marah karena aku lupa hari anniversary kita? Bukankah kita sudah sepakat semalam?"
Kirana tersenyum sinis, sebuah senyuman yang belum pernah Ridwan lihat sebelumnya. "Ya, Mas. Kesepakatan. Kita memang sangat hebat dalam membuat kesepakatan palsu, bukan?"
Ridwan mengusap wajahnya kasar, tak ingin berdebat di depan anak-anak. "Terserah kamu lah. Aku pusing. Hari ini jadwalku padat." Pria itu mengambil selembar roti tawar, memakannya tanpa selai, lalu berdiri untuk berangkat. "Oh ya, laptopku mana? Aku butuh datanya untuk meeting jam sembilan nanti."
Kirana beranjak menuju ruang keluarga, mengambil laptop abu-abu itu, dan menyerahkannya langsung ke dada Ridwan dengan gerakan kaku.
"Ini. Terima kasih sudah meminjamkannya padaku semalam," ucap Kirana pelan, hampir menyerupai bisikan. "Videonya tidak jadi aku buat. Tapi aku sudah menemukan semua yang aku butuhkan di dalam sana."
Ada penekanan pada kata 'semua' yang entah mengapa membuat bulu kuduk Ridwan sedikit meremang. Namun karena diburu waktu, ia tidak memikirkannya lebih lanjut. Ia mengambil tas kerjanya dan melangkah pergi, bahkan lupa mencium kening istrinya seperti rutinitas mekanis yang biasa ia lakukan. Kirana juga tidak mengulurkan tangannya untuk dicium. Pagi itu, rantai ilusi yang mengikat mereka resmi terputus.
Sepanjang hari itu, Kirana seperti mayat hidup. Ia mengurung diri di ruang studi, menjauhkan diri dari anak-anak karena takut emosinya yang labil akan melukai mereka. Matanya terus menatap tiga lembar kertas HVS yang ia letakkan di atas meja. Kertas berisi jurnal pengkhianatan suaminya. Pikirannya melalang buana, memutar kembali memori enam tahun terakhir. Ia mencari-cari pertanda, mencari-cari kejanggalan yang selama ini ia abaikan atas nama cinta buta.
Pantas saja Ridwan tidak pernah mengunggah foto pernikahan mereka di media sosial. Pantas saja Ridwan selalu menghindar jika ditanya kapan pertama kali ia merasa jatuh cinta pada Kirana. Pantas saja setiap kali Kirana memeluknya, tubuh pria itu selalu menegang sesaat sebelum membalas pelukannya dengan kaku.
Dia tidak pernah menginginkanku, batin Kirana pedih. Aku hanya pion untuk menyenangkan ibunya. Aku hanya rahim untuk melahirkan anak-anaknya. Aku hanya pelayan untuk mengurus hidupnya.
Sore harinya, Kirana mengirim pesan singkat pada suaminya. Pulang tepat waktu. Anak-anak akan tidur cepat malam ini. Ada yang harus kita bicarakan. Penting.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar