Tubuh Kirana membeku. Matanya terpaku pada layar bercahaya kebiruan itu seolah-olah sedang menatap sesosok monster yang bangkit dari dalam tanah. Setiap kata yang tersusun di layar menggoreskan luka yang tak berdarah namun perihnya menembus hingga ke sumsum tulang.

Draft Email To: [Kosong] Subject: Salma

2 Oktober 2020 Sal, undangan pernikahanku sudah dicetak. Namaku bersanding dengan nama wanita lain, bukan namamu. Ibuku sangat menyukai Kirana, dia gadis dari keluarga terpandang yang menurut mereka pantas untukku. Aku tidak bisa menolak perjodohan ini. Egois jika aku terus menunggumu yang memilih pergi mengejar mimpimu. Tapi asal kamu tahu, Sal, saat aku mencoba setelan jas pengantin ini, yang terbayang di kepalaku adalah kamu yang berdiri di sampingku. Maafkan aku, Sal.

Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangan. Jantungnya bergemuruh hebat, menghantam tulang rusuknya dengan paksa. Dua Oktober 2020... itu adalah bulan-bulan sibuk saat ia dengan riang gembira memilih dekorasi pelaminan dan suvenir pernikahan, mengira pria yang akan dinikahinya merasakan antusiasme yang sama. Ternyata, di balik wajah datar Ridwan yang selalu ia maklumi, pria itu sedang menangisi wanita lain.

Dengan tangan yang kini mulai gemetar hebat, Kirana menggulir layar ke bawah. Jurnal digital itu berlanjut ke tanggal-tanggal lain yang sangat ia kenal.

18 April 2021 Hari ini ulang tahun pernikahanku yang pertama. Kirana memasak makanan yang enak dan berdandan cantik. Dia istri yang sangat berbakti, Sal. Sangat penurut, ceria, dan sangat bergantung padaku. Dia memuja dan melayaniku bak seorang raja. Tidak ada celah sedikit pun darinya sebagai seorang istri. Tapi, Tuhan ampuni aku... kenapa menatap matanya tidak pernah membuat dadaku berdebar seperti saat aku melihat tawamu, Sal? Aku merasa menjadi pria paling jahat di dunia karena tak bisa membalas perasaannya secara utuh. Hatiku masih tertinggal di masa lalu.

"Ya Allah..." bisik Kirana lirih, air mata akhirnya pertahanan matanya dan jatuh menetes di punggung tangannya. Nafasnya mulai tersengal. Rentetan kalimat itu menampar kewarasannya. Ia selama ini mengira sikap kaku dan dingin Ridwan adalah karakter aslinya. Ia mengira suaminya memang tidak pandai menunjukkan emosi.

Kenyataannya? Ridwan pandai merangkai kata. Ridwan memiliki emosi yang dalam dan meletup-letup. Ridwan memiliki cinta yang begitu besar dan romantisβ€”hanya saja, semua itu tidak pernah diperuntukkan baginya. Selama ini, cinta mati Ridwan diserahkan sepenuhnya pada bayangan wanita bernama Salma. Kirana tak lebih dari sekadar raga yang mengurus rumah dan melayani kebutuhannya.

Kirana terus membaca, menyiksa dirinya sendiri dengan kebenaran yang kejam. Ia menggulir kursor ke bawah dengan putus asa.

14 November 2023 Anak keduaku lahir, seorang bayi perempuan. Kirana menangis kesakitan saat berjuang melahirkannya, dan aku menggenggam tangannya erat-erat. Aku menyayangi keluarga kecilku, Sal. Sungguh. Anak-anak ini adalah darah dagingku. Aku akan bertanggung jawab penuh atas hidup mereka dan istriku. Tapi setiap kali hujan turun dan aku menyetir sendirian pulang dari kantor, aku selalu bertanya-tanya... bagaimana hidupku jika dulu aku lebih berani memperjuangkanmu? Apakah aku akan lebih bahagia? Atau apakah aku dikutuk untuk terus memendam rasaku sendirian seumur hidupku?

20 Maret 2026 (Minggu lalu) Aku mendengar kabar dari teman lama bahwa kamu akan segera kembali ke kota ini, Sal. Kabar itu menghancurkan pertahananku yang sudah kubangun selama enam tahun. Dadaku sesak. Aku sudah memiliki raga Kirana, aku memiliki rumah yang hangat dan anak-anak yang sehat. Tapi sekadar mendengar namamu disebut, rasanya duniaku kembali runtuh. Aku ingin bertemu denganmu. Hanya sekali. Hanya untuk melihat wajahmu dan memastikan apakah rasaku ini sudah mati, atau justru masih menyala di bawah tumpukan abu.

Dada Kirana terasa seperti dihantam godam godam godam tak kasat mata. Sakit. Begitu sakit hingga ia tidak bisa mengeluarkan suara tangisan. Hanya lelehan air mata deras yang membasahi wajah cantiknya, merusak lapisan tipis krim malam yang baru saja ia oleskan beberapa jam lalu.

Enam tahun. Enam tahun penuh pengabdian tanpa syarat. Kirana mengubur ijazah universitas bergengsinya, menelan mimpinya menjadi wanita karir, belajar memasak hingga tangannya melepuh terkena minyak, merendahkan egonya untuk menjadi wanita bermanja agar suaminya merasa menjadi pahlawan di rumah. Semuanya sia-sia. Semua ilusi keharmonisan yang ia banggakan retak berkeping-keping, hancur menjadi serpihan debu di hadapan layar berukuran tiga belas inci ini.

Kirana menoleh pelan ke arah lorong yang menuju kamar utama. Di sana, di atas ranjang yang hangat, suaminya sedang tertidur lelap setelah tadi menolak permintaannya untuk mengobrol lebih lama dengan alasan lelah. Pria yang ia puja, pria yang tangannya selalu ia cium dengan takzim setiap pagi, ternyata hidup dalam kebohongan yang terstruktur rapi. Ridwan tidak berselingkuh secara fisik. Pria itu tidak menghabiskan uang untuk wanita lain atau bermain gila di luar sana. Namun apa yang dilakukan Ridwan jauh lebih menyakitkan: ia berselingkuh dengan pikirannya sendiri, memenjarakan Kirana dalam pernikahan tanpa jiwa.

Tangan Kirana yang gemetar bergerak menutup laptop itu perlahan, tidak ingin menimbulkan suara sekecil apa pun. Layar meredup, menyisakan kegelapan yang kini terasa mencekik lehernya.

Malam itu, di atas karpet ruang keluarga yang menjadi saksi bisu tawanya beberapa jam lalu, Kirana yang manja mati terbunuh. Perasaan tidak berdaya dan lemah yang selama ini sengaja ia pelihara untuk suaminya menguap bersama air mata yang mengering di pipinya.

Ia memeluk kedua lututnya, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa anyir darah meresap di lidahnya, menahan jeritan kehancuran agar tidak membangunkan anak-anaknya. Di tengah isak tangisnya yang tertahan, sebersit bara api mulai menyala di dasar hatinya yang hancur. Sebuah insting bertahan hidup yang sudah lama tertidur, perlahan bangkit. Jika Ridwan bisa bersandiwara selama enam tahun, maka Kirana akan menunjukkan pada suaminya itu bagaimana caranya bermain sandiwara yang sesungguhnya.

Batas waktu telah dimulai. Dan hitungan mundur menuju kehancuran yang sebenarnya baru saja ditekan malam itu.